Monday, December 10, 2012

Mabuk Kuasa, Wow...

Oleh Udo Z. Karzi

HARUSKAH saya bilang wow sambil koprol ketika Gubernur Syajchroedin Z.P. berkata, "Kalau saya, ingin tidak ada pilgub. Kalau perlu, sampai kiamat tidak ada pilgub"? (Lampung Post, 4 Desember 2012).

Celetukan Mat Puhit ini langsung disambar Minan Tunja dengan sinisnya, "Nggak lucu!"

"Bang Oedin omongnya bercanda kok," bela Radin Mak Iwoh.

"Tapi, saya susah ketawa dengan pernyataan kek gitu. Itu ciyus," kata Pithagiras.

"Pertanyaan, benarkah Pak Gub bercanda ketika mengatakan hal itu?" goda Mamak Kenut.

"Itu sih tersurat dan tersirat..." kata Udien.

"Eit jangan salah sangka. Meskipun dia ngomong-nya suka ngelantur, Pak Gub itu sangat humoris. Hatinya juga baik..."

"Jadi, pilgub Lampung itu 2013 atau 2015?" 

"Induh weh..."

***

HARUSKAH saya bilang wow sambil koprol tatkala Sekretaris Provinsi Lampung yang tengah getol-getolnya pasang poster di mana-mana, Berlian Tihang berujar, "Jabatan saya kini merupakan anugerah dan buah kepercayaan pimpinan saya yang harus saya laksanakan dengan sepenuh hati." (Lampung Post, 6 Desember 2012).

"Astaghfirullah," Udien langsung menyahuti bacaan Pithagiras ini.

"Aduh, Bapak. Yang namanya jabatan atau kekuasaan itu kepercayaan rakyat dan titipan Allah swt. Bukannya hasil menjilat pimpinan. Jadi, pertanggungjawabannya bukan sekadar pada pimpinan, melainkan kepada rakyat dan Allah swt," kata Radin Mak Iwoh.

"Tumben Radin agak sadar diri kali ini," Minan Tunja menggoda.

"La, bagaimana pun saya ini orang beragama. Jelas kok dikatakan, setiap kamu adalah pemimpin, dan kelak di akherat akan dimintakan pertanggungjawabannya tentang kepemimpinannya," ucap Radin Mak Iwoh lagi.

"Jadi gimana dong kalau pemimpin kita kayak gitu?"

"Induh kidah..."

***

HARUSKAH saya bilang wow ketika Bupati Tulangbawang Abdurrahman Sarbini menobatkan dirinya sebagai Raja Tulangbawang dan menjadi satu-satunya pemimpin Megow Pak (Lampung Post, 7 Desember 2012).

"Berarti Mance raja pertama Tulangbawang setelah Indonesia merdeka dong."

"Layau..."

"Binun juga.."

Mat Puhit, Udien, Minan Tunja, Pithagiras, Radin Mak Iwoh sama-sama mencari Mamak Kenut mau minta petunjuk.

Tapi, Mamak Kenut malah bilang, "Induh nyak mak pandai...." n


Lampung Post, Senin, 10 Desember 2012

Tuesday, November 27, 2012

Pemimpin yang Ogah Mendengar

Oleh Udo Z. Karzi


Whether I earned your vote or not, I have listened to you.
–Barack Obama-

"Itulah Obama. Ia menang untuk yang kedua kalinya dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat karena ia mau mendengar," kata Pithagiras.

"Lu orang ini. Ngapaian ngomongin luar negeri segala. Masalah kita di Negarabatin aja nggak beres-beras," sambar Mat Puhit nggak sabar.

"Na, inji, inji sebabnya kita nggak maju-maju," ujar kata Minan Tunja sengit.

"Ei, apa salahnya kita, terutama pemimpin kita itu mau belajar dari Obama yang pernah tinggal di kawasan Menteng, Jakarta itu. Bukankah dulu dia juga belajar dari Indonesia," kata Pithagiras lagi.

"Hui, apa hubungannya dengan kita?" Radin Mak Iwoh angkat bicara. 

"Jelaslah. Kekisruhan, kerusuhan, bentrok antarwarga -- bahkan sampai memakan korban jiwa -- terjadi karena, kita tidak mau mendengar. Lebih parahnya adalah pemimpin kita. Pemimpin kita ogah mendengar orang lain. Suka sehaga-hagani. Merasa benar sendiri. Mentang-mentang sudah terpilih..." lapor Udien.

"Itu kan bukan satu-satunya faktor," Mat Puhit ngeyel.

"Ya, benar. Tapi kepemimpinan adalah hal terpenting dalam menjamin kelangsungan jalannya sebuah negara, sebuah daerah, sebuah organisasi. Kalau pemimpinnya suka ngaco, kalaulah negara, daerah atau organisasi itu."

"Betul. Pemimpin itu pekerjaan utamanya mendengar. Cilaka betul jika pemimpin bersikap cuek pada keluh-kesah rakyat atau masa bodoh dan tidak mau mendengarkan persoalan masyarakat. Sikap cuek pemimpin tidak hanya warga kehilangan jalur komunikasi dengan pemimpin, tetapi  membuat hubungan kerja menjadi tidak harmonis. Akibat pemimpin tidak mau mendengar, yang berkembang adalah sikap tidak puas, rasa curiga, bahkan rasa benci satu dengan yang lain, yang bisa berkembang menjadi bom waktu yang berpotensi merusak semua sendi, semua segi kehidupan."

"Pemimpin wajib memiliki kepedulian, perhatian, komitmen, empati, intuisi, dan menghormati semua keadaan bawahan dan rakyat agar bisa berkomunikasi secara bijak melalui proses mendengar dan proses memberi jawaban. Saat pemimpin tidak mau mendengarkan keluh kesah para bawahan, maka kesalahpahaman dan konflik bisa merusak semua tatanan. Pemimpin juga harus secara proaktif meluruskan semua masalah keluh kesah masyarakat ke jalur yang positif dan kreatif."

"Ai, kita ini terlalu banyak mengeritik atau berkeluh kesah. Tapi, saya khawatir pemimpin kita nggak pernah mendengar, nggak pernah membaca...," celetuk Mamak Kenut.

Cilaka betul kalau begitu! n


Lampung Post, Selasa, 27 November 2012

Monday, November 12, 2012

Stereotip

Oleh Udo Z. Karzi


"JAWA hipokrit, Palembang pongah, Padang pelit, Batak kasar, Lampung..." kata Minan Tunja.

"Ah, boong. Orang Jawa halus budi bahasanya, empek-empek Palembang enak rasanya, orang Minang cakap berdagang, orang Batak banyak yang jadi penyanyi selain tukang tambal ban, orang Lampung...," sahut Pithagiras.

"Eh, giliran orang Lampung kok pada berenti. Emang orang Lampung gimana?" tanya Udien.

"Induh weh," celetuk Mat Puhit.

