Monday, November 17, 2014

Kleptokrasi

Oleh Udo Z. Karzi


JIKA bener isi hasil rapat Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti dengan TNI AL, Polri, tentang illegal fishing sebagaimana yang beredar di dunia maya, sungguh sulit berharap pada negeri ini. Kalimat kuncinya ada pada jawaban DPR ini: "Untuk bisa anggaran disesuaikan dengan permintaan Ibu, maka UU Keamanan Laut harus dibuat, dan untuk itu diperlukan paling cepat 2 tahun membahasnya. Itu pun kalau KMP setuju."

DPR, birokrasi, tentara, dan polisi sungguh tak berdaya atau lebih tepat sama sekali tidak merasa perlu menyegerakan segala sesuatu yang penting bagi kemaslahatan rakyat, negara, dan bangsa. Jadi, sumpah jabatan ketika dilantik untuk mengutamakan kepentingan umum, negara, dan bangsa; nonsens banget!

Ya benarlah kata Susi, "Ya artinya selama 5 tahun ini tidak ada yang bisa saya kerjakan. Jahat sekali sistem kita. Padahal ini semua untuk rakyat," ketika menemukan jawaban tambahan: "Bukan hanya dua tahun tapi tambah lagi setahun waktu sosialisasinya. Itu pun kalau sampai tidak diajukan ke MK oleh pengusaha perikanan yang merasa dirugikan dari adanya UU ini."

Ya, kleptokrasi. Rupanya benar, negara ini dijabat oleh maling-maling. Para pencurilah yang menguasai negeri ini, yang menentukan segala sesuatu di negeri ini, yang memegang nasib penduduk negeri ini.

Bagaimana mungkin mereka DPR, birokrasi, aparatur keamanan, dan lain-lain yang disebut aparatur pelayan rakyat dapat merasionalisasikan objektivitas kepentingan publik dalam konstruksi kinerja mereka jika yang mereka pikirkan adalah bagaimana terus-menerus mengambil keuntungan dari situasi chaos di dalam negeri?

Lebih celaka lagi karena ternyata para maling dalam negeri ini rupanya menjalin kerja sama yang erat dengan para pencoleng dari luar yang dengan sengaja dibiarkan merampok kekayaan alam kita. Bayangkan saja kalau maling bikin peraturan, mestilah menguntungkan dan mengutamakan komplotannya. 

Setiap kebijakan yang disorong oleh satu kelompok tertentu dapat dipastikan akan dijegal oleh kelompok yang lain. Wujud mental maling para petinggi dan birokrat di negeri kita, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, adalah "pandai main terabas dan mengebiri etika kerja" atau mengabaikan profesionalisme. Pelaku mereka pemerintah masih memosisikan dirinya sebagai pemain yang sebatas bisa membaca dan mengambil untung ke mana angin kepentingan akan bertiup.

Jika ada lubang yang bisa dimasuki untuk mengail keuntungan, para maling ... eh, pejabat ini cepat-cepat beradaptasi untuk mewujudkan mental buruknya bermodus menerabas pagar moral, agama, sumpah jabatan, dan hak-hak rakyat demi tercapainya kepentingan pribadi keluarga, partai, dan kroni-kroninya.

Inilah penyakit kleptokrasi, suatu mental dan kultur menerabas tatanan supaya setiap tatanan di dalam birokrasi menjadi distorsi dan anomi sehingga masing-masing birokrat saling dan sibuk bersaing untuk "membantai" kebenaran, kejujuran, dan keterbukaan.

Tingginya angka korupsi, baik di pusat maupun daerah, salah satu faktor kriminonogen utamanya terletak pada penyakit kleptomania yang masih dipertahankan dan dipuja-puja. Para maling di birokrat, lembaga legislatif, dan yudikatif, sering melakukan praktik simbisosis mutualisme, yang mengakibatkan runtuhnya ideologi kebenaran dan kesederajatan dalam konstruksi etis birokrasi. n


Lampung Post
, Senin, 17 November 2014

Tuesday, November 11, 2014

Bandar Lampung City

Oleh Udo Z. Karzi


KABAR terbaru, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung sedang membangun ikon baru di Kota Bandar Lampung. Di perbatasan Natar, Lampung Selatan—Kota Bandar Lampung akan ada bacaan: ‘Bandar Lampung City’.

Biar ngjreng tulisan sepanjang 51 meter ini memakai huruf berwarna merah.

Ana kidah... api muneh?”

“Udah bagus-bagus kota kok dikasih nama Siti?”

“Ai kamu ini kampungan pula. Bukan siti, melainkan city.”

“Memang kalau city, kotaan ya?”

“City itu Ngingris, nginternasional... tauk?”

“Alah, kebule-bulean pula.”

Emang Bandar Lampung itu di Inggris ya?”

Induh kidah...”

***

Maka ributlah perbalahan di media sosial menanggapi status ini. Ada yang setuju, ada yang tak setuju, ada juga yang rapopo... 

Udien pikir, itu baru keinginan saja. Baru wacana. Tapi, alangkah kagetnya Udien ketika malam-malam, Rabu, 5 November 2014 -- artinya sehari kemudian -- “ikon” baru itu sudah mejeng dengan ashoy-nya persis di depan Patung Radin Inten II di pertigaan yang mempertemykan Jalan Raya Natar, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan Zainal Abidin Pagar Alam.

“Sore-sore Siti dari Bandar Lampung itu sudah ngeceng di situ lo.”

“Waduh, cepat amat sih?”

“Saya sangat kecewa.”

“Katanya menjunjung bahasa Indonesia, katanya kepengen melestarikan bahasa daerah,  ternyata Pemkot lebih silau pada bahasa Ingris.”

“Gimana sih? Bahasa Indonesia salah, bahasa Lampung salah, bahasa Inggris salah juga.”

“Kota Bandar Lampung lo yang benar. Bahasa Indonesia! Dasarnya Pasal 36 UUD 1945 yang mengatakan, 'Bahasa negara adalah bahasa Indonesia.' Kemudian nama ini juga merujuk pada penamaan wilayah dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah yang menyebutkan ada yang disebut kota dan ada yang disebut kabupaten. “Kota Bandar Lampung” sesuai dengan UU Pemda. Lalu, sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nama geografi di Indonesia (baca: Pasal 36 Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan).”

“Kalau bahasa daerah?”

“Boleh juga. Misalnya, Kota Bandar Lampung disebut Kota Tapis Berseri atau Lampung dikenal juga dengan 'Sai Bumi Ruwa Jurai' sesuai dengan Peraturan Daerah masing-masing. Atau, gak dilarang bahasa Lampung lain.”

“Tapi, dah telanjur terpasang tuh.”

“Saya kecewa berat. Itu melecehkan upaya memperkuat identitas nasional dan bahkan lokal. Bukan begini caranya menghadapi globalisasi.”

“Jadi gimana geh?”

Induh kidah...” n


Lampung Post, Selasa, 11 November 2014

Thursday, November 6, 2014

Listrik Byarpet, Diskusi Pelitik, dan Puisi Antikorupsi...*

Oleh Udo Z. Karzi


MATI listrik mulu sih. Akibatnya undangan buat saya telat saya terima. Hehee... Gak ada hubungan memang. Tapi, mumpung lagi kesel sama PLN, maka alasan keterlambatan pun ditumpukan ke PLN. Semoga kita tabah menerima cobaan mati lampu ya.

Ceritanya, saya mendapat undangan dari Panitia Pelaksana Pelantikan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa dan Badan Eksekutif Universitas Muhammadiyah Lampung (UML) untuk menjadi narasumber Diskusi Politik. Temanya: Membaca Dinamika Politik Lokal dalam Membangun Kesadaran Politik Pemuda Lampung.

"Udo bicara dari sisi seni-budaya," kata Panitia.

Wadoh, rupanya tema keren ini harus pula ditambahkan dengan "... dari Perspektif Budaya".

Bagusnya saya tulis paper. Tapi, undangan baru saya terima Minggu (2/11) malam, sementara diskusinya dilaksanakan Senin (3/11).

Maka, saya telepon panitianya. "Gak bikin makalah gak apa ya?" tanya saya sedikit merasa gak enak dengan panitia.

"Nggak apa, Do," sahut panitia di ujung telepon.

Ya, sudah. Pokoknya maju aja.

***

HARI H-nya. Selain saya, ada Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung Yoso Muliawan dan Tenaga Ahli Wali Kota Bandar Lampung Bidang Politik Gumsoni.

"Pemuda harus mempunyai semangat untuk berkarya, menyumbangkan kreativitas, dan pemikiran konstruktif kepada pemimpin daerah. Sebaliknya pemda sangat mendukung berbagai kegiatan pemuda yang positif. Bahkan dalam soal pendanaan pun, APBD Bandar Lampung selalu menyelipkan anggaran untuk mendukung pengembangan kreativitas pemuda," ujar Gumsoni.

"Pemuda atau mahasiswa sebagai harapan bangsa. Pembaruan atau bahkan revolusi selalu diawali dari gerakan mahasiswa dan pemuda yang didukung oleh pers seperti yang terjadi pada Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Kemerdekaan RI 1945, Angkatan 1966, dan Reformasi 1998," begitu lebih kurang kata Yoso Mulyawan.

"Hanya saja, saya melihat ada gejala setelah Reformasi, gerakan mahasiswa seperti mati suri. Setelah reformasi, gerakan mahasiswa seakan kehilangan musuh bersama, sehingga sulit untuk bersatu melawan musuh bersama itu," ucap Yoso lagi.

***

Pukul empat sore lebih waktu giliran saya mau ngomong. Waduh, sudah mulai pada ngantuk nih. Saya minta seorang mahasiswa, kebetulan Presiden Mahasiswa BEM UML langsung membaca puisi saya, Guru Bertanya, Siswa Menjawab yang dimuat dalam Puisi Menolak Korupsi 2b, dieditori Sosiawan Leak dan Rini Tri Puspohardini, dan diterbitkan Forum Sastra Surakarta, 2013 hlm. 336.

Ini:


Saya lalu bilang, "Puisi macam ini yang dibacakan dalam Lomba Baca Puisi dan Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke-25 di Mal Kartini, 27-28 Oktober lalu. Kegiatan ini dikaitkan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Boleh dibilang inilah bentuk dari kesadaran dan partisipasi politik pemuda dan mahasiswa dalam mengawal jalannya pemerintahan dan pembangunan daerah ini."

Saya kutipkan omongan John F. Kennedy: "Jika politik mengotori, puisi membersihkan" sembari ngoceh tentang puisi berjudul Soempah Pemoeda yang melahirkan Indonesia, nasionalisme Balai Pustaka dan Pujangga Baru, gelegak semangat Chairil Anwar dkk Angkatan 45, puisi-puisi perlawanan Taufiq Ismail dll Angkatan 66, Rendra yang meneriakkan sajak-sajak pamfletnya dalam demontrasi mahasiswa 1980-an, dan beberapa karya sastra dan seni yang mengiringi gerakan Reformasi 1998.

Selanjutnya saya omong-ngomongin:

"Di antara para sastrawan itu, saat menuliskan karya-karya sastra, ada banyak yang masih dalam kategori pemuda (mahasiswa). Jadi, gak salah juga kalau mahasiswa menulis karya sastra: puisi, cerpen, esai, bahkan novel, serta menulis nahkah dan bermain teater.

Tadi Yoso bilang, mahasiswa kehilangan musuh bersama. Oke, tetapi masalah yang membelit negara-bangsa kita bukannya sedikit. Sebut saja korupsi yang menggila menggerogoti negeri ini. Ini harus dilawan. Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang dikomandani Sosiawan Leak sampai saat ini sudah menerbitkan PMK Jilid 1, PMK 2a dan 2b, bahkan Jilid 3 yang memuat puisi-puisi pelajar.

Sastra itu kan fungsinya untuk membersihkan hati. Puisi misalnya langsung menusuk ke kalbu setiap orang yang membacanya untuk menggugah hati dan rasa kemanusiaan orang tersebut. Pemuda, mahasiswa ya harus membaca sastra. Bukan sekadar biar romantis, tetapi lebih dari itu biar jadi manusia beneran. Hehee...

Jadi pemuda ato mahasiswa itu harus terlibat dalam persoalan bangsanya. Jangan cuma asyik-asyik sendiri.

Gambaran tentang kehidupan mahasiswa itu seperti ditulis Soe Hok Gie, yang mati muda kayak Chairil Anwar: "Buku, pesta, dan cinta".

Ada tiga varian gerakan mahasiswa: pers mahasiswa, kelompok studi/diskusi, dan parlemen jalanan. Ikutin ketiga-tiganya: Membaca, menulis, adu argumen, sekali-sekali turun lapangan: demo! Gak ada larangan ke kafe bareng pacar. Kalau dah gitu, sempurna deh jadi mahasiswa.

La iya, jadi mahasiswa memang hebat. Hebat, karena bisa melakukan apa saja. Kalau mahasiswanya hebat-hebat, mudah-mudahan Indonesia hebat yang didengungkan Jokowi nanti bakal terwujud.

