Thursday, November 4, 2010

Macet di Mana-mana

Oleh Udo Z. Karzi


RAPAT sudah lama dimulai. Tapi, Pithagiras baru nongol.

"Jalannya macet," katanya ketika diledek.

Memang sih lalu-lintas Negarabatin pagi dan petang saat jam-jam sibuk macet luar biasa. Maka kalau sudah tahu, bangun lebih pagi agar tidak telat sampai di tujuan.

***

Mat Puhit membaca para kepala daerah mengeluhkan tersendatnya dana penanganan bencana Gunung Merapi. Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengatakan hingga kini dana dari Pemerintah Pusat belum mengucur, masih tertahan di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan dana untuk pengungsi di daerahnya juga cekak.... (Koran Tempo, 3-11).

Artinya, dana untuk korban bencana itu macet juga.

Memang sih butuh dana besar untuk membantu korban meletusnya Gunung Merapi. Tapi, kalau memang sudah mempunyai sistem antisipasi bencana yang baik, dana itu bisa lebih cepat diberikan kepada mereka yang memang sangat membutuhkannya.

***

Dari Mentawai, Minan Tunja menerima kabar betapa sulitnya bantuan disalurkan. Medan yang sulit dijangkau para relawan menyampaikan bantuan kepada para korban tsunami.

Bantuan macet pula!

Memang sih Mentawai itu selama ini jauh. Apalagi kalau dari Jakarta. Hehee... Tapi, kalau memang niat negara kan punya kuasa dan infra-suprastruktur yang cukup untuk menerobos keterisolasian itu.

***

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo—sebagaimana didengar Udien—mengingatkan agar aksi penggalangan dana bantuan untuk korban bencana alam yang dilakukan sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa benar-benar ditujukan untuk kemanusiaan dan tidak disalahgunakan.

Nah, bisa macet juga tuh dana.

Memang sih... tapi ya berpikir positif saja, mudah-mudahan sampai.

***

Terakhir, seperti diumumkan KPK, pelayanan publik Bandar Lampung terburuk setelah Medan.
Kalau ini jelas berarti segala urusan birokrasi macet di mana-mana. Apalagi tanpa pelicin.

Memang sih kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah....

"Apologi apa lagi," bentak Mamak Kenut kesal.


Lampung Post, Kamis, 4 November 2010

Saturday, October 30, 2010

Bertemu Socrates

Oleh Udo Z. Karzi


MAT Puhit memang beruntung. Tidak seperti anggota Dewan yang jauh jalan-jalan ke Yunani, dia bisa bertemu Socrates. Padahal Socrates hidup 470 SM-399 SM.

Orang tua yang sama sekali tidak menarik. Tubuhnya gempal. Kesenangannya keleleran di pasar-pasar kayak gelandangan, berpikir aneh-aneh, dan suka berdebat, terutama kepada anak-anak muda. Ada saja bahan perdebatan.

Socrates disebut dia sebagai Sang Penanya dari Yunani kuno. Karena usilnya dia dijuluki Lalat Pengganggu Athena (Gadfly of Athena). Filsuf ini memang kayak lalat: hinggap, menggelitik, lalu terbang ke mana suka. Nulis juga enggak pernah tuh. Kisahnya yang nyentrik dapat dibaca dari karya-karya Plato yang banyak merekam gurunya yang aneh ini. Meskipun tak meninggalkan buku, Socrates dianggap "bidan" filsafat.

Filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sendiri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Yang paling terkenal, di antaranya Socrates dalam dialog Plato. Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya sehingga sangat sulit memisahkan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates. Nama Plato sendiri hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri, yaitu dua kali dalam Apologi dan sekali dalam Phaedrus.

Socrates diadili karena tiga dakwaan: meracuni pikiran kaum muda, tidak memercayai dewa-dewa, dan membuat agama baru. Ya, keruan aja, Yunani kuno kan negeri para dewa; Zeus, Hera, Apollo, Poseidon dan sebagainya itu. Matilah Socrates karena dipaksa minum racun oleh penguasa. Socrates memilih mati, walaupun rekan-rekannya memaksanya untuk menyetujui tawaran keluar dari Athena.

Di akhir pembelaannya, dia berucap: "The hour of departure has arrived, and we go our ways�I to die, and you to live. Which is better, only God knows."

Socrates melahirkan murid yang cerdas seperti Plato. Plato melahirkan Aristoteles. Dan Aristoteles, kita tahu, adalah guru dari Iskandar Zulqarnain. Yang terakhir ini, seorang suci yang bisa kita baca kisahnya di Alquran.

Mat Puhit memang beruntung bertemu Socrates. Tapi, filsuf ini menyebalkan. Dia kan enggak suka demokrasi?


Lampung Post, Sabtu, 30 Oktober 2010

Monday, October 25, 2010

Masih (Mau) Belajar Etika

Oleh Udo Z. Karzi


MAMAK Kenut benar terperangah, prihatin, dan sekaligus kasihan dengan anggota Badan Kehormatan DPR yang bepergian ke Yunani. Jauh-jauh amat kalau cuma mau belajar etika.

"Mau ngapain sih?" kata Minan Tunja sengit.

