Saturday, July 12, 2014

Kotak-katik Kotak

Oleh Udo Z. Karzi


KOTAK-KOTAK makin ngetop aja. Apalagi setelah Joko Widodo menjadi gubernur DKI Jakarta. Apalagi setelah menjadi calon presiden dan berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) delapan lembaga survei mengungguli Prabowo dalam Pemilihan Presiden 9 Juli 2014.

Tapi, kotak-kotak tak hanya sekarang terkenal. Udo Z. Karzi, misalnya, menulis tentang kotak-kotak ini di Republica No. 2, Desember 1990. "Apa sih istimewanya kotak? Untuk apa sih menciptakan kotak-kotak?" gugat Udo waktu itu.

Seiring perjalanan waktu, ternyata kita memang butuh kotak. Terbaru, baju kotak-kotaknya Jokowi ternyata menciptakan kotak bernama Jokowi-JK yang berhadap-hadapan dengan (tanpa) kotak Prabowo-Hatta dalam pilpres. Dua kotak besar ini telah melahirkan keterbelahan dalam masyarakat sebelum, saat, dan setelah pilpres.

Maka, berhamburanlah kabar bohong, fitnah, kampanye hitam, tabloid Obor Rakyat, tabloid Obor Rahmatan Lil Alamin, saling hujat, ejek-mengejek, cibiran dibalas cibiran, hinaan dilawan hinaan, bahkan PHK (pemutusan hubungan kawan), baik langsung maupun tidak langsung melalui teknologi informasi semacam Facebook, Twitter, BBM, dan SMS.

"Pemilu tahun ini penuh kecurangan. Panitia pilpres saja sudah berpihak ke Jokowi!" tuding Mat Puhit tiba-tiba.

"Eit, jangan sembarang tuduh, dong! Mana buktinya?" sahut Radin Mak Iwoh.

"Iya, Mat. Kok ngomong ngawur kayak gitu?" sambung Mamak Kenut ngeliat Radin Mak Iwoh sudah platat-plotot.

Bagaimana pun kerja keras Radin Mak Iwoh sebagai petugas KPPS (kelompok panitia pemungutan suara) yang kredibel dan punya integritas harus dihargai.

"Hehee... Na, temon kidah. Waktu saya datang ke TPS tanggal 9 kemarin, tempo hari petugas sudah kasih kotak. Baju kotak-kotak itu kan baju kampanyenya Jokowi. Kan benar petugasnya... mendukung Jokowi," jelas Mat Puhit.

"Hahaaa...."

"Pemilu tanpa kotak gimana dong. Surat suara yang sudah dicoblos mau ditarok di mana?" tambah Mat Puhit.

"Wa, Mat Puhit... ini sih kampanye hitam. Fitnah tahu...," ujar Minan Tunja.  

Ya elah, kalau begitu sih, semua butuh kotak: kotak pos, kotak makanan, kotak minuman, kotak pensil, kotak sampah, kotak tisu, ... kotak-kotak, kotak-kotak.

Betul, tapi jangan terlalu fanatiklah dengan kotak. "Enggak usah berlebihanlah memfavoritkan seorang calon presiden apalagi sampai menjelek-jelekkan, memfitnah, bahkan memusuhi pendukung calon lain. Kita dengan Pak Capres enggak kenal, malah jadi ribut, musuhan atau enggak enakan dengan yang kita sudah kenal, bahkan kenal lama," tulis Yuzirwan Zubairi (Uneg-eneg Capres, Kompasiana, 8 Juli 2014).

Benar kita suka dengan kotak. Kita juga kadang bikin kotak seperti nama Tantri dkk. dengan grup musik, Kotak.

Kotak-kotak itu penting enggak penting. Penting untuk identitas, meraih dukungan, dan tolong-menolong. Tapi, celaka kalau kita cuma merasa benar sendiri, hebat, dan tak mau menghargai orang (kotak) lain.

Akhirnya, ini sih benar-benar cuma kotak-katik kotak! Hehee... n 


Lampung Post, Sabtu, 12 Juli 2014

No comments:

Post a Comment