Monday, April 15, 2019

Masa Tenang

Oleh Udo Z Karzi



"THIS site can't be reached www.facebook.com took too long to respond." Begitu yang tertulis di layar komputer.

Ada apa? Ternyata, tidak hanya Facebook, tetapi juga WhatsApp dan Instagram juga mengalami gangguan. Facebook, WhatsApp, dan Instagram down di seluruh dunia, kabarnya.

Melansir laman Mirror, media sosial Facebook, WhatsApp, dan Instagram mengalami kendala pada Minggu (14 April 2019) sore.

Cuma sebentar. Saat tulisan ini hampir selesai dibikin, ketiga aplikasi ini ini tidak bisa diakses.

Tapi, tidak urung ada spekulasi pun bermunculan. Banyak pengguna Twitter di Indonesia menulis cuitan yang lucu.

"14 Maret WhatsApp, Instagram, & Facebook down. Dan sekarang 14 April down lagi. Kebetulan? #WhatsAppDown #InstagramDown #FacebookDown," tulis akun @putrambele

"WhatsApp, Facebook, Instagram down. Untung masih ada Twitter," imbuh akun @hasniarrofiq

"FACEBOOK INSTAGRAM WHATSAPPS DOWN ROAST NYA DI TWITTER TUMAN KALIAN HAMBA LEMAH TANPA SOSMED," tulis akun @bahagihya.

Ada apa sebenarnya?

"Itu Facebook, WA, dan IG tidak kuat menampung curhat, keluhan, bahkan caci maki para netizen," kata Mat Puhit asbun.

"Yang ilmiah dikitlah kalau ngomong," kata Minan Tunja.

"Ini jelas ada sabotase," sambar Udien.

"Nah, ini tambah ngawur," timpal Pithagiras.

"Jelas ada yang gak sirik dengan Facebook, WA, dan IG," Pinyut lebih ngacok.

Mamak Kenut yang mendenger keributan, mulai ceramah, "Kalian ini. Jangan tambah runyam keadaanlah. Coba berpikir positiflah."

"Maksudnya bagaimana, Mamak?" tanya Minan Tunja.

"Indonesia ini kah negera besar. Orang di seluruh dunia kan tahu negeri ini sedang menyelenggarakan Pemilu.  KPU menetapkan 14-16 April sebagai masa tenang Pemilu 2019. Para peserta pemilu dilarang berkampanye dalam bentuk apa pun di masa tenang ...," ujar Mamak Kenut lagi.

"Maksudnya?"

"Facebook, WA, dan IG yang biasanya tempat mengeluh, mengutuk, dan memaki sengaja tidak ingin diakses. Itu menghormati bangsa Indonesia yang tengah menjalankan masa minggu tenang selama tiga hari ini," jelas Mamak Kenut.

Bukannya dipercaya, omongan Mamak Kenut ini malah disambut rame-rame dengan seruan, "Huuu...."

Tambah mak jelas. Ditanya ke Radin Mak Iwoh, dia malah lagi sibuk bingung, memikirkan siapa pemimpin negeri yang terpilih.

"Masa iya?" dia malah bertanya.

Maka, pun mencoba Facebook.

"Ini bisa. Kalian ini jangan buat hoaks aja," omel Radin Mak Iwoh.

Maka beramai-ramailah Mat Puhit dkk mencoba Facebook, WA, dan IG, ternyata sudah bisa dibuka.

Horeee...

"Ehh, tetapi tetap ingat ya. Hari sampai 16 April minggu tenang ya. Jangan sampai kena semprit ya!"

Induh... []



Fajar Sumatera, Senin, 15 April 2019

Tuesday, April 2, 2019

Miskin Terlalu!

Oleh Udo Z Karzi


Bukan kumenolakmu untuk mencintaiku
tetapi lihat dulu siapakah diriku
karena engkau dan aku sungguh jauh berbeda
Kau orang kaya, aku orang tak punya

Sebelum terlanjur pikir-pikirlah dulu
Sebelum engkau menyesal kemudian

ANAK milenial mungkin asing dengan lagu dangdut "Termiskin di Dunia" ciptaan Endang Raes, yang dirilis tahun 1987, yang melambungkan nama Hamdan ATT ini. Tapi, tanya dengan Orla (orang lama), terutama penggemar dangdut sejati, mestilah dia akan terlonjak-lonjak langsung joget sambil menyenandungkan lagu ini.

Saya berusia 17 tahun saat lagu ini sedang di puncak ketenarannya. Boleh jadi, seorang remaja SMA seperti saya sangat sebel juga dengan lagu ini. Bukan apa, miskin kok kelewatan. Coba saja simak reff-nya:

Jangankan gedung gubuk pun aku tak punya
Jangankan permata uang pun aku tiada
Aku merasa orang termiskin di dunia
Yang penuh derita bermandikan airmata
Itulah diriku kukatakan padamu
Agar engkau tahu siapa aku

Benar-benar miskin deh. Kesian! Tapi, anehnya lagu yang seharusnya membuat kita -- eh, yang merasa miskin geh -- sedih, malah mengajak orang bergoyang dan bergembira. Meskipun penyanyinya, Hamdan ATT, kurang bisa joged, anehnya kalau mendengarkan lagu semacam ini kepengennya goyang aja.

