Tuesday, December 20, 2016

Kompeten Tapi Dikemplang Mulu

Oleh Udo Z Karzi


LAMPUNG menjadi provinsi kompoten kelima setelah Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Bali. Karena itu, sumber daya manusia (SDM) di daerah memiliki diharapkan memiliki sertifikasi atau berkompeten untuk menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

"Sebisa mungkin SDM Lampung telah bersertifikasi agar tidak kalah dengan daerah maupun negara lain guna menghadapi persaingan global," kata Gubernur Lampung M Ridho Ficardo pada acara pencanangan dan penandatanganan Lampung Kompeten di Gedung Pusiban, Bandarlampung, Jumat, 16/12/2016.


Itu idealnya. Ada sertifikat, ada kompetensi. Tapi, bisa jadi realitas sangat mungking mengatakan lain.

Teman saya, termasuk ngotot tak perlulah memegang sehelai sertifikat untuk dikatakan kompeten. Sederhana saja, kata dia, kompeten itu per kamus berarti (1) cakap (mengetahui), (2) berkuasa (memutuskan, menentukan) sesuatu; berwewenang.

Kita pada akhirnya hanya terjebak pada formalisme kompetensi. Maka, lihatlah ada guru bersertifikasi sebagai ganti guru yang kompeten. Dan, kemudian lihat pula bagaimana dana sertifikasi dikemplang atau macet.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung misalnya, lebih memilih menghabiskan uang negara untuk membangun flyover ketimbang membayar sertifikasi guru dan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, konon, pemkot mengalihkan perhatian dengan wacana peresmian Flyover Antasari-Gajah Mada yang menelan Rp38 miliar supaya guru lupa dengan sertifikasi.

Di bidang jurnalistik, telah pula diterapkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), walau tetap saja ada jurnalis yang menolak UKW. Alasannya, masuk akal. Kompetensi wartawan toh tidak bisa ditentukan oleh sehelai kertas yang menyebutkan wartawan bersangkutan telah kompeten.

"Wartawan itu menulis! Lihat karyanya untuk memastikan seorang wartawan kompeten atau tidak," kata seorang jurnalis yang menolak pakai diuji-uji segala.

Dulu di zaman SBY, sempat ada wacana untuk melakukan sertifikasi seniman. Kalau yang terakhir ini, memang kelewatan. Terlalu! Seniman disertifikasi... apa geh standar kompetensinya? Apa pula sekolah atau pendidikan kesenian yang bisa meningkatkan kompetensi para seniman? Bukankah pula sekolah kesenian -- apatah lagi perguruan tinggi kesenian (baca: ilmu budaya) -- bukan hal yang harus mendapat perhatian di Negeri Ujung Pulau ini.

Jadi, dianjurkan sangat untuk tidak terlalu mengagung-agungkan sertifikat kompeten. Lebih baik kompeten tanpa sertifikat dari pada bersertifikat tapi tunakarya atau atau bersertifikat tapi dana sertifikasinya dikemplang mulu. []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 20 Desember 2016

Friday, December 9, 2016

Kopi, ATM, Kreativitas...

Oleh Udo Z Karzi 


ORANG kampung saya benar mengatakan: "Ngupi pai!" Oleh sebab itu mereka mereka tidak suka -- dan memang tidak bisa -- melakukan kupi paste. :)

Orang-orang kota memang suka ngopi, sehingga wajar jika sering melakukan copy paste. (Nyambung gak ya? Hehee...)


Dalam dunia kreatif atau tulis-menulis, copy paste yang diterjemahkan dengan plagiat, mencontek, atau apalah. menjadi barang terlarang. Haram hukumnya seorang penulis atau seniman melakukan copy paste.

Tapi, konon katanya China, Korea, dan Jepang justru bisa maju karena melakukan copy paste. Karena itu, sangat dianjurkan bagi sesiapa pun untuk melakukan copy paste demi kemajuan dan kesejahteraan. Tapi, lebih bagus lagi copy paste modifications. Ambil lalu terapkan dengan modifikasi (disingkat: ATM).

O, begitukah?

***

Aih sudahlah. Sekarang coba dengar percakapan soal kopi paling enak.

"Kopi apa yang paling enak?"

"Kopi yang gratis!"

"Ah, ... yang benarlah."

"Ya, benar. Saya ngopi sejak lahir. Ngunduh dari kebun sendiri. Jadi, ya gratis."

"Sekarang masih gratis?"

"Masih. Tapi, kadang-kadang kalau dikirim dari Liwa. Kalau saya sendiri yang bawa dari Liwa, ya beli. Hehee..."

"Katanya punya kebon kopi.

"Ya, duluu.... punya nenek moyang."

"Sekarang? Kebonnya gak ada yang urus."

***

"Kamu kan sering jalan-jalan. Coba kopi apa yang paling enak?"

"Ya kopi Lampunglah."

"Kalo saya suka kopi ... (nyebutin asal kopi)."

"Orang Lampung kok malah suka kopi ... (asal kopi tetap dirahasiakan takut dikira promo)?"

"Ini soal cita-rasa lo. Emang enak kopi... (asal kopi tetap nggak nggak boleh disebutin)."

"Ala, kamu belum tahu cara minum kopi yang bener aja. Makanya bilang bilang kopi... (asal kopi ada deh!) lebih enak."

"Emang cara yang paling enak ngopi gimana?"

"Nggak tahu."

"Nggak tahu caranya, kok berani bilang kopi Lampung yang paling enak."

"Ya, saya fanatik aja. Sejak lahir saya minum kopi Lampung kok."

"Itu kan kopi robusta?"

"Nggak ngerti. Pokoknya kopi Lampung."

***

"Katanya kopi Liwa kopi paling enak ya?"

"Nggak ah."

"Lo. Kemarin katanya fanatik kopi Lampung..."

"Sekarang kopi Liwa nggak enak lagi."

"Kok bisa?"

"Saya nggak dikirimi lagi kopi Liwa."

"Lawang niku."

"Hahaa..." []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 9 Desembar 2016

Tuesday, November 15, 2016

Menolak Terorisme, Meneguhkan Keindonesiaan

Oleh Udo Z Karzi


APA pun argumennya, tidak ada hak bagi sesiapa pun untuk menghilangkan nyawa orang lain. Maka, kita mengutuk aksi teror bom yang terjadi di Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda, Minggu, 13/11/2016.

Akibat aksi teror itu, seorang korban meninggal dunia lantaran menderita luka bakar 70 persen, dengan kondisi tubuh yang sebagian besar hangus terbakar api.


Intan Marbun (3) meninggal dunia pada Senin (14/11/2016) dini hari setelah dirawat di rumah sakit. Ia adalah satu dari empat anak yang menjadi korban teror tersebut.

Tiga korban luka lainnya, Anita Kristakel Sihotang (2 tahun), Alvaro Ora Kristan Sinaga (4 tahun), dan Triniti Hudahaya (3 tahun). Kesemua korban merupakan anak2 yang baru selesai melaksanakan ibadah dari Jemaat HKBP (Huria Kristen Batak Protestan).

Setelah terkena ledakan bom di pelataran Gereja Oikumene, Intan menderita luka bakar paling parah di antara ketiga temannya. Intan dibawa ke RS AW Sjahranie Samarinda dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Pria pelaku pelemparan bom molotov adalah  Juanda, 35 tahun, alamat  (eks pelaku bom buku). Saat ini Juanda ditahan di Polres Samarinda.

Kita berduka kembali. Siapa pun orangnya tidak ada hak baginya untuk melakukan kegiatan yang berupaya meniadakan orang lain. Siapa pun tidak ada alasan baginya untuk menerima perlakuan keji dan jauh dari perikemanusiaan ini.

Sungguh manusia macam apa namanya jika bergembira dan berpesta atas tragedi kemanusiaan ini. Jihad jihad macam apa yang membunuh manusia yang tidak tidak tahu-menahu dan tiba-tiba harus menerima perlakuan biadap seperti ini.

Karena itu, kita bersetuju agar segala macam jenis teror harus dihilangkan dari muka bumi. Teror bom yang terjadi di Samarinda adalah tindakan yang biadab dan tidak bisa dibiarkan. Negara tidak boleh kalah dengan aksi teror. Bom yang meledak telah mencabik-cabik rasa kemanusiaan kita.

Tapi, kita perlu mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada isu SARA yang mengidentikkan teror ini dengan agama tertentu dan meminta masyarakat tetap tenang dan waspada. Kekerasan dan teror merupakan musuh bersama dan mari dibangun kembali dengan merajut kepedulian dan solidaritas.

Kita mendorong untuk terus-menerus menyerukan penolakan terhadap paham radikalisme yang sungguh merusak rasa kebangsaan dan keberagaman. Kita harus memastikan bahwa terorisme dan radikalisme tidak bisa mencabik-cabik keindonesiaan rakyat kita.

Sekuat apa pun terorisme dan radikalisme merongrong keindonesiaan kita, Pemuda Indonesia tetap bergandeng tangan menjaga dan merawat keindonesiaan kita sembari berjanji tetap setia pada Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 15 November 2016

Wednesday, November 9, 2016

Pake Cabe!

Oleh Udo Z Karzi


HARGA cabai melambung tinggi. Di beberapa kabupaten cabai merah mencapai Rp65 ribu sampai Rp70 ribu.

Selain permintaan cabai yang meningkat di kalangan pasar, kenaikan harga itu dipicu sejumlah daerah penghasil cabai seperti Tanggamus, Lampung Selatan, dan Lampung Barat mengalami musim hujan dengan curah tinggi, serta ada  tanggul jebol sehingga mengurangi hasil panen.


Tanaman cabai memang sensitif, tidak bisa terkena hujan. Jika saat berbunga kena hujan ya risikonya tanaman rusak. Kondisi alam ini sangat berpengaruh terhadap hasil panen.

Tapi, setinggi-tinggi harga cabai tak pernah terpikirkan oleh ibu-ibu untuk mengurangi cabai dari daftar belanjaan. Kalau biasa pedas, mana enak masakan kurang cabai, apalagi hendak meniadakan cabai dalam gulai atau sayur.

Oleh karena itu, harus ada kebijakan dari pemerintah daerah untun menstabilkan harga cabai. Tapi, alih-alih kasih solusi agar harga cabai bisa terkendali, Kepala Dinas Perdagangan Lampung Ferynia malah menganjurkan masyarakat mengurangi pemakaian cabai. "Kurangi konsumsi cabai agar harga cabai turun. Soalnya, kita (Disdag) nggak mungkin mendatangkan cabai dari daerah lain," ujarnya.

Konkretnya bentuk pengurangan itu, yang biasa konsumsi cabai ¼ kg 3 hari, ya bisa dikurangi jadi konsumsi cabai ¼ kg seminggu.

Aduh, Ibu Ferynia, ibu-ibu bisa bisa diomeli bapak dan anak-anak karena sayur dan lauk kurang cabai. Lagi pula, cabai dalam kadar tertentu itu sangat penting bagi tubuh. Sebab, cabai memiliki kandungan yang mampu menunjang kesehatan bagi yang menkonsumsinya. Salah satu zat yang sangat baik dimiliki cabai adalah zat kapsaikin, kapsisidin, vitamin A dan vitamin C. Vitamin C ini juga kaya kandungan pada cabai, sama seperti manfaat jeruk, manfaat lemon, manfaat anggur yang dikenal sebagai sumber vitamin C.

Beberapa manfaat cabai bagi tubuh adalah meningkatkan imunitas, menurunkan berat badan, mengatasi diabetes, menyehatkan pencernaan, meredakan rasa sakit, menghentikan penyebaran Kanker Prostat, meredakan sakit kepala, mengurangi pegal-pegal badan, dan melancarkan pernafasan.

Na, kan jelaskan anjuran Ibu Kadis Perdagangan mengurangi konsumsi cabai justru bertentangan dengan upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.

Makan cabai itu sehat!

Karena itu, carikan solusi menurunkan harga cabai geh Bu dan biarkan kami tetap pake cabe yang cukup untuk setiap santapan!  []


Fajar Sumatera, Rabu, 9 November 2016

Tuesday, November 1, 2016

Lebih Baik Berdoa Saja

Oleh Udo Z Karzi


ANEH juga kenapa pemimpin ini tiba-tiba begitu panas dengan keberadaan pungli. Bukankah yang berlaku selama ini justru aneh kalau tidak ada pungli dalam segala jenis urusan di tingkat mana pun, dari birokrasi terbawah seperti RT sampai ke birokrasi yang tertinggi.

Pungutan liar (pungli) atawa meminta sesuatu (uang dsb) kpd seseorang (lembaga, perusahaan, dsb) tanpa menurut peraturan yang lazim, kata kamus, adalah sebuah kebiasaan. Boleh jadi mentalitas kita itu bernama pungli.


Kasihan orang-orang kecil di pasar atau di kantor-kantor pemerintah yang justru memanfaatkan pungli ini sebagai cara untuk hidup. Coba sebutkan di mana tempat yang ramai yang tidak dikutip uang dengan sebutkan uang parkir? Siapa pula coba yang menolak 'tanda terima kasih' setelah kepentingan orang tersebut dia urus?

Meski kecil-kecilan, pungli itu jelas korupsi juga kok! Tapi, kalau ini yang dikatakan, jelas orang-orang yang mengutip uang dari orang-orang akan membela diri, "Kami hanya meminta sedikit dari orang kebetulan berlebih."

