Wednesday, December 23, 2015

Bahaya Terlalu Serius

Oleh Udo Z Karzi


ENTAHLAH, hingga hari ini saya tak pernah bisa menuliskan moto hidup. Apalagi, merumuskan tujuan hidup.

Seingat saya, sedari kecil saya barangkali paling susah menentukan apa yang saya inginkan, apa yang saya harapkan, apa saya impikan, apa yang saya cita-citakan...

"Sekula mak haga, ngaji mak haga, mau jadi apa coba?"

Entahlah, sampai usia 16 tahun saya masih menulis begini:
bejuta hanipi ngeringkol dilom hati:
"jadikon hurikmu ngedok reti
jama niku, ulun tuhamu, rikmu
jama sapa riya!"

Ada banyak hal -- keluarga, adat, agama, sekolah, perguruan tinggi, buku-buku, sastra, filsafat, televisi, termasuk Mario Teguh (?)... -- yang sebenarnya bisa membantu bikin pernyataan tentang tujuan hidup.
Ingin bahagia, dunia akhirat. Itu cita-cita tertinggi, tetapi selalu saja ada kalanya saya dilanda rasa sedih, frustasi, merasa sendirian, dan seterusnya.... Kali aja masih takut masuk neraka.

Ingin memberi arti, bermakna buat orang lain. Ah, saya merasa tidak selalu niat baik itu menjadi baik untuk orang lain. Enggak, enggak pula saya hendak menuduh orang SMOS (senang melihat orang sengsara dan sengsara melihat orang senang). Toh, curiga-mencurigai memang adalah sesuatu yang lumrah saja. Jadi, ya biasa aja.

Ingin bikin sesuatu yang abadi, yang menyejarah, yang patut dikenang orang banyak. Ahai, ngeri kali. Saya hanya melakukan hal-hal biasa saja, kadang cuma iseng-iseng tanpa tahu apa guna dan apa maksud yang saya kerjakan.

Paling-paling cuma ingin agar hidup tak terlalu sia-sia. Tapi, kalau begini ntar dituduh fatalis pula. Berbuat, bekerja seadanya. Itu lebih buruk dari realistis, pragmatis, dan serbapraktis.
Ah, hidup... Terlalu berbahaya kalau terlalu serius. Tapi, lebih bahaya lagi kalau nggak pernah serius.

***

“Ai, sedang galau ya?”

Nggak cuma lagi iseng aja dengar curhatan seseorang yang lagi galau.”

“Ini kok nggak kayak biasanya?”

“Saya sedang biasa saja kok. Ini sebenarnya nasehat kepada seseorang atau beberapa orang yang lagi dilanda duka. Saya cuma gak tega mengganti ‘saya’ dengan ‘kamu’ dan ‘dia’. Kalau diganti ‘kita’, nanti ada pula yang ngeletuk: ‘Kitaa? Lu aja kali, gua kagak!’ Hehee…”

Bisa juga refleksi menjelang tutup tahun. Tapi, pesannya jelas kok: Jangan kapok menjadi orang baik dan terus menebar kebajikan. n


Fajar Sumatera, Rabu, 23 Desember 2015



Thursday, December 17, 2015

Membangun Peradaban

Oleh Udo Z Karzi


KALAU kita lihat ada pengulangan perintah membaca dalam wahyu Allah pertama ini. Pengulangan ini menunjukkan kepada kita bahwa kecakapan membaca akan diperoleh dengan mengulang-ulangi bacaan atau membaca sampai batas maksimal kemampuan. Lebih dari itu, wahyu pertama ini mengisyaratkan bahwa
mengulang-ulangi bacaan dengan bismirabbika (atas nama Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, meskipun yang dibaca hal yang sama. Mengulang-ulang membaca tentunya akan menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, menambah kakayaan jiwa, dan kesejahteraan batin. Berulang-ulang 'membaca' alam raya, membuka tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.

Iqra' pun  kembali diulang pada ayat yang ketiga dan digandengkan dengan 'warabbukal akram'. 'warabbukal akram' mengandung pengertian bahwa Dia (Allah) swt. dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi segala hambanya yang membaca.

Lalu, pada ayat keempat dilanjutkan dengan kata-kata 'Dia (Allah) swt. Dzat yang mengajari dengan (perantara) qalam'. Kata qalam tidak bisa dipahami secara sempit, tetapi harus dilihat secara lebih luas sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih. Qalam juga bukan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan. Sebab, Allah memiliki kuasa untuk memberikan pengetahuan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui, baik lewat wahyu, ilham, karamah, intuisi, dan sebagainya.

***

Membaca memiliki proses timbal balik antara individu secara total dan informasi yang dibaca. Seseorang yang membaca akan memperoleh pengetahuan (ilmu). Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Membaca tidak sekadar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Untuk bisa membaca, manusia dibekali dengan beberapa instrumen. Pertama, pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada di lingkungan sekelilingnya. Kedua, akal, yang berfungsi pada tataran rasionalitas untuk kemampuan mengumpul data, menganalisis, mengolah, dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra. Ketiga, kalbu, yang menjadi penyelaras akal.

Iqra dapat berarti bacalah, telitilah, dalamilah, bacalah alam, tanda-tanda zaman. Kita membaca dan mentafakuri suatu objek dengan akal dan kalbu kita. Dengan kemampuan iqra, kita bisa menciptakan kemaslahatan di muka bumi. Teknologi canggih di zaman sekarang merupakan bukti keberhasilan manusia iqra dengan menggunakan akalnya. Akan tetapi terkadang kita gagal meng-iqra-kan sesuatu dengan qalbu kita. Kita harus bisa menyelaraskan iqra dengan menggunakan akal dan kalbu.

***

Jika demikian, perintah membaca adalah perintah yang paling berharga bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Sebab, membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna.

"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi" (Q.S. Al-Mujadilah: 11). Benar geh, membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban. Semakin luas pembacaan semakin tinggi peradaban, begitu pula sebaliknya. Tak ayal upaya menggalakkan budaya membaca menjadi urgen. Bolehlah kita sebut manusia sebagai makhluk membaca, selain makhluk sosial, makhluk berpikir, dan lain-lain.

Ada dua periode dalam kehidupan manusia di dunia, yaitu sebelum penemuan tulis-baca (prasejarah) dan 'priode sesudahnya' (sejarah) sekitar lima ribu tahun yang lalu. Penemuan tulis-baca membuat  peradaban manusia tidak lagi lamban, jalan merambat jalan, dan merangkak-rangkak, tetapi telah telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaris sampai peradaban Amerika masa kini. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh generasi yang lalu dan dapat dibaca oleh generasi yang kemudian. Manusia tidak lagi memulai dari titik nol, berkat kemampuan tulis-baca itu.

Kejayaan peradaban Romawi, peradaban Islam, peradaban Eropa saat ini tentunya semua dibangun dari tradisi membaca dan menulis. Beribu-ribu karya intelektual dan penemuan-penemuan yang original yang muncul pada zamannya. Intelektual bukanlah komunitas manusia yang hanya bergelut dengan tulis menulis, tetapi lewat berbagai macam eksperimentasi sehingga melahirkan suatu teori baru, begitu seterusnya hingga kini. 

Dengan ilmu yang yang diberikan Allah swt, Adam (manusia) memiliki kelebihan dari malaikat, yang tadinya meragukan kemampuan manusia untuk membangun peradaban. Dengan ibadah yang didasari ilmu yang benar, manusia menduduki tempat terhormat, sejajar, bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Ilmu, baik yang kasby (acquired knowledge) maupun yang ladunny (abadi, perennial), tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira'at - bacaan dalam arti yang luas.

Jadi, jelas kok membaca -- menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak -- menjadi syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia dalam membangun kemanusiaan dan peradabannya.


Fajar Sumatera, Kamis, 17 Desember 2015

Wednesday, December 16, 2015

Membaca

Oleh  Udo Z Karzi


SUDAH jelas, manusia khalifah di muka bumi ini. Sebagai modal jadi khalifah, manusia dikasih akal. Dengan akal ini, manusia bisa mengembangkan potensi diri dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial. Karena punya akal -- dan juga nurani -- manusia bakal diminta pertanggungjawaban atas semua usaha yang pernah ia lakukan kelak di hadapan Sang Khalik. 

Itu sudah. Terus dibilangin,  secara naluri dalam fitrahnya, manusia adalah makhluk yang memiliki couricity (rasa ingin tahu) yang sangat tinggi. Semua orang, tua-muda, laki-laki--perempuan, kecil-dewasa akan berusaha mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya. Tidak aneh semua anak kecil waktu melihat atau mendengar sesuatu yang asing, pasti akan bertanya kepada orangtua atau orang dekatnya. Itu instingtif ingin tahu anak-anak.

Boleh dikatakan, pada dasarnya memang semua manusia telah 'membaca' dalam arti luas. Namun, belum terstruktur sebagai upaya untuk menghimpun pengetahuan dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial.

***

Di sinilah letak urgensi membaca. Dalam konsep Islam, sangat jelas tentang perintah membaca ini. Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi saw adalah Iqra' atau 'membaca'.

Secara etimologis Iqra' diambil dari akar kata qara'a yang berarti 'menghimpun', sehingga tidak selalu harus diartikan 'membaca sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu'. Selain bermakna 'menghimpun', kata qara'a juga memiliki sekumpulan makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah" (Q.S. Al "Alaq).

Apa yang harus dibaca? Allah Allah menghendaki kita, umat Muhammad, membaca apa saja, selama membaca tersebut dilandasi bismirabbika (atas nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemaslahatan
sosial. Bermanfaat bagi kemaslahatan sosial ini  menjadi syarat karena pembaca dituntut bukan
sekadar membaca dengan ikhlas, melainkan juga mampu memilih bahan-bahan bacaan.

Kalau begitu iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra' mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.

***

Benarlah, betapa berharganya perintah membaca. 'Membaca' dalam aneka maknanya adalah
syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, syaratutama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab
Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban Islam lahir dengan kehadiran Alquran.

***

Itu sudah. Sekarang, apa yang dibaca? Ya, makanya harus ada yang menulis dong!


Fajar Sumatera, Rabu, 16 Desember 2015




Tuesday, December 1, 2015

Jangan Percaya Kontrak Politik

Oleh Udo Z Karzi


MASYARAKAT sebagai pihak yang menyerahkan hak-hak mereka, tidak mempunyai hak lagi untuk menarik kembali atau menuntut atau mempertanyakan kedaulatan penguasa, karena pada prinsipnya penyerahan total kewenangan itu adalah pilihan paling masuk akal dari upaya mereka untuk lepas dari kondisi perang-satu-dengan-lainnya yang mengancam hidup mereka. Di lain pihak, pemegang kedaulatan mempunyai seluruh hak untuk memerintah dan menjaga keselamatan yang diperintah itu. Pemegang kedaulatan tidak bisa digugat, karena pemegang kedaulatan itu tidak terikat kontrak dengan masyarakat. Jelasnya, yang mengadakan kontrak adalah masyarakat sendiri, sehingga istilahnya adalah kontrak sosial, bukan kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah.

Seperti halnya Hobbes, Locke juga menjelaskan tentang upaya untuk lepas dari kondisi yang tidak aman penuh menuju kondisi aman secara penuh. Manusia menciptakan kondisi artifisial (buatan) dengan cara mengadakan kontrak sosial. Setiap anggota masyarakat tidak menyerahkan sepenuhnya semua hak-haknya, akan tetapi hanya sebagian saja. Antara pihak (calon) pemegang pemerintahan dan masyarakat tidak hanya hubungan kontraktual, akan tetapi juga hubungan saling kepercayaan (fiduciary trust).

Namun, berbeda dengan Hobbes, Locke menyatakan sumber kewenangan dan pemegang kewenangan dalam teori Locke tetaplah masyarakat. Oleh karena itu kewajiban dan kepatuhan politik masyarakat kepada pemerintah hanya berlangsung selama pemerintah masih dipercaya. Apabila hubungan kepercayaan (fiduciary trust) putus, pemerintah tidak mempunyai dasar untuk memaksakan kewenangannya, karena hubungan kepercayaan maupun kontraktual sifatnya adalah sepihak. Kesimpulan demikian ini tentu amat bertolak belakang dari kesimpulan yang dihasilkan oleh Hobbes.

