Monday, January 15, 2018

Neng Geulis versi Lampung

Oleh Udo Z Karzi


Inji cerita jaman tumbai. Sekam sanak-sanak se-Pasar -- maksudni Pasar Liwa -- sai semerimpak risok nyeluwor mit dipa-dipa kak dibingi. Apalagi kik wat tuntunan injuk pelem di Lapangan redik lamban, hiburan Agustusan, atau nyambai kak wat sai nayuh.

Di pekon sekam wat grup orkes ngetop tahun 1980-an. Sekali waktu wat acara Karang Taruna jak Way Mengaku sai nyiwo grup orkes jak pekon sekam.

Pembina Karang Taruna Way Mengaku ngeni sambutan. "... Payu, neram beriyang musenang barong Orkes Manaa... bisa," ani.

Na repa kidah. Unyinni sai ratong disan ngekak sai ngekakni di sanini. Orkes Manabisa... Sai dimaksudni Orkes Monalisa.

Wat sai lagu andalanni Orkes Monalisa ajo. Yaddo, lagu "Neng Geulis" sai jak Jawa Barat. Induh muneh, orkes ini bang kerisokan ngenyanyiko "Neng Geulis".

Neng geulis pujaan eungkang
Neng geulis akang hoyong teupang
Upami teu aya pamengan
Langkung sae urang keunalan

Neng geulis pujaan eungkang
neng geulis akang hoyong teupang
upami teuaya pamengan
sasih paun yu urang tunangan

Kerisokan nengi Neng Geulis, pagi-pagi kantekku nyanyi:

Neng geulis pujaan eungkang
Neng geulis akang hoyong teupang
Makni Lis
Mising mak ngisang

Na api diya. Sekam sunyinni ngelahai. Sai gelarni Lis langsung ngejar-ngejar kantekku. Kantekku langsung cengkelang sambil ngulang-ngulang lagu versi Lampung-Sunda ini jak jawoh:

Neng geulis pujaan eungkang
Neng geulis akang hoyong teupang
Makni Lis
Mising mak ngisang

Ngingokko seno risok nyak lalang tenggalan. :)

#HagaMatiNyakLalang


Senin, 15 Januari 2018

Wednesday, October 18, 2017

In Memoriam AM Zulqornain Ch

Oleh Udo Z Karzi


AM Zulqornain Ch
SAYA lupa kapan terakhir bertemu dengan Bang Zul. Saat Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Lampung (UKMBS Unila) menggelar Lomba Baca Puisi Bahasa Lampung bertajuk "Hanggum Bubahasa Lampung", pertengahan Desember 2016; saya sempat mengusulkan nama Asaroedin Malik Zulqornain Choliq -- nama lengkap sastrawan AM Zulqornain Ch aka Amzuch -- untuk menjadi salah satu juri.

Saya ingat Bang Zul pernah juga menjadi juri bersama saya dan Ari Pahala Hutabarat untuk lomba baca puisi Lampung yang diambil dari buku puisi Lampung saya Mak Dawah Mak Dibingi yang diselenggarakan di Taman Budaya Lampung pada November 2010. Itulah sebabnya saya ingin mengajak Bang Zul.

Namun, Mas Hari Jayaningrat, Ketua Bidang I DKL mengatakan, "Jangan. Kesehatan Bang Zul tidak memungkinkan." Ya, saya paham.

Saya seperti juga sastrawan dan seniman Lampung lainnya, jelas tak mungkin lupa dengan sosok seniman nyentrik satu ini. Bicaranya keras dan tanpa tedeng aling-aling. Ia juga aktor watak, sehingga ia selalu tampil menarik saat naik panggung membaca puisi, menjadi pembicara dalam diskusi, bahkan saat sekadar menanggapi narasumber seminar dari kursi peserta.

Meskipun terlihat capek dan kurang fits, ia menjadi bintang saat tampil dalam Panggung Sastra Lampung pembacaan karya puisi dan cerpen di Taman Budaya Lampung, 24 Desember 2013. Ia tak kalah garang dan bikin gayeng dengan cerpen humor yang ia bacakan di antara para sastrawan lain seperti Isbedy Stiawan ZS, Syaeful Irba Tanpaka, Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin, Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Fitri Yani, dan Iskandar GB, Edi Purwanto, dan Yulizar Fadli.

Pria kelahiran Jakarta, 15 November 1956 ini adalah sastrawan generasi 1980-an di Lampung bersama, antara lain Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba Tanpaka, Iwan Nurdaya-Djafar, Achmad Rich, Sugandhi Putra, Naim Emel Prahana dan Djuhardi Basri setelah era Motinggo Busye, Aan Sarmani Adiel, dan BM Gutomo.