"Soalnya tentang orang Lampung banyak yang tidak tahu atau tidak mau tahu. Lampung itu kayak apa sih? Bahasa Lampung itu bahasa apa? Tidak banyak yang paham. Oleh orang Lampung—yang sering membahasakan diri dengan ulun Lampung—sendiri sekalipun. Apalagi yang bukan ulun Lampung," sahut Mamak Kenut.

"Iya, saya merasa kok ulun Lampung dimarginalkan dalam arti orang—termasuk yang tinggal di Lampung sendiri—merasa tidak perlu mengenal Lampung atau kelampungan: bahasa, kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, kesenian, kebudayaan, dst. Maka, benarlah Lampung itu cuma nama provinsi saja, tetapi makna dan apa pun yang tersirat dari nama Lampung tak perlulah dibicarakan panjang lebar," gugat Radin Mak Iwoh.

"Masalahnya, kaum elite Lampung sendiri sering menyalahartikan, bahkan menyalahgunakan nilai-nilai kelampungan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan sih," sambut Mat Puhit kesel.

"Apa misalnya?" kejar Radin Mak Iwoh.

"Ai, sudah lama adat itu cuma dijadikan alat politik saja! Maka, kalau pemimpin daerah bicara kearifan lokal, tentang keluhuran budaya, tentang tingginya peradaban orang Lampung... weh, sapa muneh sai percaya?"

"Maka, semakin sesatlah pandangan orang terhadap ulun Lampung. Yang lahir adalah stereotip-stereotip betapa buruk kelakuan ulun Lampung. Bahwa orang Lampung itu... Hayo siapa yang berani bilang."

Stereotip itu adalah pictures in our head, kata Walter Lippman. Stereotip adalah persepsi yang dianut yang dilekatkan pada kelompok-kelompok atau orang-orang dengan gegabah yang mengabaikan keunikan-keunikan individual.

Kerusuhan yang marak boleh jadi karena berkembangnya stereotip dari kelompok masing-masing.


Lampung Post, Senin, 12 November 2012

Thursday, November 1, 2012

Mengapa?

Oleh Udo Z. Karzi


TANPA kita sangka, tanpa kita mengerti, dan tanpa kita tahu apa salah kita, kita harus menerima perlakuan yang tidak mengenakkan. Bentakan hanya karena soal biasa acap kita terima. Masih untung kalau cuma omelan, yang tak kita pahami adalah mengapa orang begitu mudah melayangkan tangan, kaki, atau bahkan senjata tajam kepada kita.

Ketidakmengertian kita ini bukan hanya milik kita sendiri. Aparat berwajib, mulai dari polisi, jaksa, dan hakim boleh jadi sekarang ini sedang kebingungan menghadapi banyaknya kasus pelanggaran hak asasi manusia dan tindak kriminalitas yang terus menggunung.

Lihat saja statistik pencurian kendaraan bermotor yang terus membengkak. Lihat pula perkelahian massal, pembakaran orang hidup-hidup, mobil dan rumah penduduk.

Rasanya tak ada hari tanpa kekerasan, mesti LSM dan banyak pihak berkampanye antikekerasan. Hari ini kita berharap tak terjadi kerusuhan dalam pemilihan bupati, besoknya terjadi pembakaran mobil oleh massa yang merasa dikalahkan. Sebuah konser yang dimaksudkan untuk menghibur penonton malah berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Jangan sekali-kali berbuat salah kalau tak ingin massa mengamuk dan membakar kita hidup-hidup.

Edan! Dunia macam apa ini? Apakah kita semua telah kehilangan kesabaran sehingga kalau ada persoalan kecil di antara kita, maka harus diselesaikan dengan kekerasan? Kalimat "melawan kekerasan tanpa kekerasan" menjadi kata-kata indah penghias bibir saja? Lalu, kita bertanya kemana nilai kemanusiaan kita? Kita taruh dimana hati nurani kita? Kita simpan di mana rasa persaudaraan kita?

Mengapa kita semakin tak peduli dengan harmoni kehidupan yang sebenarnya sudah tercipta dari dulu? Mengapa kita tak lagi peduli dengan orang lain? Mengapa kita seakan lebih berkuasa dari Tuhan kita? Mengapa kita menjadi abai dengan nasib saudara, sahabat, dan diri kita sendiri? Mengapa kita tak mampu menghormati hak orang lain sebagaimana kita ingin hak kita diakui orang lain? Mengapa? Mengapa?

Ada baiknya kita merenungkan kembali hakikat kemanusiaan kita. n


Lampung Post, Selasa, 1 November 2012

Tuesday, October 30, 2012

Resolusi Konflik

Oleh Udo Z. Karzi


SULIT bagi Mamak Kenut memahami mengapa terjadi kerusuhan atau amuk massa. Tapi, realitaslah yang terjadi. Perkelahian pelajar, keributan konser musik, frustrasi suporter sepak bola, dan permusuhan antarkampung.

Alasan-alasan yang muncul terkadang sepele. Penyebab kejadian dan akibatnya selalu tidak sebanding. Kerugian materi dan jiwa terlalu mahal hanya untuk menebus masalah sepele.

Masalahnya memang bukan untung-rugi. Orang yang terlibat tidak pernah berpikir ke sana. Mereka dihinggapi collective mind yang tidak rasional (McDougall).

Namun, tentu saja kita tak bisa begitu saja menghakimi mereka (pihak yang terlibat kekisruhan). Tindakan yang tergesa-gesa dilakukan terhadap mereka sama tidak rasionalnya dengan mereka. Masalahnya jelas sangat kompleks, bukan sekadar pada perilaku mereka dan akibatnya.

***

Kejadian-kejadian itu jelas menuntut penjelasan teoretis. Terpaksa Mamak Kenut buka-buka referensi lagi. Dari kajian psikologi-sosial mazhab Baron dan Byrne (2009) akan didapat penjelasan, kerusuhan yang berawal dari perkelahian dua individu itu didukung oleh adanya stereotip oleh masing-masing kelompok.

Dua orang dianggap sebagai representasi dari dua kelompok. Mereka mengacaukan nalar antara konflik pribadi dan relevansinya dengan asumsi, kecurigaan, serta kebencian-kebencian kolektif yang tanpa dasar.

Terapi psikologi berdasarkan panduan Gerald Corey (1995) memberikan rekomendasi tentang pentingnya pemanfaatan terapi kognitif dan realitas. Hal itu setidaknya telah dilakukan oleh para aparat yang mengundang dua pihak untuk menandatangani nota kesepahaman. Di permukaan tampaknya kerusuhan memang reda, tetapi masyarakat masih menutup pintu dan masing-masing anggota kelompok tidak bisa melepaskan kecurigaan begitu saja.

Kajian sosiologi akan menghasilkan simpulan tentang adanya kerumunan massa yang berpotensi menimbulkan anomi dan kekerasan. Berdasarkan teori Emile Durkheim, kita mendapatkan petunjuk bahwa kasus ini merupakan pelampiasan-pelampiasan hasrat individu untuk merusak dalam situasi anomi. Itu mengisyaratkan retaknya integrasi sosial di tengah-tengah masyarakat.

