Tuesday, January 8, 2019

Peray for Bahasa Lampung

Oleh Udo Z Karzi


GEGARA Juwendra Asdiansyah yang menulis "Pray for Bahasa Indonesia" (Duajurai.com, 4 Januari 2019), saya bikin orat-oret dengan judul modifikasi: "Peray for Bahasa Lampung".

Sama juga dengan Kak Juwe-nya, saya juga heran kenapa orang suka dengan istilah "pray for...". "Misalnya, Pray for Lombok, Pray for Palu, Sigi & Donggala, dan teranyar, Pray for Lampung & Banten. Di TVRI, iklan simpati bencana tsunami yang menerjang Lampung dan Banten pada 22 Desember 2018 lalu (malah) dilabeli 'Pray for Banten dan Lampung'," tulisnya.

Tapi, saya memang ulun Lampung, sehingga tak bisa baca "pray". Mestilah saya baca dengan "perai" atau "peray". Entah, sejak kapan orang di kampung saya sudah mengadopsi kata "peray" ini.

Dalam bahasa Lampung, "peray" berarti libur, tidak masuk sekolah/kerja.

Contoh kalimat:
~ "Perai adu bela. Jak rani Senin, sanak mulai kuruk sekula" (Libur telah usai. Sejak hari Senin, anak-anak mulai masuk sekolah.)
~ "Dang tehol ga beguai. Perai-perai muneh ngindang meruyuh." (Jangan terlalu rajin bekerja. Libur-liburlah sesekali supaya tidak sakit.)

Coba cek Kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ketemu artinya:

pe.rai1 /pêrai/
v memerai
pe.rai2 /pêrai/
1. v cak tidak masuk bekerja, sekolah, dan sebagainya; libur: pada hari besar nasional karyawan --
2. v cak tidak usah membayar; gratis: makan dan tempat tinggal --
pe.rai3 /pêrai/

Arti "perai" dalam bahasa Lampung ternyata cocok dengan arti "perai" dalam bahasa Indonesia. Tapi, yang paling saya sukai adalah "perai" yang bermakna "tidak usah membayar; gratis: makan dan tempat tinggal --".

Kan sama dengan "percuma". Hahaa...

Oleh karena itu, saya paling tak setuju jika ada ujaran baru pula "Pray for Bahasa Lampung" (baca: Peghai fogh Bahasa Lampung). Sebab, alih-alih berarti "Doa untuk bahasa" atau "Simpati untuk bahasa Lampung", Perai for Bahasa Lampung justru libur berbahasa Lampung atau berhentilah berbahasa Lampung.

Pikir-pikir dahululah sebelum itu benar-benar terjadi.

Jangan gegayaanlah. []


Selasa, 8 Januari 2019

No comments:

Post a Comment