Begitu saja. Lebih kurang saya mohon maaf. Saya kembalikan ke moderator..." n


* Edisi singkatnya dimuat Lampung Post,  Kamis, 6 November 2014 dengan judul Tips Jadi Mahasiswa Hebat.

Tuesday, October 28, 2014

Tokoh

Oleh Udo Z. Karzi


DUA tokoh Lampung menjadi menteri dalam Kabinet Kerja Joko Widodo-M. Jusuf Kalla. Malah ada yang bilang empat tokoh. Dua tokoh itu adalah Ryamizard Ryacudu yang menjadi Menteri Pertahanan dan Siti Nurbaya Bakar yang diamanahi tugas sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Dua lagi siapa?" tanya Minan Tunja.

"Entahlah. Saya enggak enak nyebutinnya. Iya kalau bener, kalau salah kan enggak enak juga disebut ngaku-ngaku atau main klaim aja," timpal Mat Puhit.

"Yang pasti dua: Siti Nurbaya dan Ryamizard Ryacudu. Ketokohan kedua, boleh dicek di buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung (diterbitkan Lampung Post, 2008)," jelas Udien.

"Oh, kalau begitu, di buku itu ada Zulkifli Hasan yang kini menjadi Ketua MPR...," tambah Pithagiras.

***

Itu sudah. Setelah itu, ternyata ada beberapa tokoh di buku itu yang kemudian malah diduga atau malah ada yang sudah divonis bersalah dan sah untuk disebut koruptor.

Nah, reaksi pun beragam.

Beberapa di antaranya (maaf tanpa izin main kutip aja dengan sedikit editan dari Facebook):

Saddam Cahyo: "Hehehe.. Nothing's perfect. 100 tokoh Lampung ini disebut terkemuka adalah fakta. Mereka berprestasi dalam jabatan pun itu karya yang patut diapresiasi. Tapi, timbulnya kritik-kritik yang menyoroti sosok-sosok tokoh Lampung ini juga penting. Konsekuensi menjadi tokoh publik, menjadi role model, harus dikawal rame-rame biar enggak melenceng."

Jun Hm: "Bagi saya, baik tokoh maupun bukan, hidup cuma sekali, harus jujur dan berarti bagi sesama. Batasan tokoh itu pun harus diperjelas."

Oyos Saroso H.N.: "Ini kan 'tokoh' penuh kompromi. Banyak yang sebenarnya memang tokoh tapi tak masuk (dan sebaliknya)."

Gustina Aryani: "Ditokoh-tokohin Bang Oyos hehehe..."

Amirul Huda: "Yang pernah saya baca di buku itu banyak yang cuma numpang 'mbrojol' di Lampung, terus sukses diklaim sebagai tokoh Lampung."

Elzhivago Tabaqjaya: "Saddam Cahyo, maksudnya no body's perfect gitu ya... Yes Allah is The Perfect one and only.... Makhluk wajib menuju kepada kesempurnaan walaupun mustahil."

***

Itu juga sudah. Sekali waktu, Udien datang ke Mamak Kenut dan bilang, "Mamak akan dijadikan Tokoh Ternama Negarabatin."

Mamak Kenut yang bingung cuma nyahut, "Tokoh? Gimana gitu ya?"

"Jadi tokoh itu ternyata enggak enak. Enggak boleh korupsi," kata Radin Mak Iwoh.

"Tokoh? Memang siapa yang menokohkan Radin?" seru Mat Puhit.

"Ih, ge-er..."

Hahaa.... n


Lampung Post, Selasa, 28 Oktober 2014

Friday, October 24, 2014

Perwakilan Lampung

Oleh Udo Z. Karzi


JOKOWI memang wow. Kecuali Amien Rais, semua tokoh hadir dalam pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Joko Widodo-M. Jusuf Kalla, di gedung DPR/MPR, 20 Oktober lalu, termasuk calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, presiden-wakil presiden yang digantikan, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, mantan Presiden B.J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, juga mantan wakil presiden sebelumnya, Tri Sutrisno dan Hamzah Haz. Yang sudah tiada, diwakili istri atau keluarganya.

"Lengkap, deh! Ini sejarah baru," kata Pithagiras.

"Semua senang. Semua hepi...," sambung Minan Tunja.

"Tak ada lagi dendam. Semua menang...," sahut Mat Puhit.

Tapi, Udien, yang belum pernah menjadi gubernur atau jenderal polisi tetap merasa perlu bertanya kepada bos partainya Jokowi di Negarabatin.   

Dan inilah jawabannya: "Saya sekarang sedang di Surabaya. Enggak ada instruksi dari Bu Mega. Jadi besok (hari ini), nyak mak ratong (saya enggak menghadiri) pelantikan Jokowi-JK. Tidak ada perwakilan dari Lampung yang akan menghadiri pelantikan Jokowi-JK," kata Ketua DPD PDI Perjuangan Lampung Sjachroedin Z.P. (Radar Lampung, [20/10/2014], hlm. 1)

Minan Tunja yang denger itu langsung nyahut, "Sudah, sudah kok, Yay. Itu Pak Zulkifli Hasan, ketua MPR, ngewakili Lampung."

Haha... hehe...

"Bangga juga bahwa orang Lampung yang melantik Jokowi," kata Andre Prayhard.

"Kan banyak anggota DPR dan DPD dari Lampung," sambung Fadilasari.

"Tapi saya ragu mereka mereka mewakili Lampung," tukas Mat Puhit.

"Yah, semoga saja. Soalnya kita sudah bosan dengan wakil kita yang tidak mewakili kita sebagai orang Lampung," ujar Mamak Kenut. 

***

Itu sudah. Sekarang, orang-orang lagi geregetan karena susunan kabinet Jokowi-JK yang belum diumumkan.

"Itu bisa mengurangi kepercayaan kepada Jokowi," ujar Pinyut.

"Ah, sok tahu aja lu, Nyut," sambar Mat Puhit.

"Masak enggak percaya sama orang sebaik Jokowi, sih?"

Jika selama ini "politik itu kotor" dan hampir semua perilaku seolah menjadi bukti empiris dari ungkapan ini, Jokowi hadir dengan segala kesantunan, kebajikan, dan kepedulian kepada khalayak dengan gaya blusukannya. 

Kekuasaan itu cenderung korup, kata Lord Acton. Tapi, Jokowi punya jawaban berbeda yang ia wujudkan dalam bentuk kata dan perbuatan yang sejalan.

"Wali kota tidak, gubernur juga tidak. Maka, saat saya mengatakan, 'Tidak mikir, tidak mikir,' itu memang benar-benar tidak memikirkannya. Banyak orang memang tidak percaya. Soalnya, secara logika dan kalkulasi politik memang tidak masuk akal. Saya harus bicara apa adanya. Saya ini kan bukan ketua umum partai. Saya menyadari itu," Joko Widodo menjawab pertanyaan “Anda tidak merencanakan untuk meraih kekuasaan?” dari Kompas (20/10/2014) hlm. 1

"Jujurkah Jokowi? Masak enggak mimpi malah terjadi, enggak kepengen justru dapat...," gugat Radin Mak Iwoh.

"Yah, semoga. Soalnya kita (saya aja kali! hehe... ) sudah bosan dengan sosok yang dipenuhi dengan syahwat berkuasa tapi mengabaikan etika, moral, atau fatsun," sahut Mamak Kenut. n


Lampung Post, Jumat, 24 Oktober 2014

Thursday, September 25, 2014

In Memoriam Bertahindara

Oleh Udo Z. Karzi


Bertahindara
INNALILLAHI wa inna ilaihi rajiun. Sebuah kabar duka menyeruak. Nanny Aja menulis di Facebook hari ini, Rabu (24/9), "Kematian itu pasti dtgnya, dan kita hrs mempersiapkan bekalnya... Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, teriring Al Fatihah tuk sahabatku Bertahindara Herry smoga smua amal ibadahmu ditrima Allah swt. dan diampuni smua dosa2mu dan smoga khusnul khotimah....aamiin YRA..."

Sejauh pengetahuan saya, Nanny Aja—maaf nama lengkapnya Nani Sumarni, kebetulan tinggal satu wilayah dengan saya di bilangan Wismamas Kemiling—adalah teman satu kelas di I-3 SMAN 2 Bandar Lampung (1986—1987), yang kemudian menjadi kakak tingkat di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung. Soalnya, saya sempat “istirahat” satu tahun sebelum menyusul kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan ini tahun berikutnya.

Jenazah Berta diberangkatkan dari Jakarta ke menuju rumah duka di Rawalaut, Bandar Lampung, Rabu, 24 September 2014, siang. Dan, langsung dikebumikan di kampungnya, Gunungsugih, Lampung Tengah.

Bertahindara, teman yang dikabarkan telah mendahului kita berpulang ke hadirat Allah swt., teman satu kelas, I-3 juga. Saya mencoba mengingat-ingat sosok Bertahindara. Namun, maafkan, saya yang kelewat pendiam-penyendiri kala itu rupanya kurang begitu mengenal sosoknya. Begitu naik kelas 2 SMA, saya melupakannya. Kemudian, juga tak ingat dengan yang lain-lain. Hihii...

Begitu saja, sampai kemudian, pada 1999, datang seorang cewek ke kantor surat kabar umum Sumatera Post di Jalan S. Parman, Bandar Lampung. Wartawan baru rupanya. Kabarnya dari Jakarta. Tetapi, kok kenal saya ya. Hehee...

Ya, iyalah. Dulunya di SMA pernah sekelas. Rupanya dia cerpenis juga. "Saya suka menulis dan sempat kerja di Aneka Yess," kata Bertahindara.

Wow, keren juga juga nih cewek. Saya saja cuma menjadi pembaca setia majalah Aneka Yess itu waktu SMA.

"Ya, sudah kamu pegang halaman hiburan saja deh!" kata saya.

Seperginya Aan S. Labuan, halaman yang ada gambar gede cewek semlohoi di bawah rubrik Ck Ck Ck itu memang disuruh saya yang kelola. Christian Heru, Panji Utama, Sudarmono, Iswadi Pratama, Gerald da Silva, M. Arly Prastowo, Ihsan Subakti, dan lainnya waktu itu sih setuju-setuju saja. Begitu pula Pak Redaktur Pelaksana, Heri Wardoyo (sekarang Wakil Bupati Tulangbawang).

Namun, Bertahindara tidak lama di Sumatera Post. Ia kembali bekerja di Jakarta. Waktu ia menikah saya juga enggak datang. Maafkan saya ya Berta. Cuek kok kelewatan.

Kabarnya, sarjana lulusan Manajemen Fakultas Ekonomi Univesitas Lampung ini sempat menjadi reporter tabloid Intelektual dan editor di Gemilang Aksara Mulia yang menerbitkan Majalah Mom Dad & I. Ia juga sempat mengekspos Jenderal Band (Lampung).

Novel Rasa karya Bertahindara
Sebuah novel Rasa (Gramedia Pustaka Utama, 2006) ia wariskan kepada pembaca. Saya belum baca novelnya. Sinopsisnya begini:

Rasa menceritakan persahabatan yang manis antara Raras, Lulu, dan Arga. Raras punya segalanya: wajah cantik, keluarga yang melimpahi kasih, karier yang oke di media terkemuka, dan Lulu, sahabat setia. Hanya satu lagi impiannya, membangun mahligai kebahagiaan bersama Malik. Hari-hari Raras adalah getar-getar rasa bersama Malik, lahir-batin.

Namun bagi Lulu, Malik telah mengubah seratus persen kehidupan sahabatnya. Raras bukan lagi gadis manis. Lulu sering kali harus menyembunyikan kehidupan Raras di luar rumah dari keluarganya. Dan apa yang ditakutkannya menjadi kenyataaan. Raras tersungkur ketika tahu cinta Malik tak sebesar cintanya. Bahkan tak cukup besar ketika mengetahui Raras hamil.

Rasa bersalah karena telah mengecewakan keluarga membuat Raras pergi meninggalkan mereka. Di tempatnya yang baru Raras menemukan cinta yang lain... yang tidak menuntut... cinta yang penuh perlindungan...

Selamat jalan, sahabat Bertahindara. n


Lampung Post, Kamis, 25 September 2014

Saturday, September 13, 2014

Enakan Langsung!

Oleh Udo Z. Karzi


COGITO ergo sum, saya berpikir maka saya ada, kata Rene Descartes (1596—1650). Iswadi Pratama dalam sebuah esainya memodifikasinya menjadi, "Saya berkarya maka saya ada". Demokrasi bisa diformulasikan dalam kredo yang serupa, "Saya berdemokrasi maka saya ada".

Demikianlah, hak-hak (politik) rakyat hanya akan terjawantahkan jika mereka mengambil bagian dalam berdemokrasi. Yang paling mudah untuk melihat demokrasi adalah melalui pemilihan umum (pemilu); rakyat secara berkala dan berkesinambungan menyalurkan pendapatnya melalui pemilu. Sebab, pemilu adalah unsur penting dalam demokrasi.

UUD 1945 menyubstitusi konsep demokrasi dalam Pasal 1 Ayat (2): "Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang". 

