Saturday, January 26, 2019

In Memoriam Novan Saliwa

Oleh Udo Z Karzi


Novan Saliwa. DOKPRI
SAYA tersentak. Benar-benar kaget mendapati kabarmu, Novan Saliwa, telah kembali keharibaan Ilahi. Innalillahi wainna ilahi rajiun. Seniman tari bernama lengkap Novan Adi Putra meninggal dunia di RSUDAM Abdul Moeloek, Bandar Lampung, Sabtu, 26 Januari 2019 pukul 04.30 setelah dirawat karena sakit kelenjar limfoid (getah bening).

Hari ini juga, pria kelahiran Liwa, 29 November 1988 ini diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir di kota kelahirannya. Kita sang pekon (sekampung), Negarabatin Liwa (sekarang: Kelurahan Pasar Liwa), Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat.

Ingat omonganmu, saya ketawa sendiri. ”Neram, se-Negarabatin Liwa, pusikop-sikop ulehni risok imul di Way Saetiwang. (Kita, orang Negarabatin Liwa ganteng-ganteng karena sering mandi di Way Setiwang),” katamu sekali waktu.

Hehee... Benar atau tidaknya, wallahu a’lam.


Terakhir, Novan menjadi pelatih tari di Diklat Seni Tari Anjungan Lampung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Di sela-sela itu, ia sempatkan menulis artikel seni-budaya Lampung di berbagai media, dari blog hingga koran, termasuk mengirim rilis berita seni ke berbagai media.

Hampir tak pernah bertemu di dunia nyata, meskipun kita sang pekon, kita sering berdiskusi banyak hal tentang adat-istiadat, seni-budaya, bahasa, sastra, dan tulis-menulis.

Engkau sungguh gigih bertanya dan belajar. Hasilnya, beberapa tulisan yang -- karena saya kebetulan saya dipercaya menjadi Redaktur Opini dan Budaya Lampung Post dan kemudian Fajar Sumatera -- saya muat di kedua media itu.

Terakhir, saya tahu engkau sedang belajar menulis cerita pendek. Sebuah cerpen berjudul "Ginjor Semayam Ratu Pesagi" dikirim ke email saya tertanggal 15 Maret 2018. Sayang, koran tempat saya bekerja tak memiliki halaman sastra lagi.

(Izin kepada keluarga Novan Saliwa, tulisan-tulisannya yang tersebar di beberapa media dan yang dikirimkannya kepada saya, akan saya himpun dalam sebuah buku. Tabik.)

Ya, Allah, maafkan saya. Ternyata, saya masih punya utang denganmu. Bukan utang materi. Ceritanya, suatu kali saat di bulan November 2015, engkau singgah di Bandar Lampung. Kita berjanji bertemu di Universitas Lampung (Unila). Dari kampus ini, saya mengajakmu ke redaksi Fajar Sumatera di bilangan Kampungbaru, tidak jauh dari Kampus hijau.

Kepadamu saya berikan beberapa buku saya. "Nerima nihan. Inji buku pengahutni Udo (Terima kasih. Ini buku tanda sayang dari Udo)," katamu.

Saya pun senang mendapat apresiasi darimu.

Saat itu, saya meminta seorang reporter mewawancaraimu. “Untuk dimuat di rubrik Kiprah,” kata saya. Namun, entah mengapa, tulisan profilmu tak jadi dan karena itu tak dimuat di koran.

Waduh, janji adalah utang. Maafkan saya, saya segera rampungkan profilmu.

Engkau masih sangat muda, Novan. Kami masih penuh harap padamu. Selamat jalan. Semoga Allah memuliakanmu di keabadian, khusnul khotiman sebagai seniman kebanggaan kami. Amiin.


Ini data kegiatan berkesenian Novan Saliwa:

Bersama Sanggar Setiwang:

- Festival Danau Ranau yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten OKU Selatan tahun 2005

- Peserta Festival Tari Kreasi - Festival Krakatau tahun 2005 s/d 2010

- Festival Sriwijaya di Palembang Sumatera Selatan

- Event HUT TMII Jakarta Tahun 2004 - 2006

- Promosi Budaya Provinsi Lampung di Tujungan Plaza Surabaya tahun 2005.

- Penari pada acara pertemuan Gubernur Se-Indonesia di Bandung tahun 2005

- Peserta Pawai Budaya Nusantara 2007 Perwakilan Provinsi Lampung di Depan Istana Merdeka Jakarta

- Parade Tari Nusantara di TMII -Jakarta 2010

Kegiatan Seni di Jogja :

- Pengarah Tari sekaligus Penari "Sanak Petuah " dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2008.

- Pengarah Tari sekaligus Penari " Kepaksian Sekala Brak" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2009.

