Saturday, June 16, 2012

'Nonton sih Nonton', Tapi Jangan Tidur di Kantor

Oleh Udo Z. Karzi


EUFORIA Piala Eropa, 8 Juni hingga 1 Juli 2012, merambah ke seluruh dunia. Indonesia tanpa pengecualian. Wajar dan biasa saja, sebab sepak bola memang boleh dibilang olahraga paling populer.

Menonton sepak bola Piala Eropa merupakan hal yang tidak akan dilewatkan masyarakat penggemar sepak bola. Apalagi, momen Piala Eropa ini pemberitaannya begitu gegap gempita, baik siaran langsung melalui salah satu stasiun TV swasta nasional maupun media cetak.

Sayangnya, ada sedikit dampak yang kurang baik terhadap disiplin pegawai, pegawai negeri terutama, akibat begadang menonton pertandingan sampai malam, bahkan dini hari.

***

Konon, kelelahan yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurunlah yang menjadi pemicu berbagai penyakit muncul. Karena itu, hati-hatilah, kesenangan untuk terus-menerus mengikuti setiap pertandingan juga harus diantisipasi dampak buruknya bagi kesehatan.

Masalahnya selain tetap berkeinginan nonton sepak bola, kita juga tetap melakukan aktivitas rutin sehari-hari. Karenanya, hobi menonton sepak bola sebaiknya jangan sampai menyebabkan gangguan kesehatan.

Saat menonton pertandingan sepak bola, kita biasanya tidak hanya duduk tenang, tetapi kadang kala berteriak dan juga banyak bergerak lantaran terbawa emosi suasana pertandingan yang sedang berlangsung. Bila kondisi ini terus-menerus terjadi setiap malam, akan menyebabkan kelelahan bagi yang menjalaninya.

Dampak kelelahan bagi kesehatan adalah gangguan kesehatan secara umum, kambuhnya berbagai penyakit kronis, dan menurunnya daya tahan tubuh seseorang.

***

Pada kondisi lain, kantor bisa saja berubah menjadi kamar pribadi karena para pegawai berlaku tidak sopan. Coba bagaimana mana sih orang berlaku sopan dalam keadaan terkantuk-kantuk atau malah tidur ngorok di kantor?

Bisa jadi pada rapat kabinet menteri-menteri pada tidur. Ini benar terjadi kok, waktu Piala Dunia kemarin itu. Melalui tayangan televisi, semua terlihat tertidur ketika rapat bersama Presiden.

Wah, kalau peserta rapat pada ngantuk, bahkan tidur, apa yang bisa dirapatkan. Kalau ada yang ngomong apa ada yang dengar. Benar deh. Piala Eropa menurunkan kinerja aparat pemerintah. Untung event ini tidak sepanjang tahun ya. Kalau iya, bisa kacau juga.

***

Ini bukan larangan menonton pertandingan sepak bola Piala Eropa. Cuma sekadar mengingatkan, agar kita bisa menjaga keseimbangan antara nonton sepak bola, tidur, dan beraktivitas.

Nonton ya nonton, cuma jangan tidur (karena ngantuk) di kantor. Begitu saja.


Lampung Post, Sabtu, 16 Juni 2012

Friday, June 1, 2012

Kota Berhala

Oleh Udo Z. Karzi


DIBERITAKEN...(sengaja meniru dalang Parto dalam Opera van Java/OvJ), sebentar lagi akan dibangun patung pengantin pepadun dan pengantin sai batin. Entahlah, ini kabar gembira atau bukan bagi warga Negarabatin yang sebenarnya memiliki persoalan yang lebih kompleks ketimbang sebuah atau banyak buah patung.

Yang jelas, kata Mat Puhit, jika dua patung ini berdiri kelak, lengkaplah sudah Negarabatin memiliki beberapa patung kembar. Dua patung pengantin pepadun, dua patung pengantin sai batin, dua patung Radin Inten II, dan— sebetulnya ada dua sebelum dirobohkan yang di Kalianda, Lampung Selatan—Patung Zainal Abidin Pagaralam.

"Denger-dengar pemda memang punya program patungisasi kota. Setiap jalan, setiap perempatan harus ada patung sesuai dengan nama jalannya. Yang sudah nyata, di perempatan Jalan Zainal Abidin Pagaralam ada patung Zainal Abidin, di Jalan Radin Inten ada patung Radin Inten," kata Udien.

"Waw, fantastik!" seru Minan Tunja.