Meskipun lahir di Jakarta, Asaroeddin adalah putra Lampung. Ayahnya, Azzadi Abdul Chaliq Shahib, lahir di Menggala pada 1921 dan ibunya, Inci Siti Zuwaiyah, lahir di Telukbetung pada 1935. Sejak kelas lima SD, Asaroeddin harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan tinggal bersama datuknya, Wan Abdul Rahman. Meski hanya dua tahun tinggal bersama datuknya yang pejuang Kemerdekaan RI dan namany diabadikan untuk Taman Hutan Rakyat (Tahura) Wan Abdul Rahman, Asaroeddin mendapat banyak bimbingan dan arahan tentang disiplin hidup.

Dengan berbagai nama pena, tulisan-tulisan Bang Zul sudah mulai menghiasi mading SMAN Telukbetung (sekarang: SMAN 4 Bandar Lampung). Setelah itu ia merambah ke berbagai media massa daerah dan Ibu Kota. Secara otodidak ia mendalami dunia sastra. Asaroeddin lahir sebagai sastrawan dari luar kampus dan karyanya banyak yang merambah media massa Jakarta. “Nomor 289 untuk 5 Menit” adalah karya pertama yang dimuat di harian Pelita, 20 Oktober 1978.

Tidak kurang dari 250 karya Asaroedin berupa cerpen, cerita anak, puisi, dan esai di Sinar Harapan, Pelita, Suara Karya, Simponi, Swadesi, Minggu Merdeka, Berita Buana, Mutiara, Harmonis, majalah Detektif Romantika, Senang, Humor, Bobo, Kharisma, Variasi, dan Nova. Termasuk yang di Lampung, Lampung Post, Radar Lampung, Lampung Ekpres, Sumatera Post, dan Trans Sumatra.

Meskipun ratusan cerpen pernah dipublikasikan, puluhan puisi pernah Asaroeddin ciptakan, dia memilih tidak dikenal oleh redaktur media mana pun selama menulis. Baginya, cap “penulis” bukanlah sesuatu yang istimewa karena yang dibutuhkan masyarakat bukanlah orangnya tetapi karyanya.

Dengan penekanan pada tema-tema kemanusiaan dalam berkarya, Asaroeddin mampu memberikan corak tersendiri bagi para pembacanya. Secara garis besar, kandungan yang terdapat dalam karya-karya Asaroeddin merupakan perpaduan antara unsur moral, estetis, heroisme, keagamaan, dan humor.

Kecintaan dan kepedulian Assroeddin terhadap perkembangan sastra di Lampung, khususnya di kota Bandarlampung, ditunjukkannya dengan mendirikan Sanggar Cakrawala Ide Anak Muda (CIA) pada tahun 1985. CIA didirikannya bersama Riswanto Umar dan Isbedy Stiawan ZS.
Untuk menampung dan mengabarkan tulisan-tulisan para pengurus dan anggota CIA sebagai bentuk luapan ekspresi yang dapat dinikmati oleh masyarakat, mereka membuat Buletin yang dilabeli dengan nama Sastra CIA.

Untuk membangkitkan semangat sastrawan muda, Asaroedin bersama Achmad Rich, Syaiful Irba Tanpaka, dan Isbedy Stiawan ZS melahirkan antologi puisi, Nyanyian Tanah Putih (1984).
Pengemar Asmaraman Kho Ping Hoo ini tidak pernah berhenti berjuang mencurahkan hidupnya untuk masyarakat Lampung. Bersama-sama seniman lampung lainnya, Asaroeddin turut membidani lahirnya Dewan Kesenian Lampung (DKL) pada 17 September 1993. Dia sempat menjadi DKL. Ia juga pernah menjadi Dewan Kehormatan DKL (2005--2008) dan anggota Dewan Pembina DKL sampai 2014.

Pensiunan pegawai negeri ini tak pernah menghentikan perhatiannya pada dunia sastra. Ia selalu mengobarkan semangat untuk mencintai budaya lokal. Para seniman Lampung mau mengembangkan kesenian Lampung. Dia menganggap kesenian khas Lampung cenderung diabaikan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, Asaroeddin berharap kesenian Lampung yang notabene menjadi ciri khas sebuah daerah dilestarikan.
“Saya mau bikin Provinsi Krakatau saja. Bahasa dan budaya Lampung kok gak dipedulikan,” kata dia pada sebuah sebuah diskusi Bahasa Lampung di Lampung Post, Oktober 2013.

