Thursday, February 21, 2019

Cinta Gila!

Oleh Udo Z Karzi


MASIH soal salah paham bahasa Lampung, tadi pagi ada sedikit diskusi dengan seorang teman dari Liwa.

Dari dialog itu, muncullah kalimat tanya ini: "Api cintamu gila?"

Tiga kosakata bahasa Lampung dalam kalimat di atas: "api", "cinta" dan "gila" jangan dicarikan dalam kamus bahasa Indonesia.
Sebab, dalam bahasa Lampung
api: apa
cinta: mau, ingin, hasrat
gila: kata penegas saja seperti sih, dong, dll dalam bahasa Indonesia

"Api cintamu gila?" Artinya, kurang-lebih, "apa maumu sih?"

Kalau begitu, jangan terlalu serius dengan "cinta" karena, dalam konteks bahasa Lampung, "cinta" bukan sesuatu yang sakral, yang memerlukan upacara khusus untuk menyatakannya.

Sementara "gila", bukan pula kata yang berbahaya, yang membuat orang harus marah. Dibilang "gila" kita sih asyik-asyik aja! Hehee...

"Lamon ga cinta" (terlalu banyak maunya) tidak pula bagus. Apalagi kalau sadar tidak mudah memenuhi keinginan-keinginan itu! Yang benar memperlakukan "cinta" itu dalam batas-batas wajar agar kita tak disangka "nafsu besar tenaga kurang".

Tapi, jangan "mak ngedok tenyinta gila" (tidak punya keinginan) pula. Sebab, kalau itu sih, bikin kita malas makan, malas sekolah, malas mengaji, ... bahkan, malas hidup. Itu yang namanya "Sekula mak haga, ngaji mak haga, ... haga jadi api? (Sekolah tak mau, mengaji ogah,... mau jadi apa?)"

***

By the way... (Waduh, ini kalau diartikan dalam bahasa Lampung juga jadi masalah. Hehee... Ulun Lampung mesti menyebutnya "bai dewai" yang bermakna "perempuan pergi ke pangkalan mandi". Hahaa...), mari kita memuliakan bahasa Lampung.

Ulun Lampung mestinya ikut merayakan bahasa Lampung -- lengkap dengan dengan sistem aksaranya yang disebut 'had Lampung" -- yang insya Allah akan tetap lestari hingga akhir zaman.

Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari! Tabik. []


Fajar Sumatera, Kamis, 21 Februari 2019

Tuesday, February 5, 2019

Penulis Bekas

Oleh Udo Z Karzi


AKHIRNYA, saya harus mengakui bahwa saya ini penulis bekas. Kalau ada yang meminta puisi atau cerpen terbaru, saya menyerah.

Saya bilang, "Dah gak bisa lagi bikin puisi atau cerpen."

Diam-diam ya diam-diam, saya juga tidak memublikasikan karya ke media massa.

"Gak pede," saya berkilah. Pedahal memang tak mampu.😛😀

Belakangan ini, saya lebih suka membaca-baca karya sastra, seni-budaya pada umumnya, sesekali ilmu agama dan pelitik. Dan, lebih sering update status. Hihii...

Upf, jangan salah ya, update status ini, berkaitan langsung dengan kualitas dan kuantitas karya ya. Catet itu!

Maka, jadilah saya penulis bekas. Kebetulan saja pernah menulis puisi, cerpen, novel, esai...

Penulis bekas. Sebab, buku yang saya tulis segera menjadi buku bekas, majalah yang memuat tulisan saya tak lama kemudian menjadi majalah bekas, koran tempat tulisan saya itu dalam waktu singkat menjadi koran bekas, dan tentu saja tulisan-tulisan saya itu menjadi tulisan bekas.

Puisi saya puisi bekas, cerpen saya cerpen bekas, novel saya novel bekas, esai saya esai bekas....

Ya, saya penulis bekas.

Tabik.🙏🙏🙏


Selasa, 5 Februari 2019