Wednesday, June 29, 2016

Menuju Macetpolitan

Oleh Udo Z Karzi


DIAM-DIAM Kota Bandarlampung berulang tahun ke-334 pada 18 Juni 2016 lalu. Tapi karena pada puasa, gak banyak yang tahu. Pemkot juga gak bikin perayaan khusus. Entahlah kalau setelah Lebaran.

Dan, setelah 30 tahun urbanisasi ke Kota Tapis Berseri ini, ternyata aku semakin pangling dengannya. Selain siger yang nemplok di atap atau bagian depan toko-toko dan kantor, aku tak mengenalinya lagi sebagai ibu kota Provinsi Lampung.

Ah ya, ding masih ada patung Radin Inten II. Ada dua malah. Ada Patung Pengantin yang (juga) dua: Pengantin Lampung Pepadun dan Pengantin Saibatin.

Ada Tugu Adipura. Tapi, kalah pamor dengan nama Bundaran Gajah tersebab bertahun-tahun semenjak Adipura terlepas, piala ini tak kunjung mampir ke kotaku ini. Alih-alih kota bersih, kotaku malah sempat menjadi kota besar terkotor se-Indonesia.

Eh ya, ada tugu Durian. Lumayanlah, ada tempat pengunjung mencari durian saat musim atau tidak musim; meskipun bagiku tetap saja mahal.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1 juta jiwa lebih, ia menjelma menjadi metropolitan baru. Kabarnya, kotaku menjadi destinasi wisata alternatif di luar Pulau Jawa.

Ya, kabarnya begitu. Sebab, hotel, mal, pusat perbelanjaan, dan ruko di kotaku tumbuh kembang dengan pesat.

Iya kali ya. Masa aku nggak percaya. Cuma aku heran di Negeri Penyair ini pentas seni dan budaya selalu sepi atau yang nonton ya seniman yang itu-itu aja. Tapi, untunglah seniman di kotaku tabah-tabah dalam berkesenian. Makanya pentas seni selalu saja ada dengan atau tanpa penonton.

Sekali waktu, budayawan Putu Wijaya bilang Bandarlampung berpotensi menjadi kota budaya. Entahlah, nyatanya Bandarlampung tak jadi kota budaya. Kota kreatif juga bukan. Kota cerdas (smart city) juga baru gagasan yang rontok sebelum dirancang.

Jadi, Bandarlampung jadi kota apa dong? Sungguh aku bingung. Untung ada Karina Lin yang bilang, "... Bandarlampung menuju Macetpolitan." (Lampost, 28/6/2016)

Na, setuju banget deh. Fajar Sumatera pun berhari-hari bikin headline "Bandarlampung Macet Luar Biasa".

Ayo dong jangan bikin malu. Kalau merencanakan kota yang bener geh. [] 


~ Fajar Sumatera, Rabu, 29 Juni 2016

Thursday, June 23, 2016

Operasi Batok

Oleh Udo Z Karzi


SEBENTAR lagi Lebaran. Orang-orang semakin sibuk menyiapkan ini, itu. Pasar, toko, mal, ... semua tempat yang menyediakan segala sesuatu berkenaan dengan hajat Hari Raya bertambah ramai. Pegawai negeri (mudah-mudahan sih enggak!) semakin rajin bolos. Karyawan swasta meskipun kelihatan rajin, (semoga kagak!) pikiran sudah nggak dikerjaan lagi.

Kalau anak sekolah sih sudah mulai libur setelah bagi rapor kenaikan kelas sejak pekan ini. Mereka sudah bernyanyi, "Libur telah tiba... libur telah tiba..." dan sudah berkhayal tentang baju baru dan uang THR yang bakal mereka terima dari sanak saudara yang disambangi.

Hanya Udien yang sedang bersungut-sungut kesel dan setengah bingung.

"Ngapi muneh?"

Alih-alih dijawab, Udien malah nyahut, "Operasi batok ke mana kita?"