Seperti halnya Hobbes dan Locke, Rousseau memulai analisisnya dengan kodrat manusia. Pada dasarnya manusia itu sama. Pada kondisi alamiah antara manusia yang satu dengan manusia yang lain tidaklah terjadi perkelahian. Justru pada kondisi alamiah ini manusia saling bersatu dan bekerjasama. Kenyataan itu disebabkan oleh situasi manusia yang lemah dalam menghadapi alam yang buas. Masing-masing menjaga diri dan berusaha menghadapi tantangan alam. Untuk itu mereka perlu saling menolong, maka terbentuklah organisasi sosial yang memungkinkan manusia bisa mengimbangi alam.

Walaupun pada prinsipnya manusia itu sama, tetapi alam, fisik dan moral menciptakan ketidaksamaan. Muncul hak-hak istimewa yang dimiliki oleh beberapa orang tertentu karena mereka ini lebih kaya, lebih dihormati, lebih berkuasa, dan sebagainya. Organisasi sosial dipakai oleh yang punya hak-hak istimewa tersebut untuk menambah power dan menekan yang lain. Pada gilirannya, kecenderungan itu menjurus ke kekuasaan tunggal.

Untuk menghindar dari kondisi yang punya hak-hak istimewa menekan orang lain yang menyebabkan ketidaktoleranan (intolerable) dan tidak stabil, masyarakat mengadakan kontrak sosial, yang dibentuk oleh kehendak bebas dari semua (the free will of all), untuk memantapkan keadilan dan pemenuhan moralitas tertinggi. Namun, kemudian Rousseau mengedepankan konsep tentang kehendak umum (volonte generale) untuk dibedakan dari hanya kehendak semua (omnes ut singuli). Kehendak bebas dari semua tidak harus tercipta oleh jumlah orang yang berkehendak (the quantity of the ‘subjects’), tetapi harus tercipta oleh kualitas kehendaknya (the quality of the ‘object’ sought).

Jadi, jangan percaya kontrak politik. Cukup dengan mengawal pilkada (demokrasi) berjalan baik dan berkualitas. Sebab, dalam pemilu atau pilkada itulah terjadi kontrak sosial antara masyarakat dan calon yang dipilih. Begitu. n


Fajar Sumatera, Selasa, 1 Desember 2015

Monday, November 23, 2015

Mati Bangik!

: Dari Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra SMAN 1 Sukau, Lampung Barat


Oleh Udo Z. Karzi


Tari Tanggai dari siswa SMAN 1 Sukau, Lampung Barat.
SEBENARNYA saya sudah kirimkan power point untuk diskusi pada Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra memperingati Bulan Bahasa 2015 di SMAN 1 Sukau, Lampung Barat, Jumat, 13 November lalu. Tapi karena keterbatasan sarana, power point dan sejenisnya tidak bisa dipergunakan di Pekon Pagardewa yang berbatasan dengan Desa Kotabatu di Provinsi Sumatera Selatan ini.

"Listrik sering mati di sini," kata Ahmadi Putera Syahpahlewi, seorang guru bahasa Lampung.

Ai, iya juga. Jangankan di perdesaan seperti ini, di Bandar Lampung yang Ibu Kota Provinsi saja, listrik masih byarpet. Dan benar saja, baru berjalan beberapa menit acara di aula SMAN 1 Sukau berlangsung, listrik tiba-tiba mati.

Waduh, kebingungan juga kalau pengeras suara tak berfungsi di ruang seluas ini dengan jumlah peserta yang cukup besar. Untungnya panitia sudah sigap mengantisipasi dengan baterai untuk pengeras suara. Aman, pikir saya.

Rupanya, panitia sudah mempersiapkan segala sesuatunya secara matang. Syukurlah.

Beberapa saat kemudian, acara dibuka tiga siswi yang bertindak sebagai MC. Ada sambutan Kepala SMAN 1 Sukau Eva Oktarina, ada sambutan Kepala UPT Dinas Pendidikan Sukau Masykur yang dilanjutkan membuka acara.

Saya pikir tak perlu saya kutipkan apa dikatakan keduanya. Bisa-bisa saya malah jadi besar kepala atawa gede rasa karena puja-puji keduanya. Hehee... Tapi intinya, kedua menyampaikan pentingnya kemampuan menulis bagi siswa. Karena itu, sebaiknya para peserta hikmat menyimak diskusi.

Sebelumnya, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Di sela-sela seremoni itu ada Tari Tanggai untuk menghormati dan sebagai ucapan selamat datang kepada tamu, pembacaan puisi berbahasa Lampung, dan sebuah lagu asyik; semuanya disajikan siswa SMAN 1 Sukau.

Waw, saya terpana. Sungguh pertunjukan yang memikat.

***

Barulah setelah itu diskusi dimulai. Moderator Ahmadi Putera Syahpahlewi memanggil saya dan penulis Yandigsa untuk tampil di muka.

"Pertanyaan pertama, mengapa menulis dan apa gunanya bagi pelajar," kata Ahmadi memulai diskusi.

Kata saya: "Siapa pun bisa menulis. Apalagi siswa, aktivitas menulis menjadi bagian keseharian yang tidak bisa terhindari. Bisa jadi pada mulanya terpaksa karena tuntutan guru dan tugas-tugas sekolah, tetapi lama-kelamaan menulis menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Seperti berbicara, menulis itu mengungkapkan apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang diingat, apa yang dirasa, apa yang dipikirkan, dan apa-apa yang menjadi bagian dari tugas pancaindera  kita.

Seorang yang terbiasa menulis, bisa pusing jika tidak menggoreskan kata-kata dalam bentuk tulisan. Penulis bisa stres karena kepala dan hatinya penuh dengan berbagai emosi dan pikiran, tetapi tidak bisa ia tuangkan dalam tulisan.

Karena itu, menulislah supaya tidak gila! 

...

Yang penting, bagaimana mentradisikan menulis. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, tentu memerlukan proses belajar yang terus-menerus. Belajar menulis ya menulis itu sendiri. Menulis, menulis, menulis, menulis...

Setelah budaya menulis terbentuk, tinggal perlu ditanyakan: menulis untuk apa, untuk siapa, untuk dikirim ke mana, atau atas penugasan siapa? Maksudnya, tinggal menyesuaikan tulisan  yang kita buat dengan persyaratan yang telah ditetapkan atau kualifikasi tulisan yang diharapkan.

Kalau menulis untuk diri sendiri di catatan harian, ya tak ada aturan, suka-suka yang nulislah. Tapi, kalau untuk ditulis di blog, facebook, twitter, ya minimal nggak malu-maluinlah kalau dibaca orang lain. Eh ya, perhatikan juga etika bermedia sosial.

Tulisan tidak hanya berupa sastra (puisi, cerpen, dan novel) dan karya ilmiah, tetapi bisa juga tulisan jurnalistik seperti reportase dan opini. Tinggal sesuaikan dengan persyaratan tulisan di media yang bersangkutan."

Yandigsa menambahkan: "Menulislah. Karena menulis itu keren. Tidak ada yang tidak enak dalam menulis. Yang nggak enak itu kalau tidak menulis. Media sosial seperti facebook dan twitter  bisa dijadikan sarana untuk berlatih menulis."

***

Sebenarnya, banyak lagi yang kami sampaikan selama hampir tiga jam. Malu juga sih. Soalnya dari awal sampai akhir Bu Kepsek, Pak Kepala UPD, dan beberapa guru setia menongkrongi selama  kami berbicara. Bahkan, sampai ikut mengantar kami makan siang.

Saya dan Yandigsa memang jadi narasumber, tetapi sebenarnya kamilah yang belajar banyak dari diskusi ini. Saya misalnya, menemukan betapa gairah berkreativitas di sekolah ini begitu luar biasa.

"Saya sudah mengumpulkan 200 puisi berbahasa Lampung," kata Ahmadi.

"Di situ juga ada lomba baca puisi," kata Ibu Eva.

Ternyata, daerah perbatasan ini menyimpan bakat-bakat seni dari berbagai cabang. Tinggal bagaimana terus memupuk bibit unggul ini agar menemukan persemaian yang baik dan tetap berkembang.

Ikan nila bakar besar-besar disertai lalapan menjadi menu kami di tepi Danau Ranau seusai salat
Jumat siang itu.

Mati bangik!


Fajar Sumatera, Senin, 23 November 2015

Tuesday, November 10, 2015

Prinsipnya adalah Kepribadian dan Kepribodian...

: In Memoriam Aan S Labuan

Oleh Udo Z. Karzi

Aan S Labuan (ISTIMEWA)
AWAL-AWAL kepenulisan saya semasa SMA paruh akhir 1980-an, saya tak pernah memperhitungkan Harian Lampung Post. Saya lebih suka mengirim puisi, cerpen atau artikel ke media di Ibu Kota Jakarta. Meskipun ketimbang dimuat, lebih banyak yang ditolak redaktur sih.

Bukan ngesok. Tapi, saya relatif terlambat paham ada koran keren bernama Lampung Post (Lampost) di daerah sendiri. Barulah ketika awal-awal kuliah di Universitas Lampung (Unila), saya mulai mencoba-coba mengirim tulisan ke Lampost setelah terpengaruh oleh senior-senior Surat Kabar Mahasiswa Teknokra dan FISIP seperti Eddy Rifai, Maspril Aries,  Budisantoso Budiman, Dadang Ishak Iskandar, S Muryono, Hartono Utomo, dan masih banyak lagi.

Eh, saya tidak hendak bercerita tentang proses kreatif dan riwayat kepenulisan saya, tetapi ingin membuka jalan saja bagaimana akhirnya saya bertemu dengan Aan S Labuan.

"Labuan itu tempat lahir saya. Saya ingin menghormati tempat kelahiran saya," kata Aan Solihan sekali waktu ketika saya tanya dari mana asal kata Labuan yang di belakang namanya. 

***

Jadi, tahun 1990-an Lampost masih hitam putih, terbit enam kali sepekan minus hari Minggu. Hari-hari biasa ada halaman Hiburan. Pada hari Sabtu halaman Hiburan berubah semacam halaman sastra, ada puisi, ada cerpen, ada artikel/esai seni, dan lain-lain.

Boleh juga nih. Saya coba kirim puisi dan cerpen untuk Lembar Sastra itu. Beberapa kali tak dimuat-muat. Dongkol juga. Saya kan sudah biasa menulis di koran Ibu Kota, kok koran daerah sendiri tidak menganggap karya saya.

Penasaran, saya sambangi Lampost yang kala itu masih beralamat di Jalan Ahmad Yani, Durianpayung, Bandar Lampung. Dengan malu-malu saya bicara dengan seseorang yang duduk di belakang meja di dekat pintu masuk redaksi Lampost sambil menunjukkan lembar sastra Lampost, "Mbak, numpang tanya, penanggung jawab halaman ini siapa ya Mbak?"

Si Mbak manis -- saya gak ingat siapa -- nyahut, "O, Bang Aan. Aan S Labuan...."

"Boleh ketemu nggak, Mbak?"

Begitulah, awalnya saya ketemu dengan Aan S Labuan. Saya protes kok karya-karya saya gak dimuat. Saya agak lupa bagaimana cara saya protes. Saya juga tak terlalu memperhatikan apa jawaban Bang Aan atas gugatan saya.

"Bawa karyamu dan langsung kasih ke saya!" kata pria kelahiran Labuan Pandeglang tahun 1963 ini.

Ya, akhirnya beberapa kali saya ke Lampost untuk menyerahkan karya, berdiskusi tentang ide tulisan, bagaimana menulis yang baik, dan... lumayan, bisa ambil honor tulisan. Hehee...

