Wednesday, June 3, 2015

Kualitas Isi Kepala

Oleh Udo Z. Karzi


FUNGSI kritik modern pada mulanya adalah untuk melawan negara absolut. Dari obrolan warung-warung kopi yang egaliter, kritik bergulir dan meletus dalam revolusi Prancis. Sampai sekarang, kritik selalu mengarahkan serangannya ke absolutisme dan kebenaran tunggal. Jika ada kebenaran dominan (berkuasa) sedang membungkam kebenaran subdominan/subversif, jelas ini bukan kritik, tapi penegakan kebenaran (dominan). Begitu kata Terry Eagleton.

Pemerintahan yang ogah menerima kritik jelas tidak sehat. Kritik (seharusnya!) sangat diharapkan oleh pemimpin atau pejabat yang ingin program-programnya berjalan baik. Sebab, keterlibatan masyarakat mengawasi langsung semua program pemerintah dan menyampaikan berbagai ketidakberesan di lapangan pada jalur yang benar, sangat dibutuhkan.

Sejatinya kritikjuga dibutuhkan masyarakat. Sebab, masyarakat perlu diberi pemahaman tentang apa yang dikritik. Untuk membantu masyarakat dalam memahami sesuatu, kebutuhan tentang kritik dirasa sangat penting sebagai salah satu media informatif. Akan tetapi kritik yang dibutuhkan bukan berarti kritik yang asal-asalan, tetapi kritik yang tajam dan cerdas.

Indonesia bisa merdeka juga karena kritik kok. Tanpa tulisan yang mengkritik kolonialisme dari tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara, Mohammad Hatta, dan Douwes Dekker, barangkali kita tetap berada dalam penjajahan.

Orang Indonesia, katanya paling susah kalau menerima kritik. Mengkritik boleh, kalau dikritik janganlah. Mau enaknya saja dong.

Sekarang ini banyak kritik yang berseliweran ya malah bagus kok. Tetap bisa dibedakan mana kritik yang benar dan mana kritik yang asal. Kadang yang mengkritik tak lebih pintar dan pandai daripada yang dikritik. Ya, tak masalah.

Bagusnya mengkritik harus disertai solusi. Soalnya mengkritik tanpa solusi mirip dengan menyodorkan piring kepada orang kelaparan. Tapi, kalaupun tidak ada jalan keluar dari kritik ya tak usah jadi masalah benar. Anggap saja kayak omongan komentator pertandingan sepak bola. Yang penting penonton senang gitu.

Jadi, sengawur apa pun kritik tetap bermanfaat. Kadang kita tidak tahu dan baru tahu setelah ada yang mengkritik. Kan kita bisa perbaiki. Kalau kritik itu salah, minimal kita bisa lebih mawas diri.

Tapi jangan samakan mengkritik dengan menghujat, menghina, mencela, apalagi memfitnah. Perlu pengetahuan dan pemahaman yang memadai hal ihwal yang dikritik. Karena itu kritik yang konstruktif jelas tak mudah.

Jadi, silakan mengkritik. Toh kualitas kritik akan menunjukkan kualitas isi kepala pengkritik.


Fajar Sumatera, Rabu, 3 Juni 2015

No comments:

Post a Comment