Friday, April 9, 2010

Jadi Hantu

Oleh Udo Z. Karzi

SAAT semua upaya telah mentok: ilmu telah tak berguna, logika sudah tak terpakai lagi, aparat hukum tak bergigi, proses politik tak berkuasa lagi, lembaga negara tak berfungsi, dan amuk massa tak memberikan solusi; barangkali saja benar kita harus jadi hantu.

Jadi hantu adalah sebuah perlawanan. Tidak ilmiah memang. Jauh pula dari kelogisan. Tapi, mau apa lagi. Mat Puhit setuju saja jadi hantu. Urusannya bukan lagi lazim-tidak lazim, masuk akal dan tidak masuk akal, nalar-tidak nalar. Ini sudah menyangkut tuduhan (boleh jadi fitnah) dan harga diri. Soalnya tak ada satu pun yang mau mengaku, tidak satu pun bersaksi, dan tidak satu pun mampu membuktikannya.

Tapi Minan Tunja protes. Jadi hantu sama sekali tidak mendidik masyarakat. Jadi hantu hanyalah upaya mengalihkan masalah dari sebuah kondisi ketidakmampuan pihak-pihak untuk berbuat jujur, berkata benar, dan berani bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Jadi hantu cuma jalan untuk menunjukkan kita tak cukup cerdas mengungkap dan menyatakan: yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah.

Itulah soalnya. Kita, masyarakat kita, pemimpin-pemimpin kita tak pernah biasa memegang, menjunjung, dan mempertahankan kebenaran. Kita, masyarakat kita, pemimpin-pemimpin kita tak pernah dapat berlaku jujur dengan diri sendiri, dengan nurani sendiri, dengan keyakinan sendiri, dengan agama sendiri. Kalau sudah begitu, jangan pula berharap kita bisa jujur terhadap orang lain, keluarga lain, bawahan lain, atasan lain, lembaga lain, dan lain-lain.

Kebenaran itu hanya ada di kitab-kitab, di teori-teori, di retorika-retorika di kepala kita. Kebenaran tak pernah mewujud dalam bentuk sikap dan perilaku di dunia nyata. Kalau kita maling, jangan pernah mengaku. Itu kebodohan. Kalau kita bodoh, jangan pernah menjadi pandir. Itu salah. Kalau kita salah, jangan pernah merasa bersalah. Itu keliru. Kalau kita keliru, jangan pernah salah tingkah. Itu dungu. Kalau kita dungu, jangan pernah bertanya. Itu bego. Kalau kita bego, jangan sampai kelihatan kere. Itu penderitaan. Kalau kita menderita, jangan pernah mempertunjukkannya. Itu...pokoknya jangan sekali-kali kita mempertunjukkan kelemahan apalagi dosa kita.

Sebuah pengakuan tentang betapa kotornya kita justru membuat kita terjerumus dalam suatu lembah kehinaan. Sekali saja orang tahu belang kita, seumur hidup kita orang tak percaya. Gengsi, pamor, citra, popularitas, kredibilitas, akuntabilitas, atau apa pun yang berbau harga diri hancur.

Minta maaf? Nehi! Jangan pernah mengakui kesalahan dengan cara meminta maaf. Seandainya kita memohon maaf, siapa yang mau peduli dengan pernyataan seperti itu. Tak ada simpati lagi. Tak ada penghargaan lagi. Tak ada kehormatan lagi. Tak ada fasilitas lagi. Tak ada kemanfaatan lagi. Tak ada yang peduli lagi.

Kebenaran itu hanya milik Tuhan. Manusia memang tumpuan kesalahan. Kalau kita alpa, berbuat salah, atau bahkan dosa, itu wajar saja. Lagi pula itu cuma kesalahan teknis. Kesalahan prosedur saja. Tidak substansial. Bukan human error. Jadi, itu bukan hal yang esensial.

Mamak Kenut pun bersabda: kebenaran, barangkali, dapat terungkap atau makin mak jelas dengan jadi hantu. Boleh coba.


Lampung Post, Jum'at, 9 April 2010

Wednesday, February 17, 2010

Mendengar

Oleh Udo Z. Karzi

"Dalam keheningan, kita bisa mendengar dan didengar." (Subcomandante Marcos)

DUNIA ini penuh keberengsekan. Dalam berbagai kesempatan kita merasa perlu memaki, berteriak-teriak, mengkritik, atau minimal memberikan saran. Terlalu banyak yang tidak ideal--apalagi kalau ukuran yang dipakai adalah pemikiran kita sendiri.

Masalahnya, kita lupa. Orang lain boleh saja lebih pintar dari kita. Mereka punya argumen yang logis untuk berbuat di luar kelaziman. Setiap orang punya self defense mechanism di dalam dirinya.

Okelah, kritik kita benar. Tapi, tetap saja akan melawan sampai titik ludah penghabisan. Soalnya, tidak seorang pun senang dikritik. Mungkin secara lisan dia akan bilang, "Senang sekali dengan masukan Anda," tetapi dalam hatinya sebenarnya ngedumel, "Ini orang sok tahu bener ya!"

Dunia ini terlalu besar untuk ikut aturan main kita. Ada banyak cara dan jalan yang boleh dipilih oleh siapa pun. Ya, itulah perbedaan yang harus kita hormati tanpa harus mempertegas perbedaan itu karena sesungguhnya kita juga memiliki banyak persamaan. Cara menemukannya adalah dengan jalan mendengarkan.