Malah saya saya sempat usulkan sebuah rubrik Sorotan Cerpen untuk menilai cerpen yang dimuat Lampost. Dan, sayalah yang memulai menulis di rubrik ini di bawah judul “Yang Biasa Justru Menarik”. Caelah, jadilah saya “kritikus ecak-ecakan” cerpen di Lampost. (Sedikit menyimpang, untuk redaktur opini Lampost kala itu, saya ingat, antara lain ada Hapsoro Poetro, Fajrun Najah Ahmad, Heri Wardoyo, dan Uten Sutendy.)

***

Pada 1997, saya diterima sebagai reporter magang Harian Tamtama, yang kala itu tergabung dengan Grup Jawa Pos. Dan, e... saya ketemu lagi dengan Bang Aan. Sebagai redaktur Hiburan, ia termasuk yang memberikan pembekalan kepada kami mengenai bagaimana bikin berita dan feature hiburan atau seni.

Setelah praktik menulis, bikin sosok artis lokal, Bang Aan langsung bilang ke saya, "Kamu cocok jadi wartawan hiburan."

Wartawan jenis ini memang menulis untuk membuat orang senang dan terhibur. "Prinsip yang harus dipegang oleh wartawan hiburan adalah 'kepribadian dan kepribodian'. Begitu saja, nggak ribet kok," pesan Bang Aan yang masih selalu saya ingat.

Awal-awal Bang Aan berkata begitu, kami para reporter baru jelas saja ngakak. Tapi, kalau dipikir benar juga. Saya termasuk yang paling semangat menulis profil sosok yang menarik dan inspiratif. Boleh juga dipraktikkan dalam kerja jurnalistik. Hehee...

Tapi, saya tidak lama di Tamtama. Hanya sebulan barangkali.

***

Mei 1998 reformasi. Saya masih jadi guru Ekonomi dan Akuntansi di SMAN dan MAN di kota kelahiran saya, Liwa. Saya masih belum berpikir untuk kembali menekuni dunia kewartawanan. Tapi, ee... saya tergoda juga. Maka, bergabunglah saya dengan Surat Kabar Umum Sumatera Post akhir 1998 dan Sumatera Post pun terbit awal 1999.

Nah, di koran ini saya bertemu lagi dengan Bang Aan.  Pada awalnya, Sumatera Post lahir dengan konsep koran rasa majalah. Ya, mungkin juga jurnalisme sastra atau apalah.

Ah, Aan Solihan alias Aan S Labuan memang jagonya bikin halaman seger. Di awal-awal pembaca Sumatera Post akan dimanja dengan gambar cewek semlohoi hampir sebesar poster center split dengan teks yang puitik mengenai sosok cewek di bawah rubrik "Ck ck ck..." Di sekelilingnya ada berita artis dan feature hiburan lainnya. Ada juga resensi film, buku, dan pertunjukan yang dikerjakan Iswadi Pratama, kadang saya dan Juperta Panji Utama.

Kali ini Bang Aan yang tak lama di Sumatera Post. Ia pindah ke media lain... saya tidak mengikuti secara lengkap riwayat kerja setelah itu. Kabarnya, ia sempat bekerja di Radar Banten, Tegar TV, Haluan Lampung, dan Radio Krakatau, Labuan Pandeglang.

***

Selepas Tegar TV, saya hampir tidak pernah bertemu, kurang komunikasi, dan lebih banyak tidak tahu tentangnya. Tiba-tiba, S. Pujiono (Pujay Ono) menulis "Selamat jalan mas Aan Solihan. Semoga damai di alam sana. Aamiin" di dinding Facebook-nya, Minggu, 8 November 2015 pukul 13.03.

Dari Chita Aulia, anak kedua almarhum saya mendapat informasi, Aan S Labuan menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Labuan Pandeglang, Sabtu, 7 November 2015 pukul 10.15.

"Papah sakit radang tenggorokan. Dari Lampung papah ke Pandeglang udah sakit. Sempet kerja di Radio Krakatau Labuan Pandglang. Tapi cuma tiga hari. Papah gak pernah mengeluh tentang sakitnya," kata Chita.

Chita menuturkan pesan terakhir papahnya, 'Papah mau pergi ke pelosok Chita. Papah mau asingin diri. Papah mau bangun rumah biar anak-anak papah biza pulang kalo lagi pada punya masalah.'

Tapi dua hari sebelum meninggal, Aan tak bisa apa-apa. Ia langsung dibawa ke rumah sakit.

"Saya dari kecil pisah sama papah. Terakhir ketemu 2012. Tapi saya lega. Dari lima anak papah, cuma saya yang dengar suara terakhir papah dari telepon sehari seblum papah meninggal. Papah, bilang papah sayang sama Chita," kenang Chita.

***

Kini, Bang Aan telah menghadap Ilahi. Wartawan muda bisa belajar banyak dari sosok almarhum.

"Tulisan dia (Aan S. Labuan) bagus. Saya salut dengan dia," kata Pemimpin Redaksi Fajar Sumatera Abdullah Al Mas'ud tentang rekannya ini.

"Ya Rab, muliakanlah ia di sisi-Mu," tulis penyair Juperta Panji Utama.

"Kami dulu sama-sama kerja jadi wartawan di Lampost. Papahmu orang baik. Semoga khusnuh khotimah," sambung jurnalis Oyos Saroso H N menanggapi Chita Aulia.

"Masih teringat kerja bareng dan liputan maupun wawancara bersamamu, senyum dan canda seperti tak pernah lepas dari mu kawan...Selamat jalan. Semoga senyum itu juga terus melekat padamu di alam sana. Aamiin YRA," gores wartawan LKBN Antara Budisantoso Budiman.

"Dialah redaktur dan guru yang baik bagi reporter pemula... Dulu dia pakai nama Aan S Labuan. Semoga masuk surga," demikian Himawan Imron.

Selamat jalan, Bang Aan. Engkau contoh wartawan yang baik, yang memang sangat layak ditiru. n



Fajar Sumatera, 10 November 2015

Monday, October 26, 2015

Mamak Kenut Tak Bawa Asap

Oleh Udo Z Karzi


DENGAN sangat pede-nya Mamak Kenut (MK) bilang, "Cuma Lampung yang gak kena asap," seminggu yang lalu di Sawahlunto, Sumatera Barat. 

Ya, selama beberapa hari di kota ini, peserta Pansumnet yang mengikuti Seminar Internasional Kota Pusaka Indonesia Menuju Warisan Dunia dan Workshop Industrial Heritage, 21-24 Oktober; selain menikmati eksotisme alam, bangunan, dan kultural kota, terpaksa harus juga harus merasakan hembusan kabut asap Sumatera yang tak terkecuali menyelimuti wilayah ini.

Semua dibagikan masker untuk mengantisipasi keadaan. Banyak sudah cerita tentang orang-orang yang terkena dampak asap seperti ISPA dan berbagai jenis penyakit lainnya.

***

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sebaran asap dari Sumatera dan Kalimantan semakin meluas sehingga berdasarkan laporan BMKG, pantauan satelit Himawari menunjukkan asap tipis-sedang menutup Laut Jawa dan sebagian Jakarta.

Sebelumnya, asap telah menyebabkan buruknya kualitas udara Filipina, Malaysia, Singapura, dan menimbulkan krisis kabut asap terburuk di Thailand.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat pernyataan resmi badan tersebut mengatakan, ada 10 korban tewas akibat kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, baik lewat dampak langsung maupun tidak langsung.

Dampak langsung adalah korban yang meninggal saat memadamkan api lalu ikut terbakar, sedangkan tidak langsung adalah korban yang sakit akibat asap, atau sebelumnya sudah punya riwayat sakit lalu adanya asap memperparah sakitnya.

Data BNPB juga mencatat ada 503.874 jiwa yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)‎ di 6 provinsi sejak 1 Juli-23 Oktober 2015.

Data terakhir menyebutkan, penderita ISPA terbanyak ada di provinsi Jambi dengan 129.229, lalu di Sumatera Selatan dengan 101.333, di Kalimantan Selatan ada 97.430 penderita ISPA, 80.263 penderita di Riau, 52.142 di Kalimantan Tengah, dan 43.477 di Kalimantan Barat.

***

Waduh, bikin malu saja ni asap. Mamak Kenut pun terpaksa harus meralat ucapannya "Alhamdulillah, saya bisa bernafas lega sepulangnya dari Sawah lunto," saat tiba di Bandara Radin Inten II, Branti, Lampung, Sabtu malam. Ia baru saja mendapat informasi betapa asap telah tiba di Lampung, mulai dari Liwa, Lampung Barat dan Mesuji hingga akhirnya sampai di Kota Tapis Berseri.

Dan warga pun mulai melihat awan yang pekat mewarnai langit dan merasakan pengabnya udara yang berasap.

Tak mau dikirain Mamak Kenut yang bawa asap dari arah utara Sumatera ke Lampung, Mamak Kenut segera bilang, "Bukan saya lo yang bawa asap ke Lampung."

Takut juga Mamak Kenut ditangkap pelisi karena dituduh bikin penyakit. n


Fajar Sumatera, Senin, 26 Oktober 2015

Thursday, October 15, 2015

Udien Belajar Sejarah

Oleh Udo Z. Karzi


SEJARAH ialah kenangan dari tumpuan masa silam, kata Robert V. Daniel. Kenangan yang dimaksud adalah hal-hal yang ditangkap memori manusia terhadap peristiwa yang ia lihat. Apa yang ia lihat dapat menjadi tumpuan dalam mengetahui peristiwa masa lalu. Namun bagaimana pun, kenangan yang ditangkap sangat dibatasi oleh kamampuan manusia dalam mengingat. Kian lama kenangan itu, kian sukar sukar manusia mengingatnya.

Hakikat sejarah, menurut Sartono Kartodirdjo, dibatasi dua pengertian: sejarah objektif dan sejarah subjektif. Sejarah objektif, yaitu peristiwa atau kejadian masa lampau apa adanya. Sedangkan sejarah subjektif, yaitu hasil penafsiran (rekonstruksi) sejarawan atas peristiwa masa lampau.

Sejarah yang kita pelajari saat ini adalah hasil penafsiran para sejarawan atau sejarah subjektif, dan dari merekalah kita mengenal kehidupan manusia pada masa lampau. Sedangkan sejarah objektif adalah peristiwa nyata yang pernah terjadi di masa lampau. Meskipun demikian, penafsiran para sejarawan tentang peristiwa masa lampau (subjektif) diharapkan dapat menggambarkan peristiwa tersebut apa adanya (objektif).

Untuk mencapai objektivitas, sejarawan menggunakan metode ilmiah untuk menguji kesahihan bukti-bukti yang ada, mengecek kebenarannya, dan membandingkannya dengan temuan yang lain.

Ada tiga hal yang menghambat terwujudnya objektivitas sejarah. Pertama, penelitian sejarah melibatkan kepentingan tertentu, misalnya kepentingan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Kedua, peneliti memasukan perasaan, nilai, selera, atau ideologi pribadinya kedalam proses penelitiannya. Ketiga, peneliti tidak menguasai bidang yang ditelitinya.

Karena sejarah itu hasil penafsiran sejarawan, bisa dibilang kebenaran dalam sejarah itu tidak statis, tetapi dinamis. Artinya, penafsiran sejarawan masih terbuka untuk diperdebatkan, digugat yang pada gilirannya akan melahirkan sudut pandang atau penafsiran yang baru lagi.

***

Lalu, bagaimana menulis sejarah? Hilmar Farid (2008) pun menulis: "Menulis sejarah bukan perkara mudah. Impian agar sejarawan bisa menghadirkan masa lalu wie es eigentlich gewesen ist (sebagaimana sesungguhnya terjadi) dewasa ini semakin jelas tidak mungkin terwujud. Seandainya ada mesin waktu yang bisa melontarkan kita ke masa lalu pun, sejarah tetap akan dilihat dari perspektif tertentu, dan tidak dapat dihadirkan kembali sepenuhnya. Sejarah, seperti kita tahu adalah representasi dari masa lalu dan bukan masa lalu itu sendiri. Sejarah selalu diceritakan, disusun kembali, berdasarkan informasi yang bisa diperoleh mengenai masa lalu, dan karena itu akan selalu kurang, tidak lengkap dan memerlukan perbaikan. Karena itu sejarawan umumnya mengatakan bahwa sejarah itu terbuka bagi interpretasi yang berbeda, dan selalu bisa ditulis ulang."