Aneh memang lagu ini. Ini jadi bahan ledekan-ledekan.

“Tahu ATT?” tanya teman di tahun 1980-an itu.

“Enggak,” jawab saya.

“ATT itu anak tukang tahu,” kata teman itu sok tahu.

“Ah, yang benar?”

“Benarlah!”

Saya kemudian tahu nama lengkap penyanyinya, Hamdan Attamimi. Penyanyi kelahiran Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, 27 Januari 1949 ini pernah meraih AMI Award untuk Artis Solo Pria Dangdut (2004), AMI Award untuk Album Dangdut/Dangdut Kontemporer Terbaik dengan Album Hamdan ATT & Monata (2015), dan AMI Award untuk Artis Solo Pria Dangdut Kontemporer Terbaik dengan lagu "Ilusi Cinta" (2015).

Maafkan teman saya, Pak Hamdan atas kekurangajarannya itu.

Balik lagi ke lagu “Termiskin di Dunia”. Sempurnalah lagu ini meledek kemiskinan. Lagu ini bersama lagu-lagu sezamannya seperti Senyum Membawa Luka dan Gubuk Bambu (Meggy Z), Tembok Derita (Asmin Cayder), Sepiring Berdua (Ida Laila), dan Pak Hakim dan Pak Jaksa (Jaja Miharja) cenderung vulgar menggambarkan bagaimana orang tak berpunya begitu enjoy menikmati kepapaan mereka.

Hadapi kemiskinan itu dengan bernyanyi dan joged!

Repotnya buat saya, yang miskin terlalu sih enggak, kaya juga enggak. Ditambah lagi, saya gak bisa nyanyi, apalagi joget. Hehee… Paling-paling saya jadi pendengar lagu-lagu Doel Sumbang, Iwan Fals, Ebiet G Ade, Ahmad Albar, Nicky Astria, dll yang disetel teman kos di kamar sebelah. Jadi, susah sekali saya menikmati lagu-lagu dangdut yang 'jualan kemiskinan' itu.

Kala itu!

Sekarang, saya mulai belajar menggemari --sebagai pendengar saja, hihiii-- semua jenis lagu. Dari dangdut, saya belajar tentang perjuangan, cinta, dan prinsip hidup yang kemudian saya rumuskan menjadi "Biar miskin asal sombong!"

Ah, dangdut selalu menggairahkan!  []


Fajar Sumatera, Selasa, 2 April 2019

Thursday, February 21, 2019

Cinta Gila!

Oleh Udo Z Karzi


MASIH soal salah paham bahasa Lampung, tadi pagi ada sedikit diskusi dengan seorang teman dari Liwa.

Dari dialog itu, muncullah kalimat tanya ini: "Api cintamu gila?"

Tiga kosakata bahasa Lampung dalam kalimat di atas: "api", "cinta" dan "gila" jangan dicarikan dalam kamus bahasa Indonesia.
Sebab, dalam bahasa Lampung
api: apa
cinta: mau, ingin, hasrat
gila: kata penegas saja seperti sih, dong, dll dalam bahasa Indonesia

"Api cintamu gila?" Artinya, kurang-lebih, "apa maumu sih?"

Kalau begitu, jangan terlalu serius dengan "cinta" karena, dalam konteks bahasa Lampung, "cinta" bukan sesuatu yang sakral, yang memerlukan upacara khusus untuk menyatakannya.

Sementara "gila", bukan pula kata yang berbahaya, yang membuat orang harus marah. Dibilang "gila" kita sih asyik-asyik aja! Hehee...

"Lamon ga cinta" (terlalu banyak maunya) tidak pula bagus. Apalagi kalau sadar tidak mudah memenuhi keinginan-keinginan itu! Yang benar memperlakukan "cinta" itu dalam batas-batas wajar agar kita tak disangka "nafsu besar tenaga kurang".

Tapi, jangan "mak ngedok tenyinta gila" (tidak punya keinginan) pula. Sebab, kalau itu sih, bikin kita malas makan, malas sekolah, malas mengaji, ... bahkan, malas hidup. Itu yang namanya "Sekula mak haga, ngaji mak haga, ... haga jadi api? (Sekolah tak mau, mengaji ogah,... mau jadi apa?)"

***

By the way... (Waduh, ini kalau diartikan dalam bahasa Lampung juga jadi masalah. Hehee... Ulun Lampung mesti menyebutnya "bai dewai" yang bermakna "perempuan pergi ke pangkalan mandi". Hahaa...), mari kita memuliakan bahasa Lampung.

Ulun Lampung mestinya ikut merayakan bahasa Lampung -- lengkap dengan dengan sistem aksaranya yang disebut 'had Lampung" -- yang insya Allah akan tetap lestari hingga akhir zaman.

Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari! Tabik. []


Fajar Sumatera, Kamis, 21 Februari 2019