"Saya senang, bangga dan terharu sekali Lampung mendapat Hadiah Sastra Rancage," kata dia kepada saya ketika bertemu dengannya pada 2009, tak lama setelah saya kembali bertugas di Lampung setelah bekerja di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (2006--2009). Ia pun berbicara panjang-lebar mengenai bahasa, sastra, dan budaya Lampung.

Dan nyatanya ia pun bikin puisi berbahasa Lampung seperti terlihat dalam judul-judul, "Lebon”, “Senggulan”, dan “Lohot Tandang Midang”.

Berkali-kali saya bilang ke Bang Zul, "Bang sini saya bukukan cerpen-cerpenmu. Kayaknya asyik-asyik..." Tapi, entahlah ia tak pernah menyerahkan naskahnya ke saya. Saya kurang tahu, apakah ada karyanya yang dibukukan sebelum ini.

Sutradara Teater Satu Iswadi Pratama dalam beberapa kali perbincangan dengan saya, mengaku banyak mendapat ide cerita bagi lakon-lakonnya seperti "Aruk Gugat". "Ini cerita dari atau tentang Bang Zul," kata Iswadi.

Saya suka gayamu, Bang Zul dan masih ingin bertemu dan melihat semangatmu yang dulu. Tapi, malam ini saya mendengar kabar duka: "Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah wafat AM Zulqornain pada pukul 18.05 di kediamannya di Sukamaju, Bandar Lampung. Beliau akan dimakamkan besok (Rabu, 18/10/2017) bakda Zuhur," tulis Afrizal Ar, staf DKL melalui WA, Selasa 17/10/2017 pukul 20.00.

Penyakit jantung ya Bang Zul derita sejak lama dan berkali-kali dirawat di rumah sakit tidak mampu lagi ia tahan. Selama ini, "Meskipun sakit, Bang Zul tetap bersemangat menyambangi teman-teman. Tapi, setelah Musda DKL tahun 2015, saya sudah jarang liat Bang Zul," kata Sekretaris DKL Bagus S Pribadi.

Maafkan saya kalau tak sempat menyambangi Abang sampai Izrail datang menjemputmu. Bahkan, ampun deh... besok pun kemungkinan saya tak bisa melayat dan mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Sukamaju, Telukbetung Barat, Bandar Lampung.
Selamat jalan, Abang. Bang Zul inspirasi buat kami. Tabik.


Rabu, 18 Oktober 2017

Monday, July 31, 2017

Menggugat Universitas!

Oleh Udo Z Karzi


YUYUN Sapto (35) ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon di lereng bukit di Jalan Tirtayasa, Kelurahan Campang Jaya, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung, Selasa, 25/7/2017, sekitar pukul 17.00 WIB. Alumnus D3 Jurusan Pusat Dokumentasi dan Informasi (Pusdokinfo) FISIP Universitas Lampung ini diduga frustasi karena tidak mendapatkan pekerjaan.

Berita ini menjadi viral karena judulnya luar biasa menggoda, "Frustasi Tak Dapat Kerja, Alumni Unila Yuyun Sapto Gantung Diri" (duajurai.com, 26/7/2017).

Tanpa mendalami lebih detil mengenai fakta-fakta seputar kematian Yuyun, lantas siapa saja bisa berpendapat macam-macam. Boleh berkata, sarjana (muda) kok pendek akal mengakhiri hidup dengan cara yang di luar nalar. Orang juga bisa beranggapan, Unila ternyata hanya menghasilkan banyak pengangguran.

Lebih jauh lagi, berkembang pikiran agar Unila tidak gampang-gampang membuka jurusan atau program studi yang hanya tidak jelas pasar kerjanya bagi lulusannya. Kebetulan Unila baru saja membuka program studi Strata 1 Pendidikan Seni Musik. Kebetulan pula bertahun-tahun digagas-gagas dan didorong-dorong agar Unila segera membuka Prodi S1 Pendidikan Bahasa Lampung, bahkan Fakultas Ilmu Budaya yang menjadi induk bagi ilmu-ilmu sejarah, bahasa, sastra, budaya, arkeologi, dan lain-lain.

Kenapa S1 Bahasa Lampung tak kunjung dibuka di Unila? Ternyata, masih saja ada anggapan bahwa S1 Bahasa Lampung ini bakal melahirkan banyak pengangguran. Soalnya, belum ada jaminan dari pemda-pemda se-Lampung bakal merekrut para sarjana bahasa Lampung ini.