"Lo, kan Yunani itu dulu kan gudang para filsuf yang sampai sekarang masih sering kita pelajari. Ya, apa salah mereka belajar langsung ke tanah para filsuf itu," bela Radin Mak Iwoh.

"Ala... jangan-jangan para anggota BK itu enggak pernah baca filsafat segala macamlah. Seandainya saja mereka pergi ke sana 2.500 tahun silam, mungkin akan bertemu dengan Socrates. Lalu, sang filsuf akan mengajari mereka soal moral dan filosofi politik. Tapi, pada 2010 ini, siapa yang akan mereka temui di sana untuk belajar etika dan disiplin?" kata Mat Puhit.

Benarlah kata pengamat politik J. Kristiadi, kepergian anggota BK DPR ke Yunani sama dengan menghina diri sendiri. Mereka belajar hal-hal yang sebenarnya dimiliki bangsa Indonesia sendiri. "Kan sama aja bilang orang Indonesia tidak mengerti etika," sambut Pithagiras.

"Iya, itu orang pada kurang kerjaan. Lu aja yang orang Yunani (ingat Pithagoras) aja udah pindah jadi warga Negarabatin. Itu kan karena Negarabatin itu beretika dan berestetika ya Pit," goda Udien.

"Hahaa... Ih, ini sih Pithagiras, bukan Pithagoras," sahut Mat Puhit.

"Baiklah, saya ingin menyampaikan sedikit kuliah tentang etika kepada anggota BK DPR," sambung Mamak Kenut yang masih geregetan. "Etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Banyak definisi etika, tapi lebih banyak lagi orang tak beretika...."

"Sudah-sudah, kuliahmu membosankan," kata Pithagiras.

"Ah, jangan begitu dong. Mereka kan orang-orang pinter."

"Orang pinter kok tidak beretika. Dengan studi banding tentang etika ke Yunani sesungguhnya mereka tidak mengerti etika alias tidak beretika."

"Iya, dari pada jauh-jauh pergi ke Yunani belajar etika. Kan lebih baik mereka belajar etika dari saya," kata Mamak Kenut.

Hahaa....


Lampung Post, Senin, 25 Oktober 2010

Wednesday, August 25, 2010

Padamu Negeri...

Oleh Udo Z. Karzi


Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

MERINDING bulu kuduk Mamak Kenut membaca syair atau apalagi mendengar lagu perjuangan, Bagimu Negeri ciptaan Kusbini ini. Sungguh, dia ingin mengenang masa kecil ketika lagu-lagu yang penuh semangat cinta Tanah Air diajarkan di sekolah-sekolah dasar.

"Mana pula ngetop lagu-lagu kek gitu," kata Mat Puhit.

"Ah, tetap kok dinyanyikan dalam koor seusai upacara HUT RI," bantah Pithagiras pula.

"Dinyanyiin sih dinyanyiin, tetapi ruhnya tidak lagi merasuk ke jiwa... terutama pemimpin-pemimpin kita," Minan Tunja ngeyel.

"Ah, ngaco. Jangan main tuduh begitu."

Mau bukti?

Pertama, Malaysia semakin semena-mena, tetapi kita, pemerintah Indonesia, tak banyak berbuat untuk membela harkat dan martabat bangsanya. Dua kasus paling tidak menunjukkan hal itu, yaitu insiden penangkapan tiga aparat Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh Kepolisian Diraja Malaysia beberapa waktu laju dan kondisi memilukan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Dalam kasus pertama pemerintah tidak menunjukkan sikap yang terlampau lembek, tidak tegas, dan jauh dari nilai-nilai nasionalisme. Kedaulatan negara yang dipertaruhkan, tetapi pemerintah masih lebih suka bermain-main kata yang jauh dari menunjukkan kewibawaan dan harga diri bangsa.

Lalu, sedikitnya 177 TKI di Malaysia saat ini tengah menunggu hukuman mati atas tuduhan kejahatan narkoba dan pembunuhan. Dalam kasus ini�lagi-lagi�pemerintah seperti tidak berbuat apa-apa. Presiden baru sebatas meminta penjelasan dari Menteri Luar Negeri.

Bukti kedua, betapa jauhnya rasa cinta Tanah Air itu adalah bagaimana justru pada peringatan HUT ke-65 RI, tidak kurang dari 341 dari 778 terpidana korupsi mendapatkan remisi alias pengurangan masa tahanan.

"Bayang pun, hukuman pun dikorup," kata Mat Puhit.

Padamu negeri, kami korupsi. Atau, jangan-jangan bukan lagi padamu negeri, bagimu negeri; tetapi padamu keluarga dan kroni-kroniku, bahkan bagi diri sendiri. Ah, patriotisme, nasionalisme, heroisme kita ternyata sangat individualis, pragmatis, dan sarat kepentingan pribadi.

Lampung Post
, Rabu, 25 Agustus 2010

Friday, July 16, 2010

Para Camat Asyik Nonton Video Porno

Oleh Udo Z. Karzi

ORANG-ORANG Negarabatin memang aneh-aneh. Kalau orang kecil yang aneh sih mungkin harap maklum. Tapi, kalau pejabat yang berbuat aneh --lebih tepatnya melakukan hal yang tak terpuji -- ya memalukan sekali.

