Wednesday, February 5, 2014

Alergi Politik

Oleh Udo Z. Karzi


"KITA harus pula paham tentang politik sastra. Tapi, yang paling utama adalah meng-up grade diri terlebih dahulu. Konyol juga kalau kita menyodorkan karya yang memang secara kualitas belum layak, terus kita dorong-dorong supaya terangkat..."

Udien mencoba mengoret-oret catatan apa yang diomong sama penyair Ahmad Yulden Erwin ketika diskusi setelah satu per satu sastrawan membaca karya dalam Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung II di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Unila, Sabtu (1/2) malam.

Sst, ada yang protes: "Saya enggak setuju dengan istilah politik sastra. Pakai bahasa yang lebih enak kenapa, misalnya strategi sastra atau apa gitu yang lebih lembut..."

Wah, pokoknya seru deh. Tapi, Mat Puhit tak begitu tertarik membicarakan politik sastra. Sebab, itu sudah jelas kok, itu sudah riil kok, itu tak bisa dinafikan.

Satu hal yang menarik adalah betapa kata "politik" telah menjadi kata yang terasa buruk, jahat, dan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan. Ya, ada yang alergi politik.

***

Nah ini diskusi di luar arena.

"Kenapa sih kok pada takut pada pelitik. Padahal aslinya hidup kita hari ini banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan pelitik?" tanya Pithagiras.

"Pelitik itu tak semata kekuasaan, tetapi bagaimana si pemilik kekuasaan mampu berbagi, bikin keputusan yang bijaksana untuk meningkatkan kesejahteraan atau minimal menambah harkat kemanusiaan kita," sahut Minan Tunja.

"Ah, teori...," kata Radin Mak Iwoh.

"Ai benarlah. Enggak ada yang bisa menghindar dari pelitik," kata Mat Puhit.

"Kita buru-buru pergi menjauh ketika kata politik mendekat. Padahal politik adalah seni usaha manusia dalam mencapai tujuan. Makna negatif yang disandang politik sejatinya tidak lepas dari ulah oknum-oknum yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Orientasi materi dan kedudukan menjadikan para oknum elite politik membangun panggung sandiwara penuh kepalsuan mereka di negara ini juga memperburuk citra politik."

"Tanpa sadar kita telah melakukan kegiatan politik dalam kehidupan sehari-hari. Mau beli barang dengan murah di pasar, mau pinjam uang ke teman, mau dapet pacar kece, mau ambil ati calon mertua, mau apel malam minggu, gimana caranya bisa ngupi siang ini, ... semuanya pakai pelitik."

“Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama,” demikian teori klasik Aristoteles. Dan Aria Bima pun bilang, "Politik Indonesia jadi jahat karena orang baiknya diam aja.”

Berpolitiklah. Artinya, berkata, bertindaklah secara lebih baik, tersistem, dan terganisasi. Sebab, "kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir".

"Jadi, jangan alergi politiklah," kata Radin Mak Iwoh.

"Saya enggak alergi politik dan karena itu saya golput aja," ucap Mamak Kenut tiba-tiba.

Dasar, Mamak Kenut. n


Lampung Post, Rabu, 5 Februari 2014

No comments:

Post a Comment