Tapi, kutipan-kutipan kecil ini lumayan besarnya kalau dikumpulkan. Tukang pungli suka marah-marah juga ketika seseorang kasih uang besar. "Ai Bapak ini ngeledek benar. Masa uang parkir Rp2.000, kok dikasih Rp100.000. Yang bener geh, Pak."

Kadang-kadang, saat belanja, ada kembalian Rp150, kasirnya bilang, "Maaf ya, nggak ada uang  ada uang kecil."

Rasanya mau marah. Masa Rp150 dianggap bukan uang. Ini kan pungli juga. Tapi gimana coba, jangan-jangan kita dibilang orang aneh.

Kadang, antara pungli, minta-minta, dan sedekah memang susah dibedakan. Pungli kalau orang yang dipunli ikhlas, gimana tuh. Kadang memang terpaksa ikhlas karena kasihan juga dengan 'orang miskin' yang suka cari penghasilan dengan cara minta-minta. Lebih baik ikhlas daripada marah-marah mulu karena uang kecil; ntar cepat tua. Kalau ikhlas, pungutan liar itu bisa dianggap sedekah.

Aih, mumet. Lebih baik kita berdoa saja semoga program pemerintah (daerah) memberantas pungli sukses!  []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 1 November 2016

Monday, September 26, 2016

Literasi

Oleh Udo Z Karzi

TURUT bergembira atas dikukuhkannya Yustin Ridho Ficardo menjadi Duta Baca Lampung. Pengukuhannya dilakukan Tim Perpustakaan Nasional yang diwakili Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya Perpustakan dalam peringatan Hari Kunjungan Perpustakaan, di Perpusda Provinsi Lampung, Rabu (21/9/2016).

Selanjutnya, akan ada pemilihan Duta Baca Indonesia (DBI). Dua orang Duta Baca Indonesia yang telah terpilih dan telah melaksanakan tugasnya dengan baik sebelumnya adalah Tantowi Yahya untuk periode 2006--2010 dan Andi F Noya untuk peride tahun 2011 s/d tahun 2015.

Mengutip laman http://perpusnas.go.id, tugas utama Duta Baca Indonesia adalah sebagai motivator nasional peningkatan minat baca masyarakat,serta sebagai pengungkit dan/atau memperkuat kegiatan Perpusnas dalam mengkampanyekan Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca secara sinergis dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. Seorang DBI inijuga mampu menjadi panutan/idola dan memperkuat kegiatan serupa yang diselenggarakan oleh daerah, sehingga visi nasional “Indonesia Gemar Membaca 2019” optimis dapat tercapai.

Itu sudah, sekarang pertanyaannya bagaimana membangkitkan gemar membaca di Bumi Ruwa Jurai. Dan, ini menjadi PR penting Duta Baca Lampung.

Tapi, saya tak khawatir. Sebagaimana diberitakan, Aprilani Yustin selain dikenal menaruh perhatian tinggi terhadap anak-anak usia dini di Lampung ini, juga menekankan untuk bersama-sama menumbuhkembangkan minat baca anak sejak dini, sehingga anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan cepat.

“Yuk Kita membaca, kenalkan buku sejak dini pada anak. Kita sebagai orang tua sesibuk apapun harus care terhadap anak, karna membaca merupakan kunci untuk membuka wawasan dan kunci perkembangan anak kita,” ajak Yustin usai dinobatkan sebagai Duta Baca.

Saya pun menyambut, "Ayuuk!"

Saya sebenarnya, kepengen cerita tentang literasi. Ya, itu tadi hal membaca dan -- karena yang dibaca itu tulisan – hal menulis. Konon, katanya di Negeri Ujung Pulau ini dunia literasi cukup bergairah. Meskipun lebih sering lesu darah.

Tapi, ah, itu nanti saja kalau ada kesempatan.

Tabik! []


~ Fajar Sumatera, Kamis, 22 September 2016

Thursday, September 15, 2016

Mak Ganta, Kapan-kapan Aja…

Oleh Udo Z Karzi


GUBERNUR Lampung M Ridho Ficardo berkomitmen untuk mempercepat sistem pelayanan publik untuk mendukung reformasi birokrasi di Lampung.

Dan agaknya, Pak Gub tak sekadar omong karena nyatanya Lampung mendapat penghargaan inovasi pelayanan publik dari Kemenpan-RB pada Maret 2016 lalu. Lampung masuk 12 besar kategori provinsi yang melakukan inovasi pelayanan publik melalui Rumah Sakit Keliling.


"Pelayanan publik di Lampung cukup baik," puji Deputi Bidang Pelayanan Publik Kemenpan-RB Diah Natalisa kala berkunjung ke Negeri Ujung Pulau ini, Selasa, 13/9/2016.

Yah, semoga saja memang benar ada perbaikan yang signifikan dalam pelayanan publik dari birokrasi di provinsi ini.

Dengan begitu, kita tidak akan mendengar lagi pasien ditelantarkan pihak rumah sakit. Malah yang parah, ada kisah kakek pasien sebuah rumah sakit pemda, yang dibuang di jalanan. Kita tidak menjumpai lagi ada pasien yang merasa dipersulit dalam mengurus BPJS Kesehatannya.

Paramedis bekerja dengan penuh tanggung jawab merawat dan mengobati orang sakit tanpa membedakan status sosial orang tersebut, mau miskin, mau kaya, mau rakyat jelata, mau pejabat, mau ganteng, mau jelek, ... semua sama perlakuannya.

Tugas ini memang tugas kemanusiaan karena itu petugas kesehatan akan berbuat sebaik mungkin demi meningkatkan derajat kemanusiaan itu. Harkat dan martabat manusia itu sama semua di mata Yang Mahakuasa. Karena itu, tidak ada tempat untuk merendahkan sesiapa pun, semua berhak mendapatkan pelayanan kesehatan sebagai warga negara.

Ya, itu sebenarnya inti dari keberadaan birokrasi: melayani masyarakat. Melayani berarti pula memberi kemudahan, melancarkan urusan, dan menyederhanakan masalah yang dialami warga sehingga kepentingan masyarakat dapat terakomodasi.

Kalau itu yang berlaku dalam tubuh birokrasi, alangkah senangnya kita sebagai warga negara. Alangkah indahnya kehidupan berbangsa-bernegara kita jika kita menemukan senyum, tutur kata, dan sikap ramah dari para birokrat ketika kita berurusan dengan mereka di setiap tingkatan pemerintahan di negeri ini.

Pokoknya, asyik!

Tapi, astaga, seorang teman bercerita tentang anaknya yang berobat ke rumah sakit pemerintah. Tak usah diceritakan mengenai cara pelayanan rumah sakit, tetapi betapa ironinya. Anaknya sakit mata, tetapi dari apotek malah memberi anaknya obat tetes telinga. Salah resep.

Sebelumnya, ada cerita tentang ibu yang disuruh pulang, tetapi bayi yang baru ia lahirkan ditahan pihak rumah sakit. Alasannya si bayi belum punya BPJS dan masih perlu perawatan.

Lalu, hari-hari ini kita masih menemui betapa rumit dan melelahkan pengurusan KTP-e.

Nyatanya, masih berlaku ujaran lama tentang birokrasi: Kalau bisa disulit kenapa mesti dipermudah, kalau bisa nanti kenapa mesti sekarang?  Bahasa sininya: Mak ganta, kapan-kapan aja…

Oh, birokrasi. Oh, birokrat. []


~ Fajar Sumatera, Kamis, 15 September 2016

Tuesday, September 6, 2016

Bukit Randu Longsor

Oleh Udo Z Karzi


BANDARLAMPUNG itu manis karena berbukit-bukit dan berlembah-lembah. Namun, selalu saja ada yang merasa perlu 'menambah' keelokan kota itu dengan berbagai usaha.

Cerita tentang bukit longsor atau banjir karena tanggul bukit ambrol berkali-kali terjadi. Berkali-kali diingatkan agar tidak menggunduli atau mengganggu kelestarian bukit dengan berbagai kegiatan usaha, berkali-kali juga diabaikan.


Setiap kali menulis tentang bukit-bukit di Kota Tapis Berseri, setiap kali pula terbayang tentang bahaya yang mengancam. Dan, innalillahi wainna ilaihi rajiun, Bukit Randu yang di atasnya berdiri Hotel dan Restauran Bukit Randu pun longsor, Kamis (1/9).

Tembok rumah Syahrudin jebol akibat terkikisnya tebing dari imbah yang keluar dari Bukit Randu. Dentuman longsor yang begitu keras mengejutkan keluarga Syahrudin yang tinggal di Kelurahan Kebonjeruk RT 008 LK II, Bandarlampung. Rumahnya jebol akibat longsor dari Hotel Bukit Randu.

Longsor tersebut akibat air pembuangan limbah yang mengalir melalui tebing di belakang rumah warga. Perlahan-lahan tebing menjadi erosi akibat limbah masuk ke permukiman. Tembok rumah Syahrudin jebol akibat terkikisnya tebing dari imbah yang keluar dari Bukit Randu.

Memang tidak ada korban jiwa. Tapi, seperti dituturkan Syahrudin, longsor susulan masih menghantui. Mereka tidak menyadari jika limbah yang mengalir dari tebing selama ini bakal menghancurkan tembok rumah. Limbah memang mengalir, tetapi masuk ke sumur di samping rumah yang berada di sebelah.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung Hendrawan mengecam Hotel Bukit Randu yang lalai memperhatikan dampak ingkungan di seputar bukit.

Longsor Bukit Randu ini bukan pertama kali terjadi. Tahu demikian, mesti dilakukan antipasipasi dini agar tak terulang lagi. Harus ada evaluasi menyeluruh mengenai keberadaan hotel di bukit ini.

Kalau ada pelanggaran dalam kasus ini, harus ada sanksi tegas. Keselamatan warga kota penting menjadi perhatian pemerintah kota. Jangan hanya mengutamakan pendapatan, tetapi lupa dengan masyarakat yang malah dirugikan, bahkan terancam nyawa. []


~ Fajar Sumatera, Senin, 5 September 2016

Friday, August 19, 2016

Teganya… Teganya…

Oleh Udo Z Karzi 


RASA kemanusiaan kita kok semakin menipis saja. Hati kita pun lebih sering tertutup jelaga, sehingga kita sering menjelma menjadi makhluk yang “suka tegaan”. Ada orang lagi susah, ada orang menderita, ada orang sedang dilanda kesulitan, ada orang yang tak memadang uang, ada orang yang lemah, … siapa peduli.

Barangkali terlalu berlebihan mengatakan itu. Tapi, kecenderungannya begitu. Tak terkecuali di institusi yang sangat dekat urusannya dengan masalah kemanusiaan seperti bidang kesehatan.

Kita patut menyesalkan kejadian yang menimpa seorang ibu dan anaknya di Rumah Sakit (RS) Imanuel. Hanya karena belum menyelesaikan administrasi, seorang bayi yang baru dilahirkan oleh salah seorang ibu yang menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) di RS Emanuel Ditahan pihak RS Emanuel.

Orang tua bayi Ian Winardi (28), warga Banjaragung, Lampung Selatan berkisah, Selasa (16/8) sekitar pukul sepuluh pagi istrinya melahirkan di RS Emanuel dengan menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Setelah itu perawat konfirmasi dengan keluarga kami bahwa ibunya boleh pulang usai dua jam melahirkan.

“Kata perawatnya ibunya sudah bisa pulang, tapi bayi kami belum diperbolehkan pulang, karena bayinya belum memiliki kartu BPJS,” ucap Winardi di RS Emanuel ruang anak lantai Tiga.

Benar kata Winardi, bagaimana ia dan istrinya bisa pulang kalau tidak bersama bayinya. Sedangkan istrinya saja baru melahirkan masih dalam keadaan sakit sehabis melahirkan kok sudah disuruh pulang.

“Saya disuruh urus dulu kartu BPJS bayinya, baru bisa bawa pulang bayinya, padahal sudah saya bilang kalau saya akan urus surat BPJSnya menyusul, dan bayi sementara pulang bersama saya, dan saya katakan akan bertanggung jawab untuk itu,” kata Winardi.

Meskipun masih memerlukan perawatan, ibunya boleh pulang. Namun, bayi nanti dong setelah punya kartu BPJS. Bagaimana logika kemanusiaannya ya? Lebih membingungkan lagi keterangan pihak rumah sakit yang mengatakan, ibunya memang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya, tetapi bayinya belum diperbolehkan pulang oleh dokter anak, karena masih perlu pengawasan dari pihak rumah sakit. Sang bayi, katanya, belum lancar buang air besar dan kecil.

Soal pembiayaan, sesuai prosedur ibunya boleh pulang tanpa biaya karena menggunakan KIS. Tapi, bayinya karena belum terdaftar dalam program KIS ataupun BJS. Harus urus BPJS dulu baru bisa pulang tanpa biaya.

Lah, gimana sih? Ibu dan bayi yang baru dilahirkan kok langsung dipisahkan begitu? Mengedepankan formalisme administrasi, tetapi mengabaikan keselamatan pasien dan rasa kemanusiaan. Sungguh miris!

Teganya... teganya.... []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 19 Agustus 2016

Friday, August 12, 2016

Miskin Terhormat

Oleh Udo Z Karzi


ORANG di Lampung ribut lagi. Inilah data yang bikin senewen banyak pihak: Angka kemiskinan Lampung dari penghitungan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016 mencapai 14,29 persen. Dibanding dengan kondisi semester sebelumnya (September 2015), angka kemiskinan Lampung naik 0,76 poin dari 13,53 persen.

