Wednesday, May 29, 2019

Kunyaian, Istana Tapak Siring, dan Novel 7 Manusia Harimau

Oleh Udo Z Karzi


SUDAH lama ingin menulis ini, tetapi baru kesempatan. Tak aktual tak apa...

Diberitakan, empat rumah warga Pemangku Kunyaian Tatai, Pekon Tapak Siring, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat ludes terbakar, Minggu, 19 Mei 2019 lalu. "Peristiwa yang terjadi sekira pukul 12.20 WIB itu menghanguskan rumah warga yakni Kausar, M Khotwah, Din Ayu, dan Rasim," kata Peratin Tapak Siring Yantom.

Tentu, saya ikut sedih dan prihatin membaca kabar dari tanah kelahiran ini. Tapi, lebih sedih lagi karena sampai sekian lama tidak ada yang menyinggung-nyinggung 'sejarah' yang disimpan rapi oleh Kunyaian atau Tapak Siring. Di balik musibah, ada hikmah. Mungkin, kebakaran yang terjadi ingin memberi tahu dunia bahwa ada sebuah tempat yang bernama Kunyaian dan Tapak Siring.

Dan, begitu mendengar dua nama ini saya langsung tersentak. Sebagai ulun Lampung yang sering mendapatkan cerita tumbai (tempo doeloe) dari orang-orang tua dan beberapa bacaan lama, saya merasakan getaran tersendiri tentang nama ini. Nama Kunyaian dan Tapak Siring setidaknya menghubungkan ingatan saya dengan dua hal:

Pertama, tentang keberadaan Istana (Kraton) Buay Nyerupa di Kunyaian, Tapak Siring, Sukau, Lampung Barat. (Lihat: Istana Tapak Siring)

Kedua, tentang novel, film, dan serial //7 Manusia Harimau// yang mengambil latar dusun Kumayan, yang mirip-mirip dengan Kunyaian dan memiliki kaitan dengan legenda di Lampung Barat. (Lihat: Sinetron, Harimau, Umpu Nyerupa.. )


Rabu, 29 Mei 2019

Sunday, May 19, 2019

Rancak Bana

Oleh Udo Z Karzi


LEBARAN-LEBARAN selalu mengingatkan saya pada kampung halaman. Lahir di tengah masyarakat petani kopi di Liwa, Lampung Barat, saya merasa betapa besarnya anugerah Sang Pencipta atas kesuburan tanah Bumi Sekala Brak ini.

Cerita tentang nasib baik dan nasib buruk petani kopi juga mewarnai keluarga kami turun-menurun bergenerasi-generasi puluhan tahun, bahkan ratusan tahun silam.

"Kopi inilah. Tak ada tanaman lain," kata Abdul Hakim, tamong (kakek) saya almarhum.

Bagi Tamong Hakim, bertani itu ya berkebun kopi. Yang lain-lain seperti bersawah, bertanam sayuran dan buah-buahan hanyalah tanaman selingan sebelum menanam dan berkebun kopi.

Kopi itu andalan untuk hidup lebih layak, membangun rumah, menyekolahkan anak, dan mewujudkan mimpi-mimpi di masa depan.

Kengeyelan poyang yang diwarisi orang semacam Tamong Hakim dalam berkebun kopi ternyata tak pernah sia-sia. Ada kala harga kopi melonjak tinggi membuat petaninya memetik keuntungan berlipat ganda. Di tengah krisis moneter yang menyebabkan nilai rupiah merosot hingga Rp25.000 per Dollar AS pada tahun 1997-1998, para petani kopi Lampung Barat justru mendadak mendapat keuntungan besar karena harga kopi per kg mengikuti nilai kurs Dollar.

***

Tahun 1970-an hingga awal 1980-an sebelum saya urban ke Tanjungkarang adalah masa-masa di mana kehidupan kami lekat dengan kopi, mulai dari mempersiapkan lahan, menanam, merawat, dan memanen, termasuk menjemur, mengolah biji kopi sampai siap dijual atau dinikmati.

Saya ingat betul pada saat musim petik kopi, saya dan adik-adik tidak akan diberi jajan. Kalau mau, ya harus memetik kopi sendiri, mengangkut sendiri dari kebun, menjemur, mengolahnya menjadi biji kopi sampai dijual.

"Kalau mau baju Lebaran, cari sendiri, ngunduh kahwa (memetik kopi) sendiri. Dijual untuk beli baju lebaran," kata Bak (ayah) yang saya ingat.

Kalau tidak sedang musim kopi, saya dan adik-adik tetap diwajibkan ke ladang, kebun atau sawah membantu mereka.

Begitulah menjelang Lebaran di bulan Ramadan di saat uang hasil penjualan kopi sudah terkumpul, kami anak-anak diajak Bak atau Mak ke Pekan Selasa (pasar setiap hari Selasa) tak jauh dari rumah. Di pekan ini, dijual berbagai kebutuhan, termasuk pakaian Lebaran.

Berjejer pedagang pakaian memenuhi lapak dan kios. Sementara calon pembeli memenuhi gang-gang di antara kios dan lapak.

Setiap pedagang bersaing merebut hati calon pembelinya. Harus pintar-pintar berbicara dan merayu konsumen.

"Ayu... Ayu... dijual... diobral murah... Yang jauh mendekat, yang dekat merapat... Ini model terbaru... Cocok untuk uyung... Cantik buat upik..." Dst.

Bahasa di pasar tercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Lampung.

Terdengar teriakkan, "Rancak bana" dari penjual pakaian yang memang mayoritas beretnis Minang.

Entah benar entah tidak, konon, ada peristiwa orang dari pekon yang sudah mencoba-coba dan mengepas-paskan gaun malah batal membeli hanya karena penjualnya bilang, "Amboi, rancak bana!"

Orang yang mau beli dan tampak antusias menjadi kehilangan minat. Sambil pergi, si ibu yang mengajak anak-anaknya mencari pakaian, berkata, "Ya, radu. Merancak, ani sai ngejual. Ija neram nyepok bareh (Ya, sudah. Kependekan, kata yang jual. Sini kita cari yang lain."

Induh, gaun helau, bang tiucakko 'rancak' kidah. (Entah, gaun bagus, kok dibilang kependekan). Hahaa...


Minggu, 19 Mei 2019


Sunday, May 12, 2019

Rendra, Anton, Ibu Maryunani

Oleh Udo Z Karzi


"RENDRA. Saya tidak suka membaca puisi-puisi Chairil Anwar dan Amir Hamzah karena menurut saya waktu itu puisi mereka sulit saya pahami. Tetapi, saat saya membaca buku puisi Rendra, //Balada Orang-orang Tercinta//, saya langsung tertarik. Karena puisi dia sederhana dan mudah dipahami," kata Sapardi Djoko Damono (//Majas// No. 3 Vol 1/Mei-Juli 2019 hlm 49).

Membaca ini, saya langsung membayangkan Anton Bahtiar Rifa'i (SCTV) yang "menggilai" puisi-puisi Rendra sejak dulu -- sampai sekarang (?)

Seingat saya, sebagai redaktur budaya Surat Kabar Mahasiswa //Teknokra// Universitas Teknokra 1990-an, beberapa puisi Anton pernah saya muat di lembar sastra koran kampus ini. Sampai kemudian dia bergabung di //Teknokra// dan sempat menjadi atasan saya sebagai pemimpin redaksi (1994--1996). Jadi, Anton ini penyair (juga) yang tak tercatat. Hehee...

Sehat terus ya, Ton.👍

Mundur jauh ke belakang, ternyata penyair yang paling berkesan ketika di SMP Liwa tahun 1984 diperkenalkan puisi oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia Ibu Maryunani dan Ibu Yetty Puspenda adalah Rendra. Ya, benar saya suka puisi-puisi balada Rendra.
Satu judul yang nempel dalam ingatan: "Balada Terbunuhnya Atmo Karpo". Karya Rendra ini tercantum utuh dalam buku pelajaran sastra untuk SMP karangan Abdullah Ambary. Sajak ini mirip-mirip dengan puisi "Jante Arkidam"-nya Ajip Rosidi.