Apa pun definisi demokrasi, menempatkan kedaulatan rakyat sebagai kekuasaan tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Pengertian mengenai demokrasi yang dianggap paling populer dikemukakan Abraham Lincoln pada 1863. Ia mengatakan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the people//). Pemerintahan dari rakyat berarti pemerintahan negara itu mendapat mandat dari rakyat untuk menyelenggarakan pemerintahan. Pemerintahan oleh rakyat berarti pemerintahan negara itu dijalankan oleh rakyat. Pemerintahan untuk rakyat berarti pemerintahan itu menghasilkan dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk kepentingan dan kejahteraan rakyat.

Pemahaman demokrasi juga mengalami perubahan dan perkembangan secara terus-menerus dari waktu ke waktu sehingga tidak heran apabila banyak negara mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi meskipun pada praktiknya banyak yang jauh dari nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Demokrasi Indonesia telah melakukan lompatan tinggi dengan penyelenggaraan pemilihan presiden dan pemilihan kepada daerah secara langsung (pemilu predisen dan pemilukada). Terlepas dari segala kekurangannya, kita sukses! Ini prestasi luar biasa, yang rasanya sulit diraih oleh negara sekaliber Paman Sam—yang selalu gembar-gembor memiliki demokrasi terbaik di dunia—sekalipun.

Tapi, agaknya banyak yang unhappy melihat demokrasi kita berkembang pesat. Hari-hari ini kita disuguhkan sikap ngotot dari sebagian pihak yang ingin mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD. Berbagai alasan pun dikemukakan seperti pemilukada (pilkada langsung) lebih mahal ongkosnya, lebih banyak mudaratnya, cenderung memperbesar konflik di kalangan masyarakat, politik uang, dst.

"Enakan langsung," kata Minan Tunja.

"Iya, kalau lewat DPRD, kita-kita rakyat kecil enggak kebagian sembako dari calon kepala daerah," timbrung Pinyut.

"Aih lu sih makan aja yang dipikirin," semprot Mat Puhit.

"Naiya geh, kalo DPRD yang milih ya anggota Dewan aja yang dapat," Pinyut membela diri.

"Iya juga sih. Penting bagi calon kandidat kepala daerah itu bisa mengambil hati rakyat. Ya, itu selama rakyat masih matre, ya calon yang bergizi ya itulah yang terpilih," sindir Radin Mak Iwoh.

"Pada titik tertentu, tetap saja rasionalitas rakyat berjalan kok. Buktinya, tanpa mengabaikan fenomena kepala daerah yang korup, di beberapa daerah pilkada langsung (pemilukada) menghasilkan pemimpin yang berkualitas," kata Udien.

"Jadi gimana?" tanya Pithagiras.

"Perbaiki kelemahan pemilukada, tetapi tidak dengan mengembalikan pilkada oleh DPRD," kata Mamak Kenut.

Begitu! n


Lampung Post, Sabtu, 13 September 2014

Monday, August 25, 2014

Jalan Hidup

Oleh Udo Z. Karzi


SEJAK Indonesia merdeka 69 tahun lampau, hanya anggota elite politik dan militer yang terpilih sebagai presiden. Joko Widodo (Jokowi) adalah pemimpin pertama dari luar dua golongan tersebut yang terpilih sebagai orang nomor satu di Indonesia. Kemenangannya dalam Pilpres 9 Juli pun telah dikukuhkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh gugatan Prabowo-Hatta, 21 Agustus lalu.

Jokowi berangkat dari keluarga kelas bawah, tumbuh di bantaran kali, dan hidup dengan serbakurangan. Lahir di Solo, 21 Juni 1961, sebagai anak sulung dari empat bersaudara keluarga Noto Miharjo-Sujiatmi, Jokowi sempat kuliah di Jurusan Teknologi Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1985.

Bekerja di sebuah BUMN lalu mengembangkan usaha mebel, kemudian terpilih menjadi wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, dan kini tinggal menunggu pelantikan menjadi presiden RI pada 20 Oktober nanti.

"Inilah jalan hidup Jokowi," kata Mat Puhit.

"Kalau begitu, jalan hidup pula yang menyebabkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa belum bisa melangkah ke kursi kepresidenan," celetuk Pithagiras.

"Ya, begitulah," sahut Mat Puhit.

Udien membaca profil 50 sosok dalam buku Inspirasi: Merajut Lampung Bermartabat yang diterbitkan Lampung Post, 2014. Bisa disimak kisah-kisah: Abdul Roni yang tunanetra berkali-kali menjadi juaran Musabaqah Tilawatil Quran, Ari Pahala Hutabarat yang "bengal" menjadi penyair dan sutradara andal, Budi Kadaryanto yang buruh tani kemudian menjadi pakar linguistik, Emed yang orang biasa saja yang berhasil menerangi Suoh, dan Fitri Yani yang bingung membalas pantun dari seorang meranai dalam nyambai kemudian bisa meraih Hadiah Sastra Rancage 2014.

Lalu, ada I Wayan Sumerta Dana Arya yang orang Bali tetapi begitu mencintai Lampung dan mengembangkan musik tradisionalnya, ada Syapril Yamin yang mendedikasikan hidupnya untuk musik tradional seperti gamolan,  ada Najiha Julia Arifin yang hanya dari TKI kemudian mampu membangun usaha mandiri.

Ada nama-nama pengusaha, politikus, bupati, akademisi, dan artis. Termasuk, M. Ridho Ficardo yang muda, bahkan kemudian menjadi gubernur termuda di Asia. Satu lagi, Heri Wardoyo, yang wartawan Lampung Post kini menjadi wakil bupati Tulangbawang.

"Apakah nama-nama itu menginspirasi?" gugat Minan Tunja.

"Setiap orang punya kisah hidup. Sekecil apa pun cerita bisa menjadi bahan renungan, bisa untuk ditiru, atau bisa juga untuk jangan dicontoh," jawab Mamak Kenut.

Tiba-tiba ada yang telepon Mamak Kenut menanyakan, "Anak saya pengen masuk SMK. Tapi, saya khawatir tentang masa depannya. Bagaimana prospek jurusan...?" (jurusannya sengaja dirahasiakan takut ada yang protes hehe).

"Bagus, kok! Yang pentingkan kita siapkan jalan ke masa depan. Tak selalu apa yang kita rencanakan sekarang akan seperti itulah di masa depan. Ada banyak sarjana pertanian yang jadi wartawan, ada insinyur yang memilih menjadi pencipta lagu, ada dokter yang lebih sering menulis fiksi, dan seterusnya. Itu jalan hidup masing-masing."

Minan Tunja yang mencuri dengar ocehan Mamak Kenut di telepon langsung nyeletuk, "Mamak, Mamak... ngomong doang. Mamak sendiri gimana?”

“Memang saya kenapa?”

“Dari dulu Mamak Kenut ya begitu-begitu saja. Tetap miskin bin kere. Itukah jalan hidup Mamak Kenut?"

Agui, kok malah jadi serangan balik ke Mamak Kenut. Nyengir, deh! n   


Lampung Post, Senin, 25 Agustus 2014

Monday, August 4, 2014

Kata-Kata Sejuk

Oleh Udo Z. Karzi


SPIRIT Idulfitri menghendaki kita menjadi manusia-manusia yang terbebaskan dari segala bentuk belenggu. Mulai dari belenggu dosa, dendam antarsesama, ketertindasan, sampai pada belenggu kelaparan (Q.S. 3: 133-134). Idulfitri membebaskannya melalui rangkaian ajaran: saling memaafkan, berzakat, bersedekah, dan berbagai rasa bahagia terhadap kaum fakir dan miskin.

Inilah waktu untuk memasuki kehidupan baru yang bersifat autentik sekaligus bekal pada tahun-tahun mendatang. Indikasinya terpancar dari kesalehan spiritual yang berjalan beriringan dengan kesalehan sosial, kesalehan manajemen, kesalehan politik, kesalehan organisasi, dan kesalehan birokrasi.

Berbagai kesalehan itu kemudian menjadi etika publik yang terobjektivikasi ke berbagai ruang kehidupan. Manusia yang dilahirkan dari rahim Idulfitri adalah manusia yang tercerahkan. Ia mampu untuk mengobjektifikasi kesalehan personal dan spiritual kepada kesalehan publik secara luas.

***

Ya, Lebaran adalah hari kemenangan atas peperangan melawan hawa nafsu selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Tapi, Ramadan dan Lebaran ternyata tak membuat suasana menjadi lebih damai dan tenteram.

Benar, 3 Syawal terjadi bentrok massa di Tanggamus dan Lampung Selatan. Kerusuhan di Pekon Sukaraja, Kecamatan Semaka, Tanggamus, terjadi pada Rabu (30/7) malam. Saat itu, warga Pekon Sukaraja mendapat telepon warga Pekon Tugupapak, Semaka, terkait adanya seorang pencuri yang lari ke arah Sukaraja. Sebab itu, berkumpullah warga Sukaraja untuk mencegat orang yang dilaporkan mencuri tersebut.

Warga pun berhasil menangkap pelaku dan tak ayal menjadi bulan-bulanan massa dan tewas di tempat kejadian. Tidak terima warganya menjadi korban main hakim sendiri, massa dari Pekon Karangagung mendatangi Pekon Sukaraja. Mereka melampiaskan amarah dengan membakar empat rumah. 

Kerusuhan massa juga meletus di Desa Way Galih, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, Rabu (30/7) malam. Bentrok bermula ketika pukul 17.00, beberapa pemuda, di antaranya Rga (19), warga Dusun 2A, Way Galih, bersama Bgs mengendarai sepeda motor secara ugal-ugalan melintasi Dusun 2A.

Mereka melaju kencang hingga ke Dusun 5B, Desa Way Galih. Saat itu, Niko, yang masih duduk di kelas IX, tengah bersantai di depan rumah. Tanpa sebab, tiba-tiba Rga menghunuskan parang dan melukai perut Niko. Setelah itu, Rga dan Bgs kabur.

Kejadian itu memicu emosi para pemuda di sana sehingga terjadi saling lempar batu dan mercon antara Dusun 2A dan 5B, sekitar pukul 21.00. Keadaan sedikit mereda setelah anggota DPRD Lamsel dari Fraksi PDI Perjuangan, Nanang Hermanto, menjanjikan Rga akan ditangkap. 

***

Jumat pertama di bulan Syawal 1435 H bertepatan dengan 1 Agustus 2014, ada khatib yang justru membakar-bakar hati jemaah dengan khutbahnya yang berapi-api tentang pembantaian Israel di Jalur Gaza: "Tak cukup memboikot produk Yahudi. Tapi kita lupa dengan produk Yahudi yang sangat berbahaya, yaitu sekularime. Sekularisme inilah yang melahirkan liberalisme, kapitalisme... demokrasi. Selama kita masih menganut demokrasi, negara kita tetap akan tergadaikan.... dst."

Dan, Mamak Kenut hanya duduk terpaku di antara barisan jemaah jumat dengan pikiran tak tenang. Ya, Allah, mohon maaf jika salat jumatnya Mamak Kenut pun mungkin tak khusyuk.

Sungguh, Mamak Kenut hanya membutuhkan kata-kata yang sejuk di tengah panasnya suhu politik yang tak juga turun-turun. n


Lampung Post, Senin, 4 Agustus 2014

Saturday, July 26, 2014

Sebentar Lagi Lebaran

Oleh Udo Z. Karzi


SEBENTAR lagi Lebaran. Kendaraan pemudik yang akan menyeberang ke Pulau Sumatera mulai memenuhi Pelabuhan Merak, Banten, pada H-4. Sempat terjadi antrean kendaraan yang mengular hingga 6 kilometer mulai dari pintu gerbang pelabuhan hinggal Tol Merak. Selain kendaraan roda empat, kendaraan roda dua juga mulai memadati pelabuhan penghubung Pulau Jawa dan Sumatera itu.

Sebentar lagi Lebaran. Pasangan capres-cawapres bersiap menyusun kabinetnya. Namun, sejauh ini, baru kriteria menjadi anggota kabinet yang disebut.

Lalu, PDIP pun secara resmi menggugat hasil revisi Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) ke Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (24/7). Gugatan tersebut disampaikan Ketua DPP PDIP Bidang Hukum Trimedya Panjaitan dan didampingi kuasa hukumnya, Andi M. Asrun.

Di lain pihak, tim advokasi Merah Putih untuk perjuangan keadilan mengadukan komisioner KPU dan Bawsaslu ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Kamis (24/7). Pengaduan kubu pendukung calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa diterima langsung anggota DKPP, Nur Hidayat Sardini, di kantor DKPP, Jakarta.

Sembari itu, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa membuat permohonan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi, Jumat (25/7/2014). Tidak tanggung-tanggung, mereka telah menyiapkan bukti hingga sepuluh truk untuk memperkuat laporan tersebut.

Sebentar lagi Lebaran. Data korban yang dikeluarkan UNHCR menyebut total korban akibat operasi militer Israel atas Jalur Gaza selama 17 hari terakhir telah membunuh 732 warga Palestina. Sebagian besar adalah korban sipil, termasuk 147 anak-anak.