MENDENGAR. Apa pula sulitnya. Itu kan cuma rutinitas saja. Tapi, jangan anggap remeh mendengar. Mendengar bukan sekadar menangkap suara. Mendengar adalah sebuah proses menciptakan harmoni. Sebuah proses panjang yang butuh peruntuhan ego secara simultan, tidak sekadar pergi meninggalkannya setelah semuanya usai.

Mendengar adalah seni bagaimana melegakan setiap hati. "Mari kita saling mendengar agar bisa saling mengerti," begitu bunyi salah satu komunike gerakan Zapatista di Meksiko. Bila kita saling mendengar, tak bakal ada penindasan. Kematian rasa terjadi karena kita ogah mendengar. Ketulian kita menyebabkan kita tak mengerti dan tak memahami orang lain.

Mendengarkan adalah suatu proses yang menentukan, apakah hubungan akan berlanjut secara efektif dengan orang lain atau tidak. Ini memerlukan kekuatan emosional. Mendengarkan memerlukan kesabaran, keterbukaan, dan keinginan untuk mengerti perasaan orang lain. Tentu saja, untuk mencapai pola ideal seperti ini diperlukan proses ke lapangan dada yang harus dilakukan dan dipelajari terus-menerus hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian.

Bentrok atau kekerasan yang memakan korban terjadi karena para pihak mengabaikan sikap mengalah dan mau mendengarkan apa satu sama lain. Padahal, tindakan mendengarkan ini memiliki kekuatan emosional yang mampu meredam ketegangan. Namun, mereka mengabaikannya. Akibatnya, terjadilah apa yang seharusnya tidak perlu terjadi.


Lampung Post, Rabu, 17 Februari 2010

Sunday, January 24, 2010

Pak Dosen Bawa Golok

Oleh Udo Z. Karzi

ANAK kecil ngamuk ya paling karena tidak dikasih permen. Rakyat kecil ngamuk karena pembagian jatah beras untuk keluarga miskin (raskin) atau bantuan lansung tunai (BLT) tidak rata terbagi. Tapi, kalau dosen ngamuk, walah sungguh tidak logis. Soalnya dosen kan sesosok yang--paling tidak--rasional, intelek, dan karena itu lebih mengedepankan cara-cara yang persuasif, argumentatif, dan ilmiah.

Tapi ini beneran terjadi. Empat dosen IAIN di Negarabatin ngamuk. Kayak jagoan kampung yang menenteng golok, keempatnya mencari dan mengancam membunuh rektor. Menggunakan mobil milik Fakultas Tarbiyah, empat dosen tiba di kantor pusat IAIN pukul 11.15, Kamis (22-1).

Nggak jelas maunya, mereka langsung ngamuk. Kaca pintu utama ruang rektorat dirusak dengan golok. Kata-kata kotor berhamburan dari mulut mereka. Mengetahui rektor sedang ke Jakarta, mereka tambah marah.

"Dosen gila," kata Pithagiras.

"Banyak bener dosa mereka...," sambung Mat Puhit.

"Halah...dosa. Kayak apa saja Israel yang membunuh penduduk Palestina aja," sambar Minan Tunja.

"Yah, kalau Yahudi sih nggak usah diomong. Tapi, ini yang ngamuk dosen. IAIN. Fakultas Tarbiyah (baca: ngajar calon guru agama) lagi. Makanya dosanya gede...," jelas Mat Puhit.

"Heh, urusan dosa sih urusan individu masing-masing dengan Tuhan. Saya sih lebih senang melihat status para dosen itu dikaitkan dengan peran apa yang seharusnya mereka mainkan. Sebagai akademisi, mereka jelas mempunyai tanggung jawab untuk membuat mahasiswa lebih cerdas. Sebagai guru, dosen yang harusnya menunjukkan sikap terpelajar dan memperlihatkan bagaimana pikiran, ucapan, dan tindakan mereka memang patut dihormati, ditiru, dan diteladani. Sebagai pemikir, mereka tidak pada tempatnya melakukan tindak kekerasan karena pilihan ini jauh dari konsepsi ilmu pengetahuan. Sebagai pengajar institut agama Islam, mereka harusnya memperlihatkan etika, moralitas, dan akhlaqul-karimah yang...."

Belum selesai Minan Tunja ngomong, Udien langsung memotong. "Stop! Jangan kepanjangan...."

Radin Mak Iwoh yang baru datang, langsung nimbrung. "Dosen juga manusia. Bisa emosi...," kata dia.

"Manusia tidak beriman."

"Jadi manusia kok nggak bisa menahan diri."

"Apa pun alasannya, dosen tidak dibenarkan bertindak anarki kayak itu."

"Dalam kondisi apa pun, orang kampus, terlebih dosen harus menunjukkan kecendekiawanan. Semua masalah bisa diselasaikan dengan bicara, dialog, debat,...adu mulut, perang ludah juga nggak apa. Asal jangan main otot, apalagi bawa golok."

"Memaksakan kehendak ya nggak benerlah."

Ke kampus harusnya kan bawa pena, kertas, buku, perlengkapan tulis atau alat praktikum. (Mamak Kenut malah kuliah nggak bawa apa-apa. Masih untung pake baju hehee...). Bawa golok ke kampus, ya salahlah. Dosen lagi yang bawa....

Ya, sudah. Jangan ditiru.


Lampung Post, Sabtu, 24 Januari 2010