Monday, October 7, 2013

STA

Oleh Udo Z. Karzi


KIAMAT di jagat hukum dengan tertangkap tangannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar menerima suap di rumahnya di Jalan Widya Chandra III Nomor 7, Jakarta,  Rabu, 2 Oktober 2013 pukul 22.00 oleh KPK; mencuatkan (kembali) initial STA.

Bagi penulis atau paling tidak yang akrab dalam dunia literasi Indonesia, STA alias Sutan Takdir Alisjahbana adalah nama besar. Berbagai predikat dilekatkan pada sosok ini: sastrawan, pujangga, akademisi, linguis, pemikir kebudayaan, dst. yang memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan negara-bangsa Indonesia.

Buku Polemik Kebudayaan (1948) yang disusun Achdiat K. Mihardja memperlihatkan bagaimana sesungguhnya kecendekiaan STA dalam menjawab pertanyaan mau di bawa ke mana peradaban Indonesia kelak. Bagaimana mungkin ngomong sastra modern kalau tak menyebut STA. Ia merintis Gerakan Sastra Baroe pada 1933 dan mendirikan Angkatan Poedjangga Baru. Gerakan Sastra Baroe ini melibatkan para intelektual seperti Armijn Pane dan Amir Hamzah. Lalu, tak kurang 20 orang intelektual Indonesia menjadi inti gerakan Poedjangga Baroe, diantaranya Prof. Husein Djajaningrat, Maria Ulfah Santoso, Mr. Sumanang, dan WJS. Poerwadarminta.

Menulis sejak usia 17 tahun, pria yang lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 ini   menuangkan gagasannya dalam bentuk puisi, novel, esai, dan makalah. Puluhan buku lahir dari STA sebagai penyair, novelis, peneliti, penerjemah, editor, termasuk buku tentang STA yang ditulis orang lain.

Jadi, STA jelas tak kurang-kurang...

Itu sudah... (kalo bilang begini Mamak Kenut langsung ingat sastrawan Tandi Skober almarhum), sekarang muncul STA lain. Kata koran sih itu initial advokat ngetop Susi Tur Andayani.

"Sialan betul! STA yang terlibat skandal yustisia terbesar di Negarabatin saat ini bukan Sutan Takdir Alisjahbana," kata Mamak Kenut kesel banget.

"Sunlie Thomas Alexander?" celetuk cerpenis Yetie A.KA.

"Oh ya... untungnya STA itu sastrawan juga dan nggak terlibat segala urusan kongkalikong," sahut Mat Puhit.

Ah, semoga sastrawan tak ikut-ikutan korupsi ya Mas Sosiawan Leak (baca: Puisi Menolak Korupsi)? n


Lampung Post, Senin, 7 Oktober 2013