"Kalau para sarjana bahasa Lampung itu menganggur dan kemudian bunuh diri kayak Yuyun Sapto, bagaimana coba?" Kira-kira begitu pertanyaannya. Dengan "logika" ini, lebih baik S1 Bahasa Lampung ditunda dulu.

Pandangan pesimisme ini juga berangggapan, pendirian Fakultas Ilmu Budaya (FIB) bukan solusi, ia malah akan menimbulkan masalah lebih besar lagi. Unila akan semakin banyak melahirkan pengangguran dan otomatis semakin banyak alumninya yang bunuh diri.

Waduh, ini dramatis sekali atau lebih tepatnya, dramatisasi sebuah kasus untuk dijadikan alibi dari sebuah 'kegagalan' sistem.

Saya terus terang gemas sekali. Saya agak sulit menulis dengan jernih mengenai persoalan ini. Saya kutip saja komentar saya di Facebook, "Peristiwa bunuh alumni Unila jangan didramatisirlah. Ini hanya satu contoh kasus. Motif bunuh dirinya pun masih dugaan. Jangan sampai pula karena ada yang menganggur, ada yang bunuh diri, Unila sebagai pusat kebudayaan (bisa juga pengembang sains) melupakan fungsinya. Saya gak setuju unila cuma dijadikan mesin pencipta tenaga kerja. Kalau cuma itu orientasinya (menciptakan pekerja/tukang) memang Unila tak perlu bikin fakultas filsafat, ilmu budaya, dan semacamnya. Dan, karena masih harus menunggu MoA Unila dangan pemda-pemda se-Lampung yang entah kapan bisa direalisasikan, nasib guru bahasa Lampung masih akan terkatung2. :) Ya masih dibutuhkan kesabaran bertahun-tahun lagi untuk menunggu..."

Saya, terus terang seharusnya menggugat universitas karena apa yang saya kerjakan -- saya tak kuat menyebutnya profesi -- tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang saya miliki yang ditandai dengan ijazah sarjana yang saya simpan. Ya, iyalah saya gak bisa jadi lurah, camat, kepala dinas atau jabatan apalah di pemerintahan. :)

Tapi tidak. Saya tidak boleh menggugat universitas. Sebab, universitas tempat saya kuliah -- agak lamaan sih, hehee -- telah memberi saya ilmu pengetahuan (sains). Tadinya, saya mau bersikap vatalis dengan mengatakan apalah gunanya ilmu yang saya peroleh dari universitas kalau dalam kenyataannya ilmu saya itu tidak terlalu menolong saya dalam dunia kerja.

Awal masuk kuliah, terus terang saya masih beranggapan bahwa saya kuliah biar gampang dapat pekerjaan. Tapi, berkali-kali saya diingatkan bahwa "Kamu disekolahkan bukan agar kamu mudah kerja. Kamu disekolahkan biar kamu dapat ilmu. Ilmu ini yang akan menjadi bekalmu dalam mengarungi kehidupan ini. Jelas dalam Alquran, orang yang (beriman dan) berilmu akan ditinggikan Allah swt derajatnya."

Baiklah kita kembali ke tujuan pendidikan, termasuk universitas diselenggarakan. Di sepanjang sejarah, beberapa tokoh penting telah merumuskan sasaran pendidikan. Tokoh pertama adalah Plato. Di dalam bukunya, Republic, ia sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya. Plato mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbarui; ada pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Pembebasan dan pembaruan itu akan membentuk manusia yang utuh, yaitu manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dan moralitas jiwa, yang akan mengantarnya ke ide yang tertinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan.

Namun, Aristoteles mengaitkannya dengan tujuan negara. Ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan negara.

Di Eropa, sejak abad ke-14, tujuan universitas adalah mencari kebenaran. Mencari kebenaran-- itulah citra yang dapat kita pelajari dari tujuan pendirian universitas-universitas itu. Di kemudian hari, khususnya universitas-unversitas di Amerika Serikat, mata kuliah engineering (rekayasa) dimasukkan ke dalam kurikulum, tetapi citra bahwa universitas untuk mencari kebenaran tetap dipelihara.

Aduh... kenapa universitas yang saya kenal kok sibuk benar memikirkan bagaimana alumninya bisa bekerja ya? Universitas yang saya kenal ini masih tidak percaya bahwa ilmu yang mereka berikan kepada mahasiswa tidak cukup menjadi bekal mereka dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara? Univertas yang sibuk bertanya, "Lapangan pekerjaannya sudah tersedia belum untuk jurusan/prodi yang akan kami buka?"

Mohan maaf. Ocehan saya mungkin lebih banyak kelirunya. Tabik. []


Fajar Sumatera, Senin, 31 Juli 2017