Kebetulan di Lepau Buku, terdapat buku kumpulan sajak pertama Rendra, //Balada Orang-orang Tercinta// terbitan Pustaka Jaya, Bandung, cetakan keempatbelas, 2013 (cetakan pertama, Jakarta 1957).

Saya kutipkan sajak ini dari hlm 16--17:

BALLADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya
di pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok
yang diburu
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

Segenap warga desa mengepung hutan itu
dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

--- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang 
papa
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung
dosa

Anak panah empat arah dan musuh silang tiga
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.

--- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

--- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak
angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya. 


Minggu, 12 Mei 2019

Saturday, May 11, 2019

Mau Ibadah Kok Dimintai Uang Parkir

Oleh Udo Z Karzi


KALAU mau dihitung-hitung, mungkin separuh lebih hidup saya berada di kendaraan mengadakan perjalanan. Tidak mengenal waktu!

Di sisi lain, seorang muslim wajib menjalankan salat lima waktu. Waktu-waktu salat yang sering datang saat dalam perjalanan biasanya Zuhur, Asyar, dan Magrib.

Sedianya, begitu azan berkumandang, kita harus segera bergegas ke masjid. Tapi, ampuni hamba ya Allah, saya tidak terlalu disiplin menunaikan tugas-Mu. Sering menunda-nunda salat. Bahkan tak jarang lupa salat.

Seharusnya, begitu azan, langsung menghentikan kendaraan di masjid wterdekat dan langsung ikut salat berjamaah. Tapi, tidak dengan saya.

Saya tidak bisa langsung berhenti di masjid terdekat.

Saya harus memilih masjid. Bukan karena menganut aliran tertentu (huss... Islam itu mestinya sama), melainkan saya takut kekhusukan salat saya terganggu.

Ini semua gegara tukang parkir!

Ya, tukang parkir di masjid yang mengganggu kekhusukan orang mau salat.
Benaran. Saya keberatan ada tukang parkir di masjid. Masa orang mau beribadah, kok dimintai duit.

Dan, si tukang parkir, tidak berpikir bahwa kehadirannya di masjid membuat orang enggan ke masjid.

Keterlaluan tukang parkir ini!

Kadang saya mampir ke masjid, cuma untuk numpang tidur. Kan --semestinya-- tidak dilarang karena masjid juga tempat peristirahan orang yang dalam perjalanan.
Masa musafir yang mampir istirahat ke masjid dimintai uang parkir pula.
Benar-benar terlalu si tukang parkir!


Sabtu, 11 Mei 2019

Friday, May 10, 2019

Kayak Hantu Saja

Oleh Udo Z Karzi


TUKANG parkir kayak hantu saja. Saat kita memarkirkan kendaraan, tidak ada sesiapa yang memperlihatkan gelagat sebagai tukang parkir. Tapi, begitu kita keluar dari toko atau gedung untuk suatu keperluan, eeh...nongol tuh orang yang pegang priwitan. Lalu, mulai kasih tangan mengatur lalu-lintas, seakan-akan kita tak akan bisa keluar dari tempat parkir ke jalan raya tanpa jasanya.

Keadaan ini terjadi berulang-ulang.

Terbaru, saat saya mampir ke Alfamart di bilangan Way Halim, Bandar Lampung, Jumat, 10/5/2019 Eit, bukan beli makanan atau minuman.😀 Cuma mau beli Go Pay pesanan orang rumah.

Sepi waktu saya memarkirkan kendaraan. Tapi, begitu keluar, sudah ada Pak Tua berkalung pluit duduk di kursi. Tak salah lagi, mesti dia tukang parkir.

Begitu saya mendekati kendaraan, Pak Tua berdiri dan berjalan ke arah saya.
Saya berkata pelan, entah didengar entah nggak olehnya, "Tadi gak ada. Dari manalah munculnya Bapak ini?"

Dia tak menjawab.

Saya sodorkan tiga keping uang logam kurang dari dua ribu rupiah. Tanpa kata tanpa senyum, dia terima. Keadaannya serupa dengan saya agaknya. Hehee...

Saya gak yakin saya ikhlas.

Astaghfirullah. Maafkan saya ya Pak. Tapi, Bapak bukan hantu kan?


Jumat, 10 Mei 2019

Thursday, May 9, 2019

Kalau Marah Batal Puasa Kan?

Oleh Udo Z Karzi


WAN Agung (9 tahun) lagi. Hari pertama masuk sekolah setelah dua hari libur awal Ramadan, Rabu, 8/5/2019.

Ceritanya, tentu saja versi Wan Agung, dia sedang menulis, seorang temannya usil. Wan Agung dicolek-colek, dijawil-jawil telinganya, disenggol-senggol, dan diganggu-ganggu.

"Agung kan kesel. Sebel. Itu anak nakal benar," ujarnya.

"Kok kamu diam saja?"

"Ya nggak. Agung marahin itu anak."

Diam.

"Tapi, kata mama, marah di bulan puasa bisa membatalkan puasa," kata Wan Agung lagi.

"Ya, nggaklah. Kan Agung dinakali."

"Kata mama batal..."

"Lah, terus?"

"Karena udah batal, Agung minumlah di sekolah tadi."

Saya terkesima jadinya. Hehee...

Di rumah, Wan Agung langsung berseru, "Ma, Agung minta makan."

Dasar sanak lunik.


Kamis, 9 Mei 2019

Tuesday, May 7, 2019

Teman Ayah Tidak Puasa

Oleh Udo Z Karzi


Kata mamanya, ajak Wan Agung jalan biar gak bosan dan gak sebentar-sebentar minta makan atau minum.

Makanya, saya ajak dia, "Ikut ayah, Gung."

"Ke mana?"

"Ke kantor."

Eh, Wan Agung malah bilang, "Nggak mau. Di kantor, teman Ayah pada gak puasa. Agung nanti minta makan minum juga..."

"Ya, gak ada yang jualan geh Gung."

"Gak ah."

"Udah, ikut aja..."

Alhasil, setelah lama dirayu-rayu, Agung pun ikut saya.

Tapi, sesampai di kantor, ternyata dugaan Wan Agung benar belaka. Di atas meja, ada kue dan kopi.

"Ini kue siapa?" tanyanya.

"Itu bekas sahur! Jangan dimakan."

Tapi, di kantor dia melihat orang-orang merokok, makan, dan bikin kopi.

Wan Agung mulai panas hatinya.

"Agung minum ya Yah..."

"Eh, puasa."

Diam sebentar.

"Yah, beli makan sih, Yah. Lapar..."

"Waduuh. Tahan sih Gung. Udah gede masa nggak kuat."

Aman sekejap. Tapi, tak lama. Agung datang membawa gelas akua dingin dari kulkas.

"Minum ya Yah."

"Jangaan!"

Untunglah, dia mengembalikan gelas ke kulkas.

Dalam perjalanan pulang, dia masih merengek minta beli minuman es cendol atau apa saja. Saya cuma menjawab, "Nggak!"

Sampai di rumah, Wan Agung mengadu ke mamanya mengenai kelakuan orang-orang di kantor. Mamanya cuma menahan ketawa sembari menguatkan Wan Agung agar tetap berpuasa.

"Agung batal puasa ya Mama."

"Sayang, Gung. Satu jam kurang lagi buka," kata mamanya.

Syukurlah puasa Wan Agung terselamatkan di hari kedua.


Selasa, 7 Mei 2019

Bertemu Mitchell Mollison

Oleh Udo Z Karzi


BERTEMU MITCHELL MOLLISON pertama kali di kediaman Sekretaris Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL) Bagus A Pribadi, ia langsung meminta nomor WA saya begitu saya sebut nama Udo Z Karzi.