Lampung miskin sesungguhya sudah biasa karena 15 tahun terakhir kita memang berada level 3 besar miskin di Sumatera. Baru tahun kemarin Lampung beringsut naik menjadi 4 besar. Namun tahun ini kita kembali menempati 3 besar termiskin. Sebuah antiklimaks.


Kembali miskin ini yang sesungguhnya luar biasa. Paradoks, karena dalam perjalanan hidup manusia, naik kelas dan meningkat derajat kehidupan sesungguhnya itu yg diidamkan.

Gitu aja kok repot. Kenapa sih kok selalu ribut kalau dibilang kemiskinan meningkat kalau yang miskin hepi-hepi saja? Lihat saja kalau ada pendataan data miskin untuk mendapatkan bantuan, mestilah orang ramai-ramai mengaku miskin. Kalau gak kebagian raskin (beras untuk keluarga miskin) -- yang sekarang digenti dengan nama rastra (beras untuk keluarga prasejahtera -- orang bisa marah ke Pak RT/lurah.

Begitu juga begitu ada Bantuan Langsung Tunai (BLT), rebutan lagi mengaku miskin. Bikin pengaduan ke aparat, nulis surat pembaca, gugat sana gugat sini karena bantuan tidak merata, dan sebagainya.

Nah, Bandarlampung justru getol meningkatkan jumlah orang miskin. Adalah Program Bina Lingkungan (Biling) yang menjadi program unggulan Wali Kota Bandarlampung. Biling ini memberi tiket gratis kepada warga miskin untuk masuk sekolah-sekolah negeri. Syaratnya gampang kok: cukup minta keterangan miskin dari pihak berwewenang. Jika kita anak orang miskin, dijamin bisa kok masuk sekolah negeri. Ya, cukup dengan data miskin, nggak penting apakah anak tersebut mampu secara akademik, berprestasi atau tidak, jadilah masuk ke sekolah negeri. Seleksi ya seleksi miskin.

Rebutanlah warga Tapis Berseri mengaku miskin agar anaknya bisa sekolah negeri. Repotnya kalau ada yang benar-benar miskin malah tidak masuk. Protes dong! Terserah berhasil atau tidak.

Dalam hal ini, sukseslah Pemkot Bandarlampung meningkatkan jumlah orang miskin di kota ini. Sebenarnya, benar juga yang dilakukan Pak Wali Kota ini. Sebab, bukankah konstitusi bilang, "Orang miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara."

Wah, kalau angka kemiskinan berkurang atau malah tidak ada, gagal dong pemerintah "memelihara kemiskinan".

Aidah, ngomong kok nggak karu-karuan. Sekarang apa solusi mengatasi kemiskinan? Repot. Lampung ini aneh, kalau jumlah orang kaya dan jumlah kekayaan orang kaya meningkat; maka jumlah orang miskin dan angka kemiskinan orang miskin bertambah kere.

Jadi gimana dong? "Kurangi jumlah orang kaya dan kekayaan orang orang kaya biar jumlah orang miskin berkurang alias angka kemiskinan menurun."

Caranya? "Entahlah." Tapi, yang jelas jangan minta tolong dengan tukang begal ya.

Nggak enak kok jadi orang kaya. Apa-apa serba-harus-bayar. Apa-apa serbamahal. Kasihan kan orang kaya. Hahaa…

Tapi sekali lagi, jangan membegal. Lebih baik miskin asal tak membegal. Percayalah miskin itu terhormat. []



~ Fajar Sumatera, Jumat, 12 Agustus 2016

Friday, July 29, 2016

Revolusi Mental. Dan, Mentallah Anies...

Oleh Udo Z Karzi


REVOLUSI mental! Dan... mentallah, terlempar keluar dari Kabinet Kerja, Anies Baswedan dari kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Ributlah kita. Ada apa? Kenapa? Kok bisa? Apa salah Anies? Dst.

Jadi, apa sebenarnya makna dari "revolusi mental" yang diusung dan didengungkan selama ini? Entahlah! Barangkali yang paling tahu Puan Maharani yang Menko SDM dan Kebudayaan yang sekali waktu bilang, "Minum jamu itu revolusi mental."

Yuddy Chrisnandi barangkali menteri yang salah mengartikan revormasi mental dengan melarang rapat di hotel dan bikin seragam buat anak baru (bisa siswa, mahasiswa, karyawan baru), sehingga harus mental dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

***

Aselinya, revolusi mental itu bagus kok. "Revolusi Mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia bersama Pemerintah untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi Indonesia yang lebih baik... Namun, perilaku bisa diubah, mental dan karakter bisa dibangun," begitu situs Revolusimental.com bikin definisi.

Tapi, kebanyakan orang salah mengartikan revolusi mental, sehingga nasibnya kepental-pental. Tirulah Puan Maharani. Ia sangat pintar membuat pengertian revolusi mental untuk segala hal semacam minum jamu sebagai revolusi mental itu.

***

Revolusi mental itu bukan mengungkap borok pejabat seperti yang dilakukan Sudirman Said, bukan hobi bikin rusuh kayak Rizal Ramli, bukan seperti Marwan Djafar yang buat ribet penyaluran dana desa, bukan seperti Ignatius Jonan yang 'jadi penyebab' kemacetan panjang di tol Brebes saat musim mudik.

Ah, banyak yang gak ngerti revolusi mental. Revolusi bukan kayak Slank yang  bikin lagu "Salam Dua Jari" untuk mendukung gerakan ini. Bukan kayak pelajar yang suka masuk ke sekolah, pegawai yang suka tambah-tambah jadwal libur, bukan petani yang pusing karena harga tanamannya gak kunjung memberinya kesejahteraan.

Bukan pokok. Bukan...

***

Apa dong revolusi mental? Aha... mestilah orang-orang partai yang tahu persis apa itu revolusi partai. Orang-orang partai yang bisa bikin segala aturan. Orang-orang partai yang pinter lobi sana lobi sini. Orang-orang partai yang paling ngerti menempatkan orang-orangnya di jabatan-jabatan penting di negeri ini.

Jadi, jelas ya: Revolusi mental itu untuk orang-orang partai! Kalau gak punya partai, ya mentallah... []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 29 Juli 2016

Monday, July 25, 2016

Selamat Bertugas, Pak Krishna

Oleh Udo Z Karzi


AKHIR pekan lalu hingga memasuki pekan-pekan ke depan mungkin , tak terhindari perbincangan warga Lampung tak bakal lepas dari sosok Wakapolda Lampung yang baru, Kombes Krishna Murti.

"Wah, Kombes Krisha ke Lampung?" seru Minan Tunja bersemangat.

Seruan Minan Tunja agaknya mewakili histeria ibu-ibu di Bumi Ruwa Jurai. Ya, tak tak hanya ibu-ibu yang geretan dengan Pak Polisi Gagah Berani ini. Komentar pun sambung-menyambung di berbagai tempat dan di berbagai waktu, baik perbincangan langsung tatap muka maupun di berbagai media dan media sosial.

Peristiwa bom di Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016, mencuatkan nama Kombes Krishna Murti, selain AKBP Untung Sangaji dan Kompol Teuku Arsya Khadafi. Krishnalah komandan yang memimpin aksi penyregapan dan pelumpuhan teroris di kawasan Sarinah dan Starbucks Coffe kala itu. Namanya mencuat karena keberhasilan polisi dalam menumpas teroris dalam beberapa menit saja.

Sosok polisi yang satu ini memang terkenal gesit dan cerdas dalam menangani setiap kasus. Krisna yang kelahiran 15 Januari 1970 adalah salah satu perwira menengah (pamen) di lingkungan Polda Metro Jaya. Komandan yang sering disapa dengan Pak Krishna ini lulusan Akpol (Akademi Kepolisian) tahun 1991. Sebelum menjabat di Direskrimum Polda Metro Jaya, ia menjabat sebagai Divhubinter Polri.

Rekan jejak karier Kombes Krishna Murti ini juga cemerlang. Sebab, ia pernah ditugaskan hingga ke PBB untuk menjadi Staf Perencanaan PBB di New York. Riwayat pendidikan Kombes Krishna Murti pun terbilang bagus. Ia ternyata memiliki gelar Master Sains. Pada 2000 Kombes Krishna dinobatkan sebagai mahasiswa lulusan terbaik PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Beberapa kali Kombes Krishna Murti juga diutus ke negara negara konflik untuk membebaskan WNI yang terjebak perang.

Wow keren, kini Direskrimum Polda Metro Jaya ini dipromosikan menjadi Wakapolda Lampung.  Banyak pihak menilai duet Brigjend Ike Edwin-Kombes Krishna Murti adalah pasangan yang ideal. Yang satu merakyat dan penuh gagasan yang bersumber pada kearifan lokal, sedangkan satu muda, gesit, dan cerdas.

Namun, tak kurang juga yang meragukannya. Karakteristik begal dan kriminalitas di Lampung sangat berbeda dengan Jakarta tempat Pak Krishna ditugaskan dan menangguk sukses sebagai aparatur penjaga keamananan dan ketertiban. Makanya, ada julukan “kelompok Lampung” untuk begal di Jabodetabek tempo hari. Pinjam istilah akademisi Muhammad Harya Ramdhoni, "Ini Lampung, Pak Kombes!"

Ya, tentu saja Pak Krisha harus belajar cepat dan segera menyesuaikan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi medan "perang" baru di Bumi Ruwa Jurai.

Selamat datang. Selamat bertugas di Lampung, Pak Krishna. Semoga prestasi Pak Krisha di Ibu Kota bisa dimodifikasi menjadi kesuksesan di Negeri Ujung Selatan Pulau Sumatera ini. Tentu sesuai dengan situasi di sini. []


~ Fajar Sumatera, Senin, 25 Juli 2016 

Tuesday, July 12, 2016

Kebawa Hobi Bolos

Oleh Udo Z Karzi


LIBUR dan cuti bersama sepanjang sembilan hari semasa Idulfitri, rupanya tetap saja tak cukup bagi bagian pegawai negeri.Maka, ada 5% dari 2.000-an pegawai Pemerintah Provinsi Lampung tak masuk kerja pada hari pertama kerja selepas Lebaran.

Tingkat kehadiran saat apel di Pemerintah Kota Bandarlampung hanya 90% dari 12.000 amtenar. Untungnya Pak Wali Herman HN baek, sehingga bisa maklum. "Ya, kan macet sana macet sini ya kita harus maklumlah," ujarnya.

Di Lampung Timur, Bupati Chusnunia Chalim harus kecewa saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) karena masih saja ada PNS yang tak nongol ke kantor mereka. “Seharusnya para kepala SKPD bisa memberikan peringatan keras kepada bawahannya yang kurang disiplin dalam bekerja,” tegas Chusnunia.

Tak ada ampun untuk PNS malas. Akibat bolos di hari pertama kerja setelah Idulfitri, belasan pegawai dilingkungan Pemerintah Kabupaten (pemkab) Lampung Selatan (Lamsel) dikenai sanksi berupa surat peringatan pertama (SP1). Pemberian SP1 ini saat Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan melakukan sidak di sejumlah dinas.

***

Apa pun alasannya, sulit menoleransi sikap tidak disiplin aparat pemerintah ini. Bukankah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) sudah meminta kepada seluruh pimpinan instansi pemerintah, termasuk bagi Panglima TNI dan Kapolri, agar tidak memberikan izin cuti tahunan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS), prajurit TNI, dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), setelah pelaksanaan cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1437H pada 11–15 Juli mendatang.

“Cuti bersama hari raya sudah cukup memadai, yaitu selama sembilan hari kalender (2–10 Juli),” kata Yuddy seperti dilansir Setkab, Senin (27/6/2016).

Jadi, kenapa tetap bolos? Ah, mestilah karena tradisi (buruk). Kebiasaan bolos setelah Lebaran atau di hari-hari kerja lain agaknya sudah menjadi penyakit menahun yang selalu saja berulang.

Jelaslah, disiplin itu sejatinya sudah melekat dalam sikap hidup setiap orang. Akan halnya kedisplinan aparatur pemerintah, agaknya semua sudah mafhum...

Hmm, jangan-jangan amtenar yang suka bolos ini kebawa hobi bolos waktu masih sekolah dulu deh. []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 12 Juli 2016

Wednesday, June 29, 2016

Menuju Macetpolitan

Oleh Udo Z Karzi


DIAM-DIAM Kota Bandarlampung berulang tahun ke-334 pada 18 Juni 2016 lalu. Tapi karena pada puasa, gak banyak yang tahu. Pemkot juga gak bikin perayaan khusus. Entahlah kalau setelah Lebaran.

Dan, setelah 30 tahun urbanisasi ke Kota Tapis Berseri ini, ternyata aku semakin pangling dengannya. Selain siger yang nemplok di atap atau bagian depan toko-toko dan kantor, aku tak mengenalinya lagi sebagai ibu kota Provinsi Lampung.

Ah ya, ding masih ada patung Radin Inten II. Ada dua malah. Ada Patung Pengantin yang (juga) dua: Pengantin Lampung Pepadun dan Pengantin Saibatin.

Ada Tugu Adipura. Tapi, kalah pamor dengan nama Bundaran Gajah tersebab bertahun-tahun semenjak Adipura terlepas, piala ini tak kunjung mampir ke kotaku ini. Alih-alih kota bersih, kotaku malah sempat menjadi kota besar terkotor se-Indonesia.