Yang jelas, tidak ada sejarah yang tunggal karena itu bisa berbahaya dan dapat membodohkan. Biarlah, orang-orang "menuliskan" sejarah (menurut versi) masing-masing, asalkan sesuai dengan metode yang berlaku. Tidak ditambah-tambahi maupun dikurangi. Dengan kata lain, upaya penulisan dengan berbagai versi justru memperkaya kita dalam memahami masa lalu. Jadi daripada ditutup untuk sementara, lebih baik biarlah "garis batas" itu dibuka sehingga masa lalu tak sekadar lewat begitu saja. Seperti diktum seorang sejarawan terkenal bahwa setiap generasi menuliskan sejarahnya.

***

“Tulisan jelek gini apa gak takut dicatet sama sejarah,” celetuk Mat Puhit.

"Kok nulis kayak ginian? Ini tulisan kering banget. Cuma mindahin catatan kuliah. Sudah gitu ngajarin pula kayak kita gak ngerti sejarah!" protes Minan Tunja.

"Jangan tersinggung gitu geh. Ini beneran saya lagi belajar apa itu sejarah. Anggap aja ini cuma sharing dan jangan dianggap ngajarin geh," kata Udien.

….

"Ah, bosan!" tiba-tiba ngomong Mamak Kenut sambil kabur.

Waduh...


Fajar Sumatera, Kamis, 15 Oktober 2015

Monday, September 21, 2015

Mulang Pekon

Oleh Udo Z. Karzi


SECARA fisik saya memang jarang mulang pekon (pulang kampung), walaupun cuma butuh 5-6 jam untuk sampai di pekon saya itu. Tapi, untung ada ada telepon seluler, media sosial, dan pers. Untuk mengembalikan ingatan saya pada kampung halaman, cukup saya tuliskan beberapa patah kata bahasa Lampung, maka kami yang jauh dari pekon, di Kotabumi, Metro, Lubuklinggau, Jakarta, Bogor, Bandung, Bogor, Cianjur, Purwokerto, Palembang, Batam, Medan, Papua, berbagai pelosok tanah air, bahkan dari luar negeri bisa cawa-cawa seakan sedang berada di pekon.


Pekon saya itu memang unik. Ya, itu sih minimal kata saya. Hehee...

Sekarang pekon saya itu bernama (Kelurahan) Pasar Liwa. Tempat lahir saya (di ijazah): Liwa. Di rapor SD saya tertulis: SDN 1 Negarabatin Liwa. Suatu kali saat ketemu ulun tuha di tempat-tempat lain, ada juga yang menyebutnya dengan Sukanegeri. Secara adat, di Pasar Liwa ada dua kampung: Kampung Bumi Agung dan Serbaya dengan dua suntan masing-masing.

Nama-nama tempat di kampung saya ini aseli khas Lampung: Seranggas, Sebidak, Teba Kandis, Selipas, Pantau, Way Setiwang, Halian Rubok, Sabah Pasuk, Sabah Renoh, Pekon Uncuk, Pekon Kudan, Way Ais, Sindalapai, Ham Tebiu, dan lain-lain.

Nama-nama ini memang bikin kangen. Beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Jatimulyo, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, saya bikin status: "PEKON KUDAN. Kik Budi Hutasuhut tebinta jama lambanni ulun Lampung Pesisir di Pekon Maja, Kecamatan Marga Punduh, Pesawaran; sekam terok muneh maleh mit lamban di Pekon Kudan. Sejaran nihan kintu dapok nanom sanini gulai rik nyani bidok. Hehee..." (PEKON KUDAN. Jika Budi Hutasuhut jatuh cinta pada rumah orang Lampung Pesisir di Desa Maja, Kecamatan Punduh Pidada, Pesawaran; kami kepengen juga pindah rumah ke Pekon Kudan. Lumayan kalau-kalau bisa menanam sayuran dan bikin kolam ikan. Hehee...)

Kalau tidak bisa berbahasa Lampung dan bukan orang Liwa, mungkin tidak akan tahu konteks status Facebook saya ini. Ya, Pekon Kudan di Pasar Liwa itu berganti nama dengan Jati Mulyo. Hadeuh...

"Kalau jadi tinggal di Jatimulyo, boleh gak ya desanya saya genti jadi Pekon Kudan," kata saya ke Novan Saliwa yang mengomentari status saya itu.

***

Itu sudah, dalam sepekan ini setidaknya ada tiga peristiwa yang memaksa saya mulang pekon. Pertama, hati melonjak ikut berbangga setelah Festival Kopi Liwa (Liwa Coffee Festival) di Kecamatan Air Hitam cukup mengangkat nama Kabupaten Lampung Barat. Acara yang diselenggarakan Dinas Perkebunan setempat dalam rangkaian peringatan HUT Ke-24 Kabupaten Lampung Barat ini tercatat di Museum Rekor-Dunia Indonesi (MURI) sebagai rekor ke-7.084 untuk kategori sangrai kopi terbanyak.

Dalam catatan MURI (http://www.muri.org), setidaknya ada empat kabupaten yang pernah memegang rekor menyangrai kopi terbanyak. Tahun 2011 rekor ini dipegang Kabupaten Banyuwangi (270 tungku oleh 300 peserta), tahun 2012 dipegang Kabupaten Malang (561 peserta), tahun 2014 dipegang Kabupaten Tabanan (735 peserta), dan tahun 2015 dipegang Kabupaten Lampung Barat (1.049 tungku). Bangga sih boleh, tetapi setelah ini apa, what next gitu loh.

Kejadian kedua, saya mendapatkan kiriman buak tat. Tapi, berbeda dengan buak tat yang selama ini saya kenal. Sudah ada kreasi baru dengan bentuk dan tambahan rasa yang bikin tambah enak. Buak (kue) ini tadinya kue khas untuk lebaran, penayuhan (pesta perkawinan), atau upacara adat lain di Lampung Barat (termasuk Pesisir Barat kini). Untunglah sudah ada yang memodifikasi kue ini utk dijual kepada pengunjung. Sebuah potensi kuliner. Cuma belum begitu dikenal.

Nah, yang ketiga, musibah yang terjadi di pekon saya itu. Innalillahi, kebakaran menghanguskan lima rumah di Pasar Liwa (dulu: Negarabatin Liwa), Sabtu, 19 September 2015.

"Rumah Wan Kusai, salah satunya," lapor Eka Fendiaspara.

Dan, saya pun segera membayangkan jejeran rumah dimaksud. Semoga yang mendapat cobaan dapat menghadapinya dengan tabah dan sabar.

Alhasil, sepekan ini saya mulang pekon dengan hati nano-namo. Pekonku jauh di mata, tapi dekat di hati.  n


Fajar Sumatera, Senin, 21 September 2015

Tuesday, September 8, 2015

Etika Parlemen

Oleh Udo Z Karzi


KEHADIRAN Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dalam jumpa pers dan kampanye Donald Trump di depan wartawan dan pendukungnya, 3 September 2015, bikin geger di Tanah Air.Tapi, kabarnya koran-koran Paman Sam gak serius-serius amat memaknai kejadian ini. Newsweek misalnya, dalam berita berjudul "Donald Trump Signs Pledge to Republican Party With Wrong Date on It"  cuma menulis pendek di ujung tulisan: Di akhir konferensi pers, Trump memperkenalkan ketua DPR Indonesia. Tidak jelas mengapa dia ada di sana.

Nah, kan gak penting-penting amat deh keberadaan Setya Novanto dan Fadli Zon di situ. Yang jelas setelah ini  tujuh anggota DPR, Senin (7/9/2015), melaporkan secara resmi kehadiran Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon pada acara jumpa pers bakal calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ke Mahkamah Kehormatan Dewan.

Ketujuh anggota DPR itu: Charles Honoris, Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu, dan Diah Pitaloka ( Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) Maman Imanulhaq (Partai Kebangkitan Bangsa), Amir Uskara (Partai Persatuan Pembangunan) dan Akbar Faizal (Partai NasDem); melaporkan dugaan pelanggaran etika oleh Setya Novanto dan Fadli Zon ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Apa pun argumen Setya Novanto dan Fadli Zon, sulit untuk tidak mengatakan mereka tidak melanggar fatsun sebagai anggota parlemen.  Jelas, mereka berdua diperkenalkan Trump sebagai anggota DPR. Pertemuan itu pun berlangsung tidak singkat. Dugaan pelanggaran etis bisa dikenai kepada para anggota tersebut ketika mereka memanfaatkan waktu di sela kunjungan resmi untuk melakukan pertemuan lain yang disebut-sebut "spontan" itu.

Di dalam kode etik anggota DPR disebutkan bahwa perjalanan dinas adalah perjalanan pimpinan dan/ atau anggota untuk kepentingan negara dalam hubungan pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, baik yang dilakukan di dalam wilayah RI maupun di luar wilayah RI. Wibawa DPR RI kian dipertaruhkan ketika anggotanya bisa begitu saja hadir pada sebuah acara politik negara lain dengan maksud dan misi yang tidak jelas.

***

Sejatinya, parlemen, seperti Academy-nya Plato adalah lembaga politik tempat persemaian pemikiran-pemikiran brilian dan pertukaran-pertukaran ide-ide jenial di kalangan politikus, yang mengemban misi utama sebagai perumus kebijakan negara. Dan politikus di parlemen adalah kumpulan negarawan yang dengan kebajikannya mampu melahirkan gagasan-gagasan cemerlang yang memberi pencerahan kepada masyarakat. Bagi Plato, politik adalah jalan mencapai apa yang disebut a perfect society; dan bagi Aristoteles, politik adalah cara meraih apa yang disebut the best possible system that could be reached.Secara konstitusional, para politikus di dewan mengemban tiga peranan penting. Sebagai policy maker, mereka harus mampu merumuskan kebijakan-kebijakan strategis yang memihak kepentingan publik. Sebagai legal drafter , mereka dituntut membuat undang-undang yang dapat menjamin legalnya keadilan sosial dan keteraturan hidup bermasyarakat. Dan sebagai legislator, mereka harus menjadi “penyambung lidah rakyat” guna mengartikulasikan aspirasi kepentingan warga.

Karena itu, sangat aneh jika dalam pelaksanaan tugas-tugas, mereka mengabaikan apa yang disebut etika dan moralitas politik. Dengan etika dan moralitas politik, para politikus di parlemen dapat melakoni politik sesuai dengan tujuan berpolitik itu sendiri yakni menyejahterakan rakyat, bukan mencari peruntungan materi dan kemuliaan diri.

Jadi, para politikus sebagai anggota dewan terhormat harus mampu menjaga kehormatan dirinya lewat pelaksanaan tugas yang menjadikan etika dan moralitas sebagai pijakan dan tujuan.  n


Fajar Sumatera, Selasa, 8 September 2015

Monday, September 7, 2015

Sense of Humor

Oleh Udo Z Karzi


MAMAK Kenut ambil aja definisi ini di kamus: Sense of humor - the trait of appreciating (and being able to express) the humorous; "she didn't appreciate my humor"; "you can't survive in the army without a sense of humor".

Sesekali pakai bahasa Inggris deh. Bukan biar dibilang pinter bahasa asing, melainkan karena lagi males nerjemahin aja.Mamak Kenut cuma gak kebayang kalau gak ada yang lucu di dunia ini. Mestilah gak ada yang ketawa atau menimal cengengesan. Mestilah pada stres, kerjanya marah-marah aja.

Makanya walau gak punya bakat ngelawak atau stand up comedy kayak Om Dolop dkk, saya suka aja sama yang namanya lelucon.

Waktu SMA Mamak Kenut suka borong majalah Humor-nya Arwah Setiawan. Tapi, ternyata berat juga ternyata untuk memahami sebuah kelucuan. Leluconnya terlalu cerdas kali sehingga beberapa artikel dan cerita yang harusnya bikin saya ketawa di majalah lucu-lucuan ini; malah gak saya pahami.

