Sunday, May 20, 2018

Istana Tapak Siring

Oleh Udo Z Karzi


TINGGALAN arkeologis Buay Nyerupa --salah satu kebuaian -- di Sukau, Lampung Barat. Tinggalan tersebut berupa lokasi bekas kampung lama dan beberapa benda regalia.

Bangunan istana (kraton) Buay Nyerupa di Sukau tidak dapat dilacak karena musnah akibat kebakaran. Sultan Buay Nyerupa saat ini adalah Sultan Salman Parsi, sultan ke-22. Regalia istana masih ada disimpan Suheb, adik Sultan Parsi.

Pusat istana Buay Nyerupa sebelum di Sukau berada di Tapak Siring. Di lokasi tersebut ditemukan batu telapak kerbau dan makam poyang Buay Nyerupa.

Pertama, Situs Tapak Siring di Bukit Katai, Dusun Kunyaian, Pekon Tapak Siring, Kecamatan Sukau. Pada puncak bukit terdapat areal yang dibatasi jurang dan parit. Di lokasi ini ditemukan dua batu yang disebut penduduk dengan Batu Batai.
Kedua, Makam Adipati Sebrak Bumi dan istri di lereng sebelah barat Bukit Katai. Adipati Sebrak Bumi adalah moyang Buay Nyerupa.

Ketiga, perangkat keratuan (regalia), yang diperlakukan khusus dan ditempatkan di tempat tertinggi, yaitu para istana. Benda-benda tersebut adalah pedang naga, piring benawa, tempat lilin, payan (tombak), keris, badik, pedang, panekuan, penginangan, tempat rokok, dan piring.

...
Sumber: Nanang Saptono, dkk. 2014. //Khasanah Budaya Lampung//. Serang: Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang. Hlm 93--98.


20 Mei 2018

Sunday, April 29, 2018

Semena-mena!

Oleh Udo Z Karzi


SEMENA-MENA! Betapa saya kesal-sekesalnya. Mentang-mentang bawa roda empat, ngasal saja bawanya dan sama sekali tak memperhatikan orang lain yang lebih senang mengendarai motor.

Kejadian pertama dan berkali-kali, adalah bagaimana hampir sepanjang jalan mobil di belakang saya memencet kelakson berulang-ulang. Biasanya saya melirik kaca spion, untuk melihat mobil yang hobinya tak tek tok begitu. Kalau bukan mobil dinas, biasanya mobil dari luar kota.

Tak berani ambil resiko ditabrak saya mengumpat untuk supri (supir pribadi) kendaraan dinas, "Dasar. Memangnya lu aja yang perlu cepat."

Untuk mobil luar kota, makiannya (walau tak didengar si sopir), "Wuah... udik! Tumbur aja kendaraan yang di depan kalo mau cepat."

Kejadian kedua dan beberapa kali, saat hujan atau setelah hujan reda. Melewati genangan air di jalan raya, saya biasanya mengambil jalan paling kiri yang tidak terlalu dalam genangan dan menjalankan dengan gas kecil saja agar tidak kecipratan air genangan.

Sudah berhati-hati begitu, ee... ada mobil lewat main tancap gas saja. Ya, tentu saja saya dan yang dibonceng jadinya mandi hasil kerja mobil yang ngebut di genangan air tadi. Saya yang memakai jas hujan tak seberapa. Tapi, yang dibonceng jelas kuyup dan tentu saja memaki, "Mobil jelek!"

Memang sih semakin jelek mobilnya, semakin semau-maulah yang pengemudinya. Barangkali. Hehee...

Sementara seisi mobil yang dimaki boleh jadi ketawa-ketiwi melihat kita sengsara. Benar-benar gak punya rasa perikemanusiaan deh!

Kejadian ketiga, betapa tak tahu etikanya si pengendara mobil. Saat saya melaju di sebuah turunan dengan kecepatan sedang, tiba-tiba ada sebuah mobil berputar balik arah. Keruan saja saya yang bawa motor jadi kelabakan. Laju motor memang bisa diminimalkan, tetapi terpaksa saya banting setangnya. Kalau tidak kena deh itu mobil tertabrak. Akibatnya, motor yang saya kendaraan jatuh.

Untungnya, motor, saya, dan yang dibonceng tidak apa-apa. Motornya cuma terbalik. Tapi, tak urung kesel juga dengan mobil yang belok semau-maunya di tempat dan waktu yang tidak tepat. Keluarlah makian, "Yang benar dulu geh Pak kalau bawa mobil!"

Saya tulis ini untuk peringatan buat pengendara roda empat: "Jangan mentang-mentang! Memangnya jalan raya ini milik nenek-moyang lu orang?" []


Fajar Sumatera, Senin, 30 April 2018

Thursday, March 22, 2018

Radu Mengan

Oleh Udo Z Karzi


INI ceritanya dari Rusli. Waktu awal-awal datang di Lampung Barat, Rusli mampir ke sebuah rumah kenalannya di Kenali.

Ia disambut dengan ramah oleh tuan rumah.
Ngobrol sana-sini, kemudian yang punya rumah bertanya, "Radu mengan?"

Rusli dengan pede-nya menjawab, "Radu."

"Setemon, radu?"

"Radu," yakin Rusli.

Maka demikianlah, obrolan berlangsung terus. Rusli cuma membatin, mana kok tidak diajak-ajak makan atau dihidangkan makan. Sementara perutnya semakin perih menahan lapar karena dari pagi memang belum ketemu nasi.

Karena tidak ada tanda-tanda bakal makan siang, Rusli pun pamit mau keluar sebentar. Mencari warung makan!

Ketika kembali ke rumah tadi, tuan rumah pun bertanya, "Dari mana tadi?"

Dengan agak malu, Rusli pun menjawab, "Dari warung di sana!"

"Lo, tadi bilang sudah makan?" kata tuan rumah sembari menjelaskan arti pertanyaan 'radu mengan' (sudah makan) yang dijawab Rusli dengan, "Radu" (sudah).

"O, saya kira 'radu' itu mau. Saya ditanya mau makan, ya saya jawab, mau," kata Rusli cengengesan.
Hahaa....


Kamis, 22 Maret 2018