Eh ya, ada tugu Durian. Lumayanlah, ada tempat pengunjung mencari durian saat musim atau tidak musim; meskipun bagiku tetap saja mahal.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1 juta jiwa lebih, ia menjelma menjadi metropolitan baru. Kabarnya, kotaku menjadi destinasi wisata alternatif di luar Pulau Jawa.

Ya, kabarnya begitu. Sebab, hotel, mal, pusat perbelanjaan, dan ruko di kotaku tumbuh kembang dengan pesat.

Iya kali ya. Masa aku nggak percaya. Cuma aku heran di Negeri Penyair ini pentas seni dan budaya selalu sepi atau yang nonton ya seniman yang itu-itu aja. Tapi, untunglah seniman di kotaku tabah-tabah dalam berkesenian. Makanya pentas seni selalu saja ada dengan atau tanpa penonton.

Sekali waktu, budayawan Putu Wijaya bilang Bandarlampung berpotensi menjadi kota budaya. Entahlah, nyatanya Bandarlampung tak jadi kota budaya. Kota kreatif juga bukan. Kota cerdas (smart city) juga baru gagasan yang rontok sebelum dirancang.

Jadi, Bandarlampung jadi kota apa dong? Sungguh aku bingung. Untung ada Karina Lin yang bilang, "... Bandarlampung menuju Macetpolitan." (Lampost, 28/6/2016)

Na, setuju banget deh. Fajar Sumatera pun berhari-hari bikin headline "Bandarlampung Macet Luar Biasa".

Ayo dong jangan bikin malu. Kalau merencanakan kota yang bener geh. [] 


~ Fajar Sumatera, Rabu, 29 Juni 2016

Thursday, June 23, 2016

Operasi Batok

Oleh Udo Z Karzi


SEBENTAR lagi Lebaran. Orang-orang semakin sibuk menyiapkan ini, itu. Pasar, toko, mal, ... semua tempat yang menyediakan segala sesuatu berkenaan dengan hajat Hari Raya bertambah ramai. Pegawai negeri (mudah-mudahan sih enggak!) semakin rajin bolos. Karyawan swasta meskipun kelihatan rajin, (semoga kagak!) pikiran sudah nggak dikerjaan lagi.

Kalau anak sekolah sih sudah mulai libur setelah bagi rapor kenaikan kelas sejak pekan ini. Mereka sudah bernyanyi, "Libur telah tiba... libur telah tiba..." dan sudah berkhayal tentang baju baru dan uang THR yang bakal mereka terima dari sanak saudara yang disambangi.

Hanya Udien yang sedang bersungut-sungut kesel dan setengah bingung.

"Ngapi muneh?"

Alih-alih dijawab, Udien malah nyahut, "Operasi batok ke mana kita?"

Teman yang sebelah langsung tertawa ngakak. Tapi, wartawan muda malah nanya, "Apa operasi batok?"

"Haduuh... bener-bener, operasi batok aja gak tahu."

"Wartawan sekarang lebih canggih geh Dien soal begituan. Emangnya kayak kau dulu yang rajin keliling-keliling menjelang Lebaran...."

"Ah, kau tahu aja...," Udien tersipu.

"Jadi apa operasi batok?"

Kebetulan ada, peminta-minta lewat. Ada juga yang pengemis-mengemis ke masjid, di pasar-pasar, ke kantor-kantor, ke rumah-rumah.

"Nah, kurang lebih kayak gitu itu operasi batok. Cuma yang melakukannya wartawan."

"Tapi mereka ga pakai batok tuh..."

"Ngeyel. Wadah untuk menampung dana atau barang itu genti batok aja biar pas dengan namanya operasi batok...," Udien kesel.

Hahaa... []


~ Fajar Sumatera, Kamis, 23 Juni 2016  

Sunday, June 19, 2016

Mengakrabi Kesunyian

Oleh Udo Z Karzi


SETELAH mengalah dengan hujan yang berkali-kali menerpa tubuh ringkihku, yang membuatku terkapar di tempat tidur berteman bantal dan selimut tebal selama dua hari di akhir pekan; saya bangun pukul tujuh pagi ini.

Ini prestasi. Soalnya, saya biasanya bangun lebih siang. Apalagi hari Minggu. Hehee...
Yang lain-lain, langsung bilang mau pergi. Tapi, aku merasa belum fits benar. Saya bilang di rumah aja. Ee... Aidil (9,5 tahun), anak saya yg nomor satu, ikut-ikutanan. "Saya ikut Ayah," ujarnya.

Tapi, kok sepi. Apa informasi terbaru ya? Di tivi cuma ada film kartun kesukaan anakku. Saya keluar cari koran.

"Yah, cari Kompas ya," kata Aidil.

"Ya," sahutku.

Selera bacaan anakku boleh juga. Tapi, yang dibaca di Kompas paling2 komik & cerita anak2nya. Hehee...

Di lapak koran tak ada Kompas. Aku hanya bertemu "Kesunyian Penyair"-nya Endri Y di Lampost & cerita mudik buat orang kebanyakan (tapi entahlah buat kami sekeluarga tahun ini, hehee...) di Tribun Lampung.

***

"Kok genti nama? Penyegaran ya?" Ini pertanyaan yang ke sekian.

Setiap kali ada yang bertanya, saya berikan jawaban yang berbeda dengan sekenanya. Untuk pertanyaan itu, saya kasih jawab begini: "Memanfaatkan nama lama yang dibuang sayang, Mas. Hahaa..."

Ya, saya genti nama (lagi) di Facebook setelah memakai nama aseli sekitar dua bulan untuk sebuah alasan yang ... entah, saya tak mengerti.

Zulzet Renorya, begitu nama baru saya. Sebenar sih, bukan nama baru. Nama Zulzet diberi seorang cewek. Tak perlu saya kenalin deh karena hanya akan mengungkit kisah lama dan orangnya juga sudah abadi di pangkuan Ilahi.

Waktu absen, dia tulis nama saya: Zul Z.

Saya protes, "Ee, nama saya bukan gitu."

Dia cuma berucap, "Biar aja. Biar simpel."

Di lain waktu, nama saya dia tulis dengan Zulzet. 

Ya, sudah saya biarin aja. Ya, bagus juga kok. Saya malah kesenangan. Malah, email saya pertama: zulzet@satumail.com tahun 2000. Lalu, genti dengan zulzet@yahoo.com. Dua email sudah ditutup karena nggak pernah dipakai.

Itu Zulzet. Renorya, nama siapa? Ya, bukan nama siapa-siapa. Sebagian orang Lampung menulis Renorya dengan Khenokhiya atau Ghenoghiya (dipisah juga boleh menjadi "kheno khiya" atau "gheno ghiya"). Nah, ulun Lampung tahu deh artinya.

Ya, saya ambil dari omongan tokoh yang saya kagumi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang berkata, "Gitu aja kok repot." Tapi, kalau saya bikin nama Zul Z Gitu Aja Kok Repot kan malah ribet. Makanya, Zulzet Renorya.

***

Sekarang pertanyaannya, kok suka gonta-ganti nama? Jawab saya, "Suka aja." Sebab, saya penyuka nama-nama bagus seperti Isbedy Stiawan Z S, Oyos Saroso H N, Iswadi Pratama, Iwan Nurdaya-Djafar, Ahmad Yulden Erwin, Ida Refliana, SW Teofani, Ye Wibowo, Budi Hatees, Yulizar Fadli Lubay,  Iin Muthmainnah, Fitri Yani, Alexander Gebe, Ari Pahala Hutabarat, Yuli Nugrahani, Juperta Panji Utama, Panji Sastra Sutarman, Jauhari Zailani, Dahta Gautama, Sugandhi Putra, Rosita Sihombing, Rilda A Oe Taneko, Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah, Amzuch, Djuhardi Basri, Arman Az, Dyah Merta, Tita Tjindarbumi, Syaiful Irba Tanpaka (Tanpa K ini juga inspirasi buat bikin nama, hehe...ya nggak Nora Juwita Rosadi),  ... waduh banyak banget nama keren dari Negeri Penyair ini.

Itu baru di Lampung. Di luar sana apalagi di luar negeri, lebih banyak lagi nama-nama bagus. Ada Doddi Ahmad Fauji (Bandung), Hazwan Iskandar Jaya (Jogja), Frieda Amran (Belanda)... duh nggak  kesebut-kesebut deh.

Selain suka nama-nama hebat, sejak belajar menulis dan mengirimkannya ke media, saya memang tak pernah pede dengan nama asli. Maka sederet nama saya gunakan untuk tulisan di majalah dinding sekolah, koran, dan majalah di Ibu Kota dan Lampung. Di dalam Ensiklopedia Sastra Lampung susunan Agus Sri Danardana dkk. (yang diterbitkan Kantor Bahasa Provinsi Lampung, 2008) disebutkan bahwa saya menggunakan banyak nama samaran dalam berkarya, yaitu Kantek Joel Kz,  Joel K. Enairy, Yuli Karnaty, Mamak Kenut, Z. Karzi, dan terakhir Udo Z. Karzi.

Kenapa suka gonta-ganti nama? Agaknya, Endri  Y dalam esainya Gigil, Luka, dan Kesunyian Penyair (Lampost, Minggu, 19/6/2016) seperti hendak menjawabnya. Di bawah sadar saya, saya mau bilang hanya suka menulis. Ya, menulis saja. Untuk tujuan apa saja: Yang pertama-tama doeloe, saya suka honornya. Hahaa...  Saya pernah menetapkan untuk hanya menulis soal-soal sastra atau yang bau-bau kesenian-kebudayaan. Tapi, belakangan sebagai wartawan saya dituntut untuk menulis apa saja. Ya, gimana coba.

Satu hal lagi, saya sejak masih di pers mahasiswa, saya suka menulis yang ngeri-ngeri sedap: mengkritik atau mengkritisi. Tulisan model begini yang suka bikin yang dikritik merah kuping dan panas hati. Nah, di sinilah gunanya saya pakai nama aneh-aneh itu.

"Siapa Z Karzi?" kali itu yang ditanyakan mantan Rektor Unila Alhusniduki Hamim (alm) yang ketika saya bikin tulisan di SKM Teknokra. Pak  Duki, panggilan Alhusniduki, marah karena saya menjelek-jelekkan kebijakan Jadwal Kuliah Terpadu (JKT). Nama Z Karzi ini juga saya pakai di Sumatera Post (1998-2000).

Dengan berbagai nama itu saya gak bakal ngetop dong. Benar saja ketika bertemu dan omong-omong dengan orang, lama kemudian yang bersangkutan tahu kalau saya Udo Z Karzi. "Oo, ini Udo Z Karzi. Oo, Udo Z Karzi itu nama aslinya... (eit, saya gak mau sebut di sini lagi deh)," begitu kira-kira kata mereka.

Benar juga, dengan nama pena kayak gitu gimana mau dipilih kalau daftar Calon Bupati Lampung Barat coba?

***

Suatu kali Bang Iwan (Iwan Nurdaya-Djafar) bilang ke saya, "Penulis memang harus bergelut dengan kesunyian. Ini bukan pekerjaan yang populer dan membutuhkan massa seperti politikus atau bintang film."

Seperti Aris Kurniawan yang  penggemar akut keheningan, saya rupanya seorang penyendiri, walau tak individualis atau egois. Ya, kalau egois mana bisa kerja tim, di koran. Hahai...

Makanya, saya ogah dibilang penyair karena takut kesepian, tak mau disebut cerpenis karena terlalu sedikit punya sedikit cerpen yang dimuat koran, dibilang novelis lebih ngawur lagi karena saya belum juga bisa bikin novel, sastrawan juga bukan ah... Saya lebih suka disebut "tukang tulis" begitu saja (baca: Renorya). Dan dengan begitu, saya bebas menulis apa saja.

Biarlah tulisan saya yang dibaca. Kata orang bijak, "Dengar apa yang dikatakan, benar atau tidak, jangan hiraukan siapa yang mengatakan." Baca tulisan saya. Jangan cari siapa yang nulis. Apalagi, kalau yang nyari pelisi.  Wahahaa...

Tetap saja, saya menulis karena kesepian. Soalnya tulisan panjang kayak ini kalau saya ocehin, siapa yang mau denger.

Tabik.


Minggu, 19 Juni 2016

Monday, June 13, 2016

Cari Lokak

Oleh Udo Z Karzi

JAUH-JAUH hari Presiden Joko Widodo sudah wanti-wanti supaya harga daging tidak lebih dari Rp80 ribu. "Tiga minggu lalu saya perintahkan menteri-menteri, caranya saya tidak mau tahu, saya minta sebelum Lebaran harga daging harus di bawah Rp80.000," kata Presiden Jokowi dalam acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan 2016, Senin (23/5/2016).

Yang harus digarisbawahi "harus di bawah Rp80 ribu". Dan, sebagai pemimpin, memang sudah selayaknya berkata seperti itu. Tapi, aneh bin ajaib pernyataan yang sejatinya untuk membantu masyarakat itu malah jadi bahan tertawaan kita.

"Lo, kalau begitu yang terlalu itu kita atau Presiden?"

"Terus, kalau menteri-menteri tidak mampu bikin harga daging itu Rp80 ribu, kan kita boleh dong bilang menteri-menteri gak becus ngurus ekonomi?"