***

Mamak Kenut mencatat, warisan primitif manusia mengungkap kenyataan bahwa kita sesungguhnya menyukai kekerasan. Itulah kenapa kekerasan yang terjadi berurutan itu berada dalam satu alur: berawal dari bentrok individual menuju amuk massa. Masalahnya, pemerintah kehilangan daya membangun manusia Indonesia yang mampu memahami resolusi konflik melalui komunikasi, empati, dan permaafan.


Lampung Post
, Selasa, 30 Oktober 2012

Saturday, October 27, 2012

Kerja Pengamat Kok Cuma Otak-atik Pasal

Oleh Udo Z. Karzi


PIKIRAN Mamak  lagi buntu. Ia kutip saja Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD saat memberikan orasi dalam wisuda sarjana di Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Sabtu, 16 Oktober lalu.

Begini katanya: “Perguruan tinggi telah gagal karena hanya melahirkan kecerdasan dan bukan kecendiakawanan. Kegagalan perguruan tinggi itu terlihat dari tidak bekerjanya kecendekiawanan dari para lulusannya. Orang pintar saja, tetapi tidak cendekia itu justru mengacaukan keadaan, karena hanya melahirkan orang-orang yang tidak jujur, korup, dan tidak bertanggung jawab kepada bangsanya.”

Diskursus relasi cendekiawan dan kekuasaan tetap menarik dibincang. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan politik aktual, manakala banyak kaum terdidik bergabung ke partai politik disusul barisan pendukung para (calon) presiden/kepala daerah.

Seharusnya, keterlibatan cendekiawan tidak perlu diprasangkai, lebih baik dipandang wajar atau justru positif. Andil cendekiawan dalam politik praktis bukan hanya hak, melainkan juga partisipasi praksis-pengetahuan yang selama ini mengendap dalam kognisi cendekiawan.

Namun melihat realitas yang terjadi, keterlibatan cendekiawan tidak hanya perlu dikritisi, tetapi juga dipesimisi, bahkan ditentang. Sebab, alih-alih produktif dalam memperjuangkan idealismenya, cendekiawan akan larut dalam praktik diskursif kekuasaan, sehingga identitas kecendekiawanannya dekaden.

Dulu, kalo ada (rencana) pemilukada, independensi jurnalis dipertanyakan, kemudian netralitas KPU diragukan, sekarang integritas akademisikan pun bisa dipermasalahkan.

“Ah, kelewat serius,” celetuk Minan Tunja.

“Iya, saya pernah membaca betapa bahaya menjadi orang serius,” kata Pithagiras.

“Tapi lebih bahaya orang yang tak pernah serius,” sambar Mat Puhit.

“Ini baca. Kecendekiawanan model apa yang membuat pemilihan gubernur di Lampung hampir selalu didahului dengan huru-hara? Kecendekiaan apa yang membuat pertemuan membahas jadwal dan anggaran Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Pemerintah Provinsi Lampung tidak menemukan titik temu?”  sambung Udien.

“Ei, ngapi muneh butong-butong,” kata Radin Mak Iwoh.

“Kerja pengamat cuma otak-atik pasal aja. Saya diminta wawancara dengan pengamat yang netral tentang hal ini. La, siapa pengamat yang netral itu?” kata Udien kesal.


Lampung Post, Sabtu, 27 Oktober 2012

Friday, October 19, 2012

Kekuasaan seperti Halnya Cinta...

Oleh Udo Z. Karzi


SEBUTLAH kekuasaan. Maka sebuah nama segera hadir: Niccolò Machiavelli. Filsuf ini paling intens menaruh perhatian pada konsep kekuasaan.  Machiavelli hidup di Florence, Italia, pada Abad XVI (1469-1527).

Berhadapan dalam sistem nilai di Abad Pertengahan begitu rumit, Machiavelli kemudian menuangkan idenya tentang kekuasaan dalam bukunya, II Principe (ditulis 1513, tetapi baru diterbitkan 1532, lima tahun setelah kematian Machiavelli). Buku ini  sangat monumental dan menjadi klasik. Isinya membahas cara pandang kekuasaan dalam pendekatan yang sama sekali berbeda dengan pemahaman-pemahaman orang-orang pada Abad Pertengahan.

Ia memang menitikberatkan konsep kekuasaannya pada kekerasan. Menurut dia, para penguasa yang tidak setuju menggunakan kekerasan dalam aktivitas dalam berpolitik tidak akan memperoleh kekuasan yang optimal atau bahkan akan kehilangan kekuasaan yang dimilikinya. Namun, pada bagian lain menerangkan, penggunaan kekerasan yang terlalu berlebihan pun akan mengakibatkan konsekuensi yang negatif bagi penguasa itu sendiri.

Karena itu, selain menebar ketakutan ia (sang penguasa) pun harus mampu menebar kharisma bagi aktor lain (individu maupun kelompok). Dengan begitu, penguasa tidak hanya harus mampu menjadi seekor “serigala”, tetapi juga ia musti mampu menjadi seekor “rubah”.

Jangan salah, Machiavelli pula yang menggagas bentuk negara modern. Ia mengatakan, republik adalah bentuk negara yang cocok bagi negara-negara modern; yang sama sekali berbeda dengan rezim Monarki Absolut (seperti yang mengada pada Abad pertengahan).  Negara Republik adalah negara yang didasarkan atas kesepakatan bersama (konsep kesepakatan bersama  kemudian dikenal dengan istilah kontrak social). Ide Machiavelli ini ternyata diterima luas penerus-penerus pemikirannya, di antaranya adalah: Jean Jacques Rousseau, Alexander Hamilton, dan James Madison.

Begitulah, kekuasaan seperti halnya "cinta" menjadi kata yang tidak pernah bosan-bosannya dipakai dalam pembicaraan sehari-hari. Ia mudah dipahami secara intuitif, tetapi jarang didefinisikan. Karena itu, wajar kalau banyak orang yang salah jalan dan tersesat jauh...  n


Lampung Post, Jumat, 19 Oktober 2012

Tuesday, October 2, 2012

Wajar tanpa Prestasi

Oleh Udo Z. Karzi


MAT Puhit bersungut-sungut mendapatkan kabar pemerintah daerah mendapat penghargaan atas keterbukaannya.

"Terbuka atau transparan itu kan sesuatu yang memang seharusnya. Demokrasi itu menuntut transparansi, keterbukaan. Jadi apa istimewa pemerintah yang terbuka? Bukankah memang kewajiban pemda memang memberikan informasi yang dibutuhkan wartawan dan warga. Bukankah undang-undang memang menjamin hak masyarakat untuk memperoleh informasi?" gugat Mat Puhit berapi-api.

"Begini," sambut Radin Mak Iwoh. "Penghargaan itu kan sebagai bentuk apresiasi atas kerja pemda dalam mendukung keterbukaan informasi itu. Dengan begitu, diharapkan pemda-pemda yang lain bisa meniru sikap terbuka Pemda Negarabatin."