Untung ada Hilman yang bikin kisah superlucu berseri di Majalah Hai. Judulnya Lupus. Sependiam-pendiamnya Mamak Kenut, ternyata saya bisa ngekek juga.

Baru ketika dapat sedikit ilmu dari dosen-dosen di FISIP Unila, Mamak Kenut lebih bisa ketawa.Dan, Mamak Kenut terus berusaha memahami berbagai ironi yang terjadi. Ya, ironi itu kan lucu. Paradoksal juga lucu. Eh, lebih sering pelitik itu juga ternyata. Di kutipan yang bahasa Inggris di atas dibilang seseorang tidak akan bertahan di ketentaraan tanpa rasa humor.

Sesekali Mamak Kenut juga berupaya melucu. Ada sih yang ketawa. Tapi, kok malah ada yang marah-marah sama Mamak Kenut.

"Kan saya jadi bingung. Maksud hati bikin bahagia orang eh si doski malah tersinggung. Biji mana coba," keluh Mamak Kenut.

“Kalimat di sticker: Meluculah, sesuai aturan pakai," Arman Az mengingatkan.

“Melucu, enak dan perlu. Awas, baca aturan pakai. Melucu berlebihan dapat mengakibatkan kejang, leher kaku, dan jantung berdebar-debar. Melucu: membuat lupa anak cucu,” tambah Heri Mulyadi.

“Lu sih. Emang gak bakat ngelawak,” kata Minan Tunja.

“Jangan gitu geh Nan, saya dah serius-seriusan bikin lelucuan, kok dia nggak ngekek, malah singut,” sahut Mamak Kenut.

“Nah, itu juga jadinya lucu.”

“Oh, lucu ya.” n


Fajar Sumatera, Senin, 7 September 2015

Thursday, September 3, 2015

Absolutisme Hobbes

Oleh Udo Z Karzi


PEMIKIRAN politik Thomas Hobbes (1588-1679) memberikan pandangan tentang negara lebih modern dari pandangan-pandangan sebelumnya. Yang menitik beratkan pada negara monarki dengan pimpinan seorang raja. Pandangannya mengenai negara berakar jauh kepada keberadaan manusia secara natural.

Pemikir-pemikiran politiknya yang dituangkan dalam Leviathan, secara garis besar adalah membahas tentang bentuk kerajaan pada masa itu. Dia juga menerbitkan terjemahan karya Thucydides yang berisi tentang keburukan-keburukan demokrasi. Kemudian Hobbes menulis lagi bukunya, De Vice yang di tulis pada tahun 1647. Yang garis besar hampir sama dengan Leviathan.

Menurut Hobbes segala manusia adalah sama. Dalam keadaannya yang alamiah tiap manusia ingin mempertahankan kebebasannya dan menguasai orang lain. Pada dasarnya manusia cenderung untuk mempertahankan dirinya sendirinya. Untuk membuat stabil keadaan, orang membuat perjanjian tentang kekuasaan yang akan ditaati dan terikat kepada warga negara itu sendiri. Maka tidak ada hak warga negara untuk memberontak. Orang yang dipersatukan seperti itu disebut Commonwealth. Dan commonwealth disebut Leviathan.

Commonwealth
yang dipentingkan ialah perdamaian yang awet dan tahan lama. Oleh karena itu pemerintah harus diberi kuasa mutlak, tanpa batas. Sumber segala hak dan hukum serta hukum moral adalah kuasa yang memerintah. Baik dan jahat perbuatannya manusia diukur menurut peraturan dan larangan negara dan juga negara berhak memberi hukum-hukum untuk mengatur warga negara seperti hukuman mati bagi warga negaranya yang dianggap melanggar. Pemerintah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap rakyatnya, kecuali mengusahakan kepentingan dan keselamatan tiap orang.

Thomas Hobbes berpikir harus ada kekuasaan mutlak yang mengatur warganegara agar tercipta perdamaian. Hal-hal ini yang sangat bertolak belakang antara pemikiran Thomas Hobbes dan Pemikiran Aristoteles yang berkembang saat itu. Pada zaman itu, banyak sekali yang mengharapkan adanya hak kebebasan bukannya monarki yang absolut. Dan, monarki absolut ini adalah dianggap tirani oleh Aristoteles. Bahwa menurut Aristoteles warga negara boleh berpartispasi, ini berarti menyetujui adalah parlemen itu sendiri.

Hobbes tidak begitu setuju dengan adanya pembagian kekuasaan. Dengan membagi kekuasaan berarti resiko kesalahan yang diambil lebih besar. Dan juga adanya pengaruh dari Francis Bacon yang memang saat itu menjadi politisi dan parlemen. Ini juga mempengaruhi perkembangan filsafat masa itu. Memang Francis Bacon ini juga tidak menyetujui ajaran dari Aristoteles, dan juga pengaruh Machiavelli, yang memang menentang sekali ajaran Aristoteles tentang negara yang demokratis.

Ajaran sosial Hobbes mengarah pada absolutisme negara dan peran instrumental agama dan ia mendukung monarkisme. Hobbes mendukung bahwa Raja harus memiliki kekuasaan mutlak atas rakyatnya. Baginya, demokrasi itu lemah, keropos, dan hanya bisa dilakukan di negara-negara kecil. Dalam negara yang besar pemerintahan haruslah absolut agar tidak terjadi kekacauan dan ketidakstabilan politis. Raja haruslah seorang yang kuat dan memaksakan kehendak-kehendaknya secara efektif.

Dewasa ini, secara sia-sia orang mengecam teori absolutisme Hobbes itu. Banyak negara menggembar-gemborkan demokrasi dan menolak absolutisme. Namun, dalam kenyataan dan prakteknya, diam-diam atau secara kasar malah mewujudkan teori Hobbes itu di berbagai bidang kehidupan sosial.

Ah, semoga pemimpin kita tidak seperti itu.


Fajar Sumatera, Kamis, 3 September 2015

Monday, August 24, 2015

Dialektika Socrates

Oleh Udo Z. Karzi


Kebijaksanaan yang sebenarnya datang kepada kita ketika kita menyadari betapa sedikitnya kita mengerti tentang hidup, diri kita, dan dunia di sekitar kita.(Socrates)

KEBAYANG gak sih, seseorang yang jauh dari tampan, berpakaian kelewat sederhana, dan berjalan tanpa alas kaki mendatangi kita, lalu mengajak diskusi tentang filsafat. Apa nggak bikin mumet aja. Itulah Socrates (470 sM– 399 sM) yang kelewat ge-er berusaha memastikan suara gaib yang didengar temannya dari Oracle Delphi, yang bilang tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates.

Socrates merasa tidak memiliki sesuatu apa pun untuk bijak. Maka, Socrates pun berkeliling mencari orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu dan mengajaknya berdiskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode inilah yang Socrates disebut sebagai metode kebidanan. Dia menganalogikan dirinya sebagai bidan yang membantu kelahiran sebuah pikiran melalui proses dialektik yang panjang dan mendalam, sama seperti seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi.

Yang dikejarnya dari proses diskusi tersebut adalah sebuah definisi absolut tentang satu masalah meskipun seringkali orang yang diajaknya berdiskusi gagal mencapai definisi tersebut. Akhirnya Socrates sampai pada kesimpulan suara gaib yang didengar temannya itu adalah benar. Sebab, pada kenyataannya dia memang bijaksana karena dia tidak merasa bijaksana. Sedang orang-orang yang diajaknya berdiskusi adalah orang yang tidak bijaksana karena mereka merasa sebagai orang yang bijaksana.

Karena caranya berfilsafat inilah Socrates menerima kebencian dari orang-orang yang diajaknya berdiskusi. Sebab, setelah proses dialektik Socrates mereka lewati, terlihatlah bahwa apa yang sebenarnya merika pikirkan benar-benar mereka tidak ketahui kebenarannya. Kejadian inilah yang pada akhirnya mengantarkan Socrates pada peradilan yang mengakhiri masa hidupnya atas tuduhan merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dapat dipatahkannya melalu pembelaan sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates wafat pada usia 70 (atau 71) tahun dengan meminum racun, sebagaimana keputusan pengadilan yang diterimanya:: 280 orang mendukung dihukum matinya Socrates dan 220 orang lainnya menolak.

Dalam Krito, Socrates diceritakan sebenarnya dapat lari dari penjara dan menghindari hukuman mati dengan bantuan dari sahabat-sahabatnya. Namun, dia menolak. Alasannya karena dia terikat pada sebuah “kontrak” kepatuhan hukum yang sama seperti semua orang di Athena. Dia berpandangan harus tetap menjalani hukuman matinya tanpa perlu menghindar. Keberaniannya dalam menghadapi maut ini digambarkan Plato dalam karyanya yang berjudul Phaedo dengan sangat indah. Kematian Socrates di tangan ketidakadilan peradilan ini menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat, selain peradilan atas Yesus Kristus.

Demikianlah, Socrates menjadikan masalah kemanusiaan sebagai objek filsafatnya. Pemecahan masalah kemanusiaan tersebut digalinya dengan mengejar sebuah definisi absolut (mutlak) atas permasalahn tersebut melalui proses dialektika yang panjang dan mendalam. Pengajaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis inilah yang menjadi peninggalan pemikiran filsafatnya yang paling penting, dan juga membuka jalan bagi para filsuf selanjutnya untuk mengembangkan metodenya. n


Fajar Sumatera, Senin, 24 Agustus 2015

Monday, August 10, 2015

Plato

Oleh Udo Z Karzi


PLATO lahir 40 tahun setelah Socrates. Plato mengenal Socrates hanya di tahun-tahun terakhir dari kehidupan Socrates. Plato tumbuh besar pada masa perang Peloponesos sedang berkobar. Perang ini berakhir dengan kekalahan Athena pada 401 sM dan pada saat itu Athena di bawah kendali pemerintahan demokratis.

Kekalahan ini menjadi salah satu alasan Plato untuk “sinis” dengan demokrasi. Plato secara vulgar mengalamatkan kekalahan Athena pada sistem pemerintahan demokratis. Menurut Plato, sistem ini tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyat di bidang politik, moral dan spiritual.

Plato juga memiliki latar belakang keluarga Aristokratik dari kedua pihak orang tuanya. Ayahnya, Ariston, seorang bangsawan keturunan raja Kodrus. Raja yang dikagumi dan dikenal karena kepiawaian dan kebijaksanaannya memerintah Athena. Ibunya, Periktione keturunan Solon, negarawan agung peletak dasar hukum Athena yang legendaris. Kedudukan sosial Plato dan koneksi keluarganya yang sepertinya mempengaruhi pandangan yang pesimis terhadap demokrasi.

Terakhir, tetapi yang paling dominan dalam menentukan sikapnya terhadap demokrasi adalah kematian guru yang sangat dicintainya yakni: Socrates, yang dihukum mati oleh pemerintahan demokratis.

Ya, bayang pun demokrasi yang membunuh guru. Bagaimana seorang murid tak kan membenci demokrasi.

***

Meskipun membenci demokrasi, Plato melahirkan kitab berjudul Republica  (360 sM) yang membicarakan negara dan pemimpin yang ideal. Dalam bukunya itu, Plato mengingatkan bahwa untuk menjadi pemimpin itu harus mempunyai setidaknya empat elemen penting: seorang pemimpin itu harus mampu mengendalikan diri, seorang pemimpin itu harus arif, seorang pemimpin itu harus adil, dan seorang pemimpin itu harus berani.

Empat unsur tersebut hanya ada di dalam diri seorang filsuf. Sebab, hanya filsuflah yang memenuhi syarat-syarat yang disebut di atas. Di mata Plato, seorang filsuf adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, sarat dengan keberanian, bersikap arif dan bijaksana, serta mampu bertindak adil. Sikap-sikap seperti itu membuat dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari, karena nilai-nilai keutamaan inilah yang dijadikannya sebagai prinsip dalam memimpin.

Dengan kemampuan untuk menahan diri seorang filsuf mampu bersikap netral terhadap persoalan-persoalan, dan mampu menjaga jarak dengan materi-materi duniawi seperti harta benda dan kekayaan serta kekuasaan yang ada di hadapannya.