Mitch peneliti etnomusikologi yang melakukan riset di Lampung sejak 2016 di bawah supervIsi Prof Margaret Kartomi.
Keluar-masuk pelosok Lampung, berbicara dengan warga desa, membuat ia tertarik dengan bahasa Lampung dan mulai mempelajarinya.

"Cutik-cutik pandai cawa Lappung. Kidang pagun mesti lamon belajar lagi (Sedikit-sedikit bisa berbahasa Lampung, meskipun harus banyak belajar lagi)," kata Mitch.

Begitulah, keesokan harinya, Mitch me-WA meminta bertemu. Bersualah kami di Hotel Grand Anugerah, Bandar Lampung, 27 Agustus 2018.

Kepada saya, dia perlihatkan tesis dia berjudul "The Music of the Talo Balak Ensemble of Lampung, Sumatra", Monash University.

Ow, rupanya Mitch mengutip beberapa tulisan saya. Senang juga mengetahui tulisan saya menjadi referensi riset.
Saya meminta izin memfoto beberapa halaman dari tesis yang mencantumkan nama saya. Tapi, yaelah... hasil jepretan saya mengecewakan.

Pada pertemuan itu, saya berikan beberapa buku, termasuk yang berbahasa Lampung. Tadinya saya ragu. Tapi, dia bilang, "Nggak apa. Buat saya belajar bahasa Lampung."

Beberapa waktu, saya diingatkan lagi oleh Oyos Saroso HN melalui berita yang ia tautkan di FB berjudul, "Gamelan Lampung Jadi Koleksi Monash University" (Teras Lampung, 6/5/2019).

Berita ini mengutip unggahan foto Prof Dr Ariel Haryanto di FB, 5/5/2019, mengenai tari Lampung dan gamelan khas Lampung dipertunjukkan di universitas ini.

Saya melihat ada sosok Mitch dalam foto yang diunggah Ariel. Salah satunya, saya pinjam di sini.

Lalu, saya cek WA dari Mitch, alhamdulillah tidak saya hapus. Ketemulah gambar kutipan salah satu halaman dari tesis yang dia kirim per tanggal 27 Agustus 2018.

Terima kasih Mitch, Mas Oyos, Pak Ariel. Tabik.


Selasa, 7 Mei 2019

Monday, May 6, 2019

Sistem

Oleh Udo Z Karzi


SIAPA MELAKUKAN APA dan bagaimana? Bukankah itu lazim ditanyakan demi suksesnya sebuah hajatan -- termasuk untuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab.

Tapi, tidaklah sesederhana itu ketika kita membicarakan sebuah sistem: sistem sosial, sistem budaya, sistem pendidikan, sistem politik, sistem kepartaian, sistem pemilu, dst.

Sebuah sistem yang terdiri dari sub-subsistem dan masing-masing subsistem itu memiliki subsistem lagi, dst; memiliki kompeksitas sebagai satu kesatuan. Setiap subsistem akan melengkapi subsistem yang lain. Salah satu subsistem 'sakit' akan merusak sistem secara keseluruhan.

Setidaknya, itu yang saya pahami dari Suleman B Taneko ketika kuliah Sistem Sosial Indonesia (SSI) yang ia ampu tahun 1990-an. Saya ingat salah satu buku pegangan mata kuliah berasal dari Pak Leman -- begitu ia sering disapa -- sendiri berjudul //Konsepsi Sistem Sosial dan Sistem Sosial Indonesia// (Fajar Agung, 1986).

Terus terang, saya tidak terlalu mudeng membaca buku ini. Tapi, sungguh teori sistem ini sangat membantu ketika saya juga terpaksa -- habis wajib -- belajar sistem politik, sistem kepartaian, sistem pemilu, sistem pemerintahan, dll.

Terima kasih, Pak Leman, saya belajar banyak dari Bapak untuk tidak terlalu gampang menyalahkan pihak lain atas masalah apa pun yang terjadi. Bukan berarti saya menoleransi kekeliruan; melainkan dalam banyak hal kekisruhan yang terjadi lazimnya diakibatkan banyak faktor dan banyak pihak.

Perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua komponen. Dengan begitu, sistem akan semakin baik dan sub-subsistem bersinergis saling menguatkan. Bukan sebaliknya, kerja sistem kian amburadul akibat saling melemahkan satu dengan yang lainnya.

Begitu kali ya Rilda A Oe Taneko?


Senin, 6 Mei 2019

Sunday, May 5, 2019

Tanda-tanda Mau Ramadan

Oleh Udo Z Karzi


"ADA lontong nggak, Bu?"
"Aduuh... habiss. Adik kesiangan. Tadi sih banyaak."
Salah satu tanda-tanda akan memasuki bulan Ramadan adalah pasar diserbu pembeli.
Demikian pula situasi di Pasar Tani, Kemiling, Bandar Lampung, yang hanya beberapa langkah dari rumah, Minggu, 5/5/2019 sekira pukul 11.00.
Jadi, Ramadan 1440 H tak urung datang.
Marhaban ya Ramadan. Mohon maaf lahir batin kepada minak muari seunyinni. Semoga kita khusuk menjalani ibadah puasa sebulan penuh dengan hati yang suci. Amiin.
Tabik.🙏👍

Minggu, 5 Mei 2019

Wednesday, May 1, 2019

In Memoriam Selamat Purwoko

Oleh Udo Z Karzi


Selamat Purwoko. (DOKPRI)
MENDENGAR dan melihat foto Selamat Purwoko, Rabu, 1/5/2019, siang tadi tentu saya kenal baik. Ada rasa bangga mengetahui kakak kelas satu tahun di SMPN 1 Liwa saya ini saat ini sudah menjadi pejabat.

Tapi, maafkan saya, saya tidak teliti membaca di medsos tadi. Baru malam ini saya tahu  bahwa Camat Bandar Negeri Suoh (BNS) ini ternyata telah mendahului kita menghadap Ilahi.

Innalilillahi wainna ilaihi rajiun. Entah kenapa orang baik lebih sering lebih cepat mendahului kita.

Selapur, panggilan akrabnya, meninggal dunia di RSUD Alimudin Umar sekitar pukul 13.15 WIB, Rabu (1/5) karena penyakit jantung yang dideritanya. Almarhum disemayamkan di rumah duka dan akan dikebumikan di TPU Kampungbaru, Pekon Kubuperahu, Kecamatan Balikbukit, Kamis, 2/5/2019.

Selapur orang baik, tentu saya tahu dan yakin itu. Wajar jika kepergian lelaki kelahiran Liwa, 15 November 1968 ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi orang banyak. Ia dikenal sebagai sosok aparatur pemerintah yang cerdas, ramah, pekerja keras, dan mau turun ke bawah berbaur dengan masyarakat luas.

Bagi Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Selapur merupakan salah satu pejuangnya saat pilkada 2017 lalu. “Saya bisa dipanggil pak bupati seperti sekarang ini, salah satunya kerja keras almarhum. Dia ikut berjuang menyukseskan langkah saya saat itu,” kenang Parosil.

Sebelumnya, Parosil sempat bertemu Selapur di RSUD Alimudin Umar saat menghadiri acara kebangsaan. Almarhun sempat mengaku banyak yang ingin disampaikan kepada dirinya. Namun karena padatnya agenda, Parosil tidak sempat menanggapi.

”Karena kedekatan saya dengan almarhum, setiap kesempatan dia selalu memanggil dengan sapaan Pak Cik. Tidak pernah beliau memanggil saya Pak Bupati,” ujar Parosil.

Saya juga membaca mantan Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mempunyai kesan terhadap almarhum. "Selamat Purwoko merupakan sosok yang loyal, disiplin dan familiar," ujarnya.

