Tuesday, July 28, 2015

Calon Tunggal

Oleh Udo Z Karzi


PERKEMBANGAN demokrasi di negeri ini semakin menuju ke hal aneh-aneh. Sebut saja soal munculnya potensi pasangan calon tunggal di sejumlah daerah pada pilkada serentak tahun ini. Calon tunggal dikhawatirkan akan terjadi di beberapa daerah pada pilkada serentak di 269 daerah pada 9 Desember mendatang karena begitu kuatnya calon petahana atau kandidat yang sangat populer. Sebut saja di Surabaya, Kediri, Malang, dan Pacitan, Jawa Timur, serta di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Lebih aneh lagi, Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) yang mengatur tentang pendaftaran pencalonan pasangan calon tunggal malah digugat DPR. PKPU menyebutkan, suatu daerah hanya terdapat pasangan calon tunggal, maka pendaftaran pencalonan diundur selama tiga hari. Bila dalam waktu yang ditentukan, pasangan calon tunggal masih belum memiliki lawan maka pilkada di daerah tersebut akan diundur ke pilkada 2017 mendatang.

Masa aturan macam begini diomongin mengganggu substansi sebuah demokrasi. Wakil Ketua DPR Fadli Zon berkata, kalau pasangan calon tetap tidak menemukan lawannya, akan ada plt terus menerus di daerah itu. Dan, daerah itu akan jadi tumbal sebuah aturan. Dia juga bilang PKPU itu berpotensi melahirkan adanya calon boneka, upaya mengakali pasangan calon tunggal tetap maju di pilkada saat ini.

"Agui, si Ijon bilang mengganggu substansi demokrasi. Apa bukan sebaliknya, calon tunggal itu justru menapikan demokrasi?" gugat Minan Tunja.

"Apanya yang demokrasi kalau tidak ada pilihan?" Pithagiras ikut-ikutan.

"Masa demokrasi tidak menyodorkan alternatif?" timpal Mat Puhit.

"Kedaulatan rakyat ditelikung kepentingan partai-partai dan sekelompok elite," ujar Udien.

"Masa sekian ratus ribu atau bahkan jutaan penduduk dianggap sama isi kepalanya dan karena itu dipastikan hanya memilih satu calon saja. Ya, calon tunggal saja. Kan ini balik lagi ke zaman jahiliah. Bapaknya main tunjuk anaknya sendiri jadi pemimpin negara (kerajaan). Hari gini kok senang calon tunggal. Aklamasi. Main rekayasa. Menipu rakyat..." Mamak Kenut mulai meracau.

"Ais, jangan sekudon (maksud suudzon) dulu geh," Radin Mak Iwoh menenangkan.

Baiklah kita mendengarkan kata pengamat politik LIPI Siti Zuhro. Ia menilai parpol kini cenderung mendukung calon yang sangat berpeluang menang sehingga kesempatan kandidat lain tak terakomodasi. "Tampaknya parpol tak mau susah. Mendukung calon yang diperkirakan kalah mungkin dianggap sia-sia," ujarnya, Sabtu (25/7/2015).

Sikap tersebut buruk bagi demokrasi dan menyebabkan demoralizing parpol. Padahal, lawan tanding harus diciptakan parpol agar kontestasi pilkada lebih mengedukasi. "Di era demokrasi tidak seharusnya muncul calon tunggal."

“Na, itu yang benar!” sela Mat Puhit.

“Kalau begitu, siapa yang salah?”


Fajar Sumatera, 29 Juli 2015

Tuesday, June 23, 2015

Hadiahnya Paling Juga Buku Puisi Lagi...

Oleh Udo Z Karzi


"AYAH mau liat nilai PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) Aidil, nggak?" tanya Aidil, siswa kelas II MIN Sukajawa, Bandar Lampung setibanya di rumah.

"Mana?" sambut saya antusias.

Aidil mengambil tas sekolahnya, menarik secarik kertas hasil ulangan dari dalamnya, lalu menyodorkan kepada saya.

Saya tengok. 8,8.

"Bagus kan, Yah," kata Aidil dengan bangganya.

"Bagus... Baru satu?"

"Ya. Yang lain belum dibagi."

"Nah, kalau yang lain juga bagus nilainya sip dong. Kalau Aidil dapat ranking, kan enak ayah kasih hadiahnya."

"Apa hadiahnya?"

"Ada..."

"Ah, paling juga buku puisi lagi..."

"Hahahaaa...."

Waduh, Aidil. :P


Selasa, 23 Juni 2015 

Friday, June 12, 2015

Kopi Pahit

Oleh Udo Z Karzi


ENTAHLAH, saya belakangan ini kok lebih suka minum kopi tanpa gula. Ya, kopi pahit. Padahal sebelumnya kopi kalau tak pakai pemanis ya mana tahan.

Hitam manis, kata orang. Tapi kopi tidak bergula tinggal hitamnya dan... tentu saja pahit.

Ah, semoga kopi tanpa gula ini tidak mencerminkan hidup yang selalu dirundung malang.

"Ai kidah, kenapa gak pakai gula. Hidup ini saja sudah pahit?"

"Justru itu, saya ingin memandang hidup ini selalu penuh warna. Saya ingin melihat hidup ini sebenarnya penuh dengan berkah, indah, dan menyenangkan. Dengan kopi pahit!" ujar saya. "Di balik kepahitan itu ada rasa manis yang biasa nikmat.

Anda kena diabet?

"Ah, kagaklah. Saya, semoga tetap sehat-sehat saja. Kalau memutuskan minum kopi tanpa gula... ya karena enak saja."

Kopi itu sehat. Saya percaya itu.

Sebenarnya, saya kan cuma meneruskan aseli tradisi minum kopi para pendahulu saja.

Suatu kali saya bertemu Frieda Amran, penulis dan penyuka sejarah yang bermukim di Belanda, yang sengaja bertandang ke Lampung. Rupanya, ia penyuka kopi tanpa gula itu. "Jangan pakai gula ya," begitu setiap kali ia memesan kopi. Atau, ia akan bertanya apakah kopi yang disajikan bergula atau tidak untuk memastikan.

Terus terang saya kagum dengan gaya minum kopi ala Bu Frieda ini. Tapi, saya tidak terlalu heran. Sebab, tamong (kakek) saya semasa hidupnya -- setahu saya selalu minum kopi tanpa gula. Ia tak pernah pusing kalau tak ada kopi.

“Kahwa api memis? (Kopi atau nira)?” komentar Tamong kalau kopi yang disuguhkan kepadanya manis.

Entahlah, sepeninggal Bu Frieda yang melanjutkan perjalanan ke belahan tanah air lainnya dan kembali ke Belanda, saya mulai mencoba meminum kopi tak bergula. Pahit memang. Tapi kok saya ketagihan!

Nikmatnya kopi justru terasa ketika ia diminum tidak dengan gula. Pahit tapi manis di hati dan pikiran.

Eit, tapi kalau gak suka kopi pahit tak usahlah mencoba. Hehee... []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 12 Juni 2015