Saat Bupati Way Kanan Tamanuri sedang membacakan laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPj.) akhir masa jabatan, enam oknum camat asyik menonton video porno yang diperankan artis Indonesia, Senin (12-7).

Keenam oknum camat yang duduk di deretan ruang bawah, di sebelah kanan para anggota Dewan itu, asyik dengan sendirinya menonton adegan porno di telepon genggam mereka masing-masing.

Bagaimana komentar kalian?

"Terlalu. Benar-benar... terlalu!"

"Kelakuan! Nonton video porno kok di tempat umum dan dalam acara formal pula."

"Ya, kalau begitu cara kerja mereka, ya gimana urusan bisa diselesaikan. La, yang ngomong di depan orang nomor satu, atasan langsung mereka, kok ya bukannya memperhatikan, malah asyik mengerjakan hal tidak senonoh kayak gitu."

"Masak mereka enggak melihat keadaan..."

"Mereka kan cuma korban saja..."

"Korban gundulmu!"

"Mereka kan cuma menonton. Yang salah kan pelaku dan pengedar video porno itu."

"Enak aja. Mereka ya tetap salah. Nonton pornografi sudah salah. Lebih salah lagi, mereka nonton di tempat yang rame. Lebih salah lagi, nontonnya di gedung lembaga negara. Dan yang lebih parah, mereka nonton selagi pimpinan mereka sedang menyampaikan LKPj. Bukannya mendengar dan menyimak, mereka malah asyik sendiri dengan kegiatan yang jauh dari nilai-nilai kepantasan. Bukankah yang dipertanggungjawabkan itu termasuk kinerja para camat itu?"

"Kasian juga tuh."

"Apanya yang kasian?"

"Ya, salah sendiri."

"Bukan salah mereka sendiri. Banyak yang salah..."

"Terus?"

Entahlah... Capek mengomentari kelakuan orang-orang di Negarabatin. Mak ngenah-ngenah juga.


Lampung Post, Jumat, 16 Juli 2010

Wednesday, July 14, 2010

Aidil Mau Jadi Juara

Oleh Udo Z Karzi


"AIDIL duduk di depan atau di belakang?"

"Di di depan," kata Aidil.

"Ah, masa di depan. Kalau di depan, menghalangi yang lain melihat."

"Ah, nggaklah. Ibu Gurunya menyuruh dia di belakang," ujar Mamanya.

Siapa namanya? Muhammad Aidil Affandy Liwa. Umor emopat tahun kurang tiga bulan. Kata Bu Guru, sebenarnya Aidil masuk play group saja. Tapi kasian. Umurnya memang belum empat tahun. Tapi badannya yang paling besar di kelompok A Kelas 0 kecil Taman Kanak-Kanak Putri Azizah.

Jumat, 9 Juli lalu kami tiga anak-beranak ke sekolahnya hendak mengambil baju seragam. Tapi baju Aidil -- ukuran XL -- belum jadi. Menurut pihak TK, nanti diantar ke rumah. Tapi, ditunggu-tunggu, baju tak diantar juga. Hari, 12 Juli hari pertama Aidil memakai baju dari rumah. Pulangnya saya lihat Aidil sudah memakai seragam.

Tadi, Rabu, 14 Juli, Aidil memakai baju bebas lagi dari rumah. Kabarnya teman-temannya yang lain, sudah mendapatkan seragam olahraga (dipakai setiap hari Sabtu). Aidil belum. Ukuran XL-nya belum ada.

Sabar ya Dil. Yang penting rajin belajar. Semangat!

"Aidil mau jadi juara!" kata Aidil.

Hahaa... iya begitu dong Dil.


Rabu, 14 Juli 2010

Thursday, July 1, 2010

Pilkada! Dan, Piala Dunia pun Ditunda

Oleh Udo Z. Karzi

JANGAN bilang pemilihan kepala daerah (pilkada) tidak menarik. Buktinya begitu enam kabupaten/kota di Lampung: Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, Lampung Timur, Pesawaran, dan Way Kanan menyelenggarakan pemungutan suara serentak, Rabu, 30 Juni 2010; panitia Piala Dunia langsung "istirahat" menunda jadwal pertandingan delapan besarnya dua hari.

"Negara-negara peserta Piala Dunia sangat menghormati pesta demokrasi di daerah ini. Mereka memberi kesempatan kepada penonton sepak bola untuk 'menonton' pilkada," kata Mat Puhit dengan ngawurnya.

"Hahaa... Ngaco. Pilkada itu bukan tontonan. Sebagai warga negara yang baik seharusnya kan ikut memilih," serobot Mat Puhit.

"Tidak sekadar menonton, mereka berbondong-bondong ke TPS untuk memberikan suara. Golongan putih (golput) memang ada, tetapi yang ikut memilih cukup tinggi kok," celetuk Pithagiras sok tahu.

Kondisi ini kan menjadi paling tidak menunjukkan Piala Dunia dan pilkada sama-sama menarik. Bahkan, lebih menarik pilkada," Minan Tunja.

Pengamat boleh saja membanding-bandingkan Piala Dunia dan pilkada. Nyatanya pilkada memang sangat menarik. Minimal sama menariknya dengan Piala Dunia. Sama-sama penuh kejutan. Hasilnya sungguh tidak disangka-sangka.