Almarhum Selamat Purwoko, kata Mukhlis, merupakan salah satu mantan stafnya yang patut menjadi panutan, karena merupakan sosok yang sangat loyal, disiplin dan familiar, selalu menjalankan tugas dengan sepenuh hati, termasuk saat diberikan tugas sebagai Camat Suoh sekitar empat tahun lalu.

“Memilih seorang PNS untuk ditempatkan sebagai Camat Suoh yang merupakan daerah terisolir saat itu, apalagi tidak ada listrik dari PLN, jalan yang rusak, maka siapa saja Camat yang ditempatkan jarang yang betah. Tetapi berbeda ketika Saya menunjuk Selamat Purwoko sebagai Camat Suoh, terbukti beliau sangat loyal, disiplin, familiar dan tanggung jawab dengan tugas yang diberikan,” puji Mukhlis.

Sebagai Camat BTN, yang mau menetap di Suoh,  bahkan membawa keluarga untuk menetap dan tinggal di daerah terpencil tersebut. Ia menjalankan tugas sebagai camat dengan sebaik-baiknya. Termasuk,  kegiatan PKK ikut jalan di kecamatan ia pimpin.

Camat Sukau Hadi Susanto mengaku  Selapur menjadi guru dan panutannya. “Saya masih komunikasi dengan almarhum melalui WA, maka Saya sangat terkejut mendengar kepergian orang yang sangat baik, dan sudah seperti kakak," kata dia.

Selamat Purwoko pernah menduduki beberapa jabatan di lingkungan Pemkab Lampung Barat seperti Camat Suoh dan BNS, Kabag Humas Sekretariat DPRD, Sekretaris BPMPP, dan Sekretaris Dispora.

Dan saya, astaga, ternyata saya belum pernah sempat ke Suoh atau Bandar Negeri Suoh yang katanya, bumi sepotong surga itu. Saya sudah cawe-cawe hendak ke sana dengan Pak Sekcam Basuki Rahmat. Undangan dari Donna Sorenty Moza sekali waktu untuk menjenguk sebuah bagian dari tanah yang telah membesarkan saya itu pun belum lagi saya penuhi.

Betapa memalukan! Seseorang yang lahir dan tumbuh di Bumi Sekala Brak seperti saya kok malah tidak mengenal dirinya sendiri.

Selamat jalan Bang Pur -- saya ingat nama panggilan itu ketika masih sekolah dulu. Engkau telah terbang jauh, sementara saya masih tersesat di sebuah kota.

Doa dari kami, anak-istri, sanak-famili, rekan-rekan, dan semua yang mengenalmu semoga engkau bahagia selalu di Alam Sana. Amin Allahumma amin. []


1 Mei 2019

Ibu Kota, Palangkaraya, Borneo News

Oleh Udo Z Karzi


SAYA sambut wacana pemindahan Ibu Kota dengan penuh gairah, terlepas apakah jadi terlaksana atau tidak.

Ini gagasan lama, tetapi baik kok untuk kemaslahatan negara-bangsa Endonesah. Jadi, gak usah langsung dikait-kaitkan dengan pilpres geh!

Kalau bisa sih ya di Lampung, dekat-dekat Tanjungkarang dan Liwa gitu. Biar bisa jalan kaki sambil olahraga pagi ke Ibu Kota.

Tapi, kalo gak bisa, ya saya kemarin setuju di Palangkaraya. Selain meneruskan gagasan Bung Karno, juga karena tahun 2007, saya sempat merekomendasikan Palangka menjadi Ibu Kota Endonesah di masa depan melalui Borneo News, koran tempat saya bekerja.

Nah, sejatinya inilah, inilah alasan utama saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang kembali mewacanakan pemindahan Ibu Kota dalam rapat terbatas, Senin, 29/4/2019. Beliyouwan telah mengingatkan bahwa saya pernah bekerja di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah tahun 2006--2009 sebagai jurnalis Harian Borneo News.

Sebagai redaktur Mimbar (opini gak berbayar, hehee..) harian ini saya berkali-kali memuat tulisan dan surat pembaca yang membahas sejarah, kemungkinan, dan potensi Palangkaraya menjadi Ibu Kota RI.

Salah satu yang paling getol menggagas Palangkaraya Ibu Kota adalah anggota DPD RI asal Kalteng Hamdhani. Mulanya sih saya agak pesimis Palangka Ibu Kota, tetapi karena ide ini terus dibangun, saya pun berkata, "Boleh juga."

Posisi Palangka yang di tengah-tengah NKRI menjadikan kota ini sangat sentral untuk bisa menjangkau paling sudut utara-selatan-barat-timur negeri ini. Pembangunan Endonesah dalam segala bidang ipoleksosbudhankam bisa lebih komprehensif-terpadu.

Untuk meyakinkan asumsi ini, Mbak Ida Aryani dan Bang Heri Fauzi (bukan Fauzi Heri ya, hehee...) dari Borneo News Biro Palangkaraya sampai mengundang saya ke Ibu Kota Kalteng ini.

Palangkaraya ini keren. Saya berkesempatan menyaksikan Festival Isen Mulang dan pameran yang menampilkan kekayaan sumber daya Provinsi Kalteng.

Penari-penari putri yang tampil dalam festival itu putih-putih seperti muli Lampung. Tapi, untungnya saya sudah bawa anak-istri dari Lampung ke Pangkalan Bun, sehingga saya tak tergoda. Hehee...

Diajak Mbak Ida, saya juga berwisata ke tempat-tempat indah dan kuliner enak-enak di seputar Palangka.

Alhasil, saya rela Palangkaraya jadi Ibu Kota RI kelak seandainya Lampung gak kepilih. Dengan catatan, orang Borneo gak main-main asap dan bakar hutan lagi ya. Wakakak... kaakkk. []


Rabu, 1 Mei 2019

Friday, April 19, 2019

Gegara Story Telling

Oleh Udo Z Karzi


GEGARA story telling, yang dibilang sama Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya (Tribun Lampung, 18/4/2019), saya jadi ingat guru bahasa Inggris saya di kelas 1 SMP Liwa.
S. Sianturi. Apa kepanjangan S-nya, sampai sekarang kami tidak tahu. "Gak usah ditanya. Panggil saja Sianturi, Pak Sianturi," kata dia waktu memperkenalkan diri di depan kelas.

Selain guru bahasa Inggris, Pak Sianturi wali kelas kami. Karena tinggal di Liwa, ia juga menguasai banyak kosakata Lampung. Ia pula yang bilang, bahasa Lampung banyak kesamaan dengan bahasa Batak.

Ketika mengajar, suka-suka dia saja membuat contoh dari kosakata Lampung. Misalnya,
- kuwol (tunggal)---> kuwols (jamak)
- halipu (tunggal)---> halipus (jamak)

Saya ingat, sekali waktu saat materi Present Continuous Tense. Ia pun menjelaskan perubahan kata kerja dalam Present Continuous Tense ini:
- do ---> doing
- cook ---> cooking
- study ---> studying
....

Apa lagi?

"'Miss' jadi 'missing'."

Satu kelas tertawa termasuk Pak Sianturi.

Setelah reda, Pak Sianturi, "Kenapa? Ada yang mising?"

Satu kelas ngakak lagi.

Lucu? Ya, iyalah "mising" dalam bahasa Lampung berarti buang air besar alias berak.
Satu kata lagi, yang kalau kami sebut, bakal kena marah atau kena strap sekelas adalah 'tell" yang menjadi "telling".

Kenapa memang? Ah, tak patut saya jelaskan artinya. Hahaa...

Makanya, saya anjurkan tak usah sering-sering "story telling" karena orang Lampung mesti bacanya "setori teling". Itu bahaya. Hahaa... Apalagi kalau ngomong "telling to you' " ke orang tua.
Ketimbang story telling, lebih baik gunakan kata "mendongeng" atau "bercerita". Bahasa Lampungnya, "bewarah" atau "buwarah".


