Friday, October 19, 2012

Kekuasaan seperti Halnya Cinta...

Oleh Udo Z. Karzi


SEBUTLAH kekuasaan. Maka sebuah nama segera hadir: Niccolò Machiavelli. Filsuf ini paling intens menaruh perhatian pada konsep kekuasaan.  Machiavelli hidup di Florence, Italia, pada Abad XVI (1469-1527).

Berhadapan dalam sistem nilai di Abad Pertengahan begitu rumit, Machiavelli kemudian menuangkan idenya tentang kekuasaan dalam bukunya, II Principe (ditulis 1513, tetapi baru diterbitkan 1532, lima tahun setelah kematian Machiavelli). Buku ini  sangat monumental dan menjadi klasik. Isinya membahas cara pandang kekuasaan dalam pendekatan yang sama sekali berbeda dengan pemahaman-pemahaman orang-orang pada Abad Pertengahan.

Ia memang menitikberatkan konsep kekuasaannya pada kekerasan. Menurut dia, para penguasa yang tidak setuju menggunakan kekerasan dalam aktivitas dalam berpolitik tidak akan memperoleh kekuasan yang optimal atau bahkan akan kehilangan kekuasaan yang dimilikinya. Namun, pada bagian lain menerangkan, penggunaan kekerasan yang terlalu berlebihan pun akan mengakibatkan konsekuensi yang negatif bagi penguasa itu sendiri.

Karena itu, selain menebar ketakutan ia (sang penguasa) pun harus mampu menebar kharisma bagi aktor lain (individu maupun kelompok). Dengan begitu, penguasa tidak hanya harus mampu menjadi seekor “serigala”, tetapi juga ia musti mampu menjadi seekor “rubah”.

Jangan salah, Machiavelli pula yang menggagas bentuk negara modern. Ia mengatakan, republik adalah bentuk negara yang cocok bagi negara-negara modern; yang sama sekali berbeda dengan rezim Monarki Absolut (seperti yang mengada pada Abad pertengahan).  Negara Republik adalah negara yang didasarkan atas kesepakatan bersama (konsep kesepakatan bersama  kemudian dikenal dengan istilah kontrak social). Ide Machiavelli ini ternyata diterima luas penerus-penerus pemikirannya, di antaranya adalah: Jean Jacques Rousseau, Alexander Hamilton, dan James Madison.

Begitulah, kekuasaan seperti halnya "cinta" menjadi kata yang tidak pernah bosan-bosannya dipakai dalam pembicaraan sehari-hari. Ia mudah dipahami secara intuitif, tetapi jarang didefinisikan. Karena itu, wajar kalau banyak orang yang salah jalan dan tersesat jauh...  n


Lampung Post, Jumat, 19 Oktober 2012

Tuesday, October 2, 2012

Wajar tanpa Prestasi

Oleh Udo Z. Karzi


MAT Puhit bersungut-sungut mendapatkan kabar pemerintah daerah mendapat penghargaan atas keterbukaannya.

"Terbuka atau transparan itu kan sesuatu yang memang seharusnya. Demokrasi itu menuntut transparansi, keterbukaan. Jadi apa istimewa pemerintah yang terbuka? Bukankah memang kewajiban pemda memang memberikan informasi yang dibutuhkan wartawan dan warga. Bukankah undang-undang memang menjamin hak masyarakat untuk memperoleh informasi?" gugat Mat Puhit berapi-api.

"Begini," sambut Radin Mak Iwoh. "Penghargaan itu kan sebagai bentuk apresiasi atas kerja pemda dalam mendukung keterbukaan informasi itu. Dengan begitu, diharapkan pemda-pemda yang lain bisa meniru sikap terbuka Pemda Negarabatin."

"Ahai, Radin. Sekarang ngomong injuk gitu. Kemaren itu saya minta data, Radin bilang, 'Kanah pai (Nanti dulu) data itu belum boleh dipublikasikan'," kata Udien.

"Ai kidah, kamu ini. Denger dulu penjelasan saya...."

“Radin, kemaren itu, aliran listrik di kantor Komisi Informasi hampir saja diputus...” celetuk Mamak Kenut.

Hahaha...

***

MAMAK Kenut terheran-heran menyaksikan berbagai instansi/dinas/pemda memasang iklan selamat atas dicapainya predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dalam laporan keuangan.

WTP itu hanya hasil tertinggi dalam penilaian laporan keuangan. Penilaian di bawahnya yaitu wajar dengan pengecualian (WDP) dan disclaimer. Predikat WTP artinya laporan keuangan bisa dipertanggungjawabkan, valid, dan akurat.

"Ini prestasi yang membanggakan!" kata sang pejabat.

"Apa yang luar biasa? Bukankah memang begitulah selayaknya laporan keuangan," kata Minan Tunja.

Coba pulak dengar kata Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Wakil Ketua BPK Hasan Bisri ngomong, "Persepsi WTP masyarakat dan BPK beda sekali. Opini WTP tidak menjamin bebas korupsi, karena laporan keuangan dibuat bukan untuk melaporkan korupsi suatu perusahaan."

"Nah, apa kubilang...," kata Mamak Kenut.

"Lo, dari tadi Mamak nggak bilang apa-apa," kata Pithagiras.

Hahaha...

***

PELAKSANAAN tugas dan kewajiban sewajarnya kok dibilang prestasi. Sesuatu yang memang pada tempatnya kok dibilang membanggakan.  n  


Lampung Post, Selasa, 2 Oktober 2012

Monday, September 24, 2012

Aidil Seorang Penulis Ganteng...

Oleh Udo Z Karzi


AIDIL (5,5 tahun), baru kelas satu sekolah dasar, lagi getol-getolnya belajar membaca-menulis. Terpaksa juga karena hampir tiap hari ada pekerjaan rumah (PR) dari gurunya.

Suatu kali dia menulisi dirinya dan semua anggota keluarganya. Maka tertulislah: "Aidil seorang penulis ganteng"

"Hahaa... betul, betul Dil. Jadi penulis ngetop...," kata saya.

Dasar anak kecil. Entah dari mana pula datangnya pikiran kepengen jadi penulis. Kali aja karena sering melihat tulisan di koran atau buku. Aidil juga sering saya ajak ke toko buku, acara peluncuran dan bedah buku...

Tapi, paling juga kalau dah tahu jadi penulis itu (nggak) enak, dia bakal berhenti sendiri dan bilang, "Ogah jadi pengarang..."

Terserahlah. Waktu yang akan membuktikan.

Masih di lembar yang sama, Aidil juga menggoreskan kalimat: "Agung seorang pelukis tampan." Wan Agung (3 tahun), adiknya.

Soal ini pun saya tertawa pula. Agung menjadi seorang pelukis hanya karena lagu "Pelangi" Cipt. AT Mahmud.

Pelangi-pelangi, alangkah indahmu Merah kuning hijau, di langit yang biru Pelukismu agung, siapa gerangan ? Pelangi, pelangi Ciptaan Tuhan.

Nah, dalam syair itu disebutkan "pelukismu agung..."Maka pelukis pelangi namanya (Wan) Agung.

Hahaa... Ya, benarlah. Aidil pada mulanya protes. "Bukan, bukan Agung. Aidil pelukisnya...," kata Aidil.

Tapi, AT Mahmud sudah bilang pelukisna Agung. Ya, Agunglah. Hahaa...

Masih banyak yang ditulis Aidil. Misalnya, nama mamanya kemudian diteruskan dengan profesi, oma, opa, om, titi, datuk... dst. Pinter...


Senin, 24 September 2012