Motif pembunuhan terhadap Ispandi, bendahara pengeluaran Inspektorat Kabupaten Tanggamus dan keluarganya mulai terkuak. Penyidik Polda Lampung mencurigai seseorang yang belum disebutkan namanya terlibat dalam pembunuhan keji tersebut.

Sebentar lagi Lebaran. Dua terdakwa korupsi pengadaan alat tangkap ikan (kapal) di Dinas Kelautan dan Perikanan Tanggamus senilai Rp516,2 juta divonis berbeda. Affandi Abdul Rohim (54), pegawai negeri di Dinas Kelautan dan Perikanan Tanggamus, divonis 2 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan. Sementara Toni Safari (54), direktur CV Puyangan, dijatuhi hukuman 3 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Polres Lampung Barat menetapkan lima tersangka dari 11 yang ditangkap dalam penggerebekan judi remi, Rabu (23/7). Kelima tersangka itu adalah Hapzon, pejabat eselon III di Lambar, Rahman (wiraswasta), serta Wendi dan Kuswanto (keduanya angggota DPRD Lambar). Satu lagi, Ks, yang kabur saat penggerebekan.

Lebaran sebentar lagi. Peserta salat Tarawih di masjid makin berkurang. Jumlah yang tidak berpuasa justru meningkat pesat. Pasar, toko, mal semakin ramai dikunjungi.  Pakaian, makanan, minuman, dan berbagai barang dan jasa makin laris manis. Semua bergegas, takut tak kebagian, takut ketinggalan. Semua demi Lebaran.  

Tapi, sebanyak 15 karyawan Hotel Ria di Jalan Kartini, Bandar Lampung, mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Bandar Lampung, Kamis (24/7), mengadukan hak-hak mereka, yaitu tunjangan hari raya (THR) yang belum dibayarkan.

Duh, sebentar lagi Lebaran... n


Lampung Post, Sabtu, 26 Juli 2014

Thursday, July 17, 2014

Lagi Buntu

Oleh Udo Z. Karzi


"MERAGUKAN quick count sama dengan melecehkan ilmu pengetahuan," kata Pinyut ketika ribut-ribut tentang hasil hitung cepat dari 12 lembaga survei yang berbeda soal hasil pilpres.

"Eit, nanti dulu, harus dilihat dulu metodologi quick count-nya. Salah metodologi, ya salah juga hasilnya," kata Mat Puhit.

"Aih, sudahlah. Kita enggak usah meributkan itu. Coba baca dulu Seruan Moral Ilmuwan Menyikapi Hasil Pemilihan Presiden Republik Indonesia yang ditandatangani puluhan ilmuwan, peneliti, pekerja akademik di lembaga pemerintah dan nonpemerintah ini...," sodor Mamak Kenut.

Poin kedua pernyataan itu, bunyinya begini: "Kepada institusi penegakan hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia, agar sungguh-sungguh menyelidiki kredibilitas, rekam jejak, dan menindak tegas lembaga survei, jika diduga kuat memalsukan data dan membohongi publik. Pemalsuan data dan pembohongan publik berdampak serius dan fatal bagi keutuhan masyarakat dan masa depan Indonesia. Di samping itu, agar Polri memberikan perlindungan dan rasa aman kepada warga masyarakat sipil yang berpartisipasi untuk membantu proses dan memantau penghitungan suara."

Poin ketiganya: "Kepada para pengelola lembaga survei terkait penghitungan cepat agar melakukan uji publik validitas data dengan mengklarifikasi metode dan sampelnya."

"Untuk kebaikan masa depan, pembenahan lembaga survei sangat diperlukan. Jangan sampai ada kesan ilmu pengetahuan (dalam hal ini statistika) itu tidak ada gunanya, atau hanya diperlukan bila menguntungkan suatu kelompok. Prinsip bahwa statistika itu untuk mencari kebenaran harus betul-betul dipegang," tulis Asep Saefuddin, guru besar statistika FMIPA IPB, Rektor Universitas Trilogi (MI, 15/7)

***

Kata kuncinya di situ: ilmu pengetahuan (sains). Definisi umum tentang ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

"Kok banyak ngutip-ngutipnya kayak gitu sih?" protes Pithagiras.

"Lagi buntu, lagi malas mikir," sahut Mamak Kenut.

"Tumben?" sela Udien.

"Ais sudahlah. Yang penting sekarang inti dari kutipan-kutipan itu," timbal Mamak Kenut.

"Apa?" tanya Radin Mak Iwoh.

"Berdasarkan kutipan-kutipan dan definisi di atas (caelah Mamak Kenut kok kayak belajar menulis paper lagi), jelaslah hasil penelitian-penelitian (ilmu-ilmu yang dihasilkan dari survei) tersebut harusnya memberi pencerahan kepada masyarakat. Bisa menjelaskan menjadi lebih jelas dan bukannya tambah mak jelas," kata Mamak Kenut.

"Jadi siapa yang menang?"

"Eh, kok balik ke situ. Tunggu aja tanggal 22 Juli..."

"Begitu ya?"

"Ya, begitu!" n


Lampung Post, Kamis, 17 Juli 2014 

Tuesday, July 15, 2014

Kendati Puasa...

Oleh Udo Z. Karzi


RAMADAN memang bulan istimewa. Saking istimewanya, banyak ironi yang terjadi pada bulan ini. Banyak yang aneh-aneh pada bulan ini.

Ini misalnya: Kendati bulan puasa, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Lampung tetap memberikan pelatihan kepada para pengelola perpustakaan sekolah, pekon (desa), dan taman bacaan di 15 kabupaten/kota se-Lampung. (Lampost, 14 Juli 2014). 

"Aneh juga kenapa kalimatnya seperti itu. Kenapa kok puasa menjadikan acara pelatihan pengelolaan perpustakaan sebagai kegiatan yang luar biasa?" celetuk Mat Puhit.

"Kalau puasa kan lemas. Kasianlah panitianya," kata Radin Mak Iwoh.

"Ala, puasa tidak boleh membuat orang bermalas-malasan. Puasa tidak boleh menghentikan program yang seharusnya jalan. Masa gara-gara puasa semua kerjaan harus ditunda...," Minan Tunja gemes.

La, iya. Lihat saja Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 dan pelaksanaan Piala Dunia 2014 di Brasil yang baru saja ditutup kemarin, tetap dilaksanakan kendati secara kebetulan pada bulan puasa. Kendati puasa, beberapa pesepak bola muslim tetap menjalankah ibadah puasa.

Kendati puasa, orang-orang tetap saja berkampanye hitam, menebar berita bohong, fitnah, dan bikin survei ecek-ecekan sesuai pesanan pihak yang bayar. Kendati puasa, kecurangan tetap mewarnai pilpres, me-mark up jumlah suara salah satu capres, dan sebaliknya mengurangi jumlah suara capres lawannya.

Kendati puasa, penjambretan, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai jenis kejahatan lain tetap berlangsung, bahkan bertambah marak. Kendati puasa, nafsu yang harus dikekang justru diumbar, makan-minum justru lebih banyak dibanding ketika tidak puasa, tingkat konsumsi malah meningkat pesat, bahkan diam-diam tambah rajin korupsi. 

Kendati puasa, Israel tambah menggila. Setelah lebih dari sepekan membombardir roket ke Gaza, Minggu (13/7), pasukan Israel melancarkan serangan darat. Sebelumnya, pasukan Angkatan Laut Israel terlibat baku tembak dengan milisi Hamas di kawasan pesisir Gaza. Artinya, kendati puasa dan kendati dikutuk dari berbagai penjuru dunia, Israel tetap menjalankan aksi pembantaian biadab warga sipil Palestina tanpa perikemanusiaan.

Untungnya, kendati puasa, massa dan mahasiswa di Lampung seperti juga di berbagai pelosok Tanah Air dan dunia menggalang dana kemanusiaan peduli korban Gaza.

Kendati puasa, kita berharap pengumuman hasil pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) 22 Juli nanti berjalan aman dan damai. Semua pihak mau menahan diri. Dan pada saatnya, capres dan pendukungnya yang kalah akan bisa berbesar hati menerima kekalahannya.

Kendati puasa, kita semoga tetap tak mudah marah, banyak menebar senyum karena senyum adalah sedekah, dan tetap berbahagia menatap masa depan demokrasi di negeri ini.

Kendati puasa... n  


Lampung Post, Selasa, 15 Juli 2014

  

Monday, July 14, 2014

Mengaku Pakar

Oleh Udo Z. Karzi


UNTUNG bener di Indonesia banyak pil. Bukan pria idaman lain, melainkan pemilihan. Pil itu mulai dari pil-RT, pilkades, pilbup/pilwako, pilgub, pileg hingga pilpres. Kontestasi-kontestasi tersebut paling tidak telah membuka peluang kerja yang lumayan besar bagi banyak pihak: tim pemenangan, tim kampanye, juru bicara, dan seterusnya.

Saat ini yang masih belum juga dingin adalah pilpres, 9 Juli lalu. Sebelumnya, tarik-ulur pelaksanaan pemilihan gubernur Lampung, tahun depan ada lagi pilkada di beberapa kabupaten/kota di Lampung.
Inilah rupanya pasar tenaga kerja yang kini semakin luas di era demokrasi mulai laku di negeri ini. Banyak profesi baru terkait pil-pil ini.

Tapi, ada yang mengkhawatirkan dari fenomena ini. Koordinator Tim Citra Indonesia Soeyanto mengirim pesan pendek: "Saat hari-hari tenang menjelang pilpres, banyak sekali yang mengaku-ngaku pakar, pengamat, peneliti, surveyor, serta komentator bicara bebas dan suka-suka di media terkait analisis mereka tentang capres, kekuatan parpol-parpol pendukung, dan peta wilayah-wilayah pendukung. Ini adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab karena apa yang mereka bicarakan itu banyak biasnya terkait data yang masih data yang masih dinamis. Segala ucapan mereka dapat menumbuhkan persepsi tertentu dan berpihak. Media yang melakukan ini telah melakukan pelanggaran etik atas niatan adanya hari tenang. Ke depan harus ada aturan jelas dan tegas mengenai hal ini terkait siapa-siapa yang kredibel bicara dan batasan apa-apa yang perlu dibicarakan." (Lampung Post, 9 Juli 2014)

Betul juga. Bacalah koran atau lihat tipi, perdebatan masih saja sengit soal siapa pemenang pilpres. Tengok siapa narasumbernya. Selain orang lama, ada banyak yang baru: pakar baru, pengamat baru, peneliti baru, surveyor baru, serta komentator baru. Yah, semoga saja mereka-mereka bukan pakar palsu, pengamat palsu, peneliti palsu, surveyor palsu, serta komentator palsu.

Tapi, memang susah juga membedakan yang asli dengan yang palsu. Cuma masyarakat saja yang dibuat bingung. Paling-paling Mamak Kenut aja yang mengernyitkan pakar si A kok ngomong kayak gitu. Si B mesti begitu.

"Pakar kok omongannya kek gitu?"

"Pengamat kok ngotot amat?"

"Induh weh, " kata Minan Tunja.

Terserah deh. Tapi jangan lupa etika akademik. "Berkata benar itu baik, berkata arif itu lebih baik lagi," ujar Andi Hakim Nasution. Lalu, Andi pun memberikan pedoman kerja bagi para ilmuwan, dosen, yang juga harus melakukan penelitian, yakni  (1) Bekerjalah dengan jujur; (2) Janganlah sekali-kali menukangi data; (3) Selalulah bertindak tepat, teliti, dan cermat. (4) Berlakulah adil terhadap pendapat orang lain yang muncul terlebih dahulu; (5) Jauhilah pandangan berbias terhadap data dan pemikiran orang lain; dan (6) Janganlah berkompromi, tetapi usahakanlah menyelesaikan permasalahan secara tuntas.

Jadi, kalau jadi pakar, pengamat, peneliti, surveyor, komentator, atau apa pun yang terkait dengan keilmuan; jangan ngasal geh! n


Lampung Post, 14 Juli 2014


Saturday, July 12, 2014

Kotak-katik Kotak

Oleh Udo Z. Karzi


KOTAK-KOTAK makin ngetop aja. Apalagi setelah Joko Widodo menjadi gubernur DKI Jakarta. Apalagi setelah menjadi calon presiden dan berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) delapan lembaga survei mengungguli Prabowo dalam Pemilihan Presiden 9 Juli 2014.

Tapi, kotak-kotak tak hanya sekarang terkenal. Udo Z. Karzi, misalnya, menulis tentang kotak-kotak ini di Republica No. 2, Desember 1990. "Apa sih istimewanya kotak? Untuk apa sih menciptakan kotak-kotak?" gugat Udo waktu itu.

Seiring perjalanan waktu, ternyata kita memang butuh kotak. Terbaru, baju kotak-kotaknya Jokowi ternyata menciptakan kotak bernama Jokowi-JK yang berhadap-hadapan dengan (tanpa) kotak Prabowo-Hatta dalam pilpres. Dua kotak besar ini telah melahirkan keterbelahan dalam masyarakat sebelum, saat, dan setelah pilpres.