Jumat, 19 April 2019

Wednesday, April 17, 2019

Ayo Memilih

Oleh Udo Z Karzi


TAK pelak pemilihan umum (pemilu) adalah satu-satunya cara suksesi, pergantian pemimpin negeri yang paling beradab dalam negara yang demokratis.

Bagi Indonesia, pemilu salah satu pilar utama dari sebuah proses akumulasi kehendak masyarakat. Tujuan pemilu sekaligus merupakan prosedur demokrasi untuk memilih pemimpin. Penting bagi warga Indonesia untuk memiliki sebuah proses untuk memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu.

Dalam konteks inilah, Pemilu 2019 yang digelar serentak hari ini, Rabu, 17 April 2019, memiliki urgensi bagi eksistensi dan masa depan negara-bangsa kita. Pemilu 2019 meliputi Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), tidak hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden, tapi juga anggota legislatif.

Dari pemilu ini pula wakil-wakil rakyat benar-benar dipilih oleh rakyat, berasal dari rakyat dan akan bekerja untuk kepentingan rakyat. Demikian juga presiden dan wakil presiden. Sedangkan tujuan pemilu adalah membentuk pemerintahan baru dan perwakilan rakyat yang benar benar bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Tujuan pemilu yang harus dicapai di antaranya, melaksanakan kedaulatan rakyat; perwujudan hak asasi politik rakyat; untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR, DPD dan DPRD, serta memilih Presiden dan Wakil Presiden; untuk melaksanakan pergantian personal pemerintahan secara damai, aman, dan tertib (secara konstitusional); dan menjamin kesinambungan pembangunan nasional.

Mengingat pentingnya Pemilu, sangat dianjurkan setiap warga negara menggunakan hak pilih mereka. Keikutsertaan mereka dalam Pemilu sangat mempengaruhi legitimasi bagi mereka-mereka yang dipilih dalam menjalankan amanat rakyat.

Ya, jadilah pemilih cerdas agar pemilu berkualitas. Pemilu yang berkualitas tentu akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas pula.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini membeberkan kerugian pemilih yang mempunyai hak pilih, namun tidak menggunakannya pada Pilkada serentak 2018. Pertama, mempersulit kandidat yang disukai untuk terpilih. Jika kita golput, kandidatmu kekurangan satu suara untuk lebih dekat dengan keterpilihan.

Kedua, bisa jadi kandidat yang buruk yang terpilih. Apabila, pemilih telah menelusuri rekam jejak para kandidat dan tak menemukan ada kandidat cukup dianggap baik, maka sebaiknya tetap gunakan hak pilih. Caranya, pilihlah kandidat yang paling sedikit catatan keburukannya dan paling banyak catatan keberhasilannya. Siapa pun kandidat yang mendapatkan suara terbanyak, seburuk apapun, akan tetap terpilih dan memimpin daerahmu.

Ketiga, memperbesar potensi manipulasi suara. Saat seorang pemilih tidak menggunakan hak pilih, tersisa satu surat suara yang tak terpakai. Maka, suara yang tak digunakan tersebut membuka potensi manipulasi suara oleh oknum yang mungkin melakukan kecurangan. Satu suaramu yang tak digunakan, bisa saja berpindah ke perolehan suara suatu kandidat lain secara tidak sah.

Keempat, kehilangan peran untuk memperbaiki nasib negeri. Suara setiap pemilih memiliki dampak terhadap nasib rakyat dan daerahnya. Sebab, setiap kandidat memiliki visi-misi dan dan program kerja yang akan dijalankan ketika terpilih. Golput itu kamu melepas peranmu untuk ikut menentukan nasib negaramu selama lima tahun ke depan.

Kelima, pendapatan negara terbuang sia-sia. Penyelenggaraan Pemilu dibiayai oleh Anggaran Pendapatan, dan Belanja Negara (APBN). Karena itu, jika seorang pemilih memilih untuk golput atau tidak menggunakan hak pilihnya, maka anggaran negara akan terbuang sia-sia.

Jadi, hari ini mari kita datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih pemimpin kita, baik Presiden-Wakil Presiden maupun legistif (DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, dan DPD RI).


Fajar Sumatera, Rabu, 17 April 2019

Monday, April 15, 2019

Masa Tenang

Oleh Udo Z Karzi



"THIS site can't be reached www.facebook.com took too long to respond." Begitu yang tertulis di layar komputer.

Ada apa? Ternyata, tidak hanya Facebook, tetapi juga WhatsApp dan Instagram juga mengalami gangguan. Facebook, WhatsApp, dan Instagram down di seluruh dunia, kabarnya.

Melansir laman Mirror, media sosial Facebook, WhatsApp, dan Instagram mengalami kendala pada Minggu (14 April 2019) sore.

Cuma sebentar. Saat tulisan ini hampir selesai dibikin, ketiga aplikasi ini mulai bisa diakses.

Tapi, tidak urung ada spekulasi pun bermunculan. Banyak pengguna Twitter di Indonesia menulis cuitan yang lucu.

"14 Maret WhatsApp, Instagram, & Facebook down. Dan sekarang 14 April down lagi. Kebetulan? #WhatsAppDown #InstagramDown #FacebookDown," tulis akun @putrambele

"WhatsApp, Facebook, Instagram down. Untung masih ada Twitter," imbuh akun @hasniarrofiq

"FACEBOOK INSTAGRAM WHATSAPPS DOWN ROAST NYA DI TWITTER TUMAN KALIAN HAMBA LEMAH TANPA SOSMED," tulis akun @bahagihya.

Ada apa sebenarnya?

"Itu Facebook, WA, dan IG tidak kuat menampung curhat, keluhan, bahkan caci maki para netizen," kata Mat Puhit asbun.

"Yang ilmiah dikitlah kalau ngomong," kata Minan Tunja.

"Ini jelas ada sabotase," sambar Udien.

"Nah, ini tambah ngawur," timpal Pithagiras.

"Jelas ada yang gak sirik dengan Facebook, WA, dan IG," Pinyut lebih ngacok.

Mamak Kenut yang mendenger keributan, mulai ceramah, "Kalian ini. Jangan tambah runyam keadaanlah. Coba berpikir positiflah."

"Maksudnya bagaimana, Mamak?" tanya Minan Tunja.

"Indonesia ini kah negera besar. Orang di seluruh dunia kan tahu negeri ini sedang menyelenggarakan Pemilu.  KPU menetapkan 14-16 April sebagai masa tenang Pemilu 2019. Para peserta pemilu dilarang berkampanye dalam bentuk apa pun di masa tenang ...," ujar Mamak Kenut lagi.

"Maksudnya?"

"Facebook, WA, dan IG yang biasanya tempat mengeluh, mengutuk, dan memaki sengaja tidak ingin diakses. Itu menghormati bangsa Indonesia yang tengah menjalankan masa minggu tenang selama tiga hari ini," jelas Mamak Kenut.

Bukannya dipercaya, omongan Mamak Kenut ini malah disambut rame-rame dengan seruan, "Huuu...."

Tambah mak jelas. Ditanya ke Radin Mak Iwoh, dia malah lagi sibuk bingung, memikirkan siapa pemimpin negeri yang terpilih.

"Masa iya?" dia malah bertanya.

Maka, pun mencoba Facebook.

"Ini bisa. Kalian ini jangan buat hoaks aja," omel Radin Mak Iwoh.

Maka beramai-ramailah Mat Puhit dkk mencoba Facebook, WA, dan IG, ternyata sudah bisa dibuka.

Horeee...

"Ehh, tetapi tetap ingat ya. Hari sampai 16 April minggu tenang ya. Jangan sampai kena semprit ya!"

Induh... []



Fajar Sumatera, Senin, 15 April 2019

Tuesday, April 9, 2019

Puco, Puhit, Puhitco

Oleh Udo Z Karzi


"PUCO, Puco... (baca: puko)," panggil Wan Agung.