Ada juga yang ngeyel. "Enggak mungkin Rp80 ribu dalam posisi seperti ini. Kecuali kita bisa mendapat suplai jauh lebih banyak dengan pilihan-pilihan yang bagus, tidak frozen meat, tapi fresh. Kalau enggak, ya tidak bisa," kata Gubernur Jateng Ganjar di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/6/2016).

Ya, tentu saja pedagang daging di pasar-pasar di seluruh negeri lebih ngeyel lagi: harga daging sampai tembus Rp130 ribu.

***

Itu sudah. Sekarang, pemerintah alias menteri-menteri ato pejabat dipusat sudah bisa bikin formulasi untuk membuat harga daging segitu.

Program Nasional yang diinstruksikan langsung Presiden membuat ketentuan harga daging Rp80 ribu per kg untuk menstabilkan harga daging, khususnya pada masa Ramadan dan Lebaran tahun ini. Badan Urusan Logistik (Bulog) Pusat menyalurkan daging sapi beku ke daerah-daerah.

Jatah untuk Lampung ditahap awal sebanyak 15 ton. Namun, bila stok tersebut habis, Bulog Lampung bisa memesan kembali dari Bulog pusat. Daging sapi beku ini tidak dijual bebas di pasaran dan hanya diedarkan saat operasi pasar.

***

Harusnya klir. Tapi, dasar bedul bener. Kan jelas dan nyata-nyata harganya daging gak boleh lebih dari Rp80 ribu eeh... ada aja alasan mail untuk cari untung, mesti harus melawan aturan atau perentah presiden sekalipun.

Sempet-sempetnya Bulog Lampung cari lokak di tengah sorotan banyak pihak atas mahalnya daging. Harga daging yang seharusnya Rp80 ribu per kg, mereka mau jual Rp90 ribu.

Apa alasan? Pertama, karena pertimbangan ongkos angkut daging beku dari Jakarta ke Lampung yang memakan biaya. Kedua, Bulog Lampung berupaya mengurani efek kerugian yang diderita para pedagang sapi lokal yang saat ini menjual daging di kisaran harga Rp120-Rp130 ribu.

“Kalau daging sapi beku dijual di bawah Rp90 ribu per kg, dikhawatirkan mereka (pedagang daging) akan merugi," kata Kepala Perum Bulog Divre Lampung Dindin Syamsudin, Jumat (10/6/2016).

Coba itung, 15 ton dikali Rp10 ribu kelebihannya harga daging. Besar juga tuh! Gimana pertanggungjawabannya?

Masa kasian pedagang daging, tapi bodok amat dengan pembeli alias rakyat? Masa kerja pemerintah cuma belain pedagang atau orang yang sudah kaya aja sih?

Bener-benar gak punya sense of crisis! []


~ Fajar Sumatera, Senin, 13 Juni 2016

Monday, June 6, 2016

Yang Sabar ya Bos!

Oleh Udo Z Karzi


PUASA itu menahan diri. Selain menahan dari makanan dan air pada siang hari, semua umat Islam diminta menahan diri dari bicara sia-sia, pertengkaran dan perkelahian, atau dari pekerjaan seperti di bawah martabat seorang mukmin sejati. Tidak mengumbar kesenangan duniawi diperbolehkan, bahkan suami dan istri di siang hari menjalani kehidupan yang terpisah, kecuali untuk hubungan manusia formal yang umum untuk semua orang.

"Yang sabar ya Bos!" Ucapan Sopo kepada Jarwo dalam serial kartun Adiet Sopo Jarwo ini menemukan konteksnya dalam ritual puasa Ramadan -- dan tentu seharusnya mesti mewujud dalam perilaku kita dalam keseharian setelah Ramadan.

Ya, Ramadan yang di dalamnya ada menahan diri dari berbagai kegiatan yang membatalkan atau minimal mengurangi pahala puasa menjadi media untuk melatih kesabaran kita.

Al-Ghazali berujar, sabar adalah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan hawa nafsu, dan tetap pada menegakkan agama meskipun bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Semuanya karena mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Maka, sabar merupakan sebuah perjuangan (jihad) untuk mengekang hawa nafsu dan kembali ke jalannya Allah.

Melaksanakan sabar tidak gampang. Hanya orang yang khusuk hanya sanggup mengerjakannya. Orang yang khusuk adalah orang yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, itikad baik, dan tujuan yang benar seseuai dengan tuntunan agama.

Boleh dibilang, kesabaran adalah sumber kekuatan yang diberikan Allah untuk melewati berbagai macam ujian hidup.  Dengan sabar, manusia tak gampang menyerah, putus asa dan berhenti bergerak untuk menuju cita-citanya.

Yang sabar ya, Bos! []


~ Fajar Sumatera, Senin, 6 Juni 2016

Monday, May 30, 2016

Kabut

Oleh Udo Z Karzi


LANGIT Bandarlampung beberapa hari ini seperti diselimuti asap. Cuaca agak gelap mulai pagi-sore hari. Kadang-kadang hujan turun. Tapi kabut ini bukan itu deh. Pas benar dengan kata Ella dan Deddy Dores, Mendung Tak Berarti Hujan.

Ada apa? Kasi Data dan Informasi BMKG Lampung Rudi Harianto bilang, kondisi cuaca berkabut yang menyelimuti wilayah Bandar Lampung dan sekitarnya terjadi akibat gangguan cuaca yang disebut konvergensi.

Konvergensi itu merupakan gerakan angin yang masuk ke wilayah tertentu, dan terjadinya pengumpulan masa udara, sehingga mambantu dalam pembentukan awan tebal.

Konvergensi terjadi karena adanya daerah bertekanan rendah di sebelah barat Sumatera, yang ternyata sangat memengaruhi wilayah Lampung, khususnya Lampung bagian tengah dan Lampung bagian selatan.Kondisi ini yang menyebabkan adanya penumpukan massa udara. Sehingga, timbullah awan tebal bahkan sampai berkabut.

Oh, fenomena alam!

Namun, menyimak beberapa isu hangat beberapa hari ini, rupanya tak hanya cuaca yang berkabut. Ada kabut yang menyertai penutupan SMKN 9 Bandarlampung. Ada kabut yang mengiringi gerakan mahasiswa di IAIN Raden Intan yang memperjuangkan kebebasan berpendapat, berekspresi, dan berorganisasi. Ada kabut yang sedikit mengganggu mata kita melihat banyak kejanggalan, penyimpangan, dan penyalahgunaan wewenang yang masih saja terjadi. Masih ada kabut yang menutupi berbagai upaya penegakan demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia.  Terdapat kabut yang menjelagai  nurani kita untuk mengasah etika, moralitas, dan rasa kemanusiaan kita.

Berbahayakah kabut itu? BMKG sih bilang, cuaca berkabut di Bandarlampung belum berpengaruh secara signifikan terhadap penerbangan. Baru sedikit mengganggu jarak pandang (visibilitis). Jarak pandang di bandara minimal tiga km. Tapi, beberapa hari ini tadi pagi masih lima km. Jadi masih aman.

Meskipun demikian, ada imbauan agar warga mewaspadai cuaca, terutama saat hendak bepergian. Nah, di sinilah: Waspadalah terhadap kabut! []


~ Fajar Sumatera, Senin, 30 Mei 2016

Monday, May 23, 2016

Kampus

Oleh Udo Z Karzi

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?


BARANGKALI, tidak segawat bait sajak "Pamplet Cinta"-nya WS Rendra di atas untuk menggambarkan keadaan beberapa fenomena yang terjadi belakangan. Tapi, itulah kecenderungan yang terjadi saat ini. Bibit-bibit arogansi, otoritarian, dan antikritik menggejala.


Ada pejabat marah-marah ketika dikonfirmasi wartawan, petinggi yang tersinggung karena kritik, aparat yang ketakutan dengan hantu komunis hingga merasa perlu melakukan merazia atau melarang buku, hingga pejabat kampus yang membekukan kegiatan mahasiswa karena diprotes.

Repot memang kalau "kekuasaan" yang yang bicara dalam menghadapi berbagai masalah. Kita menjadi terkaget-kaget. Apa yang keliru coba? Pers bertanya karena memang tugasnya untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemberi tahu publik mengenai apa yang terjadi.
Petinggi yang memang harus dikritik agar tidak salah jalan dan mengingatkan agar tetap berada di jalur yang benar. Apa-apaan pula kok buku yang dicari-cari hanya karena ketakutan dengan hantu bernama komunis. Yang parah, pejabat kampus yang notabene orang tua mahasiswa kok malah main bredel kegiatan mahasiswa.

Yang terakhir ini, yang terjadi di IAIN Raden Intan membuat kita prihatin. Dosen-karyawan-pimpinan IAIN bilang, "Mahasiswa anarkis!" Tapi, sebaliknya mahasiswa dan lain-lain yang mendukung mahasiswa berkata, "Rektor dan pimpinan IAIN RIL yang arogan!"

Terlepas dari itu, apa pun alasannya, kampus adalah lembaga yang menjunjung nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan moralitas di tempat yang tertinggi. Di kampus inilah sivitas akademika -- melalui Tri Dharma Perguruan Tingginya -- memperjuangkan apa-apa yang mereka pelajari, yang kemudian menjadi sikap dan perilaku etis mereka, baik secara individu maupun secara bersama-sama.

Di kampus inilah, mereka berdialog, berdiskusi, berdebat, bahkan "bertengkar" dalam batas-batas kebebasan akademik yang mereka miliki. Termasuk di dalam ada protes, demonstrasi, dan lain-lain sebagai bentuk-bentuk penyampaian pendapat. Di tempat ini perbedaan diakomodasi dan kebebasan berekspresi dihormati.
Di kampus, tak ada tempat untuk melakukan kekerasan. Sebab, semua boleh berargumen dengan bicara atau menulis.

Makanya, kita menyesalkan pihak yang mengundang aparat masuk kampus IAIN dengan alasan apa pun. Terbukti, kemudian ada mahasiswa yang patah tulang dan cedera akibat undangan ini.

Jadi, kemuliaan kampus sebagai tempat berkumpulnya para intelektual harus dihormati. Caranya dengan tidak sekali-kali menghadirkan wajah kekuasaan yang antikritik, menghalalkan kekerasan, dan sikap tidak bijaksana. []


~ Fajar Sumatera, Senin, 23 Mei 2016

Tuesday, May 17, 2016

Jangan Cuek Geh!

Oleh Udo Z Karzi


KABAR tak sedap menerpa Universitas Lampung (Unila). Seorang dosen Unila menuding Wakil Rektor I Bujang Rahman memanipulasi data untuk kenaikan pangkat meraih gelar profesor.

Dalam keterangan pers bermaterai Rp6.000, sang dosen Yurni Atmaja menyebutkan Bujang Rahman mengantongi dua SK sekaligus dalam tanggal yang sama dan tujuan sama, hanya perihal dan penandatanganan SK yang berbeda.

Kasus serupa sebenarnya pernah terjadi di sebuah fakultas di kampus hijau ini. Namun, setelah ribut-ribut soal ini, akhir yang bersangkutan dengan kesadaran sendiri akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya.

Kini, kasus serupa terjadi. Tapi, pimpinan Unila menganggap ini soal sepele. Rektor Hasriadi Mat Akin naga-naganya tidak akan mengambil tindakan atau memberikan sanksi apa pun terhadap kasus ini.

"Kasus Bujang Rahman itiu terjadi pada era Pak Sugeng. Jadi maaf ya... hanya itu komentar saya...," kata Hasriadi kepada Fajar Sumatera.

Dan yang dituding juga payah. Bujang Rahman enggan memberi jawaban mengenai aibnya yang dibongkar. "Pak Bujang Rahman tak bisa diganggu. Jadi, tak ada komentar," kata penjaga ruangan Warek I Unila.

***

Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Hingga kemarin, sivitas akademika Unila masih tenang-tenang saja. Tidak ada banyak yang tahu atau cari aman saja? Atau, barangkali soal ini dianggap hal biasa saja? Tidak terdengar juga apakah ada rapat pimpinan Unila untuk membahas masalah ini atau tidak.

“Kampus adalah benteng moral, bukan sekadar tempat ilmu pengetahuan,” kata mantan Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia sekali waktu saat menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2014/2015.

Nah, sebagai benteng moral, sivitas akademika Unila tentu harus bersih dari berbagai bentuk ketidakjujuran, manipulasi, dan sikap menghalalkan segala cara untuk menggapai karier.

Kita tidak menuduh Warek I Unila telah melakukan kecurangan. Tapi, yang lebih penting dari itu adalah jawaban yang sejujurnya atas tuduhan ini dari yang bersangkutan. Atau, buktikan bahwa tudingan itu tidak benar. Dan, harus ada penyelesaian yang adil dan bijaksana atas persoalan ini. Kalau tidak, ini bisa jadi preseden buruk.

Jadi, jangan cuek geh! []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 17 Mei 2016

Friday, April 29, 2016

Arogansi

Oleh Udo Z Karzi


SISI lain dari sebuah kesuksesan -- apatah lagi kekuasaan -- adalah arogansi. Arogan adalah sikap angkuh dan sombong yang ditunjukkan seseorang yang merasa dirinya paling hebat, paling pintar, paling berkuasa, paling berperan dibandingkan dengan orang lain. Penyakit mental ini biasanya menjangkiti seseorang yang sedang dalam posisi puncak, kariernya menanjak atau bisnisnya sedang berkembang pesat.

