Tuesday, November 15, 2016

Menolak Terorisme, Meneguhkan Keindonesiaan

Oleh Udo Z Karzi


APA pun argumennya, tidak ada hak bagi sesiapa pun untuk menghilangkan nyawa orang lain. Maka, kita mengutuk aksi teror bom yang terjadi di Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda, Minggu, 13/11/2016.

Akibat aksi teror itu, seorang korban meninggal dunia lantaran menderita luka bakar 70 persen, dengan kondisi tubuh yang sebagian besar hangus terbakar api.


Intan Marbun (3) meninggal dunia pada Senin (14/11/2016) dini hari setelah dirawat di rumah sakit. Ia adalah satu dari empat anak yang menjadi korban teror tersebut.

Tiga korban luka lainnya, Anita Kristakel Sihotang (2 tahun), Alvaro Ora Kristan Sinaga (4 tahun), dan Triniti Hudahaya (3 tahun). Kesemua korban merupakan anak2 yang baru selesai melaksanakan ibadah dari Jemaat HKBP (Huria Kristen Batak Protestan).

Setelah terkena ledakan bom di pelataran Gereja Oikumene, Intan menderita luka bakar paling parah di antara ketiga temannya. Intan dibawa ke RS AW Sjahranie Samarinda dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Pria pelaku pelemparan bom molotov adalah  Juanda, 35 tahun, alamat  (eks pelaku bom buku). Saat ini Juanda ditahan di Polres Samarinda.

Kita berduka kembali. Siapa pun orangnya tidak ada hak baginya untuk melakukan kegiatan yang berupaya meniadakan orang lain. Siapa pun tidak ada alasan baginya untuk menerima perlakuan keji dan jauh dari perikemanusiaan ini.

Sungguh manusia macam apa namanya jika bergembira dan berpesta atas tragedi kemanusiaan ini. Jihad jihad macam apa yang membunuh manusia yang tidak tidak tahu-menahu dan tiba-tiba harus menerima perlakuan biadap seperti ini.

Karena itu, kita bersetuju agar segala macam jenis teror harus dihilangkan dari muka bumi. Teror bom yang terjadi di Samarinda adalah tindakan yang biadab dan tidak bisa dibiarkan. Negara tidak boleh kalah dengan aksi teror. Bom yang meledak telah mencabik-cabik rasa kemanusiaan kita.

Tapi, kita perlu mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada isu SARA yang mengidentikkan teror ini dengan agama tertentu dan meminta masyarakat tetap tenang dan waspada. Kekerasan dan teror merupakan musuh bersama dan mari dibangun kembali dengan merajut kepedulian dan solidaritas.

Kita mendorong untuk terus-menerus menyerukan penolakan terhadap paham radikalisme yang sungguh merusak rasa kebangsaan dan keberagaman. Kita harus memastikan bahwa terorisme dan radikalisme tidak bisa mencabik-cabik keindonesiaan rakyat kita.

Sekuat apa pun terorisme dan radikalisme merongrong keindonesiaan kita, Pemuda Indonesia tetap bergandeng tangan menjaga dan merawat keindonesiaan kita sembari berjanji tetap setia pada Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 15 November 2016

Wednesday, November 9, 2016

Pake Cabe!

Oleh Udo Z Karzi


HARGA cabai melambung tinggi. Di beberapa kabupaten cabai merah mencapai Rp65 ribu sampai Rp70 ribu.

Selain permintaan cabai yang meningkat di kalangan pasar, kenaikan harga itu dipicu sejumlah daerah penghasil cabai seperti Tanggamus, Lampung Selatan, dan Lampung Barat mengalami musim hujan dengan curah tinggi, serta ada  tanggul jebol sehingga mengurangi hasil panen.


Tanaman cabai memang sensitif, tidak bisa terkena hujan. Jika saat berbunga kena hujan ya risikonya tanaman rusak. Kondisi alam ini sangat berpengaruh terhadap hasil panen.

Tapi, setinggi-tinggi harga cabai tak pernah terpikirkan oleh ibu-ibu untuk mengurangi cabai dari daftar belanjaan. Kalau biasa pedas, mana enak masakan kurang cabai, apalagi hendak meniadakan cabai dalam gulai atau sayur.