"Siapa Puko," tanya saya.

"Ah, Ayah ini. Puco itu kelinci. Putih coklat, makanya dipanggil Puco."

***

Sekarang, Puco punya teman.

"Dikasih nama apa?"

"Puhit, Putih Hitam."

"Wah... itu sih Mat Puhit, temannya Mamak Kenut. Genti nama lain."

"Nggak bisa, Yah. Putih Hitam ya Puhit."

Tepok jidat.😀😜

***

Tambah lagi kelinci yang ketiga. Tiga warna.

"Apa namanya?"

"Puhitco, Putih Hitam Coklat."

"Hahaa... Dasar sanak lunik!"

"Unyiin..."


Selasa, 5 April 2019

Friday, April 5, 2019

Kelinci di Sangkar Burung

Oleh Udo Z Karzi



PULANG-PULANG, Kamis, 4/4/2016, Wan Agung lapor, "Agung melihara kelinci, Yah."

"Nggak ada tempatnya lo, Gung. Gak usah."

"Itu hadiah dari opa, Agung menang lomba," Wan Agung ngotot.

E iyaa, dia Juara Harapan III Lomba Kaligrafi dalam Festival Lomba Seni Islami di SDN 3 Langkapura, Senin, 1/4/2019, kemarin.

"Nggak usah, Gung. Gak ada kandangnya."

"Ayah yang beliin kandangnya."

Wan Agung menghilang. Tak lama muncul lagi membawa kardus berisi kelinci. Ternyata, sudah dibelikan sama opa dari Pasar Tani.

Jadilah, kesibukan baru sejak kemarin: mencari makanan kelinci, mengganti minumnya, dan segera mendapatkan kandang kelinci.


Jumat, 5 April 2019

Tuesday, April 2, 2019

Miskin Terlalu!

Oleh Udo Z Karzi


Bukan kumenolakmu untuk mencintaiku
tetapi lihat dulu siapakah diriku
karena engkau dan aku sungguh jauh berbeda
Kau orang kaya, aku orang tak punya

Sebelum terlanjur pikir-pikirlah dulu
Sebelum engkau menyesal kemudian

ANAK milenial mungkin asing dengan lagu dangdut "Termiskin di Dunia" ciptaan Endang Raes, yang dirilis tahun 1987, yang melambungkan nama Hamdan ATT ini. Tapi, tanya dengan Orla (orang lama), terutama penggemar dangdut sejati, mestilah dia akan terlonjak-lonjak langsung joget sambil menyenandungkan lagu ini.

Saya berusia 17 tahun saat lagu ini sedang di puncak ketenarannya. Boleh jadi, seorang remaja SMA seperti saya sangat sebel juga dengan lagu ini. Bukan apa, miskin kok kelewatan. Coba saja simak reff-nya:

Jangankan gedung gubuk pun aku tak punya
Jangankan permata uang pun aku tiada
Aku merasa orang termiskin di dunia
Yang penuh derita bermandikan airmata
Itulah diriku kukatakan padamu
Agar engkau tahu siapa aku

Benar-benar miskin deh. Kesian! Tapi, anehnya lagu yang seharusnya membuat kita -- eh, yang merasa miskin geh -- sedih, malah mengajak orang bergoyang dan bergembira. Meskipun penyanyinya, Hamdan ATT, kurang bisa joged, anehnya kalau mendengarkan lagu semacam ini kepengennya goyang aja.

Aneh memang lagu ini. Ini jadi bahan ledekan-ledekan.

“Tahu ATT?” tanya teman di tahun 1980-an itu.

“Enggak,” jawab saya.

“ATT itu anak tukang tahu,” kata teman itu sok tahu.

“Ah, yang benar?”

“Benarlah!”

Saya kemudian tahu nama lengkap penyanyinya, Hamdan Attamimi. Penyanyi kelahiran Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, 27 Januari 1949 ini pernah meraih AMI Award untuk Artis Solo Pria Dangdut (2004), AMI Award untuk Album Dangdut/Dangdut Kontemporer Terbaik dengan Album Hamdan ATT & Monata (2015), dan AMI Award untuk Artis Solo Pria Dangdut Kontemporer Terbaik dengan lagu "Ilusi Cinta" (2015).

Maafkan teman saya, Pak Hamdan atas kekurangajarannya itu.

Balik lagi ke lagu “Termiskin di Dunia”. Sempurnalah lagu ini meledek kemiskinan. Lagu ini bersama lagu-lagu sezamannya seperti Senyum Membawa Luka dan Gubuk Bambu (Meggy Z), Tembok Derita (Asmin Cayder), Sepiring Berdua (Ida Laila), dan Pak Hakim dan Pak Jaksa (Jaja Miharja) cenderung vulgar menggambarkan bagaimana orang tak berpunya begitu enjoy menikmati kepapaan mereka.

Hadapi kemiskinan itu dengan bernyanyi dan joged!

Repotnya buat saya, yang miskin terlalu sih enggak, kaya juga enggak. Ditambah lagi, saya gak bisa nyanyi, apalagi joget. Hehee… Paling-paling saya jadi pendengar lagu-lagu Doel Sumbang, Iwan Fals, Ebiet G Ade, Ahmad Albar, Nicky Astria, dll yang disetel teman kos di kamar sebelah. Jadi, susah sekali saya menikmati lagu-lagu dangdut yang 'jualan kemiskinan' itu.

Kala itu!

Sekarang, saya mulai belajar menggemari --sebagai pendengar saja, hihiii-- semua jenis lagu. Dari dangdut, saya belajar tentang perjuangan, cinta, dan prinsip hidup yang kemudian saya rumuskan menjadi "Biar miskin asal sombong!"

Ah, dangdut selalu menggairahkan!  []


Fajar Sumatera, Selasa, 2 April 2019

Thursday, February 21, 2019

Cinta Gila!

Oleh Udo Z Karzi


MASIH soal salah paham bahasa Lampung, tadi pagi ada sedikit diskusi dengan seorang teman dari Liwa.

Dari dialog itu, muncullah kalimat tanya ini: "Api cintamu gila?"

Tiga kosakata bahasa Lampung dalam kalimat di atas: "api", "cinta" dan "gila" jangan dicarikan dalam kamus bahasa Indonesia.
Sebab, dalam bahasa Lampung
api: apa
cinta: mau, ingin, hasrat
gila: kata penegas saja seperti sih, dong, dll dalam bahasa Indonesia

"Api cintamu gila?" Artinya, kurang-lebih, "apa maumu sih?"

Kalau begitu, jangan terlalu serius dengan "cinta" karena, dalam konteks bahasa Lampung, "cinta" bukan sesuatu yang sakral, yang memerlukan upacara khusus untuk menyatakannya.

Sementara "gila", bukan pula kata yang berbahaya, yang membuat orang harus marah. Dibilang "gila" kita sih asyik-asyik aja! Hehee...

"Lamon ga cinta" (terlalu banyak maunya) tidak pula bagus. Apalagi kalau sadar tidak mudah memenuhi keinginan-keinginan itu! Yang benar memperlakukan "cinta" itu dalam batas-batas wajar agar kita tak disangka "nafsu besar tenaga kurang".

Tapi, jangan "mak ngedok tenyinta gila" (tidak punya keinginan) pula. Sebab, kalau itu sih, bikin kita malas makan, malas sekolah, malas mengaji, ... bahkan, malas hidup. Itu yang namanya "Sekula mak haga, ngaji mak haga, ... haga jadi api? (Sekolah tak mau, mengaji ogah,... mau jadi apa?)"

***

By the way... (Waduh, ini kalau diartikan dalam bahasa Lampung juga jadi masalah. Hehee... Ulun Lampung mesti menyebutnya "bai dewai" yang bermakna "perempuan pergi ke pangkalan mandi". Hahaa...), mari kita memuliakan bahasa Lampung.