Maka, berhamburanlah kabar bohong, fitnah, kampanye hitam, tabloid Obor Rakyat, tabloid Obor Rahmatan Lil Alamin, saling hujat, ejek-mengejek, cibiran dibalas cibiran, hinaan dilawan hinaan, bahkan PHK (pemutusan hubungan kawan), baik langsung maupun tidak langsung melalui teknologi informasi semacam Facebook, Twitter, BBM, dan SMS.

"Pemilu tahun ini penuh kecurangan. Panitia pilpres saja sudah berpihak ke Jokowi!" tuding Mat Puhit tiba-tiba.

"Eit, jangan sembarang tuduh, dong! Mana buktinya?" sahut Radin Mak Iwoh.

"Iya, Mat. Kok ngomong ngawur kayak gitu?" sambung Mamak Kenut ngeliat Radin Mak Iwoh sudah platat-plotot.

Bagaimana pun kerja keras Radin Mak Iwoh sebagai petugas KPPS (kelompok panitia pemungutan suara) yang kredibel dan punya integritas harus dihargai.

"Hehee... Na, temon kidah. Waktu saya datang ke TPS tanggal 9 kemarin, tempo hari petugas sudah kasih kotak. Baju kotak-kotak itu kan baju kampanyenya Jokowi. Kan benar petugasnya... mendukung Jokowi," jelas Mat Puhit.

"Hahaaa...."

"Pemilu tanpa kotak gimana dong. Surat suara yang sudah dicoblos mau ditarok di mana?" tambah Mat Puhit.

"Wa, Mat Puhit... ini sih kampanye hitam. Fitnah tahu...," ujar Minan Tunja.  

Ya elah, kalau begitu sih, semua butuh kotak: kotak pos, kotak makanan, kotak minuman, kotak pensil, kotak sampah, kotak tisu, ... kotak-kotak, kotak-kotak.

Betul, tapi jangan terlalu fanatiklah dengan kotak. "Enggak usah berlebihanlah memfavoritkan seorang calon presiden apalagi sampai menjelek-jelekkan, memfitnah, bahkan memusuhi pendukung calon lain. Kita dengan Pak Capres enggak kenal, malah jadi ribut, musuhan atau enggak enakan dengan yang kita sudah kenal, bahkan kenal lama," tulis Yuzirwan Zubairi (Uneg-eneg Capres, Kompasiana, 8 Juli 2014).

Benar kita suka dengan kotak. Kita juga kadang bikin kotak seperti nama Tantri dkk. dengan grup musik, Kotak.

Kotak-kotak itu penting enggak penting. Penting untuk identitas, meraih dukungan, dan tolong-menolong. Tapi, celaka kalau kita cuma merasa benar sendiri, hebat, dan tak mau menghargai orang (kotak) lain.

Akhirnya, ini sih benar-benar cuma kotak-katik kotak! Hehee... n 


Lampung Post, Sabtu, 12 Juli 2014

Saturday, July 5, 2014

Abdul Moeloek

Oleh Udo Z. Karzi


SEBUAH nama mencuat. Dalam sembilan kontrak perjuangan rakyat Jokowi-JK, tersebutlah nomor 5 yang berbunyi "Piagam Abdul Moeloek, komitmen untuk untuk perjuangan bagi tenaga kesehatan, apa pun profesinya."

"Aih, mulai kampanye Jokowi lagi, nih," kata Radin Mak Iwoh.

"Enggaklah, saya tetap pada posisi tidak mendukung siapa-siapa. Saya hanya tertarik dengan nama Abdul Moeloek," sahut Mamak Kenut.

"Memang siapa dia?" kejar Udien.

"Tetanggaku dulu di Liwa," sahut Mamak Kenut.

"Yang serius dulu, weh," kata Pithagiras.

"Ya, benarlah. Ia putra terbaik Lampung yang namanya juga diabadikan untuk nama rumah sakit umum daerah Lampung, yaitu RSUD Abdul Moeloek, sebagai penghargaan terhadapnya perjuangannya di bidang kesehatan di negeri ujung pulau ini," terang Mamak Kenut lagi.

"Ee, iya. Betul ia tokoh kesehatan Lampung," sambung Minan Tunja.

"Betul. Namanya namanya juga tercatat dalam buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung yang diterbitkan Lampung Post, 2008."

***

Abdul Moeloek (lahir di Padangpanjang pada 10 Maret 1905 dan meninggal di Bandar Lampung, 1973) adalah pelopor kesehatan medis di Bumi Ruwa Jurai. Liwa dan Krui adalah tempat pengabdian pertama dokter lulusan Stovia/GH, Jakarta (1932). Lima tahun (1940—1945) menjadi dokter di sana, sentuhan tangannya identik dengan kesembuhan orang sakit.

Kehadiran Abdul Moeloek di Liwa dan Krui telah membuka kesadaran masyarakat tentang dunia medis. Apa pun jenis penyakitnya, masyarakat optimis sembuh jika diobati dokter asal Sumatera Barat itu. Pasiennya bahkan meluas sampai daerah Muara Dua, Sumatera Selatan.

Dia adalah direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang (sebelum diubah menjadi RSUD dr. Haji Abdul Moeloek), dan paling lama memegang jabatan sebagai direktur (selama 12 tahun, 1945—1957).

Tahun 1935, ayah mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek ini menjadi kepala RS Bangkiang. Dua tahun kemudian (1937), suami dari Hj. Poeti Alam Naisjah dan ayah lima anak ini ditempatkan lagi di RS Kariadi Semarang.

Saat menjadi dokter di Liwa, Krui, dan Muara Dua, Abdul Moeloek sempat diangkat sebagai "Bupati Perang" di Liwa dengan pangkat mayor tituler. Gubernur Perang-nya adalah dr. Abdul Gani yang saat itu gubernur Sumatera Selatan.

Ia dikenal sangat disiplin, pekerja keras, tegas, jujur, dan dekat pada masyarakat. Ketika militer Jepang merekrut banyak warga untuk dijadikan romusa (pekerja paksa yang tak dibayar) di Palembang, misalnya, dia punya trik khusus. Saat itu, banyak romusa yang tidak pulang lagi karena meninggal akibat sakit atau kurang makan.

Setelah lima tahun di Pesisir Barat-Lampung Barat-Sumsel, Abdoel Moeloek ditempatkan di RS Tanjungkarang (1945). Satu-satunya dokter saat itu, dia menjabat kepala RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang, setelah kedua rumah sakit itu diambil alih dari tangan Jepang.

Peranan Abdul Moeloek menjadi penting dan sangat strategis pada saat perang kemerdekaan (1945—1950). Ia menyuplai obat-obatan kepada para gerilyawan Lampung. Ia juga terjun langsung menangani korban perang.

Meski demikian, ia tetap menjaga dedikasi dan profesionalitasnya sebagai dokter. Suatu hari, terjadi clash (pertempuran) antara tentara gerilya dan Belanda. Dengan pita palang merah di lengan, ia mengobati korban-korban. Bukan hanya pejuang Republik, melainkan juga tentara Belanda.

Untuk merawat korban perang yang terus berdatangan, Abdul Moeloek dan paramedis RS Tanjungkarang bekerja siang dan malam. Dia amanatkan pada seluruh tenaga medis agar mengobati siapa saja yang dibawa ke rumah sakit. Tidak membeda-bedakan prajurit Indonesia atau Belanda.

***

Melihat pengabdiannya bagi kemanusiaan, kata Mamak Kenut, wajar jika nama Abdul Moeloek kini pun diabadikan sebagai sebuah piagam perjuangan bagi membangun kesehatan masyarakat. n


Lampung Post, Sabtu, 5 Juli 2014

Saturday, June 28, 2014

Kreatif, Ana Kidah...

Oleh Udo Z. Karzi


KUNCINYA kreatif. Tanpa kreativitas, sulit mengikuti perkembangan zaman, sementara dunia selalu berubah. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan... makanya, kreatif.

Begitu berkali-kali sering Mamak Kenut dengar dalam berbagai kesempatan. Karena itu ketika kasih materi menulis ilmiah populer dalam sebuah pelatihan karya ilmiah mahasiswa sebuah perguruan tinggi, Kamis (26/6), ia pun bersabda dengan entah mengutip siapa: "Berpikir kreatif sangat penting dalam mendukung kemampuan menulis. Nah, terkadang hal ini yang membuat seseorang menjadi minder untuk menulis karena merasa dirinya kurang atau tidak berbakat. Padahal, bakat itu baru bisa kita ketahui apabila kita telah mencobanya dan ternyata bakat itu bisa diasah."

"Agui, Mamak Kenut bersabda," ledek Minan Tunja.

Mamak Kenut pura-pura enggak dengar lalu melanjutkan, "Pengetahuan tanpa kreativitas tidak akan berkembang. Sebaliknya, kreativitas yang didukung dengan ilmu pengetahuan tentu akan membuat seseorang menjadi orang yang sukses. Oleh karena itu, ayo kita mengasah daya berpikir dan berimajinasi dengan terus berlatih dan menambah ilmu pengetahuan, seperti apa yang diucapkan oleh ilmuwan cerdas yang baru menggunakan 1% fungsi otaknya, Albert Einsten: Imagination is more important than knowledge."

"Wow, kutipan yang hebat," celetuk Mat Puhit.

"Merasa diri tidak kreatif dapat mengakibatkan seseorang benar-benar tidak kreatif, padahal setiap orang dapat kreatif asal tahu kuncinya yaitu: 'Menjadi kreatif berarti melihat sesuatu yang sama seperti orang lain, tetapi memikirkan sesuatu yang berbeda'."

Entahlah, secara kebetulan Udien membaca Kompas, kemarin (27/6) yang hadir dengan Edisi Khusus Energi Kota Kreatif 100+ Halaman. Bagaimana menentukan "kota kreatif"? Begini antara lain Kompas menulis: "... Kota dirancang atau ditata ulang dengan berorientasi pada penyediaan prasarana dan sarana untuk memudahkan mobilitas manusia, barang, dan jasa tanpa harus merusak lingkungan. Secara dialektis, kota kreatif membuat para penghuninya juga menjadi kreatif. Hanya dalam lingkungan hunian kota yang dinamis, bergairah, dan kreatif, warga dapat mengembangkan diri secara leluasa. Sebaliknya, kota yang tidak kreatif membuat penghuninya cenderung pasif, tidak mampu beradaptasi dengan perubahan. Kegagalan beradaptasi membuat kota menjadi korban, berkembang liar. Kota semacam ini sama sekali tidak kondusif bagi proses pengembangan hidup yang lebih kreatif dan dinamis." (Rikard Bangun, Kota Kreatif Pilihan Masa Depan, Kompas, 27/6, hlm. 1 & 9)

Dengan indikator ini, tersebutlah beberapa kota kreatif yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kota-kota kreatif ini digambarkan dalam peta Sebaran Daerah Kreatif di halaman 41.

Bagaimana dengan kota-kota di Lampung? Katakanlah Bandar Lampung? Ahai... Kota-kota kreatif itu dominan menyebar di Pulau Jawa, Bali, dan NTT. Di Sumatera hanya ada Kota Medan, Kota Batam, Kota Padang, Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kota Sawahlunto, dan Kabupaten Belitung.

"Ana kidah. Api guaini ulun Lampung?" tanya Pithagiras.

"Induh, nyak mak pandai," sahut Mamak Kenut sambil kabur.  n


Lampung Post, Sabtu, 28 Juni 2014

Friday, June 13, 2014

Untung Ada Piala Dunia

Oleh Udo Z Karzi


MENGIKUTI kampanye pilpres, terutama kampanye hitam, dari berbagai media capek juga. Tambah mak jelas aja. Mana yang hebat, mana yang kurang hebat (bukan biasa saja!) sulit dibedakan. Mana yang benar, mana yang kurang benar (bukan salah) semakin kabur. Mana yang baik, mana yang kurang baik (bukan buruk) semakin buram. Mana yang bagus, mana yang kurang bagus (bukan jelek) semakin gelap.

Jangan-jangan Prabowow dan Jokowow sama-sama hebat, sama-sama benar, sama-sama baik, sama-sama bagus... sama-sama wow.

Jadi mana dong yang dipilih?

"Belum tahu nih!"

"Kalo saya enggak ngaruh."

"Ntar lagi mikir-mikir..."

Tapi begitu nanya ke Mat Puhit, pilih yang mana, dia jawab, "Saya jagokan Brasil!"

Huhuu...

Aduh, ini pilpres, sayang. Bukan Piala Dunia...

"Capek ah baca ato nonton pilpres. Bikin mumet aja," sambung Mat Puhit.

"Benar juga, kalo disuruh pilih mana, nonton pilpres atau nonton sepak bola, saya juga lebih suka liat bola," sambung Udien.

Ya, untung ada Piala Dunia. Siapa sih yang enggak tersihir dengan euforia sepak bola. Meskipun timnas kita belum juga bisa bertarung dalam perhelatan Piala Dunia, bahkan untuk Asia pun belum, negeri ini termasuk penggila bola juga. Ah, bukan cuma kita. Tapi hampir semua orang di dunia ini gila bola.