Oleh karena itu, harus ada kebijakan dari pemerintah daerah untun menstabilkan harga cabai. Tapi, alih-alih kasih solusi agar harga cabai bisa terkendali, Kepala Dinas Perdagangan Lampung Ferynia malah menganjurkan masyarakat mengurangi pemakaian cabai. "Kurangi konsumsi cabai agar harga cabai turun. Soalnya, kita (Disdag) nggak mungkin mendatangkan cabai dari daerah lain," ujarnya.

Konkretnya bentuk pengurangan itu, yang biasa konsumsi cabai ¼ kg 3 hari, ya bisa dikurangi jadi konsumsi cabai ¼ kg seminggu.

Aduh, Ibu Ferynia, ibu-ibu bisa bisa diomeli bapak dan anak-anak karena sayur dan lauk kurang cabai. Lagi pula, cabai dalam kadar tertentu itu sangat penting bagi tubuh. Sebab, cabai memiliki kandungan yang mampu menunjang kesehatan bagi yang menkonsumsinya. Salah satu zat yang sangat baik dimiliki cabai adalah zat kapsaikin, kapsisidin, vitamin A dan vitamin C. Vitamin C ini juga kaya kandungan pada cabai, sama seperti manfaat jeruk, manfaat lemon, manfaat anggur yang dikenal sebagai sumber vitamin C.

Beberapa manfaat cabai bagi tubuh adalah meningkatkan imunitas, menurunkan berat badan, mengatasi diabetes, menyehatkan pencernaan, meredakan rasa sakit, menghentikan penyebaran Kanker Prostat, meredakan sakit kepala, mengurangi pegal-pegal badan, dan melancarkan pernafasan.

Na, kan jelaskan anjuran Ibu Kadis Perdagangan mengurangi konsumsi cabai justru bertentangan dengan upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.

Makan cabai itu sehat!

Karena itu, carikan solusi menurunkan harga cabai geh Bu dan biarkan kami tetap pake cabe yang cukup untuk setiap santapan!  []


Fajar Sumatera, Rabu, 9 November 2016

Tuesday, November 1, 2016

Lebih Baik Berdoa Saja

Oleh Udo Z Karzi


ANEH juga kenapa pemimpin ini tiba-tiba begitu panas dengan keberadaan pungli. Bukankah yang berlaku selama ini justru aneh kalau tidak ada pungli dalam segala jenis urusan di tingkat mana pun, dari birokrasi terbawah seperti RT sampai ke birokrasi yang tertinggi.

Pungutan liar (pungli) atawa meminta sesuatu (uang dsb) kpd seseorang (lembaga, perusahaan, dsb) tanpa menurut peraturan yang lazim, kata kamus, adalah sebuah kebiasaan. Boleh jadi mentalitas kita itu bernama pungli.


Kasihan orang-orang kecil di pasar atau di kantor-kantor pemerintah yang justru memanfaatkan pungli ini sebagai cara untuk hidup. Coba sebutkan di mana tempat yang ramai yang tidak dikutip uang dengan sebutkan uang parkir? Siapa pula coba yang menolak 'tanda terima kasih' setelah kepentingan orang tersebut dia urus?

Meski kecil-kecilan, pungli itu jelas korupsi juga kok! Tapi, kalau ini yang dikatakan, jelas orang-orang yang mengutip uang dari orang-orang akan membela diri, "Kami hanya meminta sedikit dari orang kebetulan berlebih."

Tapi, kutipan-kutipan kecil ini lumayan besarnya kalau dikumpulkan. Tukang pungli suka marah-marah juga ketika seseorang kasih uang besar. "Ai Bapak ini ngeledek benar. Masa uang parkir Rp2.000, kok dikasih Rp100.000. Yang bener geh, Pak."

Kadang-kadang, saat belanja, ada kembalian Rp150, kasirnya bilang, "Maaf ya, nggak ada uang  ada uang kecil."

Rasanya mau marah. Masa Rp150 dianggap bukan uang. Ini kan pungli juga. Tapi gimana coba, jangan-jangan kita dibilang orang aneh.

Kadang, antara pungli, minta-minta, dan sedekah memang susah dibedakan. Pungli kalau orang yang dipunli ikhlas, gimana tuh. Kadang memang terpaksa ikhlas karena kasihan juga dengan 'orang miskin' yang suka cari penghasilan dengan cara minta-minta. Lebih baik ikhlas daripada marah-marah mulu karena uang kecil; ntar cepat tua. Kalau ikhlas, pungutan liar itu bisa dianggap sedekah.

Aih, mumet. Lebih baik kita berdoa saja semoga program pemerintah (daerah) memberantas pungli sukses!  []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 1 November 2016