Monday, January 30, 2012

Frustrasi Sosial

Oleh Udo Z. Karzi


RENTETAN kekerasan dan amuk massa terjadi dalam pekan-pekan ini, mulai dari kasus Mesuji di Lampung dan Sumatera Selatan, Sidomulyo di Lampung Selatan, Gedungaji di Tulangbawang, Lampung, Bima di NTB, area pertambangan PT Freeport di Papua, hingga aksi blokir tol buruh di Bekasi.

Lalu, kekerasan semakin merajalela. Di Jakarta terjadi pemerkosaan di angkutan kota dan tawur antarkampung, di Semarang beberapa polisi menghajar anak sekolah, dan di Tugumuda delapan pemuda tiba-tiba mengamuk melukai beberapa orang. Bali yang menjadi daerah tujuan wisata favorit juga tak lepas dari tawur antarkampung. Beberapa kota yang selama ini terkenal sebagai daerah yang tenang dan nyaman sekarang ini dihantui berbagai macam tindak kekerasan.

Tradisi tawuran antarkampung mulai meluas dan menular ke barbagai daerah. Beberapa daerah yang tadinya aman tenteram tiba-tiba menyeruak dalam pemberitaan; terjadi kerusuhan. Bentrokan dan kericuhan yang melibatkan warga dan warga, warga dan aparat, serta warga dan pengamanan perusahaan semakin sering terjadi dan meluas eskalasinya.

Ada apa? Dari sisi ekonomi, ternyata pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir elite. Sebaliknya, kehidupan rakyat umumnya semakin sulit karena tidak mendapatkan akses dari pertumbuhan ekonomi itu. Kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial boleh jadi menjadi bahan bakar terjadinya amuk. Ketidakmampuan aparat hukum memberikan keadilan yang substantif dan ketiadaan keteladanan dari elite politik juga semakin menumbuhkan rasa ketidakpercayaan publik kepada penegakan hukum dan pemimpin. Terjadilah frustrasi sosial yang memuncak.

Tidak gampang menyalahkan masyarakat atau mengutuk aparat yang tidak becus mencegah terjadi kekerasan atau kerusuhan. Upaya penegakan hukum jelas memang sangat diperlukan. Namun, tidak cukup hanya itu, sebab akar masalahnya adalah frustrasi sosial yang meluas.

Frustrasi sosial yang melanda sebagian rakyat itu juga disebabkan menurunnya kualitas pendidikan kemanusiaan, baik di keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.

Ya, frustrasi sosiallah yang menyuburkan kekerasan, bahkan terorisme. Disadari atau tidak, mereka memanifestasikan rasa frustrasinya itu dengan cara-cara yang emosional. Misalnya merusak, membakar, melempar, memukul, bentrok antarpelajar, bentrok antarmahasiswa, bentrok antardesa, bentrok antarkelompok, bentrok antara masyarakat dan aparat penegak hukum, bentrok antara masyarakat dan pamswakarsa perusahaan, dan sebagainya.

Jelas, faktor sosial ekonomi tak bisa diabaikan dalam penanggulangan frustrasi sosial yang dapat memicu kekerasan massa. Perbaikan sosial ekonomi masyarakat tidak boleh hanya sebatas konsep dan wacana di kalangan elite pemerintahan maupun politisi, tetapi harus dirumuskan dalam bentuk tindakan yang dapat diterapkan di lapangan.


Lampung Post, Senin, 30 Januari 2012

Monday, January 2, 2012

Semangat!

Oleh Udo Z. Karzi


Kamu kaum revolusioner!
Kelak rakyat keturunanmu dan angin kemerdekaan akan berbisik-bisik dengan bunga-bungaan di atas kuburanmu: "Di sini bersemayam semangat revolusioner." (Tan Malaka, Semangat Muda, 1926)

BETAPA menggetarkan gelora perlawanan Tan Malaka. Ted Sprague yang mengeditori buku ini menulis: "Semangat Muda, yang ditulis pada tahun 1926, mengandung buah pemikiran Tan Malaka tentang bagaimana menjalankan organisasi revolusioner sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu...."

Dan, kita pun memasuki tahun baru 2012. Terasa betapa basinya ucapan atau slogan "tahun baru, semangat baru"... Sebab, tahun demi tahun kita sesungguhnya terlalu sedikit melakukan—untuk mengatakan tidak ada— yang "sesuatu banget".

"Resolusi yang paling sederhana memasuki tahun baru adalah memperbarui semangat Anda! Mengapa ini sangat penting? Sebab, terkadang kita mengalami hari-hari ketika kita merasa sangat malas, bosan, lunglai dan tidak bersemangat sama sekali. Ini wajar. Yang tak wajar adalah ketika kita enggan untuk mengubah keadaan dan meningkatkan semangat dan optimisme hidup."

Pesan nenek-nenek ini juga terasa gombal. Hehee...

Menjelang malam tahun baru, apa yang dilakukan orang kebanyakan? Boro-boro resolusi yang dilakukan, yang jelas... mempersiapkan perayaan malam pergantian tahun.

"Bagusnya sih merayakan iya, tetapi bersamaan dengan itu membulatkan tekad, mematangkan rencana-rencana, dan memasang target hidup akan lebih baik," kata Minan Tunja.

"Capek, petuah-petuah mulu," sahut Mat Puhit.

***

Eh, tapi ini serius. Semangat adalah pertanda kehidupan. Tanpa semangat, matilah kita. Karena semangat, bahagialah kita. Antusiasme akan memberi gelombang positif dalam segala hal. Mana ada perubahan kalau tak ada semangat. Semangatlah yang bisa menghadapi tantangan.

Energi semangat yang kita miliki bisa jadi akan menular dan mengilhami banyak orang.
Sebuah bus penuh tak berarti apa-apa karena penumpangnya hampir selalu asyik dengan diri masing-masing.

Ini kata motivator: "Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat. Satu semangat Anda, optimisme bahwa Indonesia akan lebih maju lagi di tahun 2012."

Biar gombal nggak apa. Yang penting: semangat!


Lampung Post, Senin, 2 Januari 2012