"Ahai, Radin. Sekarang ngomong injuk gitu. Kemaren itu saya minta data, Radin bilang, 'Kanah pai (Nanti dulu) data itu belum boleh dipublikasikan'," kata Udien.

"Ai kidah, kamu ini. Denger dulu penjelasan saya...."

“Radin, kemaren itu, aliran listrik di kantor Komisi Informasi hampir saja diputus...” celetuk Mamak Kenut.

Hahaha...

***

MAMAK Kenut terheran-heran menyaksikan berbagai instansi/dinas/pemda memasang iklan selamat atas dicapainya predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dalam laporan keuangan.

WTP itu hanya hasil tertinggi dalam penilaian laporan keuangan. Penilaian di bawahnya yaitu wajar dengan pengecualian (WDP) dan disclaimer. Predikat WTP artinya laporan keuangan bisa dipertanggungjawabkan, valid, dan akurat.

"Ini prestasi yang membanggakan!" kata sang pejabat.

"Apa yang luar biasa? Bukankah memang begitulah selayaknya laporan keuangan," kata Minan Tunja.

Coba pulak dengar kata Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Wakil Ketua BPK Hasan Bisri ngomong, "Persepsi WTP masyarakat dan BPK beda sekali. Opini WTP tidak menjamin bebas korupsi, karena laporan keuangan dibuat bukan untuk melaporkan korupsi suatu perusahaan."

"Nah, apa kubilang...," kata Mamak Kenut.

"Lo, dari tadi Mamak nggak bilang apa-apa," kata Pithagiras.

Hahaha...

***

PELAKSANAAN tugas dan kewajiban sewajarnya kok dibilang prestasi. Sesuatu yang memang pada tempatnya kok dibilang membanggakan.  n  


Lampung Post, Selasa, 2 Oktober 2012

Friday, August 31, 2012

Hujan yang Sehari

Oleh Udo Z. Karzi


KEMARAU memang terasa menyiksa. Kekeringan, kekurangan air, ancaman gagal panen, dan terganggunya stok pangan Negarabatin adalah lagu lama berulang setiap tahunnya. Anehnya, walaupun sudah pengalaman—saban tahun sih—kita tetap saja kelimpungan menghadapi situasi yang seperti itu.

Ancaman kemarau sudah mulai terlihat jika melongok sawah, sungai, sumur-sumur, dan berbagai sumber air lainnya. BMKG pun meramalkan kemarau berlangsung hingga November. Ai, masih lama lagi...

Jeritan kekeringan mulai terdengar, ada sebagian daerah yang sudah melakukan salat Istisqo, minta hujan.

***

Yang Mahatahu rupanya kali ini mendengar. Sehingga diturunkanlah hujan pada Selasa kemarin. Apa pun hujan adalah rahmat. Segala yang kuyu tersiram hujan segar kembali. Tanah berdebu basah lagi. Sungutan segera berganti senyum semringah...

Hujan yang sehari benar-benar menyirami hati yang kerontang. Tak mengapa sehari. Cukuplah. Anugerah ini cukup menghibur kok. Dan, nyatanya masih ditambah lagi hujan sehari lagi kemarin. Benar-benar keberuntungan.

***   

Mendung tak berarti hujan, kata Dedy Dores. Tapi nyatanya hujan benaran kok. Air yang diharap turun dari langit. Dengan begitu, kita sudah mendendangkan hujan walau sehari.

Tapi, entahlah. Meskipun hujan membasahi sebagian besar wilayah Lampung, Selasa (28-8), menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung, kemarau berlangsung hingga akhir Oktober 2012. Menurut Kepala BMKG Lampung Sugiman, Lampung masih dalam kemarau. Hujan Selasa, proses alamiah biasa. Curah hujan sangat kecil yakni 2,5 milimeter sehingga masih tergolong kemarau.

"Hujannya juga enggak serius sebenar hujan sebentar-sebentar, sebentar gerimis sebentar berhenti, sebentar berhenti sebentar hujan, sebentar gerimis sebentar hujan..." kata Minan Tunja.

"Api niku ngomong bolak-balik... Enggak peduli! Yang penting kita bisa senang karena hujan," kata Udien.

"Alhamdulillah, gara-gara hujan sehari-dua kemarau pun dipercepat. Kalau tadinya sampai November, karena hujan sehari, kemarau cukup sampai Oktober saja," celetuk Pithagiras.

"Sok tahu..." sambar Mat Puhit.

"Layin, saya baca di koran sebelumnya kemarau sampai November, nah berita hari ini kemarau kan sampai akhir Oktober," kata Pithagiras.

"Terserah mau kemarau sampai kapan, asal tetap ada hujannya," Mamak Kenut asal bunyi.

Hahaa... seandainya musim bisa kita atur. Atau, kita yang tidak mau diatur sehingga musim tak lagi menentu?


Lampung Post
, Jumat, 31 Agustus 2012


Friday, August 10, 2012

Untung Ada ‘Lampost’

Oleh Udo Z. Karzi


Untung Ada Saya.
Begitu judul film "inspiratif" Warkop DKI. Ya, inspiratif karena menghibur dan bisa dipinjam buat judul Nuansa ini. Hihii...

Untung ada Johannes Geinsfleich zur Laden zum Gutenburg yang berhasil menemukan teknologi mesin cetak pada 1450 dan terus mengembangkan teknologi ini bersama rekannya yang bernama Andreas Dritzehn.

Ya, untung ada mesin cetak Gutenberg. Dengan penemuan mesin cetak ini, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi eksklusif bagi kalangan tertentu. Ilmu pengetahuan dan informasi tidak lagi dimonopoli kalangan tertentu. Semua orang bisa mendapatkan informasi karena saat itu printing berhasil bertransformasi menjadi komoditas yang diproduksi dan didistribusikan secara massal. Mesin cetak Guternberg menstimulasi manusia untuk mengembangkan rasionalitas yang mereka miliki.

Untung ada koran. Walaupun revolusi teknologi terus menggeser keberadaan surat kabar cetak, surat kabar cetak tetap memiliki relevansi tinggi bagi hidup kita. Koran tetap menjadi media yang populer untuk menginformasikan berbagai berita pada masyarakat dan menganalisis berbagai kejadian yang membentuk hidup kita. Ada sekitar 1 triliiun orang di dunia ini yang masih membaca surat kabar cetak setiap harinya.

Untung ada Solfian Akhmad yang merintis penerbitan sebuah surat kabar harian bernama Lampung Post pada 1974. Kegigihannya menerbitkan koran ini sampai-sampai ia pernah menjual gelang sang istri agar surat kabarnya bisa naik cetak; membuat Lampung Post tumbuh menjadi koran yang disegani dan kemudian "dipinang" Surya Persindo (milik Surya Paloh) tahun 1989.