Udien yang baru saja datang dari liputan datang dengan ngos-ngosan.

"Gimana hasil quick qount?" tanya Minan Tunja.

"Nggak nyangka kok dia yang bisa menang."

"Masa petahana bisa kalah? Tadi kan banyak orang yang yakin petahana pasti memang karena sudah punya 'modal' untuk memenangkan pertarungan."

"Ini kan menarik."

"Iya menarik. Pilkada pun ternyata penuh kejutan. Kandidat unggulan malah keok. Gimana tuh?"

"Calon gua dukung menang..."

"Jago lu kalah..."

Mamak Kenut yang tidak ikut pilkada karena menganggap tidak ada calon yang menarik hatinya, nggak mau kalah langsung berdiri, "Saya menang. Sebab, semua calon saya dukung. Dengan begitu, siapa pun yang menang saya ikut merasakan kemenangannya."

Mengejutkan! Ternyata pilkada itu menarik juga.


Lampung Post
, Kamis, 1 Juli 2010

Tuesday, June 29, 2010

Daerah Tujuan Studi Banding

Oleh Udo Z. Karzi

RIBUT-RIBUT menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) di Negarabatin. Baiknya kita berdoa saja agar pilkada berjalan aman dan damai. Luber (langsung, umum, bebas, dan rahasia) gitu. Soal jurdil (jujur dan adil), entahlah... Sebab, jauh-jauh hari sudah ada peringatan keras: Pilkada rawan kecurangan!

Tak usahlah mendiskusikan berbagai gejala negatif dalam penyelenggaraan pilkada. Capek deh. Lagi-lagi kesimpulannya, pilkada gagal menghasilkan kepemimpinan yang baik dalam arti kepemimpinan mampu mewujudkan sebuah masyarakat yang sejahtera (welfare state).

Keluhan tentang kegagalan rakyat dalam memilih pemimpin jelas akan panjang sekali kalau hendak dituliskan. Demokrasi dalam pilkada toh hanya demokrasi semu. Meskipun kandidatnya banyak, bahkan ada calon independen segala, tetap saja pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai banyak pilihan. Tidak ada calon yang benar-benar alternatif, yang bisa diharapkan membawa perubahan dalam arti sebenarnya dan bukan akan asal berubah saja.

Apa indikator keberhasilan pilkada? Ah, jangan terlalu serius buka buku cari teori politik. Sebuah SMS di Lampung Post mengatakan, salah satu "keberhasilan" adalah bagaimana daerah penyelenggara pilkada mampu menjadi daerah tujuan studi banding. Dia menyebutkan Bandar Lampung dan Batam sebagai daerah tujuan studi banding anggota legislatif dan eksekutif kota/kabupaten se-Tanah Air.

Hahaa... sebuah ejekan saja sebenarnya bagaimana pemimpin-pemimpin terpilih dalam pemilu dan pilkada betapa senangnya jalan-jalan.

"Tapi apa gunanya kalau cuma menghasilkan pemimpin-pemimpin yang pelesiran?" kata Pithagiras.

"Ya, siapa yang banyak duit ya dia yang bakal menang kok," sahut Udien.

"Ah, belum tentu. Rakyatkan udah pinter."

"Cerdas kalau bagi-bagi sembako atau suvenir."

"Kita ini nggak rasional."

"Kita butuh sesuatu yang konkret, dana atau barang, itu kan rasional."

"Sungguh, terkutuklah pilkada."

"Jangan apatis."

"Nggak ah."

"Memang apa gunanya pilkada?"

Tapi, daripada tidak ya lebih baik ada pilkada. Mat Puhit juga bingung kalau tidak ada pilkada. "Mau milih pemimpin, ya pilkada-lah," ujarnya.

Lampung Post
, Kamis, Selasa, 29 Juni 2010

Thursday, June 10, 2010

Lu na ci*

Oleh Udo Z. Karzi

MAAF kepada Luna Maya. Tapi, lu na ci (l pakai huruf kecil aja) memang suka jadi tumpuan kesalahan, tempat segala sampah eh, sumpah serapah, atau yang lebih keren sering disebut bantalan atawa kambing hitam.

Jadi, Luna Maya memang harus mempunyai kemampuan untuk berkelit atau membebaskan diri dari segala macam gosip, tudingan, atau bahkan fitnah.

Semua sektor di Negarabatin memang mempunyai sisi buruk. Sebagai contoh, Mat Puhit ingat betul bagaimana seorang Ketua KPU yang kini tengah menghadapi masalah terkait kelebihan surat suara, berbalik menyalahkan pers yang gencar memberitakan.

“Lu na ci (baca: kamunya sih),” kata si ketua menyalahkan Udien si wartawan geblek yang membuat beritanya.

Ya, Udien cengengesan aja. Memang benar kok. Faktanya memang begitu. Mengapa mesti mengelak dan justru menyalahkan orang lain?

Cerita lain, kota tercinta tidak mampu mempertahankan Adipura yang diraih tahun lalu. Wali Kota memang mengatakan kegagalan ini sebagai pil pahit dan mengatakan dia yang paling bertanggung jawab. Tapi, tetap saja ia berkata, “Lu na ci!”

Adipura 2010 lepas dari kota tercinta, menurut wali kota, disebabkan masih adanya pembakaran sampah yang dilakukan masyarakat. Lu na ci-nya itu kali ini masyarakat.