Ulun Lampung mestinya ikut merayakan bahasa Lampung -- lengkap dengan dengan sistem aksaranya yang disebut 'had Lampung" -- yang insya Allah akan tetap lestari hingga akhir zaman.

Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari! Tabik. []


Fajar Sumatera, Kamis, 21 Februari 2019

Tuesday, February 5, 2019

Penulis Bekas

Oleh Udo Z Karzi


AKHIRNYA, saya harus mengakui bahwa saya ini penulis bekas. Kalau ada yang meminta puisi atau cerpen terbaru, saya menyerah.

Saya bilang, "Dah gak bisa lagi bikin puisi atau cerpen."

Diam-diam ya diam-diam, saya juga tidak memublikasikan karya ke media massa.

"Gak pede," saya berkilah. Pedahal memang tak mampu.😛😀

Belakangan ini, saya lebih suka membaca-baca karya sastra, seni-budaya pada umumnya, sesekali ilmu agama dan pelitik. Dan, lebih sering update status. Hihii...

Upf, jangan salah ya, update status ini, berkaitan langsung dengan kualitas dan kuantitas karya ya. Catet itu!

Maka, jadilah saya penulis bekas. Kebetulan saja pernah menulis puisi, cerpen, novel, esai...

Penulis bekas. Sebab, buku yang saya tulis segera menjadi buku bekas, majalah yang memuat tulisan saya tak lama kemudian menjadi majalah bekas, koran tempat tulisan saya itu dalam waktu singkat menjadi koran bekas, dan tentu saja tulisan-tulisan saya itu menjadi tulisan bekas.

Puisi saya puisi bekas, cerpen saya cerpen bekas, novel saya novel bekas, esai saya esai bekas....

Ya, saya penulis bekas.

Tabik.🙏🙏🙏


Selasa, 5 Februari 2019

Saturday, January 26, 2019

In Memoriam Novan Saliwa

Oleh Udo Z Karzi


Novan Saliwa. DOKPRI
SAYA tersentak. Benar-benar kaget mendapati kabarmu, Novan Saliwa, telah kembali keharibaan Ilahi. Innalillahi wainna ilahi rajiun. Seniman tari bernama lengkap Novan Adi Putra meninggal dunia di RSUDAM Abdul Moeloek, Bandar Lampung, Sabtu, 26 Januari 2019 pukul 04.30 setelah dirawat karena sakit kelenjar limfoid (getah bening).

Hari ini juga, pria kelahiran Liwa, 29 November 1988 ini diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir di kota kelahirannya. Kita sang pekon (sekampung), Negarabatin Liwa (sekarang: Kelurahan Pasar Liwa), Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat.

Ingat omonganmu, saya ketawa sendiri. ”Neram, se-Negarabatin Liwa, pusikop-sikop ulehni risok imul di Way Saetiwang. (Kita, orang Negarabatin Liwa ganteng-ganteng karena sering mandi di Way Setiwang),” katamu sekali waktu.

Hehee... Benar atau tidaknya, wallahu a’lam.


Terakhir, Novan menjadi pelatih tari di Diklat Seni Tari Anjungan Lampung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Di sela-sela itu, ia sempatkan menulis artikel seni-budaya Lampung di berbagai media, dari blog hingga koran, termasuk mengirim rilis berita seni ke berbagai media.

Hampir tak pernah bertemu di dunia nyata, meskipun kita sang pekon, kita sering berdiskusi banyak hal tentang adat-istiadat, seni-budaya, bahasa, sastra, dan tulis-menulis.

Engkau sungguh gigih bertanya dan belajar. Hasilnya, beberapa tulisan yang -- karena saya kebetulan saya dipercaya menjadi Redaktur Opini dan Budaya Lampung Post dan kemudian Fajar Sumatera -- saya muat di kedua media itu.

Terakhir, saya tahu engkau sedang belajar menulis cerita pendek. Sebuah cerpen berjudul "Ginjor Semayam Ratu Pesagi" dikirim ke email saya tertanggal 15 Maret 2018. Sayang, koran tempat saya bekerja tak memiliki halaman sastra lagi.

(Izin kepada keluarga Novan Saliwa, tulisan-tulisannya yang tersebar di beberapa media dan yang dikirimkannya kepada saya, akan saya himpun dalam sebuah buku. Tabik.)

Ya, Allah, maafkan saya. Ternyata, saya masih punya utang denganmu. Bukan utang materi. Ceritanya, suatu kali saat di bulan November 2015, engkau singgah di Bandar Lampung. Kita berjanji bertemu di Universitas Lampung (Unila). Dari kampus ini, saya mengajakmu ke redaksi Fajar Sumatera di bilangan Kampungbaru, tidak jauh dari Kampus hijau.

Kepadamu saya berikan beberapa buku saya. "Nerima nihan. Inji buku pengahutni Udo (Terima kasih. Ini buku tanda sayang dari Udo)," katamu.

Saya pun senang mendapat apresiasi darimu.

Saat itu, saya meminta seorang reporter mewawancaraimu. “Untuk dimuat di rubrik Kiprah,” kata saya. Namun, entah mengapa, tulisan profilmu tak jadi dan karena itu tak dimuat di koran.

Waduh, janji adalah utang. Maafkan saya, saya segera rampungkan profilmu.

Engkau masih sangat muda, Novan. Kami masih penuh harap padamu. Selamat jalan. Semoga Allah memuliakanmu di keabadian, khusnul khotiman sebagai seniman kebanggaan kami. Amiin.


Ini data kegiatan berkesenian Novan Saliwa:

Bersama Sanggar Setiwang:

- Festival Danau Ranau yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten OKU Selatan tahun 2005

- Peserta Festival Tari Kreasi - Festival Krakatau tahun 2005 s/d 2010

- Festival Sriwijaya di Palembang Sumatera Selatan

- Event HUT TMII Jakarta Tahun 2004 - 2006

- Promosi Budaya Provinsi Lampung di Tujungan Plaza Surabaya tahun 2005.

- Penari pada acara pertemuan Gubernur Se-Indonesia di Bandung tahun 2005

- Peserta Pawai Budaya Nusantara 2007 Perwakilan Provinsi Lampung di Depan Istana Merdeka Jakarta

- Parade Tari Nusantara di TMII -Jakarta 2010

Kegiatan Seni di Jogja :

- Pengarah Tari sekaligus Penari "Sanak Petuah " dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2008.

- Pengarah Tari sekaligus Penari " Kepaksian Sekala Brak" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2009.

- Pengarah Tari sekaligus Penari "Batu Belah Batu Betangkup" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2010.

- Penata Tari Terbaik dan Juara 1 Tari ” Payan Duakha” Lomba tari se Provinsi Lampung, Festival Krakatau 2010.

- Pengarah Tari sekaligus Penari " Sansayan Sekeghumong" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2011, Juara 1 kategori penampil terbaik dan penata tari terbaik dalam event International Etnic Cultur Festival di Yogyakarta 2011.

- Penari Tari Tupping Pesisir, Tugas Akhir Sarjana Muda Jurusan Seni Tari, ISI yogyakarta 2012 dan ditampilkan kembali di Pekan budaya Tionghoa di Yogyakarta mewakili daerah Lampung.

Kegiatan Keorganisasian:

- Wakil Ketua ROHIS SMAN 1 Liwa .

- Koordinator Divisi Sesbid 4 ( Kepribadian dan budipekerti luhur ) OSIS SMAN 1 Liwa

- Koordinator seni Budaya IKPM Lambar Jogja 2007 -2008.

- Koordinator Litbang IKPM Lambar Jogja 2009 -2010.

- Sekretaris Asrama Mahasiswa Lampung 2007-2008

- DPO Himpunan Pelajar Masiswa Lampung (HIPMALA) Yogyakarta.