Ya, untung ada Lampung Post. Harian ini menyediakan wahana bagi persemaian kecendekiawanan. "Saya bersahabat dengan Lampung Post sejak 1970-an. Jadi saya hafal betul gaya tulisan wartawan Lampung Post dan itu tidak dimiliki media massa lain," kata guru besar FKIP Unila Sudjarwo.

Untung ada Buras-nya Bambang Eka Wijaya, Refleksi-nya Djadjat Sudradjat, Tajuk, Nuansa, ruang Opini di Lampung Post. Kalau tidak, mana mungkin kita bisa mencoba memahami lebih mendasar persoalan negara-bangsa kita saat ini. Esensi-esensi masalah setidaknya tertuang di kolom-kolom itu.

Untung ada Wat Wat Gawoh di antara berita-berita keras tentang politik, ekonomi, dan kriminalitas. Dengan begitu, kita bisa dibikin cengengesan sebentar untuk menghilangkan kejenuhan.

Untung ada Puisi, Cerpen, dan Esai Budaya. Biar kita ikut membangun peradaban bangsa. Kebayang aja kalau tidak ada rubrik-rubrik ini. Kita bisa-bisa semakin jauh dari manusia dan kemanusiaan.

Untung ada rubrik Bandar Lampung, Ruwa Jurai, Politika, Nasional, Internasional, Pemilukada, Olahraga, Pertanian, Kesehatan, Pendidikan, Wawancara, Fokus, Inspirasi, dan rubrik-rubrik lain. Inilah yang membuat kita senang membaca Lampung Post.

Dan, hehee...untung ada Mamak Kenut, Mat Puhit, Minan Tunja, Pithagiras, Udien, Radin Mak Iwoh, dan Paman Takur. Celoteh mereka bisa sedikit menghibur kalau tidak bikin tambah cenat-cenut. 


Lampung Post, Jumat, 10 Agustus 2012

Saturday, June 23, 2012

(Jangan) Ogah Meniru Belanda!

Oleh Udo Z. Karzi

KALAH lagi, kalah lagi... Itulah nasib Belanda dalam pergelaran Piala Eropa 2012. Dan, ketika putaran fase grup tuntas, Belanda dan Irlandia pun terpuruk di dasar klasemen tanpa satu pun poin.

Performa Belanda di ajang Piala Eropa kali ini boleh dibilang kacau balau. Penampilan buruk Belanda di Piala Eropa 2012 membuat nasib pelatih Belanda Bert van Marwijk kini di ujung tanduk. Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) berencana mengevaluasi performanya.

Bubar deh! Padahal, saya pun termasuk orang yang acap menjagokan Tim Oranye ini dalam berbagai event pertandingan sepak bola. Ini tidak ada urusannya dengan nasionalisme; bahwa Belanda pernah menjajah Indonesia; bahwa timbunan kasus korupsi di negeri ini adalah warisan konkret dari Belanda sejak zaman VOC.

Bukan, bukan soal itu. Tapi, karena kesebelasan Belanda memang bagus. Sepak bola Negeri Kincir Angin ini memang mempunyai sejarah gemilang walau tak pernah menjadi juara dunia. Belanda punya legenda sepak bola. Sebut saja antara lain Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Johan Cruijff.

Nama terakhir malah bisa mentransfer konsep total football, taktik khas sepak bola Belanda ke klub tempat ia bermain, Barcelona, hingga kekompakan bermain yang cantik klub tersebut telah menorehkan prestasi yang mengagumkan.

Ah, biarlah Belanda kalah kali ini. Lain kali, entahlah... Tapi, sepak bola Belanda punya tetap asyik kok. "Juara tanpa mahkota” ini selalu diperhitungkan negara-negara yang menjadi lawannya ketika mengikuti turnamen.

Maka, meski mendapat cibiran dari berbagai pihak, saya kok melihat apa yang dikatakan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin akhir Januari 2012 memang sudah selayaknya. PSSI, kata Djohar, sedikit banyak meniru apa yang dilakukan induk sepak bola Belanda, KNVB.

Di sana pembinaan pemain dilakukan berjenjang dari usia bocah sampai senior. Yang paling penting, "Belanda tidak pernah kekurangan stok pemain nasional, padahal jumlah penduduknya sedikit," kata dia.

Sama kok, Indonesia yang begini luas—enggak sebanding dengan Belanda—juga tidak pernah kekurangan stok pemain nasional karena (ini bedanya dengan Belanda!) penduduk kita banyak.

Kita punya penjajah yang hebat sepak bolanya. Tapi, kok sama sekali enggak ada bekas kalau kita pernah dijajah para pemain sepak bola. Aneh juga kita yang mempunyai ikatan emosional karena pernah menjadi jajahannnya kok tidak mengikuti "mbahnya" dalam dunia sepak bola.

Negara Brasil aja sepak bolanya maju dengan "majikannya" Portugal. Begitu juga Argentina, Uruguay, Paraguay, dam Meksiko yang mampu menyamai Spanyol, bapak asuhnya di masa lalu.  Akan halnya kita dan Belanda, masa korupsinya saja yang kita lestarikan dan kita kembangkan sedemikian rupa di negeri ini, tetapi sepak bola kita kok "ogah" meniru Belanda?


Lampung Post, Sabtu, 23 Juni 2012

Saturday, June 16, 2012

'Nonton sih Nonton', Tapi Jangan Tidur di Kantor

Oleh Udo Z. Karzi


EUFORIA Piala Eropa, 8 Juni hingga 1 Juli 2012, merambah ke seluruh dunia. Indonesia tanpa pengecualian. Wajar dan biasa saja, sebab sepak bola memang boleh dibilang olahraga paling populer.

Menonton sepak bola Piala Eropa merupakan hal yang tidak akan dilewatkan masyarakat penggemar sepak bola. Apalagi, momen Piala Eropa ini pemberitaannya begitu gegap gempita, baik siaran langsung melalui salah satu stasiun TV swasta nasional maupun media cetak.

Sayangnya, ada sedikit dampak yang kurang baik terhadap disiplin pegawai, pegawai negeri terutama, akibat begadang menonton pertandingan sampai malam, bahkan dini hari.

***

Konon, kelelahan yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurunlah yang menjadi pemicu berbagai penyakit muncul. Karena itu, hati-hatilah, kesenangan untuk terus-menerus mengikuti setiap pertandingan juga harus diantisipasi dampak buruknya bagi kesehatan.

Masalahnya selain tetap berkeinginan nonton sepak bola, kita juga tetap melakukan aktivitas rutin sehari-hari. Karenanya, hobi menonton sepak bola sebaiknya jangan sampai menyebabkan gangguan kesehatan.

Saat menonton pertandingan sepak bola, kita biasanya tidak hanya duduk tenang, tetapi kadang kala berteriak dan juga banyak bergerak lantaran terbawa emosi suasana pertandingan yang sedang berlangsung. Bila kondisi ini terus-menerus terjadi setiap malam, akan menyebabkan kelelahan bagi yang menjalaninya.