Pinyut pengen sekali masuk sekolah internasional. Tapi, apa daya orang tuanya bukan golongan yang mampu membayar iuran masuk RSBI yang jut-jutan. Ya, gagallah bersekolah di sekolah elite (yang belum tentu berkualitas).

“Lu na ci sok-sokan masuk sekolah internasional,” Mamak Kenut meledek ponakannya itu.

“Lu na ci (maksudnya orang tua Pinyut) miskin. Siapa suruh daftar ke situ,” kata Pithagiras.

Logika orang kaya memang mengatakan: barang bagus ya mahal harganya. Pendidikan berkualitas, apalagi yang bertaraf internasional ya pasti mahal. Kalau miskin, tahu dirilah. Carilah sekolah yang murah.

Untung orang tua Pinyut tidak mendengar. Kalau mendengar ya jelas bisa singut. Ya, bayangin aja orang miskin singut. Wah, bahaya. Orang miskin kalau tersinggung, merasa terhina, atau merasa dilecehkan bisa marah. Kalau marah biasa namanya juga biasa. Na, kalau ngamuk. Wah, gawat. Orang miskin suka nekat sih.

“Apa maksud lu?” Radin Mak Iwoh tiba-tiba esmosi. Salah dengar rupanya dia.

“Nah, lu na ci,” kata Minan Tunja menunjuk Mat Puhit.

Dituding kayak gitu, Mat Puhit ya bingung aja. Yang lain sepandang-pandangan saja.

Gara-gara lu na ci!

* Mohon maaf kepada Pusat Bahasa. Ini bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Lampung Post, Kamis, 10 Juni 2010

Monday, June 7, 2010

Sumbangan 3M

Oleh Udo Z. Karzi

SEKADAR melewati--apalagi berkeliling--Negarabatin bukan hal yang menyenangkan. Percuma gembar-gembor berpromosi alangkah indahnya negeri ini. Percuma membuat target gede-gedean akan ada kunjungan turis banyak-banyak yang kemudian memuji-muji keramahan penduduk ini setinggi langit.

Nol. Bohong besar! Bagaimana mau nyaman, ketika baru mulai masuk ke Negarabatin saja, jalan-jalan raya jauh dari mulus. Jangankan naik odong-odong, naik sedan mulus pun tetap saja jauh dari rasa nikmat. Jalan-jalan di Negarabatin rusak, mengelupas, berlubang di mana-mana. Di beberapa tempat air menggenang sekalipun tidak hujan. Jangan dikata kalau benar-benar hujan lebat. Air banyak yang tumpah dari langit seakan tak mampu ditampung. Jalan-jalan pun menjelma sungai.

Buruknya sarana transportasi banyak menimbulkan masalah. Keterlambatan, kemacetan, dan kesemrawutan lalu lintas juga disumbang oleh rusaknya jalan raya. Kecelakaan akibat lubang jalan berulang kali terjadi.

Udien sempat bertanya kepada pemimpin Negarabatin tentang upaya memperbaiki jalan raya. Jawaban sang petinggi jauh dari menggembirakan. "Dana kita tidak cukup untuk memperbaiki seluruh jalan raya yang rusak," kata sang pemimpin waktu itu.

Ini cerita di dalam sebuah angkutan kota (angkot). Mamak Kenut, Mat Puhit, Minan Tunja, dan Pithagiras kebetulan sedang menumpang angkot tersebut. Angkot tengah melewati sebuah ruas jalan kota di Negarabatin pada sebuah tempat jalan tak pernah bagus. Jalan itu sempat diperbaiki--atau icak-icak diperbaki, rusak lagi. Kini, jalan di tempat ini menjadi sebuah kubangan.

"Jalan ini tak pernah bagus," celetuk Minan Tunja.

"Apa saja kerja pemerintah," gerutu Mat Puhit.

"Jalan ini kan sudah berapa kali aja diperbaiki. Tapi, hanya bertahan beberapa hari, rusak lagi," sahut Pithagiras.

"Katanya sih, pemerintah kekurangan dana untuk memperbaiki jalan," kata Minan Tunja lagi.

"Kemarin aja saya sudah nyumbang 3M," kata sopir angkot nimbrung.

"Banyak amat? Dari mana? Baik benar Abang ini."

"Bukan Rp3 miliar, 3 kali merengut," kata sopir.

"Lah, saya malah ber-em-em-an," kata Mamak Kenut.

"Maksudnya?"

"Memaki-maki terus..."

Tapi, siapa yang peduli?


Lampung Post, Senin, 7 Juni 2010

Monday, May 24, 2010

Seni HIdup (untuk Tidak Disebut Penjahat)

Oleh Udo Z. Karzi

SIAPAKAH penjahat terkenal di Indonesia? Iseng-iseng Mamak Kenut browsing di internet. Ketemulah 15 nama ini: Kusni Kasdut (pencuri spesialis barang antik), Imam Samudera (teroris), Amrozi (teroris), Dulmatin (teroris), Mukhlas (teroris), Ali Gufron (teroris), Al Ghozi alias Goci (teroris), Nurdin M. Top (teroris), Dr. Azahari (teroris), Hambali (teroris), Robot Gedek (pemerkosa dan pembunuh anak laki-laki), Sumanto (pemakan mayat), Sumanti (pemakan anak bayi sendiri), dukun AS (pembunuh klien wanita), dan Lidya Pratiwi (dalang pembunuhan artis).