Dari konteks inilah inilah kita bisa memahami apa yang terjadi pada seorang Arinal Djunaidi.

Ceritanya, Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi  memukul pegawai maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Istahul Umam pada Sabtu, 16 April 2016 lalu. Kejadian ini bermula saat Arinal akan check-in di Bandara Radin Inten II yang akan melakukan penerbangan menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA073 tujuan Jakarta yang akan berangkat pada Sabtu sekitar pukul 10.50 WIB.

Saat akan check-in yang bersangkutan tidak menggunakan jalur khusus sky priority, tetapi menggunakan jalur umum. Saat diingatkan pegawai Istahul, Arinal marah, sehingga terjadi adu mulut di antara keduanya hingga Arinal memukul terjadi pemukulan yang dilakukan oleh AJ. Istahul kemudian malaporkan kejadian ini ke Polsek Natar.

Sikap arogan Arinal tidak berhenti sampai di sini, sejumlah jurnalis berunjuk rasa memintanya meminta maaf secara terbuka kepada seluruh media massa pada Rabu, 20 April 2016 lalu.

Demo para jurnalis ini sebagai reaksi dari peristiwa Senin, 18 April 2016 ketika sejumlah wartawan hendak melakukan konfirmasi terkait kasus penganiayaan yang dilakukan pejabat Pemprov Lampung Arinal Junaidi terhadap karyawan groundhandling di Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan. Arinal malah menuduh bahwa itu hanya alat untuk mencari uang dan menganggap berita tersebut tidak ada konfirmasi.

Secara lisan Arinal memang sudah meminta maaf dan berkata, "Kejadian ini membawa hikmah bagi saya, karena ini adalah hal yang sangat berharga. Ke depan untuk meningkatkan silaturahim dan koordinasi dengan para wartawan,  akan melakukan rapat koordinasi guna membicarakan pembangunan Lampung ke depannya."

Namun demikian, kejadian ini tetap membekas dalam benak kita, betapa sikap petantang-petenteng masih terpelihara dalam diri kita. "Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal, " kata seorang CEO dari perusahaan Fortune 100.

Jangan anggap enteng soal ini. Banyak sudah mereka yang sudah meraih kesuksesan pada akhirnya harus jatuh karena bersikap arogan. Sayang memang jika seseorang yang sudah mencapai kesuksesan lalu berbuat arogan. Sebab, untuk bisa menggapai posisinya yang sekarang tentu dibutuhkan perjuangan yang sangat keras. Beberapa dari mereka harus menggapainya dengan susah payah, rela hidup dalam kesusahan, mau mengorbankan kesenangannya demi untuk mendengar dan belajar bagaimana cara untuk sukses dari orang-orang yang sudah berhasil.

Ciri orang arogan adalah tak mau belajar dan mendengar lagi. Ia lupa diri, merasa sudah berhasil tidak perlu lagi menerima pendapat dan kritik orang lain. Kalau sudah begitu, waduh, apa lagi yang bisa diharapkan dari orang ini. Arogansi bisa terjangkit pada siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, yang tiap hari memberi pelajaran bagi orang lain.

Nah, apakah kalau sudah pensiun dan sudah tidak menjabat lagi masih arogan? Entahlah... []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 29 April 2016

Tuesday, April 19, 2016

Sikap Permisif Kita

Oleh Udo Z Karzi

REALITAS seperti membenarkan bahwa politik identik dengan suatu hal yang kejam, tetapi tidak dapat  terelakkan dalam kehidupan manusia. Sebab, sesungguhnya secara psikologis manusia lekat dengan  hasrat untuk berkuasa sebagaimana diungkapkan Alred Adler. Adler menyebutkan adanya kecenderungan otoritarianisme suatu unsur fundamental di dalam jiwa manusia, yang menggantikan libido –naluri kesenangan- di dalam konsepsi Freudian (Maurice Duverger, 2005).

Dari sini bisa dipahami bahwa naluri seseorang yang memiliki hasrat untuk berkuasa terkadang  mengalahkan akal sehat. Ia akan menempuh segala cara untuk dapat mencapainya. Ungkapan ‘uang berkuasa” adalah karikatur dalam realitas politik; uang tidak pernah menjadi satu-satunya  “penguasa”. Namun, dalam banyak masyarakat -- tidak hanya dalam masyarakat kapitalis -- uang adalah senjata yang hakiki.

Inilah awal mula kelahiran politik uang (money politics). Banyak pengertian politik uang. Ada menyebut politik uang sebagai suatu upaya mempengaruhi orang lain dengan menggunakan imbalan materi atau dapat juga diartikan jual beli suara pada proses politik dan kekuasaan dan tindakan  membagi-bagikan uang baik milik pribadi atau partai unatuk mempengaruhi suara pemilih (vooters). Pengertian ini secara umum ada kesamaan dengan pemberian uang atau barang kepada seseorang karena memiliki maksud politik yang tersembunyi dibalik pemberian itu. Jika maksud tersebut tidak ada,  maka pemberian tidak akan dilakukan juga. Praktik semacam itu jelas bersifat ilegal dan merupakan  kejahatan. Konsekuensinya para pelaku apabila ditemukan bukti-bukti terjadinya praktek politik uang  akan terjerat undang-undang anti suap.

Secara gamblang, politik uang dapat diartikan dengan suap. Suap secara garis besar berarti uang  sogok. Dalam hal ini uang menjadi faktor penentu seseorang untuk membuat keputusan, umumnya mereka yang terperdaya adalah kelompok orang yang memiliki tingkat pendidikan dan kesejahteraan yang rendah. Pendidikan mempunyai pengaruh yang penting terhadap de-alienasi pemilih. Dengan demikian, salah satu yang paling penting dari gerakan antipolitik uang adalah melakukan penyadaran atau pendidikan politik dalam arti sebenarnya; bukan mobilisasi atau malah pembodohan politik kepada  khalayak. Tentu saja segala segi yang menyuburkan politik uang harus bisa diminalisasi dengan penegakan hukum, regulasi yang ketat, serta meningkatkan etika dan moral politik.

Di tengah berbagai masalah krusial setiap kali pilkada digelar, kita masih menyimpan optimisme bahwa pilkada akan berlangsung jujur dan adil. "... tak semua pemilih dapat dibeli suaranya. Terhadap suara yang tak terbeli itulah kesejatian suara hati nurani atau vox populi, vox dei, suara rakyat (adalah) suara Tuhan! Adagium ini sebelumnya digunakan untuk meng-counter pernyataan Raja Louis XIV yaitu “L’etat c’est moi”yang artinya “Hukum Adalah Saya”, dan kini bisa kita gunakan untuk melawan mereka yang mengatakan bahwa “segalanya bisa dengan Uang!”, bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, dan tak bisa terbeli!" tulis komisioner KPU Lampung Handi Mulyaningsih (2015).

Kita tetap harus mengingatkan semua pihak tentang bagaimana seharusnya demokrasi dijalankan secara benar demi kemaslahatan bersama. []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 19 April 2016

Tuesday, April 12, 2016

Bumi Agung

Oleh Udo Z Karzi


SAAT mulang pekon, selalu saja saya dipukau oleh nama-nama tempat di desa kelahiran saya ini: Negarabatin Liwa yang sekarang bernama resmi (Kelurahan) Pasar Liwa.
Sekali waktu, saat saya menjawab, "Dari Pasar Liwa", orang yang bertanya tadi, berkata, "O, dari Sukanegeri."
Dalam pikiran saya, 'Jadi, Sukanegeri alias Negarabatin Liwa alias Pasar Liwa. Kanapa sih  pekon saya ini suka-sukanya gonta-ganti nama?’
Ada yang menggugat, kenapa nama bagus Negarabatin Liwa kok diganti Pasar Liwa? Entahlah...
Yang jelas, pekon/kelurahan Pasar Liwa ini adalah salah satu dari 12 pekon/kelurahan di Kecamatan Balik Bukit. 11 pekon/kelurahan lainnya adalah Padangcahya, Way Mengaku, Kubuperahu, Sebarus, Gunungsugih (asli bahasa Lampungnya: Gunungsugeh), Way Empulau Ulu, Wates (asli bahasa Lampungnya: Watas atau Watos), Padangdalom, Sukarame (dulu: Umbullimau), Bahway, dan Sedampah Indah.
Ke-12 pekon/kelurahan inilah wilayah Marga Liwa saat ini. Secara kebetulan sekarang ini wilayah Liwa menjadi satu kecamatan (Kecamatan Balik Bukit).
Kembali ke Negarabatin Liwa atau Sukanegeri atau Pasar Liwa, saya tidak tahu kapan persisnya di pekon ini terdapat (terpecah?) dua kampung adat: (1) Kampung Serbaya yang saat ini dipimpin Suntan Zakki dan (2) Kampung Bumi Agung yang dipimpin Bangsawan adok Suntan Makmur (alm) dengan pelaksana tugas Tabrizi adok Raja Dialam.
Secara adat, saya sendiri berada di Bumi Agung. Hierarki pemimpin adat di Bumi Agung dari yang tertinggi ke bawah adalah:
1. Suntan
2. Raja
3. Batin
4. Radin
5. Minak
6. Kimas
7. Mas/Inton
Dari panggilan (sapaan) seseorang ketahuanlah letak posisinya dalam adat.
"Hara gelukni mulang. Sawai sang Bumi Agung ngumpul. Kintu Udo aga cawa... (Alangkah cepatnya pulang. Lusa se-Bumi Agung berkumpul. Barangkali Udo hendak berbicara...," kata adik menjawab saya yang mengatakan akan pulang besok.
Ah, betapa Bumi Agung menghimbau, apa daya tugas di Tanjungkarang sudah menunggu. Ya, saya hanyalah seseorang yang terdampar di kota mengais rezeki. Tapi, percayalah saya ingin selalu pulang seperti buku saya: Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali. Selalu ada keinginan itu...


Selasa, 12 April 2016

Monday, April 4, 2016

Bukit Kan Kugerus

Oleh Udo Z Karzi

"BUKIT kan kudaki laut pun kuseberangi." Begitu senandung Hetty Koes Endang dalam lagu Hati Lebur Jadi Debu yang hits 1990-an. Tapi, barangkali buat orang sekarang yang serbapraktis, apalagi oleh pengembang yang mau cari untung gede, syair itu diganti dengan "bukit kan kugerus, laut pun kureklamasi".

Ya, dua hal ini: penggerusan bukit dan reklamasi pantai menjadi persoalan yang sejak lama menghantui Bandarlampung. Soal reklamasi pantai yang sempat bikin heboh beberapa tahun lalu, kini sedikit mereda.

Kini, ancaman yang masih mengintip warga kota adalah penggerusan bukit. Pemkot Bandarlampung sebagai pihak pemegang otoritas tidak pernah tegas menyikapi penggerusan bukit. Hingga kini, aktivitas penggerusan bukit yang berdampak terhadap ekosistem dan degradasi lingkungan itu tetap saja berjalan.

Saat ini misalnya, warga mencemaskan aktivitas pengerukan bukit untuk dijadikan kawasan perumahan di Kecamatan Sukabumi, Bandarlampung. Sejumlah rumah terancam tertimpa longsor. Pengerukan bukit yang akan dijadikan kawasan perumahan itu bahkan sempat membuat rumah warga terendam air dan lumpur.

Jono beserta keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang tak jauh dari rumahnya. Jumat (1/4), saat  saat hujan deras, air dan tanah merah masuk dari belakang rumahnya.

Jono yang tinggal di daerah itu sejak 1996 mengaku longsor tidak pernah terjadi. Ia mengatakan, hal itu akibat penggerukan bukit di belakang rumah oleh pengembang perumahan.

Berdasar data yang dimiliki Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung Desember 2015, dari 32 bukit di Bandarlampung, hanya 3 buah bukit yang masih bagus dan terjaga keasriannya, atau dalam kondisi baik. Tiga bukit itu Bukit Banten, Sulah, dan Bukit Kucing.

Puluhan bukit itu dengan kondisi memprihatinkan, dikarenakan telah berubah fungsi menjadi perumahan, tempat usaha (hotel), dan lain-lain. Yang lain dalam kondisi rusak berat dan beralih fungsi.

Rusaknya bukit di Bandarlampung disebabkan lemahnya pengawasan dari Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH). Walhi pun menuding BPPLH yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bukit-bukit itu. Soalnya BPPLH yang yang mengeluarkan izin.

Penggerusan bukit ini, tidak bisa dibiarkan. Jelas, jika kerusakan bukit semakin parah, warga akan kesulitan air pada musim kemarau. Ini karena semakin berkurangnya daerah resapan air.

Nah, pada musim penghujan seperti saat ini, warga kota, terlebih yang bermukim di bawah bukit, mesti was-was karena ancaman longsor dan banjir.  Soalnya, pohon-pohon sudah dibabat, tanah diratakan  mengakibatkan air hujan tidak tertahan lagi langsung mengalir membawa tanah, dan lain-lain.

Jadi, hentikan penggerusan bukit sebelum semuanya terlambat. Nyawa manusia lebih berarti ketimbang keuntungan sebagian kecil orang dari kegiatan penggerusan bukit.  []


~ Fajar Sumatera, Senin, 4 April 2016

Tuesday, March 22, 2016

Keluar dari Krisis Listrik

Oleh Udo Z Karzi

ENTAH kapan Lampung akan mendapatkan pelayanan yang baik dari PT Listrik Listrik Negara (PLN). Dalam tiga tahun terakhir misalnya, entah kapan kondisi listrik Lampung normal dalam arti tidak ada pemadaman.