Teman yang sebelah langsung tertawa ngakak. Tapi, wartawan muda malah nanya, "Apa operasi batok?"

"Haduuh... bener-bener, operasi batok aja gak tahu."

"Wartawan sekarang lebih canggih geh Dien soal begituan. Emangnya kayak kau dulu yang rajin keliling-keliling menjelang Lebaran...."

"Ah, kau tahu aja...," Udien tersipu.

"Jadi apa operasi batok?"

Kebetulan ada, peminta-minta lewat. Ada juga yang pengemis-mengemis ke masjid, di pasar-pasar, ke kantor-kantor, ke rumah-rumah.

"Nah, kurang lebih kayak gitu itu operasi batok. Cuma yang melakukannya wartawan."

"Tapi mereka ga pakai batok tuh..."

"Ngeyel. Wadah untuk menampung dana atau barang itu genti batok aja biar pas dengan namanya operasi batok...," Udien kesel.

Hahaa... []


~ Fajar Sumatera, Kamis, 23 Juni 2016  

Sunday, June 19, 2016

Mengakrabi Kesunyian

Oleh Udo Z Karzi


SETELAH mengalah dengan hujan yang berkali-kali menerpa tubuh ringkihku, yang membuatku terkapar di tempat tidur berteman bantal dan selimut tebal selama dua hari di akhir pekan; saya bangun pukul tujuh pagi ini.

Ini prestasi. Soalnya, saya biasanya bangun lebih siang. Apalagi hari Minggu. Hehee...
Yang lain-lain, langsung bilang mau pergi. Tapi, aku merasa belum fits benar. Saya bilang di rumah aja. Ee... Aidil (9,5 tahun), anak saya yg nomor satu, ikut-ikutanan. "Saya ikut Ayah," ujarnya.

Tapi, kok sepi. Apa informasi terbaru ya? Di tivi cuma ada film kartun kesukaan anakku. Saya keluar cari koran.

"Yah, cari Kompas ya," kata Aidil.

"Ya," sahutku.

Selera bacaan anakku boleh juga. Tapi, yang dibaca di Kompas paling2 komik & cerita anak2nya. Hehee...

Di lapak koran tak ada Kompas. Aku hanya bertemu "Kesunyian Penyair"-nya Endri Y di Lampost & cerita mudik buat orang kebanyakan (tapi entahlah buat kami sekeluarga tahun ini, hehee...) di Tribun Lampung.

***

"Kok genti nama? Penyegaran ya?" Ini pertanyaan yang ke sekian.

Setiap kali ada yang bertanya, saya berikan jawaban yang berbeda dengan sekenanya. Untuk pertanyaan itu, saya kasih jawab begini: "Memanfaatkan nama lama yang dibuang sayang, Mas. Hahaa..."

Ya, saya genti nama (lagi) di Facebook setelah memakai nama aseli sekitar dua bulan untuk sebuah alasan yang ... entah, saya tak mengerti.

Zulzet Renorya, begitu nama baru saya. Sebenar sih, bukan nama baru. Nama Zulzet diberi seorang cewek. Tak perlu saya kenalin deh karena hanya akan mengungkit kisah lama dan orangnya juga sudah abadi di pangkuan Ilahi.

Waktu absen, dia tulis nama saya: Zul Z.

Saya protes, "Ee, nama saya bukan gitu."

Dia cuma berucap, "Biar aja. Biar simpel."

Di lain waktu, nama saya dia tulis dengan Zulzet. 

Ya, sudah saya biarin aja. Ya, bagus juga kok. Saya malah kesenangan. Malah, email saya pertama: zulzet@satumail.com tahun 2000. Lalu, genti dengan zulzet@yahoo.com. Dua email sudah ditutup karena nggak pernah dipakai.