Daftar ini tentu akan lebih panjang lagi. Dari 15 nama ini, penjahat terbanyak adalah teroris, disusul pembunuh dan penipu, termasuk--astaghfirullah--pemakan orang. Hanya satu nama pencuri barang antik. Dan, tidak ada dari golongan penjahat yang disebut koruptor, penyalahguna wewenang, dan penyeleweng harta negara.

"Kenapa ya kok nggak ada?" tanya Minan Tunja.

"Kita tanya aja ke Radin Mak Iwoh," usul Mat Puhit.

"Betul... Betul..." dukung Pithagiras.

Beberapa saat kemudian.

"Kok nanya dengan saya. Mana saya tahu," Radin Mak Iwoh tersinggung.

"La, mau nanya siapa lagi?" kata Udien.

"Api maksud ni? Kalian ini jangan macam-macam. Kami ini abdi negara. Kalian itu kan seharusnya menghormati orang-orang kayak saya ini. Pangreh praja. Pelayan rakyat...," Radin ngomong berapi-api.

"Jangan tersinggung, Radin. Kami kan cuma mau nanya aja. Coba aja Radin lihat di kota ini. Jalan berlubang di mana-mana, akibatnya banyak yang celaka..."

"Pencetakan surat suara Pilkada Bandar Lampung kelebihan dibilang cuma salah administrasi..."

"Raskin untuk Lampung dikirim beras apkiran dari Jawa Tengah, tetapi Bulog dengan gampang bilang cuma perlu pengayakan."

....

"Sudah, sudah... Kalian ini buat pening aja. Saya ini banyak urusan," bentak Radin Mak Iwoh.

"Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua 'kejahatan' itu?" desak Udien.

"Hai, itu bukan kejahatan. Tidak ada penjahat. Itu cuma seni untuk hidup di negeri mafia..."


Lampung Post, Senin, 24 Mei 2010

Saturday, May 8, 2010

Poten(si)al

Oleh Udo Z. Karzi

KATA-KATA terkadang tak lebih sekadar "hiburan" belaka di antara bertimbun-timbun masalah yang tengah menggelayuti kita. Coba baca ini:

"Pesisir Bandar Lampung berpotensi dikembangkan menjadi pelabuhan internasional kelas dunia. Hal itu dilihat dari kondisi fisik dan kedalaman pesisir. Konsep kota tepi air (water front city--WFC) yang diprogramkan Wali Kota Eddy Sutrisno bisa mendukung pelabuhan internasional kelas dunia."

Potensi bernama pelabuhan internasional kelas dunia itu rupanya baru sekadar mimpi, yang entah kapan akan mewujud. Saat ini, yang nyata terjadi sehubungan dengan rencana penataan wilayah pesisir Bandar Lampung adalah bagaimana masalah sosial-ekonomi-budaya menggelayuti kebijakan water front city (WFC) Bandar Lampung ini yang kalau tidak diselesaikan akan terus menjadi persoalan.

Disebabkan potensi pula, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. meminta pemerintah daerah otonomi baru (DOB) di Lampung untuk lebih kreatif dalam memaksimalkan potensi pendapatan asli daerah (PAD) nya masing-masing. Kenyataannya, justru karena potensi itulah daerah-daerah itu jadi terlena: tidur dan tak merasa perlu kerja keras!

Di bidang olahraga, Pemerintah Provinsi Lampung diharapkan menaruh perhatian besar dalam upaya peningkatan prestasi. Sebab, Lampung memiliki potensi melahirkan pemain-pemain andal, seperti pada era 1980-an. Potensi itu, aduh... rupanya hanya masa lalu. Cuma nostalgia. Entah kapan masa itu bisa kembali.

Meskipun begitu, bagus juga minum teh hijau. Sebab, banyak penelitian yang mengungkap khasiat teh hijau bagi kesehatan. Baru-baru ini, ditemukan satu lagi manfaat teh hijau yang potensial bagi kesehatan mata.

Tapi, mesti hati-hati juga. Dinas Pendidikan Provinsi Lampung siap bekerja sama dengan Program Studi Bimbingan Konseling FKIP Unila untuk menanggulangi siswa yang berpotensi stres, akibat gagal lulus ujian nasional. Astaga, banyak potensi malah bikin linglung.

Minan Tunja mau sih cuma ngeledek Mat Puhit. "Mat, kamu itu punya potensi kaya lo."

"Iya, tapi nggak punya kesempatan," sambar Pithagiras.

"Bukan... Nggak punya bakat...," tambah Mamak Kenut.

Itu sih poten... siaal... Hahahaa....


Lampung Post, Sabtu, 8 Mei 2010

Friday, April 9, 2010

Jadi Hantu

Oleh Udo Z. Karzi

SAAT semua upaya telah mentok: ilmu telah tak berguna, logika sudah tak terpakai lagi, aparat hukum tak bergigi, proses politik tak berkuasa lagi, lembaga negara tak berfungsi, dan amuk massa tak memberikan solusi; barangkali saja benar kita harus jadi hantu.