Entah pula, selalu saja ada alasan PLN untuk menghindar dari tudingan konsumennya. Alasan itu mulai dari gangguan pembangkit, pemelihaaan pembangkit, gangguan lokal karena pohon tumbang misalnya, pasokan kurang daya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, gangguan transmisi, belum idealnya cadangan daya hingga  debit air kurang akibat kemarau.

Wajar jika masyarakat sulit memahami keadaan PLN. Kalau sesekali okelah, tetapi kayaknya ini menjadi penyakit menahun yang tak sembuh-sembuh juga. Harapan masyarakat Lampung jelas adalah bagaimana listrik Lampung sehat.

Karena itu, kita sangat mendukung apa pun upaya untuk memperbaiki keadaan kelistrikan Lampung. Termasuk, upaya Pemprov terbaru yang membebaskan investor asing untuk membuka bisnis listrik di Lampung.

Sebagaimana dikatakan Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya dalam menyelesaikan permasalahan energi listrik. Salah satunya dengan membuka peluang invetasi di bidang energi dengan pihak investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Soalnya jelas, energi di Provinsi Lampung tidak hanya sebatas ketersediaan lahan ataupun pembangkit listrik, tetapi masalah utamanya adalah ketersediaan energi itu sendiri. Sehingga kami sangat membuka peluang bagi para investor yang ingin berinvestasi di bidang energi terutama energi batubara.

Provinsi Lampung memiliki potensi yang sangat besar di bidang tersebut. Tahun ini saja, Pemerintah Provinsi Lampung berencana membangun 5 dermaga di antaranya pembangunan pelabuhan laut di Batu Balai Tanggamus, pelabuhan laut di Pulau Tabuan, Pulau Sebesi, Sebalang, dan Stabas  Krui Kabupaten Pesisir Barat.

Tentu saja, dalam pengembangan listrik di Lampung, sumber daya manusia lokal turut dilibatkan untuk selanjutnya bisa transfer pengetahuan bagi pengembangan kelistrikan Lampung.

Meskipun belum tentu krisis listrik bisa sepenuhnya teratasi dengan upaya ini, paling tidak ada harapan bagi Lampung untuk mengatasi krisis listrik ini. Semoga saja. []


~ Fajar Sumatera, Selasa, 22 Maret 2016

Friday, March 11, 2016

Beras Siger

Oleh Udo Z Karzi


BADAN Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung membentuk asosiasi produsen beras siger. Tujuannya, menyeragamkan hasil produk dan harga pangan yang menjadi ikon daerah ini.  Dengan begitu ada standardisasi produk beras siger.

Apa itu beras siger? Mengutip Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung Kusnadi, beras siger berasal dari bahan pokok bukan padi. Beras siger diproduksi sebagai makanan pokok pendamping beras padi bukan sebagai pengganti beras padi.

Kusnadi menegaskan, asosiasi ini dibentuk bukan untuk membatasi hasil produk beras siger tersebut. Selama ada pasarnya diperbolehkan bagi para produsen beras siger untuk  terus memproduksi, seperti beras siger yang berwarna hitam, karena target utamanya adalah untuk mengurangi konsumsi beras padi.
Terkait harga beras siger yang lebih mahal dari beras padi, sebenarnya harga beras siger tidak lebih
mahal. Terlihat lebih tinggi karena beras biasa disubsidi oleh pemerintah, baik dari benih maupun pupuk.

Hingga saat ini tercatat ada sekitar 30 produsen beras siger yang telah menjadi anggota asosiasi beras siger. Beras berbahan dasar singkong itu memiliki keunggulan rasa yang sama dengan beras konvensional. Termasuk kandungan protein yang tinggi, serta rendah karbohidrat.

Sampai di sini, sebenar upaya produksi beras siger sebenar cukup kreatif. Beras nonberas ini bisa jadi alternatif. Apalagi ada jaminan -- meskipun kita meragukan -- beras singkong ini memiliki rasa yang sama dengan beras konvensional. Bahkan memiliki kandungan protein dan rendah karbohindrat.

Namun persoalannya,  harganya lebih mahal dari beras dari padi. Bagaimana bisa beras ini menjadi makanan pokok pendamping. Dari segi kebiasaan dan cita rasa, masyarakat kita tentu akan tetap memilih beras dari padi yang rasanya lebih asli.

Kalau beras siger ini hendak dikembangkan dan menjadi kegemaran masyarakat, maka tidak bisa tidak harusnya harga beras ini lebih murah ketimbang beras beras.

Satu hal lagi, produsen beras siger itu tidak boleh berhenti pada produksi beras siger saja. Harus ada produk olahan dari beras siger itu, yang kemudian benar-benar bisa pengenanan khas menjadi ikon Bumilada.

Pertanyaannya, beras siger itu selain dimasak biasa seperti beras padi bisa dibikin apa saja? Dibuat kue apa saja? Bisa tidak dibuat mie sebagai alternatif mie yang biasa kita makan selama ini? Misalnya, mie khas Lampung yang terbuat dari beras singkong? Tentu dengan embel-embel harga lebih murah. Kalau lebih mahal, percuma mengembangkan beras siger!

Jadi, kreativitas tak berhenti pada bisa bikin beras siger, tetapi harus berlanjut pada beras siger mau diapakan? Tabik. []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 11 Maret 2016

Wednesday, March 2, 2016

Stadion Pahoman

Oleh Udo Z Karzi


INILAH stadion legenda yang dimiliki Provinsi Lampung. Tanpa hendak memihak kepada salah satu pihak: Pemerintah Provinsi Lampung yang hendak menjadikan Stadion Pahoman sebagai jalur hijau atau Pemerintah Kota Bandarlampung yang berupaya mempertahankan keberadaan stadion ini; ada baiknya kita memikirkan kembali salah satu tempat bersejarah ini.

Okelah, sekarang sudah ada Pusat Kebudayaan dan Olahraga (PKOR) Way Halim. Namun, harus diakui jumlah lapangan sepak bola di Kota Tapis berseri sangatlah kurang. Kenyataaan ini yang harus disadari oleh semua pemangku kepentingan.

Harus diakui, prestasi olahraga Lampung tidak lepas dari peran stadion ini. Lampung yang pernah menjadi lima besar dan terbanyak perolehan medalinya di luar dalam beberapa kali ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak lepas dari fungsi stadion ini.

Di bidang persepakbolaan, stadion ini pula yang mengantarkan Persatuan Sepak Bola Bandar Lampung (PSBL) berjuang dalam pertandingan Divisi Utama Liga Indonesa 1996, 1997, 1998, dan 2000.

Sebutlah Jaka Utama. Walaupun Jaka Utama tidak mampu meraih prestasi juara di Galatama, punggawa kesebelasan besutan pengusaha Lampung Marzoeli Warganegara ini, mampu membawa Lampung meraih juara 1 PON X 1981 dengan mengalahkan Sumut lewat adu pinalti. Lampung mendobrak tradisi juara sepak bola PON (sumut - dan pulau jawa) saat itu. Bisa dikatakan inilah era emas dan pretasi sepak bola Lampung. Tapi, sayang akibat kasus suap Jaka Utama justru menjadi bangkrut dan akhirnya dijual ke pengusaha Bogor.

Meskipun Jaka Utama tidak menjadikan Stadion Pahoman sebagai base camp latihan, tetap saja stadion ini memberi konstribusi bagi sukses pertandingan-pertandingannya.

Sekarang sisa-sisa kejayaan Jaka Utama masih terlihat di cabang renang (karena alm Marzoeli Warganegara adalah pembina aktif di beberapa cabang olahraga selain sepak bola).

Nah betul, sepak bola stadion ini memiliki fasilitas lain untuk cabang renang (Kolam Renang Pahoman di samping stadion) dan lintasan untuk olahraga atletik. Karena itu pada masanya, stadion ini banyak melahirkan atlet tangguh untuk renang dan atletik yang menyumpang medali buat Lampung dari berbagai event olahraga nasional semisal PON.

Bagi warga Lampung, Bandarlampung khususnya, Stadion Pahoman adalah sebuah kebanggaan. Sebab, ia banyak menelurkan prestasi di bidang olahraga.

Kita sangat memahami keinginan Pemkot Bandarlampung yang meminta kepada Pemprov Lampung menyerahkan kepemilikan dan pengelolaan atas Stadion Pahoman kepadanya. Ya, apa salahnya PKOR Way Halim dikelola Pemprov, sedangkan Stadion Pahoman diberikan ke Pemkot.

Di luar olahraga, kawasan Stadion Pahoman juga berkembang menjadi pusat rekreasi dan wisata kuliner yang ramai, yang pada gilirannya memberikan tempat bagi warga untuk mengembangkan perkenomian mereka.

Mengingat itu, sangatlah layak Stadion Pahoman menjadi cagar budaya yang harus dipertahankan dan tentu saja lebih difungsikan lagi. []


~ Fajar Sumatera, Rabu, 2 Maret 2016

Saturday, February 20, 2016

Way Haru Sumor Pitu

Oleh Udo Z Karzi


MEMBACA "Way Haru Sumor Pitu" dalam manuskrip Saya Belajar dari Sini: Pengalaman Mendampingi Mansyarakat Lampung Barat-nya Ali Rukman (sedang dalam proses terbit), saya seperti terlempar ke era 1970-an dan awal 1980-an ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Di rapor saya tertulis nama sekolah saya "SD Negeri 1 Negarabatin Liwa". Kemudian, di data siswa terteralah bahwa saya masuk ke sekolah ini tertanggal 1 Januari 1977. Ya, bulan Januari pada waktu itu adalah awal tahun ajaran baru dan karena itu cukup menuliskan "T.A. 1997". Tidak seperti sekarang tahun ajaran dimulai Juli dan ditulis dengan dua tahun (T.A. 2015/2016).

Pergantian tahun ajaran ini, terjadi ketika saya naik kelas dua.

"Pantesan saja kelas dua SD-nya lama banget. Sampai 1,5 tahun," ujar saya ketika tahu soal ini lama kemudian.

Selama SD (1977-1983), kami banyak diperkenalkan dengan banyak lagu-lagu wajib dan lagu daerah, terutama lagu Lampung.

Nah, ketika menyanyikan lagu wajib atau lagu daerah ini di depan kelas, kami sering terbahak. Aneh-aneh deh gaya teman-teman kecilku.

Sekali waktu, seorang teman -- yang tidak saya sebut namanya takut orangnya marah hehee... -- maju ke depan kelas. Dengan pede-nya ia memilih lagu "Ibu Kita Kartini" Cipt. WR Supratman.

Baru bait pertama lagu, kami sekelas tertawa. Dia ulang lagi. Ngekek lagi. Tiga kali ulang, kami tetap ngakak.

Gimana gak geli kalu menyanyi kayak gini syairnya:

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum baunya...

Waduh, maaf kan teman saya, Om Wage. Masa dia genti "harum namanya" dengan "harum baunya". Hehee... Syukurlah kali keempat, teman saya itu mulai menyadari salah sebutnya.

Di lain waktu, teman cewek saya menyanyi di depan kelas. Begini gayanya berdendang:

Padamu negeri
hst...
kami berjanji
hst...
Padamu negeri
hst...
kami berbakti
hst...

Waduh, kacau... setiap baris lagu, temanku menarik ingusnya yang meleleh dari lubang hidungnya yang berbunyi kira-kira "hst..." Hahaa... Dan, sejak itu teman kami itu kami kasih julukan "Sinden Ingusan".

Nah, soal lagu “Way Haru Sumor Pitu”, kami justru tidak mengenalnya dari sekolah. Tapi, dari seorang ayah teman sekelas SD saya dulu, yang kebetulan menjabat Danramil (Komandan Rayon Militer) di Kecamatan Balik Bukit (Liwa), Lampung. Itu pun tidak langsung ke kami. Kami mendengar lagu itu setiap kali bapak teman saya itu diminta menyumbangkan suaranya di acara pernikahan atau apa pun yang kami tonton. Setiap kali tampil, mestilah lagu itu yang dilantunkan bapak teman saya itu (namanya juga dirahasiakan, takut yang bersangkutan dan anaknya marah dengan saya, hehee...)

Begini senandung bapak teman saya itu -- dengan diiringi grup Orkes Monalisa (oleh orang Way Mengaku dipelesetkan jadi Orkes Manabisa, hahaa...):

Way Haru, Way Haru
Sumor Pitu, Nakan
Mata-mata di tengah

Way Haru, Way Haru
Lawok amu, Nakan
dipa mematani kidah

Way Haru...

Aduh, saya lupa lirik lengkapnya. Hehee... tapi seru juga.


Sabtu, 20 Februari 2016

Friday, February 19, 2016

Guru Nonsarjana

Oleh Udo Z Karzi

SEBAGAI orang terdepan dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas dan tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan bangsa ini, kita bersepakat bahwa guru adalah harus memenuhi persyaratan, profesional, dan mempunyai kompetensi tertentu.

Dalam konteks ini, kita juga setuju dengan amanat Undang-Undang Nomor14 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah No.74 Tahun2008, yang mengharuskan guru berijazah minimal diploma IV dan sarjana. Aturan ini berlaku sejak 1 Januari lalu.

Dinas Pendididikan Lampung menngaku sudah mengirim surat edaran ke sekolah dan menyosialisasikan aturan guru harus D4/sarjana dalam setiap pertemuan.