***

“Gak realistis! Masa harus jadi filsuf dulu untuk bisa jadi Presiden, Gubernur, Bapati, Wali Kota atau bahkan jadi peratin (kepala desa)!” kata Radin Mak Iwoh.

“Ya hahaa… itu kan kata Plato,” sahut Pithagiras.

“Eh, jangan diketawain. Itu benar kok. Intinya pemimpin itu harus bermoral (mampu mengendalikan hawa nafsu), berani, dan bijaksana, dan adil,” Mat Puhit angkat bicara.

"Intinya, jadi pemimpin harus cerdas, jangan sok apalagi belagu," timpal Udien.

“Soal itu kita memang harus belajar dari Plato,” tambah Minan Tunja.

“Induh…,” Mamak Kenut lagi malas ngomong.


Fajar Sumatera, Senin, 10 Agustus 2015

Tuesday, July 28, 2015

Calon Tunggal

Oleh Udo Z Karzi


PERKEMBANGAN demokrasi di negeri ini semakin menuju ke hal aneh-aneh. Sebut saja soal munculnya potensi pasangan calon tunggal di sejumlah daerah pada pilkada serentak tahun ini. Calon tunggal dikhawatirkan akan terjadi di beberapa daerah pada pilkada serentak di 269 daerah pada 9 Desember mendatang karena begitu kuatnya calon petahana atau kandidat yang sangat populer. Sebut saja di Surabaya, Kediri, Malang, dan Pacitan, Jawa Timur, serta di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Lebih aneh lagi, Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) yang mengatur tentang pendaftaran pencalonan pasangan calon tunggal malah digugat DPR. PKPU menyebutkan, suatu daerah hanya terdapat pasangan calon tunggal, maka pendaftaran pencalonan diundur selama tiga hari. Bila dalam waktu yang ditentukan, pasangan calon tunggal masih belum memiliki lawan maka pilkada di daerah tersebut akan diundur ke pilkada 2017 mendatang.

Masa aturan macam begini diomongin mengganggu substansi sebuah demokrasi. Wakil Ketua DPR Fadli Zon berkata, kalau pasangan calon tetap tidak menemukan lawannya, akan ada plt terus menerus di daerah itu. Dan, daerah itu akan jadi tumbal sebuah aturan. Dia juga bilang PKPU itu berpotensi melahirkan adanya calon boneka, upaya mengakali pasangan calon tunggal tetap maju di pilkada saat ini.

"Agui, si Ijon bilang mengganggu substansi demokrasi. Apa bukan sebaliknya, calon tunggal itu justru menapikan demokrasi?" gugat Minan Tunja.

"Apanya yang demokrasi kalau tidak ada pilihan?" Pithagiras ikut-ikutan.

"Masa demokrasi tidak menyodorkan alternatif?" timpal Mat Puhit.

"Kedaulatan rakyat ditelikung kepentingan partai-partai dan sekelompok elite," ujar Udien.

"Masa sekian ratus ribu atau bahkan jutaan penduduk dianggap sama isi kepalanya dan karena itu dipastikan hanya memilih satu calon saja. Ya, calon tunggal saja. Kan ini balik lagi ke zaman jahiliah. Bapaknya main tunjuk anaknya sendiri jadi pemimpin negara (kerajaan). Hari gini kok senang calon tunggal. Aklamasi. Main rekayasa. Menipu rakyat..." Mamak Kenut mulai meracau.

"Ais, jangan sekudon (maksud suudzon) dulu geh," Radin Mak Iwoh menenangkan.

Baiklah kita mendengarkan kata pengamat politik LIPI Siti Zuhro. Ia menilai parpol kini cenderung mendukung calon yang sangat berpeluang menang sehingga kesempatan kandidat lain tak terakomodasi. "Tampaknya parpol tak mau susah. Mendukung calon yang diperkirakan kalah mungkin dianggap sia-sia," ujarnya, Sabtu (25/7/2015).

Sikap tersebut buruk bagi demokrasi dan menyebabkan demoralizing parpol. Padahal, lawan tanding harus diciptakan parpol agar kontestasi pilkada lebih mengedukasi. "Di era demokrasi tidak seharusnya muncul calon tunggal."

“Na, itu yang benar!” sela Mat Puhit.

“Kalau begitu, siapa yang salah?”


Fajar Sumatera, 29 Juli 2015

Tuesday, June 23, 2015

Hadiahnya Paling Juga Buku Puisi Lagi...

Oleh Udo Z Karzi


"AYAH mau liat nilai PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) Aidil, nggak?" tanya Aidil, siswa kelas II MIN Sukajawa, Bandar Lampung setibanya di rumah.

"Mana?" sambut saya antusias.

Aidil mengambil tas sekolahnya, menarik secarik kertas hasil ulangan dari dalamnya, lalu menyodorkan kepada saya.

Saya tengok. 8,8.

"Bagus kan, Yah," kata Aidil dengan bangganya.

"Bagus... Baru satu?"

"Ya. Yang lain belum dibagi."

"Nah, kalau yang lain juga bagus nilainya sip dong. Kalau Aidil dapat ranking, kan enak ayah kasih hadiahnya."

"Apa hadiahnya?"

"Ada..."

"Ah, paling juga buku puisi lagi..."

"Hahahaaa...."

Waduh, Aidil. :P


Selasa, 23 Juni 2015 

Friday, June 12, 2015

Kopi Pahit

Oleh Udo Z Karzi


ENTAHLAH, saya belakangan ini kok lebih suka minum kopi tanpa gula. Ya, kopi pahit. Padahal sebelumnya kopi kalau tak pakai pemanis ya mana tahan.

Hitam manis, kata orang. Tapi kopi tidak bergula tinggal hitamnya dan... tentu saja pahit.

Ah, semoga kopi tanpa gula ini tidak mencerminkan hidup yang selalu dirundung malang.

"Ai kidah, kenapa gak pakai gula. Hidup ini saja sudah pahit?"

"Justru itu, saya ingin memandang hidup ini selalu penuh warna. Saya ingin melihat hidup ini sebenarnya penuh dengan berkah, indah, dan menyenangkan. Dengan kopi pahit!" ujar saya. "Di balik kepahitan itu ada rasa manis yang biasa nikmat.

Anda kena diabet?

"Ah, kagaklah. Saya, semoga tetap sehat-sehat saja. Kalau memutuskan minum kopi tanpa gula... ya karena enak saja."

Kopi itu sehat. Saya percaya itu.

Sebenarnya, saya kan cuma meneruskan aseli tradisi minum kopi para pendahulu saja.

Suatu kali saya bertemu Frieda Amran, penulis dan penyuka sejarah yang bermukim di Belanda, yang sengaja bertandang ke Lampung. Rupanya, ia penyuka kopi tanpa gula itu. "Jangan pakai gula ya," begitu setiap kali ia memesan kopi. Atau, ia akan bertanya apakah kopi yang disajikan bergula atau tidak untuk memastikan.

Terus terang saya kagum dengan gaya minum kopi ala Bu Frieda ini. Tapi, saya tidak terlalu heran. Sebab, tamong (kakek) saya semasa hidupnya -- setahu saya selalu minum kopi tanpa gula. Ia tak pernah pusing kalau tak ada kopi.

“Kahwa api memis? (Kopi atau nira)?” komentar Tamong kalau kopi yang disuguhkan kepadanya manis.

Entahlah, sepeninggal Bu Frieda yang melanjutkan perjalanan ke belahan tanah air lainnya dan kembali ke Belanda, saya mulai mencoba meminum kopi tak bergula. Pahit memang. Tapi kok saya ketagihan!

Nikmatnya kopi justru terasa ketika ia diminum tidak dengan gula. Pahit tapi manis di hati dan pikiran.

Eit, tapi kalau gak suka kopi pahit tak usahlah mencoba. Hehee... []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 12 Juni 2015 

Tuesday, June 9, 2015

Rasionalitas Iris Kuping

Oleh Udo Z Karzi


DALAM sejarah Nusantara, peristiwa pemotongan telinga adalah sebuah bentuk penghinaan besar terhadap musuh sekaligus perlambang upaya menunjukkan harga diri dan menolak tunduk. Pada 1289 Masehi, Kerajaan Singosari kadatangan utusan dari Mongolia yang meminta mereka tunduk di bawah kekuasaannya dan membayar upeti.

Tapi, boro-boro menyatakan tunduk kepada penguasa Mongolia, Kubilai Khan, yang terjadi adalah kemarahan yang luar biasa dari Sri Kertanegara karena tersentuh harga diri sebagai putra Singosari. Utusan Kubilai Khan bernama Men Shi harus pulang ke Mongolia dengan telinga terpotong, pasukannya habis ditumpas prajurit Singosari, dan penuh rasa malu.

Luar biasa murkanya Kubilai Khan. Beberapa tahun kemudian, 1293, Mongolia menginvasi tanah Jawadwipa dengan 20,000 sampai 30,000 tentara. Ekspedisi untuk menghukum Raja Kertanegara yang menolak membayar upeti dan bahkan melukai utusan Mongol. Tapi, serangan ini digagalkan Raden Wijaya yang kelak membangun kejayaan dan kebesaran Kerajaan Majapahit.

***

Kisah iris kuping ini sempat menghebohkan dunia seni. Pelukis legendaris asal Belanda, Vincent van Gogh, 127 tahun silam, tepatnya pada 23 Desember 1888 berbuat sensasional. Dia sengaja memotong telinga kirinya dengan sebilah silet dan menunjukkan penampilan terbarunya itu dengan lukisan.

Pelukis yang mengidap kelainan jiwa itu melakukan aksi nekat di kediamannya di Kota Arles, Prancis. Van Gogh lalu mendokumentasikan kejadian itu melalui sebuah lukisan berjudul "Self Portrait with Bandaged Ear" (Potret diri dengan Telinga Dibalut).

Saat ini, Van Gogh terkenal sebagai salah satu pelukis jenius dan lukisan karyanya terjual dengan rekor harga tinggi. Walaupun begitu, semasa hidupnya van Gogh merupakan wujud anak lelaki yang tersiksa dan miskin. Dia hanya berhasil menjual satu lukisan.

***

Ketika sedih ditinggal kerabat dekat, setiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikannya. Bagi orang suku Dani di lembah Baliem, Papua, mereka akan memotong satu ruas jari atau daun telinga. Konon, di memotong jari dan telinga adalah bentuk penghormatan dan tanda belasungkawa yang terdalam. Kesedihan akan kehilangan mungkin hanya dapat ditutupi oleh luka, berharap waktu dapat menyembuhkan keduanya.

***

Lalu, sekarang Mamak Kenut kembali mendengar tentang kisah iris kuping ini. “Zaman saya sudah di atas Rp500 miliar untuk perbaikan. Iris kuping saya kalau bisa bagus semua jalan ini dengan dana yang dianggarkan sekarang. Kecuali Pemprov ngutang. Kalau saya dulu kan tidak mau ngutang. Kalau mau ngutang, zaman saya juga sudah bisa bagus jalan ini,” kata mantan kata Gubernur Lampung  Sjachroedin ZP dalam konferensi pers di kediamannya Jalan Mr Gele Harun Bandar Lampung (duajurai.com, 5/6/2015).

Iris kuping saya! Apa geh rasionalisasi dari ucapan ini?

"Induh weh!" kata Minan Tunja.


Fajar Sumatera, Selasa, 9 Juni 2015

Wednesday, June 3, 2015

Kualitas Isi Kepala

Oleh Udo Z. Karzi


FUNGSI kritik modern pada mulanya adalah untuk melawan negara absolut. Dari obrolan warung-warung kopi yang egaliter, kritik bergulir dan meletus dalam revolusi Prancis. Sampai sekarang, kritik selalu mengarahkan serangannya ke absolutisme dan kebenaran tunggal. Jika ada kebenaran dominan (berkuasa) sedang membungkam kebenaran subdominan/subversif, jelas ini bukan kritik, tapi penegakan kebenaran (dominan). Begitu kata Terry Eagleton.