Jadi hantu adalah sebuah perlawanan. Tidak ilmiah memang. Jauh pula dari kelogisan. Tapi, mau apa lagi. Mat Puhit setuju saja jadi hantu. Urusannya bukan lagi lazim-tidak lazim, masuk akal dan tidak masuk akal, nalar-tidak nalar. Ini sudah menyangkut tuduhan (boleh jadi fitnah) dan harga diri. Soalnya tak ada satu pun yang mau mengaku, tidak satu pun bersaksi, dan tidak satu pun mampu membuktikannya.

Tapi Minan Tunja protes. Jadi hantu sama sekali tidak mendidik masyarakat. Jadi hantu hanyalah upaya mengalihkan masalah dari sebuah kondisi ketidakmampuan pihak-pihak untuk berbuat jujur, berkata benar, dan berani bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Jadi hantu cuma jalan untuk menunjukkan kita tak cukup cerdas mengungkap dan menyatakan: yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah.

Itulah soalnya. Kita, masyarakat kita, pemimpin-pemimpin kita tak pernah biasa memegang, menjunjung, dan mempertahankan kebenaran. Kita, masyarakat kita, pemimpin-pemimpin kita tak pernah dapat berlaku jujur dengan diri sendiri, dengan nurani sendiri, dengan keyakinan sendiri, dengan agama sendiri. Kalau sudah begitu, jangan pula berharap kita bisa jujur terhadap orang lain, keluarga lain, bawahan lain, atasan lain, lembaga lain, dan lain-lain.

Kebenaran itu hanya ada di kitab-kitab, di teori-teori, di retorika-retorika di kepala kita. Kebenaran tak pernah mewujud dalam bentuk sikap dan perilaku di dunia nyata. Kalau kita maling, jangan pernah mengaku. Itu kebodohan. Kalau kita bodoh, jangan pernah menjadi pandir. Itu salah. Kalau kita salah, jangan pernah merasa bersalah. Itu keliru. Kalau kita keliru, jangan pernah salah tingkah. Itu dungu. Kalau kita dungu, jangan pernah bertanya. Itu bego. Kalau kita bego, jangan sampai kelihatan kere. Itu penderitaan. Kalau kita menderita, jangan pernah mempertunjukkannya. Itu...pokoknya jangan sekali-kali kita mempertunjukkan kelemahan apalagi dosa kita.

Sebuah pengakuan tentang betapa kotornya kita justru membuat kita terjerumus dalam suatu lembah kehinaan. Sekali saja orang tahu belang kita, seumur hidup kita orang tak percaya. Gengsi, pamor, citra, popularitas, kredibilitas, akuntabilitas, atau apa pun yang berbau harga diri hancur.

Minta maaf? Nehi! Jangan pernah mengakui kesalahan dengan cara meminta maaf. Seandainya kita memohon maaf, siapa yang mau peduli dengan pernyataan seperti itu. Tak ada simpati lagi. Tak ada penghargaan lagi. Tak ada kehormatan lagi. Tak ada fasilitas lagi. Tak ada kemanfaatan lagi. Tak ada yang peduli lagi.

Kebenaran itu hanya milik Tuhan. Manusia memang tumpuan kesalahan. Kalau kita alpa, berbuat salah, atau bahkan dosa, itu wajar saja. Lagi pula itu cuma kesalahan teknis. Kesalahan prosedur saja. Tidak substansial. Bukan human error. Jadi, itu bukan hal yang esensial.

Mamak Kenut pun bersabda: kebenaran, barangkali, dapat terungkap atau makin mak jelas dengan jadi hantu. Boleh coba.


Lampung Post, Jum'at, 9 April 2010

Wednesday, February 17, 2010

Mendengar

Oleh Udo Z. Karzi

"Dalam keheningan, kita bisa mendengar dan didengar." (Subcomandante Marcos)

DUNIA ini penuh keberengsekan. Dalam berbagai kesempatan kita merasa perlu memaki, berteriak-teriak, mengkritik, atau minimal memberikan saran. Terlalu banyak yang tidak ideal--apalagi kalau ukuran yang dipakai adalah pemikiran kita sendiri.

Masalahnya, kita lupa. Orang lain boleh saja lebih pintar dari kita. Mereka punya argumen yang logis untuk berbuat di luar kelaziman. Setiap orang punya self defense mechanism di dalam dirinya.

Okelah, kritik kita benar. Tapi, tetap saja akan melawan sampai titik ludah penghabisan. Soalnya, tidak seorang pun senang dikritik. Mungkin secara lisan dia akan bilang, "Senang sekali dengan masukan Anda," tetapi dalam hatinya sebenarnya ngedumel, "Ini orang sok tahu bener ya!"

Dunia ini terlalu besar untuk ikut aturan main kita. Ada banyak cara dan jalan yang boleh dipilih oleh siapa pun. Ya, itulah perbedaan yang harus kita hormati tanpa harus mempertegas perbedaan itu karena sesungguhnya kita juga memiliki banyak persamaan. Cara menemukannya adalah dengan jalan mendengarkan.

