Friday, September 2, 2011

Mobil Dinas

Oleh Udo Z. Karzi


LEBARAN harusnya membuat hati Mamak Kenut aman, damai, tenang, dan tenteram. Baru saja meraih kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu sebulan penuh selama Radaman! Tapi, sebuah kejadian kecil membuatnya bersungut-sungut, menggerutu sepanjang jalan...

Ceritanya, saat ia sedang mengendarai motor kesayangannya, dalam posisi lurus dia mengambil jalan agak ke tengah karena sebelah kiri jalan berlubang. Tapi, ee... ada sebuah mobil berpelat merah hendak berbelok. Sopirnya kok tidak sabaran banget menunggu motor Mamak Kenut lewat.

Sedikit saja mobil itu maju, motor Mamak Kenut pasti kena.

Sialan nih sopir. Belagu amat. Sudah mobil dinas yang dipakai, menggunakan jalan seenak udelnya juga.

Kalau kaca jendela mobil terbuka, rasanya Mamak Kenut ingin memaki, "Hei. Tahu diri sih. Enggak ada malunya. Itu mobil rakyat kau pakai Lebaran. Mobil itu kan dikasih untuk memperlancar tugas-tugas pemerintahan saat dinas."

Tapi, dengan kaca riben, Mamak Kenut tak melihat siapa saja di dalam mobil. Dia cuma bisa melotot tapi tak berkata apa-apa.

"Negeri ini memang penuh dengan orang-orang yang bermental aji mumpung. Mobil dinas ya untuk dinas. Untuk memperlancar mobilitas aparatur negera. Bukannya untuk mudik atau jalan-jalan waktu liburan," kata Mat Puhit.

Baru saja Mat Puhit ngomong begitu, eh... sebuah mobil dinas juga parkir di sebuah pusat perbelanjaan. Di hari Lebaran.

Sebenarnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mengimbau kepada para pegawai negeri dan pejabat negara agar tidak menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi pada saat mudik Lebaran. "Sedapat mungkin diimbau untuk tidak menggunakan kendaraan dinas. Kecuali kendaraan dinas itu namanya kendaraan dinas dan keluarga. Nah itu baru (bisa). Jadi, selama namanya kendaraan dinas, berarti untuk menunjang fasilitas kedinasan," kata Wakil Ketua KPK M. Jasin.

"Mobil dinas dipakai mudik kan penyimpangan atau penyalahgunaan fasilitas negara," ujar Pithagiras.

"Susah kalau punya mental korup begitu," sambung Udien.

"Apa pun argumennya, penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi dan keluarga adalah korupsi juga," kata Minan Tunja.

Tapi, apa lacur aparatur, bahkan hingga kepala daerah punya tafsir sendiri tentang fungsi mobil dinas. Begitulah.

Lampung Post, Jumat, 2 September 2011



No comments:

Post a Comment