Pemerintahan yang ogah menerima kritik jelas tidak sehat. Kritik (seharusnya!) sangat diharapkan oleh pemimpin atau pejabat yang ingin program-programnya berjalan baik. Sebab, keterlibatan masyarakat mengawasi langsung semua program pemerintah dan menyampaikan berbagai ketidakberesan di lapangan pada jalur yang benar, sangat dibutuhkan.

Sejatinya kritikjuga dibutuhkan masyarakat. Sebab, masyarakat perlu diberi pemahaman tentang apa yang dikritik. Untuk membantu masyarakat dalam memahami sesuatu, kebutuhan tentang kritik dirasa sangat penting sebagai salah satu media informatif. Akan tetapi kritik yang dibutuhkan bukan berarti kritik yang asal-asalan, tetapi kritik yang tajam dan cerdas.

Indonesia bisa merdeka juga karena kritik kok. Tanpa tulisan yang mengkritik kolonialisme dari tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara, Mohammad Hatta, dan Douwes Dekker, barangkali kita tetap berada dalam penjajahan.

Orang Indonesia, katanya paling susah kalau menerima kritik. Mengkritik boleh, kalau dikritik janganlah. Mau enaknya saja dong.

Sekarang ini banyak kritik yang berseliweran ya malah bagus kok. Tetap bisa dibedakan mana kritik yang benar dan mana kritik yang asal. Kadang yang mengkritik tak lebih pintar dan pandai daripada yang dikritik. Ya, tak masalah.

Bagusnya mengkritik harus disertai solusi. Soalnya mengkritik tanpa solusi mirip dengan menyodorkan piring kepada orang kelaparan. Tapi, kalaupun tidak ada jalan keluar dari kritik ya tak usah jadi masalah benar. Anggap saja kayak omongan komentator pertandingan sepak bola. Yang penting penonton senang gitu.

Jadi, sengawur apa pun kritik tetap bermanfaat. Kadang kita tidak tahu dan baru tahu setelah ada yang mengkritik. Kan kita bisa perbaiki. Kalau kritik itu salah, minimal kita bisa lebih mawas diri.

Tapi jangan samakan mengkritik dengan menghujat, menghina, mencela, apalagi memfitnah. Perlu pengetahuan dan pemahaman yang memadai hal ihwal yang dikritik. Karena itu kritik yang konstruktif jelas tak mudah.

Jadi, silakan mengkritik. Toh kualitas kritik akan menunjukkan kualitas isi kepala pengkritik.


Fajar Sumatera, Rabu, 3 Juni 2015

Monday, April 13, 2015

Akar Sejarah

Oleh Udo Z. Karzi


SEJARAH adalah urutan peristiwa yang saling terkait. Satu peristiwa pada masa kini tidak lepas dari peristiwa waktu sebelumnya. Perjalanan seseorang yang mencapai sukses saat ini tidak lepas dari sejarah masa lalunya. Masa lalu yang bisa jadi menyimpan kegetiran, kepahitan, dan kepedihan menjadi bagian dari proses yang harus dilalui seorang yang menggapai kesuksesan masa kini.

Kata “sejarah” itu berasal dari bahasa Arab, “syajarah” yang berarti pohon. Makna pohon sangat dekat dengan sejarah yang kita pahami selama ini. Pohon memiliki tiga bagian utama, yaitu akar, batang, dan tajuk. Tajuk terdiri dari kesatuan cabang, ranting, dan dedaunan. Tiga bagian pohon tersebut saling berhubungan satu sama lain. Satu bagian terganggu, akan mengganggu bagian lainnya.

Bagian terpenting dari pohon adalah akar. Mengaitkan peristiwa saat ini dengan masa lalu boleh dimaknai sebagai upaya menelusuri akar sejarah. Ya, sejarah erat dengan akar yang secara mudah bisa dilihat dari fungsi akar pada pohon. Akarlah pertama kali tumbuh dan kemudian perlahan-lahan memunculkan tunas dan menumbuhkan batang. Melalui akar yang makin kokoh, pohon kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan besar dan memberi banyak manfaat.

Merunut sejarah seseorang atau peristiwa, laksana merenungi keberadaan dan kehidupan pohon. Sejarah manusia yang diberi kesuksesan di masa lalu selalu menjadi inspirasi bagi manusia masa kini untuk meniru kesuksesan mereka.

Sebaliknya, manusia atau komunitas yang di masa dulu terkena musibah atau bencana besar menjadi renungan manusia zaman sekarang untuk tidak mengikuti jejak mereka agar terhidar dari kecelakaan. Pada pohon, sosok pohon yang kokoh berasal dari kuat dan kokohnya akarnya. Sebaliknya, pohon yang tumbuh dengan kerontang dan kerdil karena akar-akarnya tidak berfungsi atau bahkan rusak.

Sejarah yang kita buat hari ini sangat mungkin akan menjadi sejarah hitam atau putih di masa nanti bergantung bagaimana kita menyikapinya. Meminjam ungkapan Taufik Abdullah, ada berbagai cara dalam mencapai tujuan (yang sama).

Tidak ada sejarah yang tunggal karena itu bisa berbahaya dan dapat membodohkan. Biarlah, orang-orang menuliskan sejarah (menurut versi) masing-masing, asalkan sesuai dengan metode yang berlaku. Tidak ditambah-tambahi maupun dikurangi. Dengan kata lain, upaya penulisan dengan berbagai versi justru memperkaya kita dalam memahami masa lalu.

Daripada ditutup untuk sementara, lebih baik biarlah garis batas itu dibuka, sehingga masa lalu tidak sekadar lewat begitu saja. Seperti diktum seorang sejarawan terkenal bahwa setiap generasi menuliskan sejarahnya.

Setiap upaya mengungkap misteri sejarah hampir selalu mengundang kontroversi. Sebab, misteri sejarah itu sendiri meninggalkan sikap ambivalen. Di satu sisi ada hasrat yang menggebu untuk ingin tahu, tetapi di sisi lain ada keraguan apakah hasrat ingin tahu itu bisa terpuaskan.

Akhirnya, apa pun yang saya, Anda, mereka... kita semua lakukan atau tuliskan hari ini dapat pula kita maknai sebagai usaha untuk memperkuat atau malah membusukkan akar sejarah masa depan. Soalnya, kini kita tengah membuat atau menulis sejarah dikemudian hari. Senyatanya kemarin, hari ini, dan esok adalah rangkaian sejarah yang tak terputus sampai akhir zaman tiba. n


Lampung Post, Senin, 13 April 2015

Saturday, April 4, 2015

Jangan Bikin Linglung

Oleh Udo Z. Karzi


"APAKAH harus selalu benar bahwa janji (calon) pemimpin tidak mesti benar dilaksanakan, minimal realisasinya jangan terlalu jauhlah apa yang sudah telanjur terucap? Apakah harus selalu benar bahwa kita, rakyat yang memilih, tidak mesti percaya dengan janji (calon) pemimpin, minimal jangan terlalu banyak mengecewakan dari apa yang telanjur diharapkan? Apakah selalu benar bahwa (calon) pemimpin harus selalu memberi janji, meski tak mesti dilaksanakan? Apakah benar bahwa (calon) pemimpin lebih mudah lupa dengan apa yang telah ia janjikan ketika ia sudah menerima amanat dari pemilihnya? Apakah..." tanya Mat Puhit setengah menggugat. 

"Setop. Kamu itu nanya-nanya apa," bentak Radin Mak Iwoh yang lagi pusing.

"Janji-janji tinggal janji...," Minan Tunja menirukan lagu Dingin yang dipopulerkan Endang S Taurina.

"Na, api muneh maksudni," kata Udien mengomentari senandung Minan Tunja.

Bukannya menjawab, Minan Tunja malah menyanyi lagunya Bob Tutupoli, Tinggi Gunung Seribu Janji: "Memang lidah tak bertulang..."

"Ai kok pada lawang kidah," Radin Mak Iwoh tambah belingsatan.

Ya, semua lagi pada gila! Semua pada naik.

"Sumber kekacauan ini berasal dari harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik, turun, turun, naik lagi, ... terus naik. Waktunya berdekatan lagi. Enggak sampai sebulan harga BBM berubah lagi. Walaupun bisa turun kembali. Tapi harga barang dan jasa kayaknya enggak mau mengikuti turun," kata Pithagiras.

Belum lagi selesai kepusingan. Datang-datang Pinyut yang kasih laporan, diam-diam harga elpiji 12 kg naik juga. Per 1 April 2015, PT Pertamina secara diam-diam menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp8.000 per tabung, dari semula Rp134.700 menjadi Rp141 ribu per tabung.

"Bener-bener deh. Kondisi perekonomian kita jadi enggak karu-karuan: kenaikan harga elpiji 12 kg, naik-turunnya harga BBM, terpuruknya nilai tukar Rupiah, tarif angkutan melonjak, hingga gejolak harga bahan pokok," kata Minan Tunja.

"Ya, inilah yang membuat saya bertanya-tanya. Ditarok ke mana Nawacita yang menjadi agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK. Sudah hampir enam bulan pemerintahan ini berjalan kok belum ada tanda-tanda program itu akan dilaksanakan dengan benar?" kata Mat Puhit.

"Yang sabarlah. Rakyat kita hanya belum biasa," Radin Mak Iwoh mencoba meyakinkan warga.

Bukan didengar, Radin Mak Iwoh malah mendapat ledekan dari Mamak Kenut, "Persis... Radin cocok deh jadi menko. Kemarin itu Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil juga bilang masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan naik turunnya harga BBM setiap sebulan sekali."

"Katanya mau mandiri secara ekonomi, kok malah diombang-ambing pasar global," timpal Pithagiras. 

"Terserah, saya enggak ngerti teori," semprot Pinyut. "Tapi jangan bikin linglung gitu geh!" n


Lampung Post, Sabtu, 4 April 2015

Monday, March 2, 2015

Negarabatin, Kampung Begal?

Oleh Udo Z. Karzi


POLDA Metro Jaya mengidentifikasi dua kategori kelompok begal yang menjadi aktor utama serangkaian kejahatan pembegalan di wilayah Ibu Kota. Dua kelompok itu ialah kelompok luar Jakarta yang banyak berasal dari Lampung dan kelompok lokal yang biasanya berasal dari Depok dan Bekasi.

Kelompok lokal biasanya anak-anak usia sekolah. Mereka saat beraksi biasanya berbekal senjata tajam. Pelakunya adanya yang masih SMA bahkan masih SMP. Motifnya, hanya sekadar ikut-ikutan untuk melakukan tindak kejahatan.

Berbeda dengan kelompok Lampung. Ciri-ciri kelompok Lampung itu selalu menggunakan senjata api. Tercatat kelompok ini sudah beraksi di 11 tempat di wilayah Polda Metro Jaya. Kelompok ini tidak segan-segan menembak korban yang berusaha melawan mereka.

Karena itu, Polda Lampung bekerja sama dengan Polda Metro Jaya mulai menggelar aksi pembersihan komplotan begal di Lampung. Tim khusus antibegal pun dibentuk guna menyisir sejumlah daerah yang berpotensi menjadi sarang dari para begal.

Konon, di Lampung cukup tumbuh subur sejumlah kampung begal. Beberapa di antaranya di wilayah Tegineneng, Kabupaten Pesawaran; Baradatu, Kabupaten Way Kanan; dan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, diklaim sudah dieliminasi. Tinggal lagi di beberapa wilayah seperti Jabung dan Melinting di Lampung Timur dan wilayah Abung di Lampung Utara.

***

Sampai di sini, Mat Puhit sudah enggak bisa ngomong lagi. Daerahnya terkenal karena begal, bukan karena prestasi. Datang-datang Udin membacakan lead berita berjudul Begini Kisah 'Kampung Begal' di Lampung: "Dua desa itu bernama Tebing dan Negara Bathin. Desa Tebing berada di Kecamatan Mlinting dan Negara Bathin di Kecamatan Jabung. Tak ada akses roda empat atau angkutan umum menuju dua desa tersebut. Yang ada hanyalah ojek sepeda motor." (Korantempo, 25/2).