***

Demam Piala Dunia terjadi di mana-mana. Tidak hanya di Brasil yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Patriotisme merasuki penggemar sepak bola di Inggris sehingga mereka menghias rumah dan tempat usaha sedemikian rupa sebagai bentuk dukungan untuk The Three Lions di Piala Dunia. Demam Piala Dunia meredam hiruk pikuk politik Lebanon.

Demam Piala Dunia memengaruhi karnaval budaya di Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, Minggu (8/6). Pergelaran budaya bertajuk Ayula Karnaval 2014 itu mengangkat tema World Cup 2014. Tak heran, para peserta karnaval dengan balutan busana karawo menampilkan motif bendera peserta pesta sepak bola sejagat.

Untuk semakin menyemarakkan perhelatan pertandingan bola antarnegara empat tahunan ini, beberapa warga di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, memasang pernak-pernik lambang masing-masing negara yang mereka jagokan menjadi juara.

Ah, itu baru sebagian kecil saja dari pernak-pernik demam Piala Dunia. Pokoknya seru deh.

***

Untung ada Piala Dunia. Sehingga, kita tak sampai bosan, apalagi sampai lupa, ada pilpres. Hehee...

Satu lagi, untung ada Piala Dunia sehingga sahur kita nanti saat Ramadan menjadi meriah dengan pertandingan sepak bola.

"Tapi maaf, keasyikan Anda menonton Piala Dunia, terganggu," kata PLN yang sewaktu-waktu suka mematikan listrik.

Ya, enggak ada jaminan nggak mati listrik waktu nonton bola di tivi. Sialan juga PLN ini. n


Lampung Post, Jumat, 13 Juni 2014

Thursday, June 12, 2014

12 Juni

Oleh Udo Z. Karzi


DETIK demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari adalah perjalanan. Ada peristiwa, ada kelahiran, ada kematian, dan ada perayaan.

Wikipedia mencatat berbagai peristiwa yang terjadi pada 12 Juni: Perang Menteng pecah antara pihak Belanda dan Kesultanan Palembang yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II (1819); Prancis mulai kolonisasi Aljazair dengan mendaratkan 34 ribu pasukan 27 kilometer dari ibu kota Aljir (1830); bangsa Filipina menyatakan kemerdekaannya dari Spanyol (1898); pada ulang tahunnya yang ketiga belas, Anne Frank mulai menulis buku hariannya pada masa pendudukan Nazi di Belanda (1942).

Lalu, Afrika Selatan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Nelson Mandela (1964); Boris Yeltsin terpilih sebagai presiden Rusia (1991); petinju legendaris Mike Tyson menyatakan mundur dari dunia tinju, setelah kekalahan yang memalukan dari petinju tak terkenal asal Irlandia, Kevin McBride (2005); dan akhir kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran 2009—2010 di Indonesia (2010).

Pada 12 Juni lahir George H.W. Bush, presiden Amerika Serikat ke-41 (1924); Anne Frank, gadis Yahudi yang dibunuh pasukan Nazi dan terkenal lewat buku hariannya (1929), ia mati 1945); dan Andranik Markaryan, Perdana Menteri Armenia (1951).

Pada 12 Juni pula kita kehilangan tokoh-tokoh yang sangat menginspirasi: Frédéric Passy, ahli ekonomi asal Prancis, penerima Penghargaan Perdamaian Nobel (1912); Masayoshi Ohira, perdana Menteri Jepang (1980); Karl von Frisch, ahli zoologi asal Austria, penerima Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran (1982); Jiroemon Kimura, orang tertua di dunia asal Jepang (2013); dan Djafar Assegaff, wartawan senior Indonesia, mantan Dubes RI untuk Vietnam (2013).

Pada 12 Juni 1992, kaum muslim merayakan Iduladha 1412 Hijriah dan 12 Juni 2011 adalah hari Pentakosta.

Hari ini, 12 Juni 2014, rencananya calon presiden Joko Widodo mengunjungi Lampung dan pembukaan Piala Dunia 2014 di Brasil yang berlangsung hingga 15 Juli nanti.

***

Ah, ini cuma catatan dari hari ke hari. Karena hari ini tanggal 12 Juni, 12 Junilah yang menjadi contoh. Hari ini setahun yang lalu, hari ini sepuluh tahun yang lalu, hari ini seabad yang lalu adalah boleh jadi adalah hari yang penuh arti, hari yang sangat bersejarah, hari yang selalu diingat-ingat.

Namun, bisa jadi sebaliknya, hari ini setahun yang lalu, hari ini sepuluh tahun yang lalu, hari ini seabad yang lalu bisa sebaliknya malah hari yang biasa saja, hari yang tak meninggalkan jejak apa-apa, hari yang tidak dingat atau malah sengaja dilupakan karena penuh kekelaman, penuh kepedihan, dan penuh luka mendalam. Bung Karno bilang, “Jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah).”

Begitu juga hari ini tahun depan, hari ini sepuluh tahun lagi, hari ini seabad kemudian... tak ada yang bisa meramal, tetapi setidaknya kita bisa merancang. Tergantung, apa yang kita perbuat hari ini. Itulah sejarah masa depan!

Orang bijak pun berkata, "Kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, dan hari ini adalah berkah." Bagi yang lebih optimistis akan berujar, "Kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah harapan."

Dengarlah seorang ayah yang memarahi anaknya. "Kamu ini, sekula mak haga, ngaji mak harga. Mau jadi apa kamu nanti? Ayahmu ini dulu..." Jadi, urut-urutan dimensinya adalah masa kini—masa depan—masa lalu.

Ya, benarlah lakukan apa yang bisa dilakukan hari ini untuk menjemput hari esok dengan tetap belajar dari hari-hari yang telah berlalu. n


Lampung Post, Kamis, 12 Juni 2014

Wednesday, June 11, 2014

Berdebat tentang Debat

Oleh Udo Z. Karzi


TIDAK ada debat dalam debat capres dan cawapres pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dengan Joko Widodo-Jusuf Kalla bertema Pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum pada Senin (9/6) malam.

Malah, dalam beberapa bagian, Prabowo berkata, "Saya sependapat dengan Saudara Joko Widodo..."

"Itu bukan debat, tetapi wawancara...," kata seseorang.

"Iya siapa mendebat siapa, enggak jelas di situ."

"Itu debat juga. Kan tidak harus sama dengan debat kandidat ala Barat sono. Harus disesuaikan dengan budaya kita dong," kata Radin Mak Iwoh.

"Ya, ini. Apa-apa mesti dicocok-cocokkan dengan kebiasaan kita. Sekarang buka aja kamus. Di situ dikatakan, debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing," kata Udien.

"Kalau tak ada perbalahan, ngapain digelar acara debat presiden segala?" kata Mat Puhit.

Ya sudah tak usah terlalu risau. Pengamat politik dari Pusat Demokrasi dan HAM Universitas Airlangga, Muhammad Asfar, mengatakan debat capres sebenarnya hanya memengaruhi pilihan dari 20% pemilih di Indonesia. "Pemilih rasional itu kurang lebih sekitar 20%, yaitu yang memilih karena program dari kandidat. Hanya misalnya calon ini tidak membawa perdebatan yang berkualitas tentang positioning program dan juga sikap, orang akan kembali memilih dengan berdasarkan variabel lain, bukan variabel rasional," jelas Asfar.

"Kalau begitu. Debat presiden mubazir..." sambar Mat Puhit.

"Tetap perlu dong! Biar para pemilih tahu tentang visi dan misi para calon," sahut Pithagiras.

"Ah, itu kan karena moderatornya kurang bisa mengarahkan acaranya biar lebih hidup," bela Minan Tunja.

"Siapa sih moderatornya?"

"Bukan orang sembarangan. Zainal Arifin Mochtar. Dia direktur Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada."

"Ah enggak seru."

"Harusnya pemandunya wartawan. Najwa Shihab misalnya."

"Tapi, Najwanya kerja di TV pro-Jokowi."

"Waduh, siapa dong. Kalau yang lain ntar dibilang, pro-Prabowo pula."

"Repot juga..."

"Ya, udah. Lumayanlah masih ada debat."

"Kan masih ada empat debat lagi sampai 9 Juli nanti. Semoga debat yang kedua lebih seru."

"Ai, kenapa pula berdebat soal debat."

"Debat malah enak enggak  pake moderator."

"Mari kita membudayakan debat dan mendebatkan budaya..." (Orba banget deh!)

Mamak Kenut yang dari tadi diam, tiba-tiba bilang, "Biar seru, kita ngupi pai."

Dasar, Mamak Kenut! n


Lampung Post, Rabu, 11 Juni 2014

Wednesday, May 28, 2014

Kalau Tuhan Aja Dikorup, Apakah Etika Masih Laku?

Oleh Udo Z Karzi


SETELAH disindir sebagai bentuk buruk etika politik, Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) akhirnya mengisyaratkan akan mengundurkan diri setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis, 22 Mei lalu menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana haji. 

Tapi, tetap saja menjadi pertanyaan. Sebab, nyatanya hingga kini SDA belum juga mundur dari jabatannya. Malah, Jumat (23/5), SDA bilang berpikir melepas jabatannya. Ia belum memahami bagian-bagian mana yang menyebabkan menjadi tersangka.

"Beda banget dengan apa yang dilakukan Andi Alfian Mallarangeng yang langsung menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dan di Partai Demokrat," kata Pithagiras.

"Masak dia nunggu diberhentikan langsung oleh Presiden. Wat wat gawoh," sambar Mat Puhit.

"Ah, biarin proses hukum berjalan deh," kata Mamak Kenut yang masih saja suka bilang biarin.

"Ya, sudah. Biarin," sahut Udien.

"Tapi, enggak bisa dibiarin dong. SBY bilang kasus ini jangan sampai mengganggu kinerja Kementerian Agama," kata Minan Tunja.

"Ya, mau gimana. Emang mau diapain? Itu memang terserah Pak Suryadharma geh. Ini kan hanya soal etika," Radin Mak Iwoh mencoba menengahi.

"Justru karena etika itulah, Suryadharma Ali mesti mundur. Itu namanya beretika...," sambar Mat Puhit.

"Emang etika masih laku di negeri ini?" Radin Mak Iwoh esmosi. 

Ya, apakah etika politik masih laku?

Berat, berat. Kalau Tuhan, agama, haji, dan kitab suci bisa dikorupsi dengan enak dan asyik, apakah ada moralitas—apatah lagi etika politik—di situ? La, kalau yang jadi tersangka korupsi haji saja merasa tidak melanggar etika (hukum), mengapa mundur?

Mundur itu kalau merasa bersalah, merasa malu... Yang bersangkutan malah balik bertanya, "Saya salahnya apa?"

Ini soal etika memang. Tidak ada sanksi (tegas) untuk pelanggaran etika. Paling-paling dikatain tak beretika. Ya, buat orang hebat, yang merasa kuat, yang merasa berduit, yang merasa lebih... jangankan etika, hukum positif saja dia lawan kok.

Etika politik mengatakan para politikus dan pejabat publik yang terindikasi korupsi seharusnya mundur dari jabatannya. Boni Hargens (2012) mengatakan, “Jangan terus membodohi rakyat dengan mengatasnamakan menunggu proses hukum. Dalam kehidupan selain hukum, juga ada etika yang harus dijaga dan mereka jelas-jelas sudah melanggar etika.”

Jadi, pejabat itu memang tidak selayaknya bermasalah dengan moral dan kebijakan yang dia buat. Jepang adalah contoh negara yang memelihara etika politik yang tinggi. Seorang menteri, dengan sukarela mundur ketika ada masalah di sekitar ruang lingkup tanggung jawabnya. Bagaimana seorang Menteri Perhubungan tiba-tiba meminta berhenti, ketika terjadi kecelakaan kereta api? Apalagi, kalau terendus korupsi. Di AS, Presiden Nixon terpaksa berhenti ketika terjadi peristiwa Watergate yang terkenal itu.

Tapi enggak usah jauh-jauh, di negara kita sudah banyak contohnya kok.

Jadi, apa lagi geh? n


Lampung Post, Rabu, 28 Mei 2014


Monday, May 26, 2014

Biarin!

Oleh Udo Z. Karzi


MAMAK Kenut suka sekali sajak Biarin!-nya Yudhistira A.N.M. Massardi yang dibikin 1974. Petikannya:

kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti itu


Namun, Mamak enggak yakin Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. pernah baca sajak ini, meskipun suka bilang, biarin! Misalnya, waktu Oedin—panggilan mesra Gubernur Lampung—menanggapi gugatan LBH Bandar Lampung terkait jalan rusak. Dia biasa saja. Emang dia pikirin. Peduli amat gitu. "Saya tidak takut digugat. Jalan jelek (di Lampung) biarin saja," kata Sjachroedin, di Bandar Lampung, Jumat, 23 Mei 2014. (saibumi.com)

Sebenarnya, bukan sekali ini saja Oedin menunjukkan kemasabodohannya terhadap persoalan-persoalan kerakyatan. Biarin!

Udin, yang bukan gubernur, yang cuma sobatnya Mamak Kenut menjadi penasaran juga. Ia mencoba mengetikkan kata “biarin” di Search http://lampost.co, ketemulah "Sekitar 18 hasil (0,10 detik)".