Itu Zulzet. Renorya, nama siapa? Ya, bukan nama siapa-siapa. Sebagian orang Lampung menulis Renorya dengan Khenokhiya atau Ghenoghiya (dipisah juga boleh menjadi "kheno khiya" atau "gheno ghiya"). Nah, ulun Lampung tahu deh artinya.

Ya, saya ambil dari omongan tokoh yang saya kagumi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang berkata, "Gitu aja kok repot." Tapi, kalau saya bikin nama Zul Z Gitu Aja Kok Repot kan malah ribet. Makanya, Zulzet Renorya.

***

Sekarang pertanyaannya, kok suka gonta-ganti nama? Jawab saya, "Suka aja." Sebab, saya penyuka nama-nama bagus seperti Isbedy Stiawan Z S, Oyos Saroso H N, Iswadi Pratama, Iwan Nurdaya-Djafar, Ahmad Yulden Erwin, Ida Refliana, SW Teofani, Ye Wibowo, Budi Hatees, Yulizar Fadli Lubay,  Iin Muthmainnah, Fitri Yani, Alexander Gebe, Ari Pahala Hutabarat, Yuli Nugrahani, Juperta Panji Utama, Panji Sastra Sutarman, Jauhari Zailani, Dahta Gautama, Sugandhi Putra, Rosita Sihombing, Rilda A Oe Taneko, Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah, Amzuch, Djuhardi Basri, Arman Az, Dyah Merta, Tita Tjindarbumi, Syaiful Irba Tanpaka (Tanpa K ini juga inspirasi buat bikin nama, hehe...ya nggak Nora Juwita Rosadi),  ... waduh banyak banget nama keren dari Negeri Penyair ini.

Itu baru di Lampung. Di luar sana apalagi di luar negeri, lebih banyak lagi nama-nama bagus. Ada Doddi Ahmad Fauji (Bandung), Hazwan Iskandar Jaya (Jogja), Frieda Amran (Belanda)... duh nggak  kesebut-kesebut deh.

Selain suka nama-nama hebat, sejak belajar menulis dan mengirimkannya ke media, saya memang tak pernah pede dengan nama asli. Maka sederet nama saya gunakan untuk tulisan di majalah dinding sekolah, koran, dan majalah di Ibu Kota dan Lampung. Di dalam Ensiklopedia Sastra Lampung susunan Agus Sri Danardana dkk. (yang diterbitkan Kantor Bahasa Provinsi Lampung, 2008) disebutkan bahwa saya menggunakan banyak nama samaran dalam berkarya, yaitu Kantek Joel Kz,  Joel K. Enairy, Yuli Karnaty, Mamak Kenut, Z. Karzi, dan terakhir Udo Z. Karzi.

Kenapa suka gonta-ganti nama? Agaknya, Endri  Y dalam esainya Gigil, Luka, dan Kesunyian Penyair (Lampost, Minggu, 19/6/2016) seperti hendak menjawabnya. Di bawah sadar saya, saya mau bilang hanya suka menulis. Ya, menulis saja. Untuk tujuan apa saja: Yang pertama-tama doeloe, saya suka honornya. Hahaa...  Saya pernah menetapkan untuk hanya menulis soal-soal sastra atau yang bau-bau kesenian-kebudayaan. Tapi, belakangan sebagai wartawan saya dituntut untuk menulis apa saja. Ya, gimana coba.

Satu hal lagi, saya sejak masih di pers mahasiswa, saya suka menulis yang ngeri-ngeri sedap: mengkritik atau mengkritisi. Tulisan model begini yang suka bikin yang dikritik merah kuping dan panas hati. Nah, di sinilah gunanya saya pakai nama aneh-aneh itu.

"Siapa Z Karzi?" kali itu yang ditanyakan mantan Rektor Unila Alhusniduki Hamim (alm) yang ketika saya bikin tulisan di SKM Teknokra. Pak  Duki, panggilan Alhusniduki, marah karena saya menjelek-jelekkan kebijakan Jadwal Kuliah Terpadu (JKT). Nama Z Karzi ini juga saya pakai di Sumatera Post (1998-2000).