- Pengarah Tari sekaligus Penari "Batu Belah Batu Betangkup" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2010.

- Penata Tari Terbaik dan Juara 1 Tari ” Payan Duakha” Lomba tari se Provinsi Lampung, Festival Krakatau 2010.

- Pengarah Tari sekaligus Penari " Sansayan Sekeghumong" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2011, Juara 1 kategori penampil terbaik dan penata tari terbaik dalam event International Etnic Cultur Festival di Yogyakarta 2011.

- Penari Tari Tupping Pesisir, Tugas Akhir Sarjana Muda Jurusan Seni Tari, ISI yogyakarta 2012 dan ditampilkan kembali di Pekan budaya Tionghoa di Yogyakarta mewakili daerah Lampung.

Kegiatan Keorganisasian:

- Wakil Ketua ROHIS SMAN 1 Liwa .

- Koordinator Divisi Sesbid 4 ( Kepribadian dan budipekerti luhur ) OSIS SMAN 1 Liwa

- Koordinator seni Budaya IKPM Lambar Jogja 2007 -2008.

- Koordinator Litbang IKPM Lambar Jogja 2009 -2010.

- Sekretaris Asrama Mahasiswa Lampung 2007-2008

- DPO Himpunan Pelajar Masiswa Lampung (HIPMALA) Yogyakarta.

Penghargaan:

- Juara 1 lomba tari melinting tingkat SMA se-Lampung tahun 2005 di Taman Budaya Provinsi Lampung

- 5 Penampil terbaik Perwakilan Lampung bersama provinsi Bali, Aceh, Kalimantan, Riau pada event Gelar Budaya Etnis Nusantara di Yogyakarta Tahun 2008

- Penata Tari Terbaik Festival Krakatau 2010.

- Juara 1 kategori penampil terbaik dan penata tari terbaik dalam event International Etnic Cultur Festival di Yogyakarta 2011.

- Anugerah Adat Kreativitas dari Sultan Edward Syah Pernong : Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke 23 pada 12 Mei 2012.

Karya Tari ( Koreografer ):

- Tari Dayang dan Ujang ditampilkan acara perpisahan SMPN 1 Liwa tahun 2003

- Tari ”Demon Saka” Juara 1 pada event Festival Teluk Stabas di Lampung Barat tahun 2006

- Tari " Pesta Sekura " , Penampil Terbaik Gelar Budaya - Etnis Nusantara di Yogyakarta Tahun 2008

- Tari ”Pekan Liwa” Juara 1 pada event festival Teluk Stabas di Lampung Barat tahun 2009.

- Tari persembahan ”Pahar Agung”, disuguhkan didepan Wakil Gubernur Lampung dalam Acara Pelantikan Hipmala 2010, ditampilkan kembali pada Ultah Kota JOgja di benteng Vredeburg didepan Walikota jogja, dan Festival Seni dan Budaya Pascasarjana UGM 2011.

- Tari ” Payan Duakha” Juara 1 Lomba tari se Provinsi Lampung, Festival Krakatau 2010.

- Tari ” Sekura Waya” tampil dalam Sepatu Menari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2010 dan Acara Budaya Tiong Hoa Jogja 2010.

- Tari " Tetuha Lemawong" dalam Festival Malioboro Provinsi DI Yogyakarta 2012.

- Sendratari Sendratari Sekala Brak di Concert Hall Taman Budaya Provinsi DI Yogyakarta 2013.

- Tari " Zapin Kecambai " juara 1 Lomba Tari Melayu di Jogjakarta 2013 dan ditampilkan kembali acara silaturahmi Gubernur Lampung dengan Masyarakat Lampung Pulau Jawa di TMII Jakarta, September 2014.

- Tari Merak Kenyangan (Merak Kayangan), sebuah tari yang digarap khusus untuk penikahan Aregina Nareswari Firuzzaurahma & Doffie Fahlevi Sanjaya di Sasono Utomo TMII, 2016.



Suluh.co, Sabtu, 26 Januari 2019

Tuesday, January 8, 2019

Peray for Bahasa Lampung

Oleh Udo Z Karzi


GEGARA Juwendra Asdiansyah yang menulis "Pray for Bahasa Indonesia" (Duajurai.com, 4 Januari 2019), saya bikin orat-oret dengan judul modifikasi: "Peray for Bahasa Lampung".

Sama juga dengan Kak Juwe-nya, saya juga heran kenapa orang suka dengan istilah "pray for...". "Misalnya, Pray for Lombok, Pray for Palu, Sigi & Donggala, dan teranyar, Pray for Lampung & Banten. Di TVRI, iklan simpati bencana tsunami yang menerjang Lampung dan Banten pada 22 Desember 2018 lalu (malah) dilabeli 'Pray for Banten dan Lampung'," tulisnya.