Dampak kelelahan bagi kesehatan adalah gangguan kesehatan secara umum, kambuhnya berbagai penyakit kronis, dan menurunnya daya tahan tubuh seseorang.

***

Pada kondisi lain, kantor bisa saja berubah menjadi kamar pribadi karena para pegawai berlaku tidak sopan. Coba bagaimana mana sih orang berlaku sopan dalam keadaan terkantuk-kantuk atau malah tidur ngorok di kantor?

Bisa jadi pada rapat kabinet menteri-menteri pada tidur. Ini benar terjadi kok, waktu Piala Dunia kemarin itu. Melalui tayangan televisi, semua terlihat tertidur ketika rapat bersama Presiden.

Wah, kalau peserta rapat pada ngantuk, bahkan tidur, apa yang bisa dirapatkan. Kalau ada yang ngomong apa ada yang dengar. Benar deh. Piala Eropa menurunkan kinerja aparat pemerintah. Untung event ini tidak sepanjang tahun ya. Kalau iya, bisa kacau juga.

***

Ini bukan larangan menonton pertandingan sepak bola Piala Eropa. Cuma sekadar mengingatkan, agar kita bisa menjaga keseimbangan antara nonton sepak bola, tidur, dan beraktivitas.

Nonton ya nonton, cuma jangan tidur (karena ngantuk) di kantor. Begitu saja.


Lampung Post, Sabtu, 16 Juni 2012

Friday, June 1, 2012

Kota Berhala

Oleh Udo Z. Karzi


DIBERITAKEN...(sengaja meniru dalang Parto dalam Opera van Java/OvJ), sebentar lagi akan dibangun patung pengantin pepadun dan pengantin sai batin. Entahlah, ini kabar gembira atau bukan bagi warga Negarabatin yang sebenarnya memiliki persoalan yang lebih kompleks ketimbang sebuah atau banyak buah patung.

Yang jelas, kata Mat Puhit, jika dua patung ini berdiri kelak, lengkaplah sudah Negarabatin memiliki beberapa patung kembar. Dua patung pengantin pepadun, dua patung pengantin sai batin, dua patung Radin Inten II, dan— sebetulnya ada dua sebelum dirobohkan yang di Kalianda, Lampung Selatan—Patung Zainal Abidin Pagaralam.

"Denger-dengar pemda memang punya program patungisasi kota. Setiap jalan, setiap perempatan harus ada patung sesuai dengan nama jalannya. Yang sudah nyata, di perempatan Jalan Zainal Abidin Pagaralam ada patung Zainal Abidin, di Jalan Radin Inten ada patung Radin Inten," kata Udien.

"Waw, fantastik!" seru Minan Tunja.

"Dan julukan kota pun berganti menjadi Kota Berhala," sungut Pithagiras.

"Masa sih tidak mau belajar dari pengalaman," sambung Pinyut.

"Iya, pemerintah enggak pernah baca sastra sih," kata Mamak Kenut.

"Lo, apa hubungannya?" sahut Radin Mak Iwoh.

"Dengar dulu kisah ini. Pernah baca cerpen Pangeran Bahagia karya Oscar Wilde?"

DICERITAKEN... (kalau ini teringat gaya bahasa Pak Harto di zaman Orde Baru!), tentang sebuah patung emas yang menghiasi sebuah kota. Patung Emas tersebut diberi nama Pangeran Bahagia. Pangeran Bahagia adalah patung yang disayangi oleh seluruh warga. Suatu waktu seekor burung pipit hinggap di pundak Pangeran Bahagia. Burung pipit tersebut terkejut karena melihat pangeran bahagia sedang menangis. Ternyata Pangeran Bahagia sebenarnya sama sekali tidak bahagia. Dia bisa melihat penderitaan warga kotanya di mana-mana. Pangeran Bahagia dan Burung pipit kemudian bekerja sama untuk meringankan penderitaan rakyat miskin yang ada di kota tersebut.

Yah, pengorbanan. Burung pipit yang kelewat capai mengopel sebongkah demi sebongkah lapisan emas Pangeran Bahagia untuk dibagikan kepada satu per satu kaum duafa, akhirnya jatuh dan mati di kaki sang patung. Lalu, Patung Pangeran Bahagia pun dirobohkan beramai-ramai oleh warga dan pemimpin kota karena tak lagi indah dan bau bangkai.

BAGAIMANAKAH kisah selanjutnya? Ibarat nonton OvJ, sang dalang Parto pun berkata, "Kita lihat di TKP..."


Lampung Post, Jumat 1 Juni 2012

Friday, March 16, 2012

Kembali pada Nilai

Oleh Udo Z. Karzi


CELAKALAH kita yang kelewat pragmatis, malas berpikir, dan ingin serbainstan. Mentalitas menerabas dan tak menghargai mutu membuat kita cenderung bertindak dengan mengabaikan nilai. Plagiarisme yang marak dalam tradisi ilmu pengetahuan, seni, dan sastra menunjukkan betapa kita sangat tidak menghargai nilai.

Nilai tidak lahir dengan cepat, tetapi butuh waktu untuk identifikasi dan menanamkannya menjadi keyakinan-keyakinan. Nilai-nilai pribadi berubah sepanjang waktu. Nilai-nilai tersebut berkembang, berubah, dan secara tetap beralih menuju sebuah kumpulan menjaga nilai-nilai yang telah mapan sebelumnya dan menambahkan nilai-nilai baru.

Sebelum sebuah organisasi dapat berkembang dan mengartikulasikan norma dan nilai para anggota kelompoknya, individu-individu harus berpikir dan menghabiskan waktu yang cukup untuk menentukan nilai-nilai personal.

Berbicara nilai memang tidak lepas dari tradisi berpikir. Ilmu tentang nilai-nilai biasa disebut filsafat. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya "keberhargaan" (worth) atau "kebaikan" (goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian (Frankena).

Dalam Dictionary of Sociology an Related Sciences dikemukakan nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik nikmat seseorang atau kelompok (the believed capacity of any object to satisfy a human desire). Jadi, nilai itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek.

Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan. Keputusan itu merupakan keputusan nilai yang dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah.

Keputusan nilai yang dilakukan oleh subjek penilai tentu berhubungan dengan unsur-unsur yang ada pada manusia sebagai subjek penilai, yaitu unsur-unsur jasmani, akal, rasa, karsa (kehendak), dan kepercayaan. Sesuatu itu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu ideal, berharga, berguna, benar, indah, dan sebagainya.

Kembalilah kepada ajaran nilai. Tapi, alangkah sialnya karena di negeri ini yang bernama nilai dengan gampang diplagiat, dipalsukan, dan dikotori. Masalahnya, kebanyakan kita menghabiskan waktu pada aktivitas yang merampok, bukannya memperkaya kehidupan kita. Akibatnya, nilai yang kita perjuangan kan jauh dari sesuatu yang bermakna, ideal, berharga, berguna, benar, dan indah itu. Ya, nilai yang kita perjuangkan adalah nilai-nilai kesia-siaan.