Namun demikian, kita bisa memahami keberatan banyak pihak.  Dinas Pendidikan Lampung Utara misalnya, mengatakan belum bisa menjalankan peraturan ini.Jika peraturan ini diterapkan, ribuan guru di Lampung Utara terancam tak bisa mengajar lantaran belum sarjana atau diploma IV.

Data Dinas Pendidikan Lampung Utara dari total 4.081 guru, ada 1.621 guru belum sarjana dan hanya 94 guru yang berkualifikasi S2.

Ini baru di Lampung Utara, belum di 14 kabupaten/kota lainnya di Lampung. Data terakhir menyebutkan, dari 3 juta guru di Indonesia, baru 51% guru yang mememenuhi kualifikasi D4/S1.

Kalau demikian halnya, mengapa Kementerian Pendidikan sedemikian ngotot hendak membelakukan aturan ini? Lagi pula tidak jaminan bahwa guru S1/D4 lebih baik dari guru-guru yang nonsarjana.

Apalagi kebanyakan guru yang belum sarjana ini adalah guru-guru yang sudah berpengalaman puluhan tahun mengajar.

Kita sepakat guru harus berkualitas dan profesional. Tapi, kita jelas menolak jika guru hanya guru yang sarjanalah yang berkualitas.

Jangan paksa guru senior untuk kuliah lagi mengambil gelar sarjana dengan alasan administratif bahwa guru harus S1/D4.

Hargailah proses! Guru yang sudah mengajar 20 tahun misalnya, bisa dianggap setara dengan seseorang sudah menempuh pendidikan S1/D4.

Karena itu kita meminta agar pemerintah tidak menutup mata dengan realitas ini. Masih banyak guru yang berkualitas, meskipun tidak sarjana, yang tetap ingin mengabdikan diri mereka untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di negeri ini. []


~ Fajar Sumatera, Jumat, 19 Februari 2016

Monday, January 25, 2016

Moralitas Intelektual

Oleh Udo Z Karzi


SEMUA manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual, kata Antonio Gramsci. Dengan begitu, orang cerdas, orang pintar, atau orang yang memiliki IQ tinggi, tidak selalu berbanding lurus dengan kemanfaatan dirinya bagi masyarakat. Makanya, ada tudingan pinter sendiri, kecerdasan yang mubazir, dan kepintaran yang disia-siakan. Itu masih mending. Akan celakalah kita jika intelektualitas itu hanya bikin susah kita, bahkan dipakai untuk merusak.

Nah, di sinilah urgensi moralitas. Moralitas inilah yang akan membimbing intelektualitas bisa berjalan ke arah yang positif dan bukan malah mengganggu hiduh harmoni kehidupan. Sebab,  sebuah intelektualitas tanpa dibarengi dengan moralitas bisa hancur. Diakui atau tidak, huru-hara dan kekacauan di negeri ini terjadi karena penghuninya lebih sering mengabaikan nilai-nilai etika dan moral.

Alih-alih memberi manfaat kepada rakyat, setiap hari kita malah dikabari tentang oknum-oknum pemerintah yang membuat hati miris. Begitu banyak kasus yang diungkap oleh media tentang perilaku para pemimpin bangsa kita saat ini. Mulai dari kasus skandal video mesum, pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pejabat, kasus suap hakim, kasus kredit fiktif, dan yang sangat tak asing di telinga kita yakni kasus korupsi.

Itulah bukti ketimpangan intelektualitas terhadap moralitas. Sebagai public figure, seharusnya mereka mampu menggunakan kecerdasannya demi kepentingan rakyat. Namun moralitas mereka ternyata tidak selaras dengan intelektualitas yang mereka miliki. Sungguh sangat disayangkan, pendidikan yang telah mereka tempuh selama belasan tahun hanya dibayar untuk memuaskan diri sendiri dengan cara yang tidak lazim. Padahal sebelum menjadi pejabat mereka disumpah di atas kitab suci agamanya masing-masing. Namun layaknya sudah menjadi hal biasa bahwa sebuah peraturan ada untuk dilanggar. Sumpah jabatan hanya dijadikan formalitas belaka oleh oknum pejabat daerah maupun pusat.

Tanpa harus menuduh terjadi pengkhianatan intektual sebagaimana disinyalir Julian Benda, kita patut bertanya ke manakah para intelektual yang menghuni perguruan tinggi di daerah ini ketika kita, masyarakat dan bangsa ini masih terlilit berbagai patologi sosial. Moralitas intelektual di kampus-kampus jelas termaktup dalam tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat). Okekah pendidikan bersifat internal kampus; okelah penelitian, walau tak banyak diketahui masyarakat hasil dan gunanya. Tapi, mana pengabdian masyarakat. Apa wujud wujud pengabdian masyarakat.

Itu juga menyangkut moralitas intelektual. Pertanyaannya, di manakah moralitas kaum intelektual yang membiarkan lingkungannya rusak, masyarakat terus dililit kemiskinan, dan pemerintah yang tak berpihak pada rakyat?

Bukankah ketika semua lini negara, baik legislatif, eksekutif maupun eksekutif -- (semoga tidak!) termasuk pers -- bobrok, satu-satunya suara moral yang bisa diharapkan adalah suara kampus? n


Fajar Sumatera, Senin, 25 Januari 2016

Tuesday, January 19, 2016

Siklus Kekerasan

Oleh Udo Z Karzi


"….apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan tidak melahirkan bibit-binitpermusuhan baru."

DEMIKIAN Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948) mengajarkan kita pada pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran (satyagraha). Perjuangan itu juga harus berada di jalan yang benar dan bermoral.

Namun, realitas justru menunjukkan sebaliknya. Kekerasan demi kekerasan terus terjadi. Terbaru, teror bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016). Apa pun latar peristiwa ini, kita melihat untuk menyelesaikan masalah pun, orang ternyata lebih memilih kekerasan fisik, seperti memukuli penjahat yang tertangkap, membunuh orang yang dibenci, menganiaya orang lain untuk menunjukkan kekuatannya, merusak milik orang lain karena ketidaksukaan, dan lain-lain. Namun, benar-benar selesaikah masalahnya?

Ternyata tidak. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan berikutnya. Apalagi kekerasan tidak hanya dimonopoli orang secara pribadi, tetapi juga dilakukan segerombolan orang yang merasa kekerasan bisa menyelesaikan masalah.

Pengguna kekerasan yang paling dahsyat adalah negara. Sebab, negara punya kekuasaan dan kekuatan untuk bertindak secara luas dan secara hukum untuk menggerakkan rakyatnya, misalnya, melakukan perang.
Kekerasan adalah kekuatan dan tindakan secara fisik dan psikis, yang menghancurkan kehidupan, mengabaikan HAM, dan merusak lingkungan. Kekerasan tidak hanya fisik, tetapi juga psikis, seperti ancaman dan teror. Tidak cuma ditujukan ke manusia, tetapi juga ke lingkungan hidup. Di antaranya penebangan hutan atau penambangan tidak terkendali, pencemaran lingkungan, hingga yang paling kecil kalau kita membuang sampah di sembarang tempat.

Dalam pandangan John Galtung, kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Kekerasan bukan hanya soal memukul, melukai, menganiaya, sampai membunuh, melainkan lebih luas dari itu. Misalnya, negara yang menelantarkan rakyatnya sehingga banyak yang menderita kelaparan sampai mati, itu juga kekerasan. Negara membuat kebijakan Ujian Nasional, yang membuat siswa merasa diteror mentalnya, juga bisa disebut kekerasan.

Sigmund Freud mengatakan setiap individu memang cenderung berperilaku menghancurkan objek. Camara dalam bukunya, Spiral Kekerasan, mengatakan ketidakadilan adalah akar pertama kekerasan.
Orang yang mengalami ketidakadilan melawan dengan segala cara, termasuk kekerasan. Selanjutnya, pihak yang berkuasa meredamnya dengan kekerasan juga. Akhirnya, kekerasan tidak pernah berakhir. Cara-cara kekerasan lebih banyak dipilih orang, terutama karena lebih mudah dan enggak memerlukan pemikiran mendalam.

Sulit memang menghentikan siklus kekerasan. Namun, tetap bisa ditekan seminimal mungkin. Caranya, melawan kekerasan tanpa kekerasan. Soalnya kebenaran itu relatif. Setiap orang yang melakukan tindakan, pasti punya dasar yang dianggapnya benar. Ini pasti terjadi dalam setiap konflik.

Kalau kita paham orang lain mungkin bisa benar, kenapa kita harus berbuat kekerasan yang tidak bakal menyelesaikan masalah? Dengan kekerasan tidak ada lagi ruang untuk saling mengerti. n



Fajar Sumatera, Selasa, 19 Januari 2016

Tuesday, January 12, 2016

Orang-orang Terpilih (5-Habis)



Oleh Udo Z Karzi


BETAPA hanya Allah yang berhak memilih siapa yang akan Dia panggil. Ada banyak jalan menuju ke rahmatullah. Dan, salah satu yang terpilih itu adalah Sang Seniman. Firdaus Khatami meninggal dunia dalam kecelakaan dalam kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepeda motor bersama isterinya, Aprileni, Selasa malam, 29 Desember 2015 sekitar pukul 19.30 Wib. Sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan dengan mobil truk colt di Jalan Lintas Sumatera Km. 28 Dusun Talang Lindung, Desa Muara Belengo, Pamenang, Merangin. Sementara istrinya mengalami luka serius dan dirawat di rumah sakit.

Firdaus lahir di Prabumulih, 13 Januari 1968. Ia giat melakukan riset mandiri tentang tradisi lisan dan heritage. Ia menulis puisi, esai, naskah dan manuskrip teater serta film. Ia juga aktif di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi, Humaniora Institute, dan sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Jambi.

“Kita sangat merasa kehilangan. Dia saya kenal sebagai seorang pekerja keras. Almarhum penyuka sastra-sastra lisan seperti seloko, pantun dan juga sastra-sastra modern,” sebut EM Yogiswara, seorang seniman daerah itu, seperti dikutip JambiUpdate.co.

Amboi alangkah bodohnya saya; saya sungguh tidak tahu bahwa saya bertemu dengan seniman hebat saat pertemuan Jaringan Sumatra untuk Pelestarian Pusaka (Pansumnet) di Sawahlunto, Sumatera Barat, 20-24 Oktober 2015. Kami satu hotel di Hotel Ombilin selama di Sawahlunto, sering kongkow di sela-sela seminar dan agenda pertemuan Pansumnet, meski Bang Fir dan juga saya, lebih banyak menyimak para pembicara yang memikat. Diam-diam, Bang Fir penyair juga. Saya menemukan buku puisinya, Istana Bunga (Jambi: Dewan Kesenian Jambi, 1998). 

Ternyata, itulah pertemuan pertama sekaligus yang terakhir kami. Selamat jalan, Bang Fir.

***

Saya lagi merenung-renung mengenai orang-orang terkasih di antara hari-hari peralihan tahun 2015 dan 2016, kabar duka kembali menyeruak.

"Innalilahi wainalilahirojiun. Jam 2.00 wib pagi tanggal 4 januari 2015 Kamu harus pergi menghadap Sang Illahi. Selamat jalan Bunda! Kami adalah Anak2mu, cucumu, dan seluruh keluarga Besar Bambang Eka wijaya memanjatkan doa semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT. Amin," seniman film Dede Safara Wijaya menulis di dinding Facebooknya, 4 Januari 2016 pukul 4:11.

Sosok kelima terpilih adalah seorang perempuan yang sangat berjasa bagi banyak orang. Sembari membubuhkan komentar turut berbela sungkawa dan berdoa agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt., saya membayangkan senyum, tutur kata, dan sikap ramah Hj Anisyah binti  Abdul Muin saat bertemu di berbagai tempat dan di berbagai kesempatan. Lama bekerja sebagai wartawan Lampung Post (1995-1996 dan 2000-2015), tentu sosok ibu yang satu ini memiliki kesan tersendiri bagi saya.

Anisyah diketahui beberapa tahun belakangan memang menderita sakit sehingga harus berulangkali menjalani pengobatan di Lampung maupun daerah lain. Ia wafat saat perawatan medik di Solo, Jawa Tengah dan dimakamkan di Solo dalam usia 62 tahun.  Ia meninggal suami H Bambang Eka Wijaya (Pemimpin Umum Lampung Post), lima anak, dan cucu-cucu.

Biografi almahumah memang tidak saya baca secara tertulis. Namun, kalau melihat betapa panjang pengalaman hidup Pak Bambang, sang suami dalam memperjuangkan kebenaran, kebebasan, kemerdekaan, dan demokrasi melalui pers dan jurnalisme di Medan, Jakarta, dan kini Lampung; tentu perjuangan sosok perempuan ini dalam mendampingi suami dan mendidik anak-anak mereka hingga akhir hayatnya; tentulah ia perempuan yang sangat sabar dan tangguh.

Selamat jalan, Ibu. Tugasmu dalam mendampingi suami dan membesarkan anak-anak -- hmm, kami juga anak-anakmu yang selalu mendapatkan sesuatu dari senyum dan kesabaranmu -- kini sudah selesai. Semoga engkau bahagia di sana.

***

Demikianlah, lima yang terpilih. Sedangkan  kita, saya,  kamu, yang lain hanya menanti giliran...l


Fajar Sumatera, Selasa, 12 Januari 2016