Tapi, saya memang ulun Lampung, sehingga tak bisa baca "pray". Mestilah saya baca dengan "perai" atau "peray". Entah, sejak kapan orang di kampung saya sudah mengadopsi kata "peray" ini.

Dalam bahasa Lampung, "peray" berarti libur, tidak masuk sekolah/kerja.

Contoh kalimat:
~ "Perai adu bela. Jak rani Senin, sanak mulai kuruk sekula" (Libur telah usai. Sejak hari Senin, anak-anak mulai masuk sekolah.)
~ "Dang tehol ga beguai. Perai-perai muneh ngindang meruyuh." (Jangan terlalu rajin bekerja. Libur-liburlah sesekali supaya tidak sakit.)

Coba cek Kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ketemu artinya:

pe.rai1 /pêrai/
v memerai
pe.rai2 /pêrai/
1. v cak tidak masuk bekerja, sekolah, dan sebagainya; libur: pada hari besar nasional karyawan --
2. v cak tidak usah membayar; gratis: makan dan tempat tinggal --
pe.rai3 /pêrai/

Arti "perai" dalam bahasa Lampung ternyata cocok dengan arti "perai" dalam bahasa Indonesia. Tapi, yang paling saya sukai adalah "perai" yang bermakna "tidak usah membayar; gratis: makan dan tempat tinggal --".

Kan sama dengan "percuma". Hahaa...

Oleh karena itu, saya paling tak setuju jika ada ujaran baru pula "Pray for Bahasa Lampung" (baca: Peghai fogh Bahasa Lampung). Sebab, alih-alih berarti "Doa untuk bahasa" atau "Simpati untuk bahasa Lampung", Perai for Bahasa Lampung justru libur berbahasa Lampung atau berhentilah berbahasa Lampung.

Pikir-pikir dahululah sebelum itu benar-benar terjadi.

Jangan gegayaanlah. []


Selasa, 8 Januari 2019

Monday, January 7, 2019

Menolak Musnah

Oleh Udo Z Karzi


"Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.”
~ Milan Kundera

DEMIKIANLAH, makanya saya bilang, "Saya gak mau punah. Makanya saya tetap menulis, terutama di FB. Hahai..."

Sebenarnya tak cukup membaca dan menulis hanya di media sosial (medsos). Harus membaca dan menulis buku.

Buku itu penting. Bung Hatta sampai berujar rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, Hatta merasa bebas. Begitu berharganya sebuah buku baginya, hingga Hatta pun meminang istrinya dengan mahar berupa buku karyanya yang berjudul “Alam Pikiran Yunani”.

Bung Hatta dan tokoh-tokoh besar lainnya adalah para kutu buku kelas berat. Isaac Newton, Albert Einstein, John F. Kennedy, dan Bill Gates biasa banyak membaca buku dari tokoh-tokoh besar lintas zaman seperti Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Rene Descartes, hingga J.J. Rousseau, dan Karl Marx.

Mengapa buku?

Sebab, buku adalah jendela dunia. Melalui bukulah penulis berkabar kepada dunia. Seperti kata Rene Descates, "Saya berpikir, maka saya ada"; begitu pula, "Saya menulis buku (dan tentu saja berpikir!), maka saya ada."

Sebab, buku adalah sebentuk keseriusan dalam menghadapi segala sesuatu, apa pun yang dikehendaki, apa pun yang hendak dicapai, apa pun yang hendak dituju. Jelaslah, buku berisi visi dan misi penulisnya.

Sebab, buku berisi olahpikir, olahseni, dan olah pengalaman dari penulisnya. Buku menghimpun jutaan ide, gagasan, pemikiran, juga perasaan, emosi, dan nilai estetis dari penulisnya. Dan, perubahan sosial, pembangunan manusia, bahkan revolusi sekalipun digerakkan oleh gagasan atau pemikiran yang dihimpun dalam buku.

Sebab, mengabaikan buku, sama dengan membiarkan otak anak-anak kita, generasi bangsa akan menjadi dangkal, miskin pengetahuan, tak bisa mengikuti jejak pendahulu, dan tidak bisa belajar dari orang-orang yang ahli pada bidang masing-masing.

***

Ya, buku itu yang membuat manusia tetap menjadi manusia dan sebuah negeri tempat manusia membangun peradaban tetap berdiri. Jadi, buku yang menghalangi kemusnahan. 

Dan karena itu, saya (mau) bikin buku banyak-banyak, lalu menjualnya.:) []


Fajar Sumatera, Senin, 7 Januari 2019