Cuek bebeknya Sjachroedin sempat membuat Ketua Komisi II DPR Agun Gunanjar Sudarsa dongkol juga. Ceritanya, Pak Oedin ogah memenuhi panggilan Komisi II DPR terkait penolakannya terhadap jadwal pilgub yang sudah dibuat KPU. Biarin aja, begitu kali kata Oedin. "Jangankan gubernur, menteri dan pihak swasta saja bisa kami panggil kok. Biarin saja Sjachroedin ngomong begitu (pemanggilan DPR tidak tepat). Nyatanya kami tetap akan memanggil dia ke DPR," kata Agun (lampost.co, 04/01/2013).

Coba dicek siapa saja narasumber yang bilang biarin dari 18 berita tersebut. Ternyata beragam juga. Ada warga Pesisir Barat yang tidak peduli dengan pelanggaran pemasangan alat peraga kampanye saat minggu tenang menjelang pilgub dan pemilu legislatif pada 9 April 2014. (lampost.co, 07/04/2014)

Ada juga istri juru parkir Pasar SMEP yang tidak takut melaporkan penujah suaminya. “Saya maunya lapor ke Polresta saja. Bukan Polsek Telukbetung Barat. Kalau itu banyak kawan dia. Biarin aja,” kata Yuli. (lampost.co, 22/04/2014)

Sikap legawa, ditunjukkan Wali Kota Bandar Lampung Herman H.N. ketika gugatannya atas hasil pemilihan gubernur Lampung ditolak Mahkamah Konstitusi (MK). "Biarin-lah yang sudah-sudah. Yang penting ke depan, bagaimana kami bersama-sama melakukan pembangunan untuk masyarakat, agar lebih baik lagi," ujarnya. (lampost.co, 16/05/2014)

Ada banyak yang bilang biarin, mulai dari komentator berita yang menanggapi Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah K.H. Sihabudin luka-luka dikeroyok (21/01/2014), Wakil Gubernur DKI Ahok yang gemas dengan warga yang menduduki Taman Burung, di Waduk Pluit, Jakarta Utara (18/12/2013). Kemudian, Ketua DPR Marzuki Alie juga tidak berminat melapor ke polisi terkait 36 daftar nama anggota DPR yang tidak mendukung pemberantasan korupsi versi rilis ICW (02/07/2012), serta Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Jero Wacik bilang, "Biarin KPK bekerja," terkait kasus dugaan korupsi dengan tersangka mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini (17/08/2013).

Tidak kurang, "Silakan saja, masing-masing kan punya hak untuk dipilih. Biarin saja. Toh mereka sudah dewasa dan sudah berumah tangga. Orang tua tidak usah campur tangan," kata Sri Sultan Hamengku Buwono X terkait dua mantunya yang masuk dalam daftar bakal caleg (27/04/2013).

Biarin! Rupanya mempunyai dimensi banyak dalam berbagai teks dan konteks. Ah, hati Minan Tunja pasti terunja-runja kalau pacarnya baca sajak Yudhistira.

kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, jadi lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia
ini. Iya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi


Puisi itu melembutkan rasa. Coba cewek mana yang enggak senang dengan perampok hati. Apalagi cowoknya ngeganteng. Namun, masalahnya betapa sulit menjumpai pemimpin di negeri ini yang suka baca sastra. Coba saja para petinggi baca larik sajak Doa-nya Chairil Anwar ini:

...
Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh


Mestilah kaum elite di negeri ini lebih sadar diri, bekerja dengan benar, penuh amanah, dan takut korupsi. Namun, sulit betapa sulit. Pejabat kita bekerja tanpa membaca (puisi). Tidak perlu teori, apatah lagi sastra, untuk menjadi bupati, wali kota, gubernur, presiden, legislatif, atau apa pun pejabat.

Cilaka benar kalau orang yang seharusnya peduli atau bahkan memang menjadi tugasnya malah bilang, biarin. Biarinisme itu biang dari ketidakdisiplinan, ketidakpatuhan, ketidakberesan, dan kesewenang-wenangan. Habis... semua biarin!

 Ais, sudahlah. Pithagiras cuma mau meneruskan membaca sajak Biarin: 

habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan
seperti kamu sadari sekarang ini

kamu bilang hidup ini melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan


"Eh, kamu kok nulis begitu? Nanti ada yang marah..."

Biarin! n

Monday, April 28, 2014

Krisis Kritisisme

Oleh Udo Z Karzi


MAHASISWA sekarang cenderung apatis, pragmatis, materalistis, dan kapitalis. Tudingan ini muncul dua puluh tahun lalu lalu, yaitu 1994 dalam sebuah dialog pemuda. Kontan telinga para mahasiswa di Negarabatin waktu itu merah mendengar itu. Mat Puhit dkk. sampai sakit hati. Soalnya mereka merasa tidak demikian halnya.

Maka, berhamburanlah berbagai argumen untuk mengatakan tuduhan itu tidak benar. Para mahasiswa punya bukti bahwa itu tidak benar. Mahasiswa lalu bicara tentang intelektualitas, tentang idealisme, tentang moral force, tentang agent of change, tentang sejarah pergerakan mahasiswa, tentang... apa saja yang bisa dijadikan alasan untuk menolak pandangan negatif tentang mahasiswa.

Benar, empat tahun kemudian, 1998, mahasiswa keluar sebagai pendobrak. Reformasi. Itulah fakta nyata dari fungsi dan peranan mahasiswa dalam mengawal perjalanan negara-bangsa. Bukti itu juga yang diperlihatkan mahasiswa-pemuda pada 1908, 1928, 1945, dan 1966. Jadi, memang bukan omong kosong.

***

"Sekarang masih reformasi enggak, ya?"

"Sudah lupa, tuh!"

Sebuah dialog kecil mirip iklan obat sakit kepala di angkot yang boleh jadi tak ada makna. Soalnya, mahasiswa zaman kiwari rata-rata punya kendaraan, minimal sepeda motor soalnya. Hari gini kok naik angkot. Jadi mana pula sempat berdebat di angkot. Hehe...

Kemajuan teknologi informasi juga membuat mahasiswa sekarang makin canggih. Diskusi tak perlu ketemu. Cukup pakai SMS, BB, Facebook, e-mail, chatting, dsb.

Makanya, waktu Mamak Kenut yang jadul, datang ke almamaternya cuma terlongong-longong saja. Hampir tak ada dialog, diskusi, kelompok studi, perdebatan kecil. Sivitas akademika agaknya sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri.

Ikut seminar atau lokakarya bukan tren lagi. Wajar kalau tidak ramai. Nah, kalau mau ramai, undang guru-guru yang perlu piagamnya untuk sertifikasi. Mahasiswa, jangan diharap berpikir keras, apalagi diajak berdebat untuk hal-hal yang serbaabstrak. Kalau seminar motivasi atau latihan kepribadian dan kepribodian, bolehlah ngikut.   

Mahasiswa menulis? Aduhai... alangkah idealnya itu! Tapi, gimana mau nulis kalau kurang bacaan, kurang diskusi, kurang suka melihat dan mendengar apa yang terjadi di kiri-kanan, masyarakat, negara-bangsa mereka.

***

Catatan sejarah menyebutkan, setelah reformasi bergulir, negeri ini sukses menggelar SI MPR, pemilu jurdil, SU MPR demokratis, ST MPR, dan SI MPR. Pemilu sudah berlangsung 1999, 2004, 2009, dan tahun ini 2014. Dalam kurun waktu 16 tahun kita sudah punya empat presiden: B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tapi, seiring dengan makin lirihnya, bahkan hilangnya suara reformasi, kini masalah bangsa semakin tak keru-keruan. Korupsi yang kian menjadi-jadi, birokrasi tetap berbelit, kemiskinan, demokrasi bermasalah. Teranyar, betapa kisruh Pemilu Legislatif: politik uang, manipulasi suara, dan KPU yang tak netral. 

"Mahasiswa, mana suaranya?" (Ya, mahasiswa sering banget ngikut Bukan Empat Mata-nya Tukul). n


Lampung Post, Senin, 28 April 2014

Wednesday, April 9, 2014

Pemilu(kada), Saatnya Berubah...

Oleh Udo Z. Karzi

HARI ini tidak kurang dari 185 juta warga negara Indonesia yang akan menggunakan hak politiknya, memilih calon legislatif, mulai dari DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi, sampai DPR RI. Khusus Lampung yang memiliki 5,9 juta pemilih, masih ditambah lagi dengan memilih gubernur Lampung.

Pemilu legislatif dan pemilihan gubernur menjadi sarana penting bagi rakyat dalam menentukan masa depan daerah dan negara ini lima tahun ke depan. Ya, rakyat harus diakui sebagai salah satu entitas penting berdirinya negara. Negara tidak bisa berdiri, kokoh dan kuat tanpa rakyat yang menjadi penopangnya.

Rakyatlah yang berdaulat sehingga negara pada akhirnya mendapatkan pengakuan oleh negara lain, sehingga memiliki kedaulatan ke dalam maupun ke daulatan keluar.

Para pemikir teori berdirinya negara, seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean Jeacques Rousseau, dalam teori perjanjian (puctum subjectionis, puctum unionis), mengatakan rakyat tidak sepenuhnya menyerahkan hak mereka kepada sang “raja” atau penguasa yang sedang menanggung amanat rakyat.

Ada hak-hak dasar yang tidak bisa dirampas oleh raja dalam melaksanakan amanat rakyat sebagai tindak lanjut mengatur kekuasaan dan cara menyalurkan tugas lembaga-lembaga negara itu.
Pemilihan umum dapat dikatakan sebagai anak kandung demokrasi yang dijalankan untuk mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat dalam fenomena ketatanegaraan.

Prinsip-prinsip dalam pemilihan umum yang sesuai dengan konstitusi, antara lain prinsip kehidupan ketatanegaraan yang berkedaulatan rakyat (demokrasi) ditandai setiap warga negara berhak ikut aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan kenegaraan.

Melalui pemilu pula dapat terwujud dua konsep demokrasi dan negara hukum yang telah diamanatkan dalam konstitusi (UUD 1945).
Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 menyebutkan, “Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang". Jadi, pemilu merupakan kegiatan politik yang sangat penting dalam proses penyelenggaraan kekuasaan dalam sebuah negara yang menganut prinsip-prinsip demokrasi.

Meminjam pandangan Robert Dahl, pemilihan umum merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern. Pemilihan umum dewasa ini menjadi suatu parameter dalam mengukur demokratis tidaknya suatu negara, bahkan pengertian demokrasi sendiri secara sedehana tidak lain adalah suatu sistem politik dengan para pembuat keputusan kolektif tertinggi di dalam sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang adil, jujur, dan berkala.

Pemilu memfasilitasi sirkulasi elite, baik antara elite yang satu dengan yang lainnya maupun pergantian dari kelas elite yang lebih rendah yang kemudian naik ke kelas elite yang lebih tinggi. Sikulasi ini akan berjalan dengan sukses dan tanpa kekerasan jika pemilu diadakan dengan adil dan demokratis.

Di sinilah letak pentingnya pemilu dan pemilukada. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi setiap warga negara untuk mengabaikan pemilu(kada), membiarkan hak politik kita terbuang percuma.
Seiring peningkatan pengetahuan dan kesadaran politik, kita berharap masyarakat mau mempergunakan hak pilih dengan mendatangi tempat pemilihan suara (TPS), kemudian mencoblos calon legislatif dan calon gubernur yang mereka yakini mampu memperjuangkan perubahan dan mengemban kepercayaan rakyat untuk lima tahun ke depan.

Golongan putih (golput), meskipun tidak terlarang, menjadi tidak relevan lagi dalam kehidupan demokrasi yang semakin mendapat tempat di negeri ini. Jangan golput jika ingin negara ini berkembang maju di tangan pemimpin-pemimpin yang berkualitas, berintegrasi, dan amanah hasil pilihan rakyat. Selamat memilih.

(“Nulis kok serius banget,” Mamak Kenut meledek Udien.

“Ini kan disponsori KPU. Hehee...,” sahut Udien sekenanya.)



Lampung Post, Rabu 9 April 2014


Friday, April 4, 2014

Jangan Pilih yang Palsu

Oleh Udo Z. Karzi


HATI-HATI, menjelang pemilu rawan peredaran uang palsu. Pesta demokrasi akbar lima tahunan memang identik dengan bagi-bagi uang, baik dari partai politik peserta pemilu maupun calon legislatif, agar mencoblos mereka di hari pemilihan. Namun, bagi-bagi uang ini tidak terang-terangan makanya disebut serangan fajar.

Apakah ada kaitan antara serangan fajar itu dengan peredaran uang palsu? Entahlah, yang jelas pemalsuan uang memang dipengaruhi oleh sedikit banyaknya aktivitas ekonomi atau transaksi yang memungkinkan peredaran uang palsu. Sebab, para pelaku kejahatan ini memang selalu memanfaatkan sebuah momentum. Momen yang bersifat masif bisa dimanfaatkan, misalnya, kampanye.