Maka, meledaklah esmosi Mat Puhit. Dia mana terima Negarabatin (bukan: Negara Bathin) dibilang kampung begal. Sama halnya dengan tidak terimanya Kepala Desa Tebing, Bukhori. “Ada yang menjadi begal, tapi itu hanya 10 persen,” kata Bukhori.

Mamak Kenut dkk. memang bangga dengan pekon mereka Negarabatin. Sastrawan Tandi Skober (Bandung) sampai terkagum-kagum dengan kreatif-imajinatif yang terkandung dalam nama Negarabatin.

Setahu Minan Tunja, di seluruh wilayah Lampung, ada beberapa daerah yang bernama Negarabatin: Desa Negarabatin (Lampung Timur), Kecamatan Negarabatin (Way Kanan), Desa Negarabatin, Sungkai Bunga Mayang (Lampung Utara), Pekon Negarabatin (Tanggamus), Pekon Negarabatin Liwa (nama lama Kelurahan Pasarliwa, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat), ... entah ada lagi enggak yang bernama Negarabatin.

Percayalah, Negarabatin masih seperti dahulu. Mamak Kenut, Mat Puhit, Minan Tunja, Udien, Pinyut, dan Radin Mak Iwoh masih di Negarabatin. Zaman mungkin berubah, tapi keadaan tetap saja: banyak masalah, banyak kasus, banyak hal... Tetap perlu disentil-sentil.

Negarabatin memang penuh warna.Tapi, janganlah menjadi kampung begal! n


Lampung Post
, Senin, 2 Maret 2014

Monday, February 2, 2015

Patronase

Oleh Udo Z. Karzi


"KAMU siapa? Punya siapa? Emangnya punya apa?" Pithagiras bersenandung.

(Maaf kepada Kangen Band karena memplesetkan lagu Yolanda yang reff-nya berbunyi: Kamu di mana, dengan siapa/Semalam berbuat apa/Kamu di mana, dengan siapa/Di sini aku menunggumu dan bertanya.)

"Hee, kamu nyindir saya ya," kata Radin Mak Iwoh yang agak lagi uring-uringan.

"Nggak ah. Radin aja yang ge-er. Emang Radin siapa? Mau jadi apa? Patronnya siapa?" balas Pithagiras.

"Nah, kan jelas yang dikata-katain itu Radin," Udien datang malah manas-manisi.

"Iya, bukannya mendukung malah njlek-njleki gitu," Radin Mak Iwoh mulai esmosi.

"Enggak kok. Suwer...," Pithagiras membela diri.

"Loh, memang Radin lagi ngapain kok mudah tersinggung begitu?" timbrung Minan Tunja.

"Ya, nggak. Ini loh Pitha nyindir-nyindir..." ujar Radin Mak Iwoh lagi.

"Aih Radin. Enggak, benar-benar nggak. Saya kan cuma mengingatkan para calon... ya calon apa saja, agar lebih mawas diri gitu."

***

Ya, itu fenomena menjelang musim pemilihan, macam-macam pemilihan... Selalu ada kecenderungan dari umat manusia untuk mengikatkan diri atau menggantungkan diri pada sesuatu yang lebih tinggi darinya. Sebab, manusia pada dasarnya bukanlah makhluk yang mandiri, yang merdeka, yang berhak menentukan sendiri apa yang ingin ia capai. Mau jadi pegawai negeri, mau naik pangkat, mau nyalon jadi ketua, mau nyaleg, mau jadi kepala daerah, mau hidup enak... semua perlu patron. Patronase!

Di kamus patronase itu, a.l. diartikan sponsor, dukungan, backing, promosi, dorongan, boosting, bantuan, simpati, pembiayaan, naungan, perlindungan, perwalian,  pengawasan.

Patron-klien! Ada patron yang memiliki kekuasaan dan ingin mempertahankannya, dan di sisi lain ada klien yang berada pada posisi subordinat, meski tidak berarti tanpa daya sepenuhnya atau kekurangan sumber daya. Patron memerlukan suara dan dukungan politik dalam berbagai bentuk. Sementara klien berada pada posisi untuk memberikan suara dan berbagai dukungan politik. Konsekuensinya, hubungan pertukaran bisa dibentuk.

Pada beberapa kasus, patronase sepenuhnya legal. Misalnya, pejabat yang terpilih diperbolehkan menggunakan spoils system untuk menunjuk pendukung-pendukung setianya menduduki berbagai posisi politik dan pemerintahan. Di AS, presiden, gubernur, dan wali kota memiliki dan menerapkan hak istimewa ini, tetapi dilakukan secara tertib dan diawasi dengan ketat.

Masalahnya, pada kebanyakan kasus, patronase politik tidak demokratis dan fungsional. Para pemimpin politik menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan pada para pendukungnya, lalu mendistribusikan sumber-sumber daya publik pada segelintir pendukungnya secara selektif dengan tujuan untuk meningkatkan perolehan suara pada pemilihan umum berikutnya tanpa mempedulikan berbagai prosedur administratif, aturan hukum, serta kriteria pelaksanaan tugas. Kesetiaan politik klien lebih diutamakan dibandingkan kompetensinya serta hak-hak dan kebutuhan warga negara. Patronase politik digunakan untuk menghasilkan suara dan konsensus dari para pemegang jabatan.

***

"Cilakalah benar buat orang-orang yang berkehendak bebas. Mana bisa maju kalau gak punya patron dan kagak mau jadi klien," ujar Mamak Kenut.

"Jadi gimana geh?" tanya Mat Puhit.

"Induh, nyak mak pandai." n    


Lampung Post, Senin, 2 Februari 2015

Tuesday, January 13, 2015

Bagaimana Cara Menebus Malu?

Oleh Udo Z. Karzi


BARU saja memberitahukan Majalah Nyuara mempunyai rumah baru di http://www.teraslampung.com/search/label/Nyuara. Belum ada yang mengirimkan karya ke Ruang Berbahasa Lampung ini. Hari ini, Selasa, 13 Januari 2015, saya ditanya.

"Apa kabar, Udo? Ada tidak buku sastra Lampung yang dipilih untuk Hadiah Rancage?" tanya Ahmad Rivai dari Yayasan Kebudayaan Rancage, Bandung.

"Alhamdulillah, sehat. Sastra Lampung, aduh jadi malu... Tidak ada buku sastra Lampung terbit tahun 2014. Maaf dan terima kasih atas perhatian Bapak dari Yayasan Rancage. Sukses. Tabik," jawab saya.

"Menebus malu, tahun 2015 terbit buku, Udo. Semoga," ujar Ahmad Rivai lagi.

"Insya Allah, Kang. Amiin," ujar saya.

Dalam kondisi seperti ini, saya ingat benar apa kata Irfan Anshory (alm). "Malu kita," ucapnya kepada saya (Lampung Post, 8 Februari 2009). Sangat pantas Bang Irfan bicara begitu. Soalnya dia yang serius benar mengusahakan sastra Lampung mendapatkan Hadiah Sastra Rancage 2008. Dia meyakinkan sastrawan Ajip Rosidi, pendiri Yayasan Rancage bahwa Lampung memang selayaknya mendapatkan penghargaan itu. Pak Ajip kemudian kemudian mengiyakan. Komitmennya: Lampung siap menerbitkian sastra Lampung paling tidak dua buku setiap tahun.

Kenyataannya, 2008-2014 Lampung hanya tiga kali -- dari seharusnya tujuh kali -- mendapatkan Rancage. Tiga penerima Hadiah Sastra Rancage untuk bahasa Lampung, yaitu Udo Z. Karzi dengan buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2008), Asarpin Aslami dengan kumpulan cerbun-nya Cerita-cerita dari Bandar Negeri Semuong (2010), dan Fitri Yani dengan kumpulan sajaknya, Suluh (2014).

Tahun ini, hampir pasti kita tidak mendapatkan Rancage lagi. Sehingga, lima tahun penghargaan sastra ini tidak sampai ke orang Lampung.

Membuka data Kang Hawe Setiawan, setidaknya kini ada 24 judul buku sastra Sunda yang terbit 2014 (Jumlah ini masih bertambah). Sastra Jawa sekian puluh, sastra Bali sekian belas... Belum tahu. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, mestilah banyak. Sastra Lampung? Ampun bener deh...

Sudah ah, ini sekadar informasi. Tak usah saya berkeluh kesah.

Yang penting seperti kata Kang Rivai, "Terbitkan buku sastra Lampung untuk obat malu di masa hadap."

Gimana geh kalau tidak menjawab: "Amiin. Semoga banget." Doa itu tak pernah putus.

Tabik.


Cawa Lampung
aku = kata saya, ujarku
ani = ujarnya, kata dia
cawa = kata, bicara, omong
kalau, kekalau = semoga, mudah-mudahan
liyom = malu
repa = bagaimana
makkung = belum
mawat = tidak
munyaian = sehat, afiat
wat = ada


Selasa,  13 Januari 2015

Monday, January 12, 2015

Parle

Oleh Udo Z. Karzi


UDIEN baru tahu kalau anggota DPR dilarang menyela pidato kenegaraan Presiden.

"Ah, masa sih?" Mat Puhit heran.

"Memang selama ini boleh?" tanya Minan Tunja.

"Pidato-pidato kenegaraan presiden sebelumnya, ada saja ucapan yang menghentikan Sang Kepala Negara membacakan teks pidato. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang lain. Selama beberapa tahun terakhir, pidato kenegaraan SBY setiap 16 Agustus selalu loncong minus interupsi," jelas Udien.

"Kok bisa beda?" tanya Pithagiras.

"Itu juga baru empat tahun terakhir kok sejak Peraturan Bersama DPR dan DPD Nomor 2 Tahun 2010 disahkan 3 Agustus 2010. Pasal 23 Ayat (2) peraturan itu menyebutkan, 'Selama acara pidato kenegaraan presiden Republik Indonesia, tidak diperkenankan adanya interupsi maupun tindakan yang dapat mengganggu kelancaran, ketertiban, dan kehidmatan sidang'."

"Wah, ini nggak benar," protes Mat Puhit.

"Iya nggak benar. DPR/DPRD itu kan kata lainnya parlemen. Parlemen itu dari kata ‘to parle’ yang berarti to speak atau berbicara. Masa orang-orang yang ditugasi ngomong kok malah dilarang bersuara," kata Pithagiras.

"Aneh, anggota DPR digaji rakyat untuk berbicara, kok malah dilarang."

"Tapi itu kan aturan dibuat DPR dan DPD sendiri? Berarti mereka memang senang mengebiri hak mereka sendiri."

"Nggak mungkin, mestilah ini atas desakan SBY sendiri."

"Eit... jangan main tuduh kek gitu. Mana buktinya?" Radin Mak Iwoh enggak terima pimpinannya dituding.

***

Itu sudah, sekarang di Lampung Utara. Yang terjadi justru parlemennya yang mogok bicara.

"Bukan mogok bicara. Tapi tidak mau ikut rapat," jelas Udien.

"Ya sama saja. Angota Dewan itu harus berbicara dalam berbagai rapat yang mereka selenggarakan. Dalam rapat-rapat itulah, anggota ngomong, protes, berdebat, memperjuangkan pandangan mereka... bila perlu sampai dengan titik ludah penghabisan; sampai semua argumen tak tersisa... Kalau keputusan tak bisa dibuat dengan mufakat ya terpaksa voting. Itulah demokrasi. Itulah fungsi sejati dari parlemen. Di gedung wakil rakyat inilah kita menemukan perbalahan...," kata Mamak Kenut geregetan.

"Parle itu ngomong. Ini bukannya ngomong, malah menolak hadir di rapat. Itu parlemen apaan? Gak setuju ya diteriakin keras-keras di rapat. Tugas anggota Dewan itu ya rapat, ngomong, dengar omongan orang, dan lain-lain yang kerjanya tidak jauh-jauh dari berbicara itu," kata Mamak Kenut lagi.

"Bagus juga nulis...," sela Udien.

"Omong saja gak bisa gimana mau nulis. Lagi pula itu bukan tugas utama anggota Dewan," semprot Mamak Kenut.

Nah, lu. n


Lampung Post, Senin, 12 Januari 2014