"Dan julukan kota pun berganti menjadi Kota Berhala," sungut Pithagiras.

"Masa sih tidak mau belajar dari pengalaman," sambung Pinyut.

"Iya, pemerintah enggak pernah baca sastra sih," kata Mamak Kenut.

"Lo, apa hubungannya?" sahut Radin Mak Iwoh.

"Dengar dulu kisah ini. Pernah baca cerpen Pangeran Bahagia karya Oscar Wilde?"

DICERITAKEN... (kalau ini teringat gaya bahasa Pak Harto di zaman Orde Baru!), tentang sebuah patung emas yang menghiasi sebuah kota. Patung Emas tersebut diberi nama Pangeran Bahagia. Pangeran Bahagia adalah patung yang disayangi oleh seluruh warga. Suatu waktu seekor burung pipit hinggap di pundak Pangeran Bahagia. Burung pipit tersebut terkejut karena melihat pangeran bahagia sedang menangis. Ternyata Pangeran Bahagia sebenarnya sama sekali tidak bahagia. Dia bisa melihat penderitaan warga kotanya di mana-mana. Pangeran Bahagia dan Burung pipit kemudian bekerja sama untuk meringankan penderitaan rakyat miskin yang ada di kota tersebut.

Yah, pengorbanan. Burung pipit yang kelewat capai mengopel sebongkah demi sebongkah lapisan emas Pangeran Bahagia untuk dibagikan kepada satu per satu kaum duafa, akhirnya jatuh dan mati di kaki sang patung. Lalu, Patung Pangeran Bahagia pun dirobohkan beramai-ramai oleh warga dan pemimpin kota karena tak lagi indah dan bau bangkai.

BAGAIMANAKAH kisah selanjutnya? Ibarat nonton OvJ, sang dalang Parto pun berkata, "Kita lihat di TKP..."


Lampung Post, Jumat 1 Juni 2012

Friday, March 16, 2012

Kembali pada Nilai

Oleh Udo Z. Karzi


CELAKALAH kita yang kelewat pragmatis, malas berpikir, dan ingin serbainstan. Mentalitas menerabas dan tak menghargai mutu membuat kita cenderung bertindak dengan mengabaikan nilai. Plagiarisme yang marak dalam tradisi ilmu pengetahuan, seni, dan sastra menunjukkan betapa kita sangat tidak menghargai nilai.

Nilai tidak lahir dengan cepat, tetapi butuh waktu untuk identifikasi dan menanamkannya menjadi keyakinan-keyakinan. Nilai-nilai pribadi berubah sepanjang waktu. Nilai-nilai tersebut berkembang, berubah, dan secara tetap beralih menuju sebuah kumpulan menjaga nilai-nilai yang telah mapan sebelumnya dan menambahkan nilai-nilai baru.

Sebelum sebuah organisasi dapat berkembang dan mengartikulasikan norma dan nilai para anggota kelompoknya, individu-individu harus berpikir dan menghabiskan waktu yang cukup untuk menentukan nilai-nilai personal.

Berbicara nilai memang tidak lepas dari tradisi berpikir. Ilmu tentang nilai-nilai biasa disebut filsafat. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya "keberhargaan" (worth) atau "kebaikan" (goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian (Frankena).

Dalam Dictionary of Sociology an Related Sciences dikemukakan nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik nikmat seseorang atau kelompok (the believed capacity of any object to satisfy a human desire). Jadi, nilai itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek.

Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan. Keputusan itu merupakan keputusan nilai yang dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah.

Keputusan nilai yang dilakukan oleh subjek penilai tentu berhubungan dengan unsur-unsur yang ada pada manusia sebagai subjek penilai, yaitu unsur-unsur jasmani, akal, rasa, karsa (kehendak), dan kepercayaan. Sesuatu itu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu ideal, berharga, berguna, benar, indah, dan sebagainya.

Kembalilah kepada ajaran nilai. Tapi, alangkah sialnya karena di negeri ini yang bernama nilai dengan gampang diplagiat, dipalsukan, dan dikotori. Masalahnya, kebanyakan kita menghabiskan waktu pada aktivitas yang merampok, bukannya memperkaya kehidupan kita. Akibatnya, nilai yang kita perjuangan kan jauh dari sesuatu yang bermakna, ideal, berharga, berguna, benar, dan indah itu. Ya, nilai yang kita perjuangkan adalah nilai-nilai kesia-siaan.


Lampung Post
, Jumat, 16 Maret 2012