Begitulah, menjelang pemilu—entah ada entah tidak hubungannya—banyak terjadi pemalsuan, mulai dari ban dalam palsu, akta kelahiran palsu, sertifikat palsu, tanda tangan palsu, ijazah palsu, laporan sumbangan dana partai palsu, tulisan palsu, karya palsu, janji palsu, sumpah palsu, sampai ke caleg atau kandidat palsu. Hehee....

Mungkin banyak lagi pemalsuan yang terjadi, baik berskala kecil maupun skala besar; mulai dari pemalsuan yang menimbulkan kerugian pada satu orang, beberapa orang, hingga pemalsuan yang menyangkut banyak orang atau mengenai kepentingan publik yang tidak terkover media massa atau sengaja ditutup-tutupi.

Ini menjelang pemilu (dan pemilukada). Mudah dibaca kasus-kasus pemalsuan itu bermotif ekonomi-politik. Keinginan mendapatkan untung besar dan hasrat berkuasa lalu mendapatkan sumber-sumber material yang mendorong oknum melakukan pemalsuan. Tentu saja, pemalsuan-pemalsuan yang terjadi tidak bisa disamaratakan karena alasan ekonomi-politik belaka. Faktor lain yang bisa dikemukakan lebih mengarah pada mentalitas dan moralitas. sakit hati, rasa dendam, dan hasrat berkuasa bisa saja mendasari seseorang memalsukan tanda tangan dan suara.

Barangkali juga latah. Atau, karena iman, akhlak, dan kemampuan melihat mana yang baik, mana yang buruk, atau menyeleksi masyarakat kita yang buruk. Atau, mungkin karena hati telah tertutup jelaga.

Namun, satu hal, perilaku pemalsuan bukan hanya salah oknumnya. Para konsumen, penyalur, dan masyarakat luas langsung tidak langsung memberi peluang bagi kegiatan oknum tersebut, patut dipersalahkan.

Apa pun motif, alasan, dan landasannya, pemalsuan adalah perilaku yang seharusnya dilenyapkan. Bagaimanapun pemalsuan tetap merupakan tindakan yang melanggar hukum. Dengan pemalsuan karya orang lain, misalnya, berarti telah menjungkirbalikkan hak orang lain. Padahal, bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai karya dan cipta siapa pun.

Mentalitas menghargai karya orang lain—meminjam istilah Koentjaraningrat—harus dijunjung tinggi. Ini kalau kita tidak ingin dicap sebagai bangsa yang bermentalitas rendah. Lebih dari itu, dengan mentalitas menghargai karya orang lain, inilah bangsa kita akan mampu berpacu mengejar kemajuan, menyejajarkan diri dengan bangsa maju lainnya.

Akhirnya, menjelang pemilu dan Pilgub Lampung, MK cuma menganjurkan jangan pilih caleg atau cagub palsu alias caleg dan cagub gombal. Hehee...  n


Lampung Post, Jumat, 4 April 2014

Wednesday, March 12, 2014

Pasti karena Ada Maunya...

Oleh Udo Z. Karzi


PINYUT baca-baca. Ya, belajar pelitik. Sebab, membaca adalah belajar. Maka, ketemulah apa itu pelitik. Pelitik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). Pelitik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Pelitik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Pelitik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Pelitik adalah seni tentang kenegaraan yang dijabarkan dalam praktek di lapangan, sehingga dapat dijelaskan bagaimana hubungan antarmanusia (penduduk) yang tinggal di suatu tempat (wilayah) yang meskipun memiliki perbedaan pendapat dan kepentingannya, tetap mengakui adanya kepentingan bersama untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya.

Definsi lain, pelitik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pelitik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

***

"Ai itu sih teori," sambar Mat Puhit.

Yang jelas, pelitik itu hak asasi warga yang terabaikan akibat tidak masuk dalam daftar pemilih tetap, bantuan sosial kematian yang diselewengkan, Bupati Lampung Utara yang dilantik 25 Maret nanti, penutupan Porprov yang berlangsung meriah, Wakil Presiden Boediono yang berpeluang menjadi tersangka skandal Bank Century, dan impor sapi siap potong yang dikurangi.

Pelitik itu suhu udara di Lampung yang di atas normal, perkembangan wisata Lampung Tengah yang jalan di tempat, warga tiga kecamatan di Lampung Selatan yang mengeluhkan tingginya harga beras, 10 rumah warga Kampung Astomulyo, Kotagajah, Lampung Tengah yang disapu puting beliung, jembatan Way Handak di Pekon Campang, Tanggamus yang nyaris putus, dan begal yang berhasil ditangkap setelah dua kali (mungkin lebih!) beraksi di Way Kanan.

***

"Jadi, pelitik itu apa dong?" tanya Udien.

"Pelitik itu sebuah upaya. Upaya agar yang tadinya sulit menjadi mudah, yang tadinya tidak ada menjadi ada, yang tadinya di bawah menjadi di atas, yang tadinya tidak punya menjadi punya, yang tadi kere menjadi berdoku, yang tadinya nggak kebagian menjadi kebagian, yang tadinya diperintah menjadi pemerintah, yang tadinya tak berkursi sekarang berkursi, ..."

Artinya, pelitik itu bagus. Sekarang sih iya. Pasti karena ada maunya. Menjelang Pemilu sih.

Usai pemilu -- begitu terpilih, apalagi kagak -- segalanya lupa. Jadi kenyataannya, karena pelitik, yang tadinya baek menjadi bejat, yang tadinya santun menjadi kurang ngajar, yang tadinya murah senyum menjadi suka marah-marah, yang tadinya suka traktir menjadi tambah pelit... tik... tik... n


Lampung Post, Rabu, 12 Maret 2014

Monday, March 3, 2014

Pasar

Oleh Udo Z. Karzi


DI manakah letak para seniman, teaterawan, rupawan, sastrawan, penulis, budayawan, dan seterusnya di negeri ini manakala profesi mereka harus dihadapkan pada pasar? Boleh jadi tak ada. Mereka adalah orang-orang yang harus disingkirkan dari peradaban negeri yang makin matre dan tak butuh segala jenis pemuasan yang hanya bersifat mental spiritual atau memperkaya intelektualitas dan rohani belaka.

Tidak ada tempat buat mereka. Barangkali saja dalam benak para pemimpin atau penggede-penggede, bahkan cerdik-cendekia kampus kebutuhan riil manusia modern Indonesia atau daerah ini adalah pekerjaan, uang, dan pemenuhan kebutuhan pokok yang terasa semakin mahal. Ilmuwan sosial, budayawan, dan lagi pekerja seni tidak mampu mampu menjawab tantangan zaman.

Maka, wajar jika kemudian pendidikan (termasuk perguruan tinggi) hanya dimaknai sekadar untuk memperkuat aset masa depan. Pendidikan hanya dimaknai sebagai melestarikan sebuah status sosial dan ekonomi. Kalau begitu, tak ada yang salah jika orientasi pendidikan adalah materialistik.

Apa boleh buat pendidikan kita pun tak lepas dari jerat kapitalis global. Kapitalisme global menyaratkan privatisasi berbagai lembaga milik negara untuk dipersaingkan di tengah pasar bebas. Secara nyata kapitalisme melahirkan arena yang disebut pasar bebas dan ia berfungsi sebagai sarana untuk adu kuat. Mana yang paling laris! 

***

Pinyut lalu membuka-buka pelajaran ilmu ekonomi untuk SMP. Ketemulah pengertian pasar. Pasar adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual. Itu pengertian konkrit pasar. Dalam ilmu ekonomi, pengertian pasar tidak dikaitkan dengan masalah tempat, tetapi lebih dititikberatkan pada kegiatan. Jika ada kegiatan jual-beli disebut pasar dan jika tidak ada kegiatan jual-beli disebut bukan pasar. Pasar dapat terbentuk di mana saja dan kapan saja, di dalam bis, di terminal, di halte, dan lain-lain. Bahkan, transaksi jual-beli  juga bisa terjadi lewat surat, radio, internet, dan lain-lain. Pengertian pasar menurut ilmu ekonomi tersebut disebut pasar abstrak.

***

Maka, ketika sekelompok orang punya wacana untuk mendirikan fakultas ilmu budaya (kurang lebih sama dengan jurusan bahasa Lampung), pertanyaannya yang paling pertama dan utama adalah soal pasar!

"Yang jadi masalah mungkin ke mana lulusan FIB itu nanti akan disalurkan. PNS jarang ada lowongan untuk lulusan FIB. Swasta apalagi. Kalau mau wiraswasta, ilmunya enggak mendukung pula. Mau jadi budayawan takut madesu (masa depan suram)..."

Sok pede Mat Puhit langsung nyeletuk, "Yang jelas enggak usahlah jadi PNS! Tak perlu pula jadi pion kaum kapitalis. Bukankah, kalau mau dikait-kaitkan dengan materi, ekonomi kreatif dan industri kreatif yang potensial berkembang, sangat butuh alumni fakultas ilmu budaya (sastrawan, seniman, penulis, budayawan, dll.)."

Induh kidah. n


Lampung Post, Senin, 3 Maret 2014

Wednesday, February 12, 2014

Sekolahnya sih Gratis, Bukunya yang Mahal

Oleh Udo Z. Karzi


MAT Puhit ketawa terpingkal-pingkal membaca berita daerah Lampung Post, Selasa (11/2), berjudul Pendidikan Gratis Cuma Nama. Isinya mak-mak di Lampung Barat mengkritik program pendidikan gratis, mulai SD sampai SMA di kabupaten ini.

Mereka bilang pendidikan gratis sekadar nama karena yang dibebaskan hanya sumbangan/komite, sedangkan kebutuhan belajar siswa seperti buku-buku pelajaran (buku cetak) tetap dibebankan ke siswa.

“Apanya yang gratis kalau sebentar-sebentar anak-anak diminta fotokopi buku cetak atau beli buku cetak sendiri yang biasanya tidak sedikit,” kata Isromiah (45), warga Liwa, Lampung Barat, Minggu (9/2).

Lucu deh!

“Apa enggak sekalian anak-anak sekolah itu dikasih ongkos buat ke sekolah dan uang saku?” celetuk Udien.

“Kalau sudah tak bayar uang sekolah (SPP), uang komite (uang bangunan), dan segala jenis iuran... ya sekolah gratislah itu,” Pithagiras sengit.

“Yang benar aja. Masa semua-muanya enggak bayar. Emangnya apaan. Hidupitu mamang pakai biaya. Masa mentang-mentang gratis, segalanya enggak bayar. Ya kasihanlah, dari mana pula sekolah mengadakan dana-dana untuk keperluan pribadi anak-anak sekolah itu,” cerocos Pinyut.

Tapi eit... dengar dulu apa kata Ibu Isromiah. “Zaman dulu semua siswa diminta mencatat apa yang dipelajari kemudian dijelaskan sehingga siswanya bisa menyimak. Tapi kini guru malas kerja dan hanya meminta anak-anak memfotokopi buku cetak lalu anak diminta belajar sendiri,” ujarnya.

Iya juga, ya. Tapi bukankah itu hanya sisi lain dari semakin mahalnya, semakin komersil-nya pendidikan di negeri ini?

 “Sekolah sudah gratis. Pemkab Lambar sudah benar dalam hal ini. Tidak ada pungutan terhadap siswa,” Minan Tunja nyeletuk.

 “Ya, tapi orang tua tetap mengeluarkan biaya mahal karena harus memfotokopi buku cetak. Belum lagi biaya transportasi anak ke sekolah dan biaya perlengkapannya,” sahut Isromiah lagi.

Radin Mak Iwoh mencoba menjelaskan hal ini. “Ya elah. Soal biaya-biaya peralatan, perlengkapan, dan kebutuhan belajar sebagian memang sudah disediakan sekolah. Yang tidak disiapkan sekolah, seperti seragam sekolah, sepatu, tas, buku tulis, buku cetak, dan alat tulis-menulis lainnya, termasuk ongkos dan uang jajan tentu saja menjadi tanggungan orang tua siswa masing-masing,”

“Gurunya enggak kreatif sih. Apa-apa suruh fotokopi... fotokopi kan sekarang mahal...”

“Yah sekarang zamannya fotokopi, Bu!”

“Ya, apanya yang gratis kalau begitu...”

“Sekolahnya tetap gratis. Beli buku dan fotokopi yang mahal.”

“Jadi gimana, dong?”

“Beli buku, fotokopi bagus kalau bisa... tapi kalau enggak kan bisa juga siswanya yang rajin mencatat pelajaran. Itu sih tergantung gurunya. Memang masih ada guru yang mewajibkan siswa beli buku? Kan tidak?”

“Tu dengerin, Pak, Bu Guru. Jadi guru yang kreatiflah...”

(Dalam hati Mamak Kenut hanya membatin, dari dulu yang namanya buku memang mahal. Tapi, karena buku adalah jendela dunia, buku tetap harus dibaca, ia merasa perlu pinjam buku, bahkan kadang ia merasa harus memilikinya. Ya beli dong, meski harus menyisihkan uang saku untuk itu. Kalau tak bisa beli, ya dengan mencurinya dari perpustakaan. Ssst, jangan bilang-bilang!) n


Lampung Post, Rabu, 12 Februari 2013