Penghargaan:

- Juara 1 lomba tari melinting tingkat SMA se-Lampung tahun 2005 di Taman Budaya Provinsi Lampung

- 5 Penampil terbaik Perwakilan Lampung bersama provinsi Bali, Aceh, Kalimantan, Riau pada event Gelar Budaya Etnis Nusantara di Yogyakarta Tahun 2008

- Penata Tari Terbaik Festival Krakatau 2010.

- Juara 1 kategori penampil terbaik dan penata tari terbaik dalam event International Etnic Cultur Festival di Yogyakarta 2011.

- Anugerah Adat Kreativitas dari Sultan Edward Syah Pernong : Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke 23 pada 12 Mei 2012.

Karya Tari ( Koreografer ):

- Tari Dayang dan Ujang ditampilkan acara perpisahan SMPN 1 Liwa tahun 2003

- Tari ”Demon Saka” Juara 1 pada event Festival Teluk Stabas di Lampung Barat tahun 2006

- Tari " Pesta Sekura " , Penampil Terbaik Gelar Budaya - Etnis Nusantara di Yogyakarta Tahun 2008

- Tari ”Pekan Liwa” Juara 1 pada event festival Teluk Stabas di Lampung Barat tahun 2009.

- Tari persembahan ”Pahar Agung”, disuguhkan didepan Wakil Gubernur Lampung dalam Acara Pelantikan Hipmala 2010, ditampilkan kembali pada Ultah Kota JOgja di benteng Vredeburg didepan Walikota jogja, dan Festival Seni dan Budaya Pascasarjana UGM 2011.

- Tari ” Payan Duakha” Juara 1 Lomba tari se Provinsi Lampung, Festival Krakatau 2010.

- Tari ” Sekura Waya” tampil dalam Sepatu Menari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2010 dan Acara Budaya Tiong Hoa Jogja 2010.

- Tari " Tetuha Lemawong" dalam Festival Malioboro Provinsi DI Yogyakarta 2012.

- Sendratari Sendratari Sekala Brak di Concert Hall Taman Budaya Provinsi DI Yogyakarta 2013.

- Tari " Zapin Kecambai " juara 1 Lomba Tari Melayu di Jogjakarta 2013 dan ditampilkan kembali acara silaturahmi Gubernur Lampung dengan Masyarakat Lampung Pulau Jawa di TMII Jakarta, September 2014.

- Tari Merak Kenyangan (Merak Kayangan), sebuah tari yang digarap khusus untuk penikahan Aregina Nareswari Firuzzaurahma & Doffie Fahlevi Sanjaya di Sasono Utomo TMII, 2016.



Suluh.co, Sabtu, 26 Januari 2019

Tuesday, January 8, 2019

Peray for Bahasa Lampung

Oleh Udo Z Karzi


GEGARA Juwendra Asdiansyah yang menulis "Pray for Bahasa Indonesia" (Duajurai.com, 4 Januari 2019), saya bikin orat-oret dengan judul modifikasi: "Peray for Bahasa Lampung".

Sama juga dengan Kak Juwe-nya, saya juga heran kenapa orang suka dengan istilah "pray for...". "Misalnya, Pray for Lombok, Pray for Palu, Sigi & Donggala, dan teranyar, Pray for Lampung & Banten. Di TVRI, iklan simpati bencana tsunami yang menerjang Lampung dan Banten pada 22 Desember 2018 lalu (malah) dilabeli 'Pray for Banten dan Lampung'," tulisnya.

Tapi, saya memang ulun Lampung, sehingga tak bisa baca "pray". Mestilah saya baca dengan "perai" atau "peray". Entah, sejak kapan orang di kampung saya sudah mengadopsi kata "peray" ini.

Dalam bahasa Lampung, "peray" berarti libur, tidak masuk sekolah/kerja.

Contoh kalimat:
~ "Perai adu bela. Jak rani Senin, sanak mulai kuruk sekula" (Libur telah usai. Sejak hari Senin, anak-anak mulai masuk sekolah.)
~ "Dang tehol ga beguai. Perai-perai muneh ngindang meruyuh." (Jangan terlalu rajin bekerja. Libur-liburlah sesekali supaya tidak sakit.)

Coba cek Kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ketemu artinya:

pe.rai1 /pêrai/
v memerai
pe.rai2 /pêrai/
1. v cak tidak masuk bekerja, sekolah, dan sebagainya; libur: pada hari besar nasional karyawan --
2. v cak tidak usah membayar; gratis: makan dan tempat tinggal --
pe.rai3 /pêrai/

Arti "perai" dalam bahasa Lampung ternyata cocok dengan arti "perai" dalam bahasa Indonesia. Tapi, yang paling saya sukai adalah "perai" yang bermakna "tidak usah membayar; gratis: makan dan tempat tinggal --".

Kan sama dengan "percuma". Hahaa...

Oleh karena itu, saya paling tak setuju jika ada ujaran baru pula "Pray for Bahasa Lampung" (baca: Peghai fogh Bahasa Lampung). Sebab, alih-alih berarti "Doa untuk bahasa" atau "Simpati untuk bahasa Lampung", Perai for Bahasa Lampung justru libur berbahasa Lampung atau berhentilah berbahasa Lampung.

Pikir-pikir dahululah sebelum itu benar-benar terjadi.

Jangan gegayaanlah. []


Selasa, 8 Januari 2019

Monday, January 7, 2019

Menolak Musnah

Oleh Udo Z Karzi


"Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.”
~ Milan Kundera

DEMIKIANLAH, makanya saya bilang, "Saya gak mau punah. Makanya saya tetap menulis, terutama di FB. Hahai..."

Sebenarnya tak cukup membaca dan menulis hanya di media sosial (medsos). Harus membaca dan menulis buku.

Buku itu penting. Bung Hatta sampai berujar rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, Hatta merasa bebas. Begitu berharganya sebuah buku baginya, hingga Hatta pun meminang istrinya dengan mahar berupa buku karyanya yang berjudul “Alam Pikiran Yunani”.

Bung Hatta dan tokoh-tokoh besar lainnya adalah para kutu buku kelas berat. Isaac Newton, Albert Einstein, John F. Kennedy, dan Bill Gates biasa banyak membaca buku dari tokoh-tokoh besar lintas zaman seperti Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Rene Descartes, hingga J.J. Rousseau, dan Karl Marx.

Mengapa buku?

Sebab, buku adalah jendela dunia. Melalui bukulah penulis berkabar kepada dunia. Seperti kata Rene Descates, "Saya berpikir, maka saya ada"; begitu pula, "Saya menulis buku (dan tentu saja berpikir!), maka saya ada."

Sebab, buku adalah sebentuk keseriusan dalam menghadapi segala sesuatu, apa pun yang dikehendaki, apa pun yang hendak dicapai, apa pun yang hendak dituju. Jelaslah, buku berisi visi dan misi penulisnya.

Sebab, buku berisi olahpikir, olahseni, dan olah pengalaman dari penulisnya. Buku menghimpun jutaan ide, gagasan, pemikiran, juga perasaan, emosi, dan nilai estetis dari penulisnya. Dan, perubahan sosial, pembangunan manusia, bahkan revolusi sekalipun digerakkan oleh gagasan atau pemikiran yang dihimpun dalam buku.

Sebab, mengabaikan buku, sama dengan membiarkan otak anak-anak kita, generasi bangsa akan menjadi dangkal, miskin pengetahuan, tak bisa mengikuti jejak pendahulu, dan tidak bisa belajar dari orang-orang yang ahli pada bidang masing-masing.

***

Ya, buku itu yang membuat manusia tetap menjadi manusia dan sebuah negeri tempat manusia membangun peradaban tetap berdiri. Jadi, buku yang menghalangi kemusnahan. 

Dan karena itu, saya (mau) bikin buku banyak-banyak, lalu menjualnya.:) []


Fajar Sumatera, Senin, 7 Januari 2019