Dengan berbagai nama itu saya gak bakal ngetop dong. Benar saja ketika bertemu dan omong-omong dengan orang, lama kemudian yang bersangkutan tahu kalau saya Udo Z Karzi. "Oo, ini Udo Z Karzi. Oo, Udo Z Karzi itu nama aslinya... (eit, saya gak mau sebut di sini lagi deh)," begitu kira-kira kata mereka.

Benar juga, dengan nama pena kayak gitu gimana mau dipilih kalau daftar Calon Bupati Lampung Barat coba?

***

Suatu kali Bang Iwan (Iwan Nurdaya-Djafar) bilang ke saya, "Penulis memang harus bergelut dengan kesunyian. Ini bukan pekerjaan yang populer dan membutuhkan massa seperti politikus atau bintang film."

Seperti Aris Kurniawan yang  penggemar akut keheningan, saya rupanya seorang penyendiri, walau tak individualis atau egois. Ya, kalau egois mana bisa kerja tim, di koran. Hahai...

Makanya, saya ogah dibilang penyair karena takut kesepian, tak mau disebut cerpenis karena terlalu sedikit punya sedikit cerpen yang dimuat koran, dibilang novelis lebih ngawur lagi karena saya belum juga bisa bikin novel, sastrawan juga bukan ah... Saya lebih suka disebut "tukang tulis" begitu saja (baca: Renorya). Dan dengan begitu, saya bebas menulis apa saja.

Biarlah tulisan saya yang dibaca. Kata orang bijak, "Dengar apa yang dikatakan, benar atau tidak, jangan hiraukan siapa yang mengatakan." Baca tulisan saya. Jangan cari siapa yang nulis. Apalagi, kalau yang nyari pelisi.  Wahahaa...

Tetap saja, saya menulis karena kesepian. Soalnya tulisan panjang kayak ini kalau saya ocehin, siapa yang mau denger.

Tabik.


Minggu, 19 Juni 2016

Monday, June 13, 2016

Cari Lokak

Oleh Udo Z Karzi

JAUH-JAUH hari Presiden Joko Widodo sudah wanti-wanti supaya harga daging tidak lebih dari Rp80 ribu. "Tiga minggu lalu saya perintahkan menteri-menteri, caranya saya tidak mau tahu, saya minta sebelum Lebaran harga daging harus di bawah Rp80.000," kata Presiden Jokowi dalam acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan 2016, Senin (23/5/2016).

Yang harus digarisbawahi "harus di bawah Rp80 ribu". Dan, sebagai pemimpin, memang sudah selayaknya berkata seperti itu. Tapi, aneh bin ajaib pernyataan yang sejatinya untuk membantu masyarakat itu malah jadi bahan tertawaan kita.

"Lo, kalau begitu yang terlalu itu kita atau Presiden?"

"Terus, kalau menteri-menteri tidak mampu bikin harga daging itu Rp80 ribu, kan kita boleh dong bilang menteri-menteri gak becus ngurus ekonomi?"

Ada juga yang ngeyel. "Enggak mungkin Rp80 ribu dalam posisi seperti ini. Kecuali kita bisa mendapat suplai jauh lebih banyak dengan pilihan-pilihan yang bagus, tidak frozen meat, tapi fresh. Kalau enggak, ya tidak bisa," kata Gubernur Jateng Ganjar di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/6/2016).

Ya, tentu saja pedagang daging di pasar-pasar di seluruh negeri lebih ngeyel lagi: harga daging sampai tembus Rp130 ribu.

***

Itu sudah. Sekarang, pemerintah alias menteri-menteri ato pejabat dipusat sudah bisa bikin formulasi untuk membuat harga daging segitu.

Program Nasional yang diinstruksikan langsung Presiden membuat ketentuan harga daging Rp80 ribu per kg untuk menstabilkan harga daging, khususnya pada masa Ramadan dan Lebaran tahun ini. Badan Urusan Logistik (Bulog) Pusat menyalurkan daging sapi beku ke daerah-daerah.