MENDENGAR. Apa pula sulitnya. Itu kan cuma rutinitas saja. Tapi, jangan anggap remeh mendengar. Mendengar bukan sekadar menangkap suara. Mendengar adalah sebuah proses menciptakan harmoni. Sebuah proses panjang yang butuh peruntuhan ego secara simultan, tidak sekadar pergi meninggalkannya setelah semuanya usai.

Mendengar adalah seni bagaimana melegakan setiap hati. "Mari kita saling mendengar agar bisa saling mengerti," begitu bunyi salah satu komunike gerakan Zapatista di Meksiko. Bila kita saling mendengar, tak bakal ada penindasan. Kematian rasa terjadi karena kita ogah mendengar. Ketulian kita menyebabkan kita tak mengerti dan tak memahami orang lain.

Mendengarkan adalah suatu proses yang menentukan, apakah hubungan akan berlanjut secara efektif dengan orang lain atau tidak. Ini memerlukan kekuatan emosional. Mendengarkan memerlukan kesabaran, keterbukaan, dan keinginan untuk mengerti perasaan orang lain. Tentu saja, untuk mencapai pola ideal seperti ini diperlukan proses ke lapangan dada yang harus dilakukan dan dipelajari terus-menerus hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian.

Bentrok atau kekerasan yang memakan korban terjadi karena para pihak mengabaikan sikap mengalah dan mau mendengarkan apa satu sama lain. Padahal, tindakan mendengarkan ini memiliki kekuatan emosional yang mampu meredam ketegangan. Namun, mereka mengabaikannya. Akibatnya, terjadilah apa yang seharusnya tidak perlu terjadi.


Lampung Post, Rabu, 17 Februari 2010

Sunday, January 24, 2010

Pak Dosen Bawa Golok

Oleh Udo Z. Karzi

ANAK kecil ngamuk ya paling karena tidak dikasih permen. Rakyat kecil ngamuk karena pembagian jatah beras untuk keluarga miskin (raskin) atau bantuan lansung tunai (BLT) tidak rata terbagi. Tapi, kalau dosen ngamuk, walah sungguh tidak logis. Soalnya dosen kan sesosok yang--paling tidak--rasional, intelek, dan karena itu lebih mengedepankan cara-cara yang persuasif, argumentatif, dan ilmiah.

Tapi ini beneran terjadi. Empat dosen IAIN di Negarabatin ngamuk. Kayak jagoan kampung yang menenteng golok, keempatnya mencari dan mengancam membunuh rektor. Menggunakan mobil milik Fakultas Tarbiyah, empat dosen tiba di kantor pusat IAIN pukul 11.15, Kamis (22-1).

Nggak jelas maunya, mereka langsung ngamuk. Kaca pintu utama ruang rektorat dirusak dengan golok. Kata-kata kotor berhamburan dari mulut mereka. Mengetahui rektor sedang ke Jakarta, mereka tambah marah.

"Dosen gila," kata Pithagiras.

"Banyak bener dosa mereka...," sambung Mat Puhit.

"Halah...dosa. Kayak apa saja Israel yang membunuh penduduk Palestina aja," sambar Minan Tunja.

"Yah, kalau Yahudi sih nggak usah diomong. Tapi, ini yang ngamuk dosen. IAIN. Fakultas Tarbiyah (baca: ngajar calon guru agama) lagi. Makanya dosanya gede...," jelas Mat Puhit.

"Heh, urusan dosa sih urusan individu masing-masing dengan Tuhan. Saya sih lebih senang melihat status para dosen itu dikaitkan dengan peran apa yang seharusnya mereka mainkan. Sebagai akademisi, mereka jelas mempunyai tanggung jawab untuk membuat mahasiswa lebih cerdas. Sebagai guru, dosen yang harusnya menunjukkan sikap terpelajar dan memperlihatkan bagaimana pikiran, ucapan, dan tindakan mereka memang patut dihormati, ditiru, dan diteladani. Sebagai pemikir, mereka tidak pada tempatnya melakukan tindak kekerasan karena pilihan ini jauh dari konsepsi ilmu pengetahuan. Sebagai pengajar institut agama Islam, mereka harusnya memperlihatkan etika, moralitas, dan akhlaqul-karimah yang...."

Belum selesai Minan Tunja ngomong, Udien langsung memotong. "Stop! Jangan kepanjangan...."

Radin Mak Iwoh yang baru datang, langsung nimbrung. "Dosen juga manusia. Bisa emosi...," kata dia.

"Manusia tidak beriman."

"Jadi manusia kok nggak bisa menahan diri."

"Apa pun alasannya, dosen tidak dibenarkan bertindak anarki kayak itu."

"Dalam kondisi apa pun, orang kampus, terlebih dosen harus menunjukkan kecendekiawanan. Semua masalah bisa diselasaikan dengan bicara, dialog, debat,...adu mulut, perang ludah juga nggak apa. Asal jangan main otot, apalagi bawa golok."

"Memaksakan kehendak ya nggak benerlah."

Ke kampus harusnya kan bawa pena, kertas, buku, perlengkapan tulis atau alat praktikum. (Mamak Kenut malah kuliah nggak bawa apa-apa. Masih untung pake baju hehee...). Bawa golok ke kampus, ya salahlah. Dosen lagi yang bawa....

Ya, sudah. Jangan ditiru.


Lampung Post, Sabtu, 24 Januari 2010