Lampung Post
, Jumat, 16 Maret 2012

Monday, February 27, 2012

Ingatan Sosial

Oleh Udo Z. Karzi


"INGAT saya," kata Raja Hamlet kepada anaknya. "Beritahukan cerita saya. Bawa memori saya, warisan saya, legitimasi saya, ke generasi berikutnya, untuk umatku, untuk anak-anak, dan cucu."

Demikianlah, ingatan pada mulanya bukan merupakan sebuah tindakan, melainkan sejenis pengetahuan semisal persepsi, imajinasi, dan pemahaman. Ingatan memunculkan pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, atau kelaluan dari peristiwa-peristiwa masa lalu.

Paul Ricoeur (1999) mengatakan ingatan memiliki dua jenis hubungan dengan masa lalu. Pertama, relasi pengetahuan dan kedua, relasi tindakan. Kedua relasi ini muncul karena mengingat merupakan jalan untuk melakukan segala hal, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan pikiran kita. Dalam mengingat atau mengenang kita menggunakan ingatan kita, yang merupakan sejenis tindakan. Justru karena ingatan merupakan sebuah exercise, kita dapat berbicara tentang penggunaan ingatan, yang pada gilirannya memungkinkan kita berbicara tentang penyalahgunaan ingatan. Persoalan-persoalan etis akan muncul begitu kita mulai merefleksikan hubungan antara penggunaan dan penyalahgunaan ingatan ini.

Di sinilah pentingnya sejarah ditulis sebagai bahan ingatan sosial. Tersebab itu pulalah Bung Karno mewanti-wanti: "Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah." Sayangnya, perhatian terhadap penulisan sejarah sebagai sebuah rememoration masih kurang mendapat perhatian, baik dari sarjana Indonesia maupun sarjana luar negeri yang concern dengan persoalan-persoalan politik, sosial, ekonomi, dan budaya di Indonesia. Lebih-lebih masih ada kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang enggan mengakui kebenaran sejarah masa lalu, baik karena gengsi kekuasaan maupun karena merasa kepentingannya terancam.

Jika demikian halnya, sejarah sebagai rememoration akan mencatat bagaimana usaha menempatkan masa lalu pada tempatnya selalu menemukan hambatan. Masa lalu masih menjadi medan pertarungan antara mereka yang ingin menjadikannya sebagai sejarah, dalam arti masa lalu yang telah berlalu, dan mereka yang ingin memeliharanya sebagai hantu. Mereka yang memelihara masa lalu sebagai hantu jelas tidak akan pernah belajar apa pun dari masa lalu. Mereka telah menjadi "sandera dari masa lalu yang mereka bakukan sendiri" (Trouillot, 1995).

Padahal, seharusnya setiap orang bisa belajar dari masa lalu. Dalam kaitannya dengan kekerasan masa lalu misalnya, baik pelaku maupun korban bisa mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa kekerasan. Bagi pelaku, mengingat penderitaan korban di masa lalu merupakan tanggung jawab etis yang harus dia lakukan agar kejahatan serupa tidak terulang lagi. Lebih dari itu, ingatan akan penderitaan korban ini pun harus disampaikan kepada anak cucunya sedemikian rupa sehingga dapat meminimalkan kemungkinan munculnya korban-korban potensial dan pelaku- pelaku potensial atas kejahatan dan kekerasan yang sama.

Bagi korban, ingatan akan kekerasan di masa lalu dapat menjadi referensi untuk meminta pertanggungjawaban terhadap pelaku sebagai upaya rehabilitasi atas penderitaan yang selama ini ditanggungnya. Dengan demikian, hak-hak korban sebagai manusia dan warga negara diharapkan dapat dipulihkan dan proses hukum yang berlaku harus ditetapkan dilaksanakan agar para korban mendapatkan rasa keadilan dan perlindungan yang semestinya dia dapatkan sebagai warga negara merdeka.

Lampung Post, Senin, 27 Februari 2012

Friday, February 10, 2012

Kala Mahasiswa Mulai Memberi Sesuatu...

Cerita tentang Ari Darmastuti


Oleh Udo Z. Karzi


"KETIKA mahasiswa mulai memberi sesuatu, itulah korupsi. Budaya gratifikasi itu, kan, dimulai di kampus. Ketika dia (mahasiswa) menjadi pengusaha atau jadi pejabat, itu, kan pengin dikasih sesuatu," kata Asep Iwan Setiawan, mantan hakim yang memilih mengakhiri kariernya pada 2006. Ia mengaku kecewa dengan komitmen antikorupsi petinggi-petinggi Mahkamah Agung. Kini, ia dosen di lima fakutas hukum sejumlah universitas di Jakarta dan Bandung.

Membaca artikel ini di Kompas, Senin, 6 Februari 2012, saya lantas teringat sebuah perbincangan di ruang dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Unila suatu kali.

Di tengah obrolan, seorang dosen muda mempersilakan saya mencicipi kue. "Ini dicoba kuenya. Nggak apa, ini kue Bu Ari (Ari Darmastuti)," kata sang dosen.

Brownies! Jelas saya agak enggan mencomotnya. Ini makanan cukup mewah juga bagi saya. Apalagi belum ada yang memotongnya.

Bu Ari masuk ke ruangan. Dia pun menyodorkan brownies dan mempersilakan saya menyantap kue itu sembari berkata, "Mahasiswa sekarang ini... sok borju. Baru seminar I saja sudah kasih-kasih..."

"Memangnya kalau tidak kasih sesuatu, mahasiswa tidak saya kasih nilai atau tidak saya luluskan...," tambah Ari.

Ooh, jadi brownies tadi pemberian mahasiswa rupanya. Kaget juga teringat dulu saya ketika mahasiswa seminar I, seminar II, ujian skripsi tak sepotong pemberian pun saya berikan kepada dosen pembimbing I, pembimbing II, dan penguji utama.

(Ah, dalam kesempatan ini, barangkali, tidak ada salahnya saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dian Komarsyah, Bapak A. Effendi, dan Bapak Yulianto yang memberi saya nilai A... untuk skripsi. Ya, untuk skripsi saja. Kalau nilai mata kuliah yang lain... we hehee....)

Cerita ini sebenarnya tentang seorang Ari Darmastuti. Bu Ari, demikian dia disapa, tanpa tendensi apa-apa, setidaknya memperlihatkan kepada saya sebuah contoh bagaimana seharusnya komitmen -dijalankan. Tentu saja dalam kapasitas Bu Ari sebagai dosen.

Senin, 8 Februari 2012, Panitia Seleksi KPU dan Panwaslu meloloskan Ari Darmastuti sebagai salah satu dari 30 calon anggota KPU yang lulus pada tahan kedua. Dia juga satu dari lima perempuan yang lulus calon anggota KPU.