Jatah untuk Lampung ditahap awal sebanyak 15 ton. Namun, bila stok tersebut habis, Bulog Lampung bisa memesan kembali dari Bulog pusat. Daging sapi beku ini tidak dijual bebas di pasaran dan hanya diedarkan saat operasi pasar.

***

Harusnya klir. Tapi, dasar bedul bener. Kan jelas dan nyata-nyata harganya daging gak boleh lebih dari Rp80 ribu eeh... ada aja alasan mail untuk cari untung, mesti harus melawan aturan atau perentah presiden sekalipun.

Sempet-sempetnya Bulog Lampung cari lokak di tengah sorotan banyak pihak atas mahalnya daging. Harga daging yang seharusnya Rp80 ribu per kg, mereka mau jual Rp90 ribu.

Apa alasan? Pertama, karena pertimbangan ongkos angkut daging beku dari Jakarta ke Lampung yang memakan biaya. Kedua, Bulog Lampung berupaya mengurani efek kerugian yang diderita para pedagang sapi lokal yang saat ini menjual daging di kisaran harga Rp120-Rp130 ribu.

“Kalau daging sapi beku dijual di bawah Rp90 ribu per kg, dikhawatirkan mereka (pedagang daging) akan merugi," kata Kepala Perum Bulog Divre Lampung Dindin Syamsudin, Jumat (10/6/2016).

Coba itung, 15 ton dikali Rp10 ribu kelebihannya harga daging. Besar juga tuh! Gimana pertanggungjawabannya?

Masa kasian pedagang daging, tapi bodok amat dengan pembeli alias rakyat? Masa kerja pemerintah cuma belain pedagang atau orang yang sudah kaya aja sih?

Bener-benar gak punya sense of crisis! []


~ Fajar Sumatera, Senin, 13 Juni 2016

Monday, June 6, 2016

Yang Sabar ya Bos!

Oleh Udo Z Karzi


PUASA itu menahan diri. Selain menahan dari makanan dan air pada siang hari, semua umat Islam diminta menahan diri dari bicara sia-sia, pertengkaran dan perkelahian, atau dari pekerjaan seperti di bawah martabat seorang mukmin sejati. Tidak mengumbar kesenangan duniawi diperbolehkan, bahkan suami dan istri di siang hari menjalani kehidupan yang terpisah, kecuali untuk hubungan manusia formal yang umum untuk semua orang.

"Yang sabar ya Bos!" Ucapan Sopo kepada Jarwo dalam serial kartun Adiet Sopo Jarwo ini menemukan konteksnya dalam ritual puasa Ramadan -- dan tentu seharusnya mesti mewujud dalam perilaku kita dalam keseharian setelah Ramadan.

Ya, Ramadan yang di dalamnya ada menahan diri dari berbagai kegiatan yang membatalkan atau minimal mengurangi pahala puasa menjadi media untuk melatih kesabaran kita.

Al-Ghazali berujar, sabar adalah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan hawa nafsu, dan tetap pada menegakkan agama meskipun bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Semuanya karena mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Maka, sabar merupakan sebuah perjuangan (jihad) untuk mengekang hawa nafsu dan kembali ke jalannya Allah.

Melaksanakan sabar tidak gampang. Hanya orang yang khusuk hanya sanggup mengerjakannya. Orang yang khusuk adalah orang yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, itikad baik, dan tujuan yang benar seseuai dengan tuntunan agama.

Boleh dibilang, kesabaran adalah sumber kekuatan yang diberikan Allah untuk melewati berbagai macam ujian hidup.  Dengan sabar, manusia tak gampang menyerah, putus asa dan berhenti bergerak untuk menuju cita-citanya.

Yang sabar ya, Bos! []


~ Fajar Sumatera, Senin, 6 Juni 2016