"Saya tidak akan melompat ke partai politik jika terpilih sebagai anggota KPU Pusat. Saya akan terus menjaga independensi. Sebab, hanya dengan independensi KPU persaingan partai politik dalam kancah pemilu bisa berlangsung secara sehat," kata Ari (Lampung Post, 7 Februari 2012).

Ari mengatakan sejak awal maju mencalonkan diri sebagai anggota KPU, dukungan teman-teman, sahabat, dan kerabat khususnya, juga masyarakat Lampung pada umumnya sangat besar. Sebab, sejak mendaftar dia merasa semua yang dia lakukan bukan demi diri sendiri, tetapi demi banyak orang, masyarakat Lampung khususnya dan Indonesia umumnya.

Dengan komitmen yang jelas dan kuat untuk menyukseskan Pemilu 2014, kita penuh harap Ari Darmastuti bisa melaju ke tahap selanjutnya dan menjadi komisioner. Sukses Bu Ari. Semoga.

Lampung Post, Jumat, 10 Februari 2012

Monday, January 30, 2012

Frustrasi Sosial

Oleh Udo Z. Karzi


RENTETAN kekerasan dan amuk massa terjadi dalam pekan-pekan ini, mulai dari kasus Mesuji di Lampung dan Sumatera Selatan, Sidomulyo di Lampung Selatan, Gedungaji di Tulangbawang, Lampung, Bima di NTB, area pertambangan PT Freeport di Papua, hingga aksi blokir tol buruh di Bekasi.

Lalu, kekerasan semakin merajalela. Di Jakarta terjadi pemerkosaan di angkutan kota dan tawur antarkampung, di Semarang beberapa polisi menghajar anak sekolah, dan di Tugumuda delapan pemuda tiba-tiba mengamuk melukai beberapa orang. Bali yang menjadi daerah tujuan wisata favorit juga tak lepas dari tawur antarkampung. Beberapa kota yang selama ini terkenal sebagai daerah yang tenang dan nyaman sekarang ini dihantui berbagai macam tindak kekerasan.

Tradisi tawuran antarkampung mulai meluas dan menular ke barbagai daerah. Beberapa daerah yang tadinya aman tenteram tiba-tiba menyeruak dalam pemberitaan; terjadi kerusuhan. Bentrokan dan kericuhan yang melibatkan warga dan warga, warga dan aparat, serta warga dan pengamanan perusahaan semakin sering terjadi dan meluas eskalasinya.

Ada apa? Dari sisi ekonomi, ternyata pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir elite. Sebaliknya, kehidupan rakyat umumnya semakin sulit karena tidak mendapatkan akses dari pertumbuhan ekonomi itu. Kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial boleh jadi menjadi bahan bakar terjadinya amuk. Ketidakmampuan aparat hukum memberikan keadilan yang substantif dan ketiadaan keteladanan dari elite politik juga semakin menumbuhkan rasa ketidakpercayaan publik kepada penegakan hukum dan pemimpin. Terjadilah frustrasi sosial yang memuncak.

Tidak gampang menyalahkan masyarakat atau mengutuk aparat yang tidak becus mencegah terjadi kekerasan atau kerusuhan. Upaya penegakan hukum jelas memang sangat diperlukan. Namun, tidak cukup hanya itu, sebab akar masalahnya adalah frustrasi sosial yang meluas.

Frustrasi sosial yang melanda sebagian rakyat itu juga disebabkan menurunnya kualitas pendidikan kemanusiaan, baik di keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.

Ya, frustrasi sosiallah yang menyuburkan kekerasan, bahkan terorisme. Disadari atau tidak, mereka memanifestasikan rasa frustrasinya itu dengan cara-cara yang emosional. Misalnya merusak, membakar, melempar, memukul, bentrok antarpelajar, bentrok antarmahasiswa, bentrok antardesa, bentrok antarkelompok, bentrok antara masyarakat dan aparat penegak hukum, bentrok antara masyarakat dan pamswakarsa perusahaan, dan sebagainya.

Jelas, faktor sosial ekonomi tak bisa diabaikan dalam penanggulangan frustrasi sosial yang dapat memicu kekerasan massa. Perbaikan sosial ekonomi masyarakat tidak boleh hanya sebatas konsep dan wacana di kalangan elite pemerintahan maupun politisi, tetapi harus dirumuskan dalam bentuk tindakan yang dapat diterapkan di lapangan.


Lampung Post, Senin, 30 Januari 2012

Monday, January 2, 2012

Semangat!

Oleh Udo Z. Karzi


Kamu kaum revolusioner!
Kelak rakyat keturunanmu dan angin kemerdekaan akan berbisik-bisik dengan bunga-bungaan di atas kuburanmu: "Di sini bersemayam semangat revolusioner." (Tan Malaka, Semangat Muda, 1926)

BETAPA menggetarkan gelora perlawanan Tan Malaka. Ted Sprague yang mengeditori buku ini menulis: "Semangat Muda, yang ditulis pada tahun 1926, mengandung buah pemikiran Tan Malaka tentang bagaimana menjalankan organisasi revolusioner sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu...."

Dan, kita pun memasuki tahun baru 2012. Terasa betapa basinya ucapan atau slogan "tahun baru, semangat baru"... Sebab, tahun demi tahun kita sesungguhnya terlalu sedikit melakukan—untuk mengatakan tidak ada— yang "sesuatu banget".

"Resolusi yang paling sederhana memasuki tahun baru adalah memperbarui semangat Anda! Mengapa ini sangat penting? Sebab, terkadang kita mengalami hari-hari ketika kita merasa sangat malas, bosan, lunglai dan tidak bersemangat sama sekali. Ini wajar. Yang tak wajar adalah ketika kita enggan untuk mengubah keadaan dan meningkatkan semangat dan optimisme hidup."

Pesan nenek-nenek ini juga terasa gombal. Hehee...

Menjelang malam tahun baru, apa yang dilakukan orang kebanyakan? Boro-boro resolusi yang dilakukan, yang jelas... mempersiapkan perayaan malam pergantian tahun.

"Bagusnya sih merayakan iya, tetapi bersamaan dengan itu membulatkan tekad, mematangkan rencana-rencana, dan memasang target hidup akan lebih baik," kata Minan Tunja.

"Capek, petuah-petuah mulu," sahut Mat Puhit.

***

Eh, tapi ini serius. Semangat adalah pertanda kehidupan. Tanpa semangat, matilah kita. Karena semangat, bahagialah kita. Antusiasme akan memberi gelombang positif dalam segala hal. Mana ada perubahan kalau tak ada semangat. Semangatlah yang bisa menghadapi tantangan.

Energi semangat yang kita miliki bisa jadi akan menular dan mengilhami banyak orang.
Sebuah bus penuh tak berarti apa-apa karena penumpangnya hampir selalu asyik dengan diri masing-masing.

Ini kata motivator: "Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat. Satu semangat Anda, optimisme bahwa Indonesia akan lebih maju lagi di tahun 2012."

Biar gombal nggak apa. Yang penting: semangat!


Lampung Post, Senin, 2 Januari 2012